Sihir Mancini dan Jalan Lapang Italia ke Fase Gugur
Juprianto Alexander | CNN Indonesia
Rabu, 16 Jun 2021 12:56 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Italia dibekali tim yang solid untuk melaju jauh di Euro 2020. (Pool via REUTERS/FILIPPO MONTEFORTE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Timnas Italia yang dinakhodai Roberto Mancini mengincar korban kedua saat bersua Swiss dalam lanjutan Grup A Euro 2020 (Euro 2021) di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (17/6) dini hari WIB.
Giorgio Chiellini dan kawan-kawan telah membuktikan bukan tim yang bisa diremehkan di laga perdana Euro 2020. Italia memperlihatkannya dengan tampil meyakinkan saat menang telak 3-0 atas Turki.
Italia menepis anggapan bakal tampil pragmatis di turnamen kali ini. Sang arsitek tim, Roberto Mancini dengan gagah meminta anak asuhnya tampil ofensif sepanjang 90 menit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Italia tampak tak peduli Turki punya barisan lini serang yang berbahaya. Mancini sejak menit pertama meminta Alessandro Florenzi dan Giovanni Di Lorenzo yang bertugas sebagai bek kanan dan Leonardo Spinazzola di pos bek kiri terus naik membantu serangan.
Strategi Mancini terbukti jitu. Meski gagal mencetak gol di babak pertama, Italia yang mendominasi permainan bisa membuat kiper Turki Ugurcan Cakir tiga kali memungut bola dari gawangnya di babak kedua.
Italia pun memulai turnamen dengan hasil positif berkat pendekatan taktik yang nyaris sempurna dari Mancini. Kemenangan itu sedikitnya mengobati luka batin suporter fanatik mereka pascakegagalan lolos ke Piala Dunia 2018.
Kehadiran Mancini memang menumbuhkan harapan baru buat publik Italia. Mantan pelatih Manchester City itu terbukti mampu mengembalikan Italia ke jalur yang benar setelah hancur saat diarsiteki, Gian Piero Ventura.
Italia sudah tidak terkalahkan dalam 28 laga terakhir usai mengalahkan Turki. Bersama Mancini pula Italia datang dengan materi pemain yang lebih segar tetapi punya kekuatan tim yang mematikan.
Mancini menaruh kepercayaan kepada dua pemain gaek, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Di saat yang bersamaan, ia menitip harapan yang besar di pundak Gianluigi Donnarumma, Spinazzola, Lorenzo Insigne, hingga Ciro Immobile untuk memburu trofi kedua di Euro 2020.
Perpaduan pemain senior dan junior ini membentuk Italia jadi sebuah tim yang solid. Tanpa pemain bintang, juara Piala Eropa 1968 itu mengedepankan permainan kolektif yang menghibur dan berbahaya buat tim manapun di Euro 2020.
Italia telah membuat Turki kalang kabut di laga perdana dan Swiss berpotensi mengalami nasib serupa. Dengan komposisi pemain yang ada, Italia punya potensi melangkah jauh dan mengejutkan tim-tim favorit juara di fase selanjutnya.
Baca lanjutan artikel di halaman kedua...
Italia bukan hanya tentang keberanian Spinazzola, kecerdikan Insigne, atau ketajaman Immobile di Euro 2020. Italia di turnamen ini datang dengan kedalaman tim yang tidak kalah dengan tim seperti Prancis, Belgia, Jerman maupun Inggris.
Italia masih punya pemain seperti Alessandro Bastoni yang jadi pelapis Chiellini-Bonucci di jantung pertahanan. Lini tengah Italia juga sudah begitu tangguh meski Marco Verratti masih absen.
Di lini depan, Italia masih punya senjata mematikan dalam diri Federico Chiesa, Andrea Belotti, maupun anak muda yang memperkuat Sassuolo, Giacomo Raspadori.
Swiss yang akan jadi lawan Italia tentu sudah mempelajari kekuatan sang lawan di laga perdana Grup A Euro 2020. Pelatih Vladimir Petkovic sepertinya akan meminta pasukannya membatasi ruang gerak Spinazzola dan mematikan trio lini depan Italia.
Jika pergerakan para pemain ini bisa dimatikan maka Swiss memiliki kesempatan yang lebih besar meraih hasil positif di laga nanti. Hal ini lantaran Spinazzola, Insigne, Spinazzola, dan Domenico Berardi memperlihatkan pengaruh yang begitu kuat dalam permainan Italia saat mengalahkan Turki.
Namun, Swiss juga harus mewaspadai daya ledak pemain pelapis Italia. Chiesa dan Belotti jadi dua pemain yang berpotensi memecah kebuntuan andai Italia tak mampu menembus pertahanan Swiss yang digalang trio bek tengah Nico Elvedi, Fabian Schar, dan Manuel Akanji.
Chiesa sudah membuktikan bahwa dirinya pemain yang berbahaya di Juventus. Chiesa bisa berperan sebagai kreator atau pembobol gawang lawan pada saat yang diperlukan.
Sedangkan Belotti adalah salah satu mesin gol terbaik di pentas Liga Italia. Koleksi 92 golnya bersama Torino jadi bukti Il Gallo sama berbahayanya dengan Immobile di kotak penalti lawan.
Belotti pun percaya Italia yang bukan favorit utama bisa mengangkat trofi Piala Eropa untuk kali kedua di Euro 2020. "Kami percaya bisa melakukannya, itu target kami. Kami terpuruk karena tidak lolos ke Piala Dunia 2018, dan sekarang kami ingin memenangi kompetisi ini," ujar Belotti seperti dilansir Football Italia.
Dengan tekad yang begitu kuat plus dukungan suporter di Olimpico, Italia rasanya masih akan terlalu kuat buat Swiss. Gli Azzurri punya potensi besar meraih kemenangan kedua untuk melapangkan jalan ke babak 16 besar Euro 2020.
Timnas Italia yang dinakhodai Roberto Mancini mengincar korban kedua saat bersua Swiss dalam lanjutan Grup A Euro 2020 (Euro 2021) di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (17/6) dini hari WIB.
Giorgio Chiellini dan kawan-kawan telah membuktikan bukan tim yang bisa diremehkan di laga perdana Euro 2020. Italia memperlihatkannya dengan tampil meyakinkan saat menang telak 3-0 atas Turki.
Italia menepis anggapan bakal tampil pragmatis di turnamen kali ini. Sang arsitek tim, Roberto Mancini dengan gagah meminta anak asuhnya tampil ofensif sepanjang 90 menit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Italia tampak tak peduli Turki punya barisan lini serang yang berbahaya. Mancini sejak menit pertama meminta Alessandro Florenzi dan Giovanni Di Lorenzo yang bertugas sebagai bek kanan dan Leonardo Spinazzola di pos bek kiri terus naik membantu serangan.
Strategi Mancini terbukti jitu. Meski gagal mencetak gol di babak pertama, Italia yang mendominasi permainan bisa membuat kiper Turki Ugurcan Cakir tiga kali memungut bola dari gawangnya di babak kedua.
Italia pun memulai turnamen dengan hasil positif berkat pendekatan taktik yang nyaris sempurna dari Mancini. Kemenangan itu sedikitnya mengobati luka batin suporter fanatik mereka pascakegagalan lolos ke Piala Dunia 2018.
Kehadiran Mancini memang menumbuhkan harapan baru buat publik Italia. Mantan pelatih Manchester City itu terbukti mampu mengembalikan Italia ke jalur yang benar setelah hancur saat diarsiteki, Gian Piero Ventura.
Italia sudah tidak terkalahkan dalam 28 laga terakhir usai mengalahkan Turki. Bersama Mancini pula Italia datang dengan materi pemain yang lebih segar tetapi punya kekuatan tim yang mematikan.
Mancini menaruh kepercayaan kepada dua pemain gaek, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Di saat yang bersamaan, ia menitip harapan yang besar di pundak Gianluigi Donnarumma, Spinazzola, Lorenzo Insigne, hingga Ciro Immobile untuk memburu trofi kedua di Euro 2020.
Perpaduan pemain senior dan junior ini membentuk Italia jadi sebuah tim yang solid. Tanpa pemain bintang, juara Piala Eropa 1968 itu mengedepankan permainan kolektif yang menghibur dan berbahaya buat tim manapun di Euro 2020.
Italia telah membuat Turki kalang kabut di laga perdana dan Swiss berpotensi mengalami nasib serupa. Dengan komposisi pemain yang ada, Italia punya potensi melangkah jauh dan mengejutkan tim-tim favorit juara di fase selanjutnya.
Baca lanjutan artikel di halaman kedua...
Pelapis Kelas Satu
Ketajaman penyerang timnas Italia, Ciro Immobile akan jadi ancaman buat Swiss. (Pool via REUTERS/MIKE HEWITT)
Italia bukan hanya tentang keberanian Spinazzola, kecerdikan Insigne, atau ketajaman Immobile di Euro 2020. Italia di turnamen ini datang dengan kedalaman tim yang tidak kalah dengan tim seperti Prancis, Belgia, Jerman maupun Inggris.
Italia masih punya pemain seperti Alessandro Bastoni yang jadi pelapis Chiellini-Bonucci di jantung pertahanan. Lini tengah Italia juga sudah begitu tangguh meski Marco Verratti masih absen.
Di lini depan, Italia masih punya senjata mematikan dalam diri Federico Chiesa, Andrea Belotti, maupun anak muda yang memperkuat Sassuolo, Giacomo Raspadori.
Swiss yang akan jadi lawan Italia tentu sudah mempelajari kekuatan sang lawan di laga perdana Grup A Euro 2020. Pelatih Vladimir Petkovic sepertinya akan meminta pasukannya membatasi ruang gerak Spinazzola dan mematikan trio lini depan Italia.
Jika pergerakan para pemain ini bisa dimatikan maka Swiss memiliki kesempatan yang lebih besar meraih hasil positif di laga nanti. Hal ini lantaran Spinazzola, Insigne, Spinazzola, dan Domenico Berardi memperlihatkan pengaruh yang begitu kuat dalam permainan Italia saat mengalahkan Turki.
Namun, Swiss juga harus mewaspadai daya ledak pemain pelapis Italia. Chiesa dan Belotti jadi dua pemain yang berpotensi memecah kebuntuan andai Italia tak mampu menembus pertahanan Swiss yang digalang trio bek tengah Nico Elvedi, Fabian Schar, dan Manuel Akanji.
Chiesa sudah membuktikan bahwa dirinya pemain yang berbahaya di Juventus. Chiesa bisa berperan sebagai kreator atau pembobol gawang lawan pada saat yang diperlukan.
Sedangkan Belotti adalah salah satu mesin gol terbaik di pentas Liga Italia. Koleksi 92 golnya bersama Torino jadi bukti Il Gallo sama berbahayanya dengan Immobile di kotak penalti lawan.
Belotti pun percaya Italia yang bukan favorit utama bisa mengangkat trofi Piala Eropa untuk kali kedua di Euro 2020. "Kami percaya bisa melakukannya, itu target kami. Kami terpuruk karena tidak lolos ke Piala Dunia 2018, dan sekarang kami ingin memenangi kompetisi ini," ujar Belotti seperti dilansir Football Italia.
Dengan tekad yang begitu kuat plus dukungan suporter di Olimpico, Italia rasanya masih akan terlalu kuat buat Swiss. Gli Azzurri punya potensi besar meraih kemenangan kedua untuk melapangkan jalan ke babak 16 besar Euro 2020.