Man City vs PSG: Mbappe-Neymar Tolong Jangan Melempem
jal | CNN Indonesia
Selasa, 04 Mei 2021 09:21 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kylian Mbappe dan Neymar dituntut tampil bagus saat PSG menghadapi Manchester City di Liga Champions. (AP/David Ramos)
Jakarta, CNN Indonesia --
Paris Saint-Germain (PSG) butuh magis Kylian Mbappe dan Neymar untuk membuat keajaiban di markas Manchester City pada leg kedua semifinal Liga Champions, Rabu (5/5) dini hari WIB.
PSG dalam posisi sulit jelang laga di Stadion Etihad. Skuad asuhan Mauricio Pochettino wajib membalikkan keadaan usai takluk 1-2 di kandang sendiri.
PSG menampilkan dua wajah dari permainan mereka di leg pertama. Les Parisiens bermain nyaris tanpa cela di babak pertama tetapi malah kedodoran di babak kedua.
Neymar jadi salah satu pemain yang tampil ciamik selama 45 menit pertama. Bintang asal Brasil itu mengacak-acak pertahanan Man City dan hanya kurang beruntung tidak bisa menempatkan namanya di papan skor.
Memasuki babak kedua, Neymar kehilangan arah. Pergerakan dan umpan-umpannya tak lagi terlihat. Ia pun tak berkutik karena mendapatkan pengawalan begitu ketat dari bek sayap Man City, Kyle Walker.
Neymar tampil bagus di babak pertama PSG vs Manchester City. (AP/Thibault Camus)
Menurunnya performa Neymar di babak kedua membuat kapal PSG oleng. Terlebih, Mbappe yang tampil istimewa saat menyingkirkan Barcelona dan Bayern Munchen 'menghilang' di laga ini.
Mbappe bermain selama 97 menit melawan Man City. Namun, tidak sekalipun penyerang berusia 22 itu bisa melepaskan tembakan ke gawang Ederson.
Di leg kedua, cerita seperti yang terjadi di Parc des Princes pantang terulang. Neymar dan Mbappe dituntut jadi sosok yang bisa mengeluarkan PSG dari situasi sulit, untuk bisa membalikkan keadaan dan lolos ke partai puncak.
Mbappe dan Neymar harus bisa menolong PSG. Kebintangan dan kualitas yang dimiliki Mbappe dan Neymar membuat beban sepenuhnya berada di pundak mereka.
Beban yang sudah sepatutnya bisa dijawab dengan performa bagus di atas lapangan jika mengacu statistik Mbappe dan Neymar di Liga Champions musim ini.
Mbappe yang mengemas delapan gol dan Neymar (enam gol) merupakan pemain tersubur PSG di kompetisi paling elite Eropa ini. Keduanya menyumbang 14 gol dari total 22 gol yang dijaringkan PSG hingga leg pertama semifinal.
Mbappe bisa lebih memaksimalkan kecepatan yang ia miliki di laga nanti. Begitu pula Neymar dituntut lebih kreatif untuk mencari celah di pertahanan Man City dan memudahkan Mbappe untuk membobol gawang Ederson.
Jika Mbappe dan Neymar bisa tampil hebat di laga nanti maka perebutan satu tiket ke final masih jauh dari kata selesai. The Citizens juga patut hati-hati karena PSG mampu meraih hasil bagus di laga tandang menghadapi tim dengan label tim besar seperti Manchester United, Barcelona, dan Bayern.
PSG tentu akan coba mengambil inisiatif untuk menguasai permainan. Hal itu harus dilakukan mengingat mereka datang membawa misi wajib menang.
Kemenangan dengan skor 1-0 tidak akan cukup buat Mbappe dkk untuk melangkah ke partai final. PSG wajib menang dengan margin dua gol atau menang dengan margin satu gol tetapi mencetak gol lebih banyak di kandang Man City.
Bermain ofensif memang penuh risiko buat PSG. Akan banyak celah di pertahanan tim asal Prancis itu yang bisa dimanfaatkan oleh Man City.
Meski begitu, Pochettino bisa sedikit tenang karena Guardiola bukan penganut sepak bola bertahan. Permainan defensif atau pragmatis untuk meraih kemenangan tidak ada dalam kamus juru racik formasi asal Spanyol itu.
Pep Guardiola akan tetap meminta anak asuhnya bermain ofensif melawan PSG. (AP/Oli Scarff)
Pendekatan taktik Guardiola akan tetap bergantung pada penguasaan bola. Mantan pelatih Barcelona itu pun bakal berharap penuh strategi false nine yang diusungnya berjalan sempurna.
Strategi false nine ini sempat dikritik saat Man City tertinggal 0-1 dari PSG pada babak pertama di leg pertama. Namun, Guardiola mempertahankan pendekatan yang sama dan terbukti berbuah manis karena mampu membalikkan keadaan di babak kedua.
Bermain tanpa striker seperti yang dilakukan Guardiola bersama Man City bukan tanpa risiko. Man City jadi tidak punya pemain yang selalu ada di kotak penalti lawan.
Nilai plusnya strategi false nine ini membuat pertahanan lawan sulit untuk melakukan pendekatan man to man marking. Strategi ini menghadirkan banyak gelar buat Guardiola di Barcelona dan sejauh ini berjalan baik di Man City.
Man City tetap jadi tim yang berbahaya meski tidak diperkuat pemain dengan tipe targetman macam Sergio Aguero dan Gabriel Jesus. Dengan strategi ini, Phil Foden, Kevin De Bruyne, atau Bernardo Silva kerap melakukan rotasi posisi yang membuat pertahanan lawan kebingungan.
Pochettino pun harus menemukan ramuan yang ampuh untuk menghentikan strategi ini. Dengan bermain tanpa striker murni, Man City terbukti menjadi tim yang sulit ditebak saat melancarkan serangan.
Jika tak hati-hati maka PSG bakal menderita di laga nanti. Strategi false nine racikan Guardiola akan jadi mimpi buruk buat tim tamu yang juga jadi pertanda kelolosan The Citizens ke final Liga Champions pertama mereka.
Jakarta, CNN Indonesia --
Paris Saint-Germain (PSG) butuh magis Kylian Mbappe dan Neymar untuk membuat keajaiban di markas Manchester City pada leg kedua semifinal Liga Champions, Rabu (5/5) dini hari WIB.
PSG dalam posisi sulit jelang laga di Stadion Etihad. Skuad asuhan Mauricio Pochettino wajib membalikkan keadaan usai takluk 1-2 di kandang sendiri.
PSG menampilkan dua wajah dari permainan mereka di leg pertama. Les Parisiens bermain nyaris tanpa cela di babak pertama tetapi malah kedodoran di babak kedua.
Neymar jadi salah satu pemain yang tampil ciamik selama 45 menit pertama. Bintang asal Brasil itu mengacak-acak pertahanan Man City dan hanya kurang beruntung tidak bisa menempatkan namanya di papan skor.
Memasuki babak kedua, Neymar kehilangan arah. Pergerakan dan umpan-umpannya tak lagi terlihat. Ia pun tak berkutik karena mendapatkan pengawalan begitu ketat dari bek sayap Man City, Kyle Walker.
Neymar tampil bagus di babak pertama PSG vs Manchester City. (AP/Thibault Camus)
Menurunnya performa Neymar di babak kedua membuat kapal PSG oleng. Terlebih, Mbappe yang tampil istimewa saat menyingkirkan Barcelona dan Bayern Munchen 'menghilang' di laga ini.
Mbappe bermain selama 97 menit melawan Man City. Namun, tidak sekalipun penyerang berusia 22 itu bisa melepaskan tembakan ke gawang Ederson.
Di leg kedua, cerita seperti yang terjadi di Parc des Princes pantang terulang. Neymar dan Mbappe dituntut jadi sosok yang bisa mengeluarkan PSG dari situasi sulit, untuk bisa membalikkan keadaan dan lolos ke partai puncak.
Mbappe dan Neymar harus bisa menolong PSG. Kebintangan dan kualitas yang dimiliki Mbappe dan Neymar membuat beban sepenuhnya berada di pundak mereka.
Beban yang sudah sepatutnya bisa dijawab dengan performa bagus di atas lapangan jika mengacu statistik Mbappe dan Neymar di Liga Champions musim ini.
Mbappe yang mengemas delapan gol dan Neymar (enam gol) merupakan pemain tersubur PSG di kompetisi paling elite Eropa ini. Keduanya menyumbang 14 gol dari total 22 gol yang dijaringkan PSG hingga leg pertama semifinal.
Mbappe bisa lebih memaksimalkan kecepatan yang ia miliki di laga nanti. Begitu pula Neymar dituntut lebih kreatif untuk mencari celah di pertahanan Man City dan memudahkan Mbappe untuk membobol gawang Ederson.
Jika Mbappe dan Neymar bisa tampil hebat di laga nanti maka perebutan satu tiket ke final masih jauh dari kata selesai. The Citizens juga patut hati-hati karena PSG mampu meraih hasil bagus di laga tandang menghadapi tim dengan label tim besar seperti Manchester United, Barcelona, dan Bayern.
Strategi false nine Manchester City harus diwaspadai PSG. (REUTERS/BENOIT TESSIER)
PSG tentu akan coba mengambil inisiatif untuk menguasai permainan. Hal itu harus dilakukan mengingat mereka datang membawa misi wajib menang.
Kemenangan dengan skor 1-0 tidak akan cukup buat Mbappe dkk untuk melangkah ke partai final. PSG wajib menang dengan margin dua gol atau menang dengan margin satu gol tetapi mencetak gol lebih banyak di kandang Man City.
Bermain ofensif memang penuh risiko buat PSG. Akan banyak celah di pertahanan tim asal Prancis itu yang bisa dimanfaatkan oleh Man City.
Meski begitu, Pochettino bisa sedikit tenang karena Guardiola bukan penganut sepak bola bertahan. Permainan defensif atau pragmatis untuk meraih kemenangan tidak ada dalam kamus juru racik formasi asal Spanyol itu.
Pep Guardiola akan tetap meminta anak asuhnya bermain ofensif melawan PSG. (AP/Oli Scarff)
Pendekatan taktik Guardiola akan tetap bergantung pada penguasaan bola. Mantan pelatih Barcelona itu pun bakal berharap penuh strategi false nine yang diusungnya berjalan sempurna.
Strategi false nine ini sempat dikritik saat Man City tertinggal 0-1 dari PSG pada babak pertama di leg pertama. Namun, Guardiola mempertahankan pendekatan yang sama dan terbukti berbuah manis karena mampu membalikkan keadaan di babak kedua.
Bermain tanpa striker seperti yang dilakukan Guardiola bersama Man City bukan tanpa risiko. Man City jadi tidak punya pemain yang selalu ada di kotak penalti lawan.
Nilai plusnya strategi false nine ini membuat pertahanan lawan sulit untuk melakukan pendekatan man to man marking. Strategi ini menghadirkan banyak gelar buat Guardiola di Barcelona dan sejauh ini berjalan baik di Man City.
Man City tetap jadi tim yang berbahaya meski tidak diperkuat pemain dengan tipe targetman macam Sergio Aguero dan Gabriel Jesus. Dengan strategi ini, Phil Foden, Kevin De Bruyne, atau Bernardo Silva kerap melakukan rotasi posisi yang membuat pertahanan lawan kebingungan.
Pochettino pun harus menemukan ramuan yang ampuh untuk menghentikan strategi ini. Dengan bermain tanpa striker murni, Man City terbukti menjadi tim yang sulit ditebak saat melancarkan serangan.
Jika tak hati-hati maka PSG bakal menderita di laga nanti. Strategi false nine racikan Guardiola akan jadi mimpi buruk buat tim tamu yang juga jadi pertanda kelolosan The Citizens ke final Liga Champions pertama mereka.