Lionel Messi tak punya beban sebagai kapten dan pemimpin tim di PSG. (REUTERS/SARAH MEYSSONNIER)
Messi hadir ke PSG sebagai pemain baru yang tentu sangat diharapkan. Namun beban Messi di PSG tidak akan sebesar beban yang ia miliki di Barcelona atau timnas Argentina.
Bersama Barcelona dan Argentina, ada hal-hal lain yang melilit Messi dibanding sekadar tugasnya sebagai pemain sepak bola. Ada ikatan emosional dan cinta untuk waktu yang panjang.
Dalam balutan kostum baru PSG, Messi bisa meninggalkan itu semua. Messi bisa bermain penuh suka ria, terlebih ban kapten tidak akan lagi melingkar di lengannya.
Di PSG, Messi bakal tergabung dengan grup elite yang berisi Neymar, Kylian Mbappe, Angel Di Maria, Georginio Wijnaldum, Sergio Ramos, Marquinho, Achraf Hakimi, dan Gianluigi Donnarumma.
Butuh usaha keras untuk menyatukan grup berisi pemain-pemain bintang ini. Namun Messi tidak akan punya tanggung jawab berlebih dalam hal itu.
Ia akan cukup melaksanakan tugasnya sebagai pemain depan, sebagai pengatur ritme serangan, pemberi umpan, dan penyelesai serangan. 'Messiah' tak lagi wajib menggalang persatuan para pemain karena tugas itu bakal jadi milik Marquinhos atau Neymar yang lebih lama di PSG dibanding dirinya.
Bermain bersama Neymar, salah satu sahabat terbaiknya di dunia sepak bola, juga akan menghadirkan kegembiraan bagi Messi.
Messi tak menutupi kekecewaan saat Barcelona menjual Neymar ke PSG di 2017. Tak sampai di situ, nama Messi juga beberapa kali dikaitkan dalam operasi membawa kembali Neymar ke Camp Nou.
Di Parc des Princes, keduanya bakal kembali bersatu. Kolaborasi Neymar dan Messi, ditambah Mbappe bila tak hengkang secara mengejutkan, adalah ancaman bagi tim lawan sekaligus hiburan nyata bagi para pendukung PSG.
Dari segi kualitas, sama sekali tidak ada hal yang perlu diragukan dari Messi. Ia terbukti mampu tampil konsisten sepanjang musim.
Dari segi mental, Messi juga tengah bahagia karena baru saja membawa Argentina juara Copa America.
Seiring kepindahan Messi ke PSG, beban terberat bukan ada di pundak Messi melainkan Mauricio Pochettino. Pochettino kini tentu makin dituntut untuk juara Liga Champions seiring kehadiran pemain-pemain anyar berlabel elite.
Pochettino harus bisa menyusun formasi yang mampu memberikan keseimbangan bagi PSG, bukan hanya sekadar menakutkan di lini depan tetapi mudah goyah karena serangan lawan.
Bila Messi benar-benar bisa bermain dengan penuh kegembiraan layaknya anak kecil di lapangan tanpa beban berlebihan, bisa jadi Pochettino yang tersenyum lebar karena PSG panen gelar di akhir musim.
(nva)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lionel Messi memutuskan bergabung dengan Paris Saint-Germain. Ada harapan melihat Messi bisa kembali seperti anak kecil yang riang gembira memainkan sepak bola.
Messi adalah salah satu keajaiban dalam sejarah sepak bola. Ia mampu tampil konsisten di level teratas selama belasan tahun. Gol-gol Messi bahkan terus lancar mengalir tak peduli usianya terus bertambah.
Namun bila menilik beberapa musim ke belakang, beban Messi sebagai pemain terbilang makin berat.
Di Barcelona, seiring kepergian Xavi Hernandez, disusul Andres Iniesta, ban kapten Barcelona otomatis melingkar di lengan Messi. Ban kapten tersebut tak ayal turut membuat langkah Messi di lapangan menjadi lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Belum lagi, ia kehilangan Neymar, salah satu pemain paling kreatif di lapangan. Alhasil, sejak musim 2018/2019, Messi benar-benar membawa beban lain, bukan hanya sekadar andalan di lini depan melainkan juga penanggung jawab tim secara keseluruhan.
Pemandangan Messi yang bermain dengan gembira seperti anak kecil berlari bebas menerobos pertahanan lawan berganti dengan Messi yang harus terus-menerus ditumpukan beban berlebihan.
Celakanya dalam situasi seperti itu, manajemen Barcelona tidak menyediakan lingkungan yang kondusif untuk Messi.
Kebijakan transfer baru yang dilakukan oleh manajemen tidak membuat beban Messi berkurang. Beban Messi justru terus bertambah lantaran tidak ada sosok baru yang bisa ikut menopang tim Barcelona secara keseluruhan seperti halnya Neymar.
Ousmane Dembele, Philippe Coutinho, dan Antoine Griezmann tidak benar-benar bisa menggantikan peran Neymar. Mereka bahkan jadi beban gaji yang berat untuk Barcelona.
Situasi makin menyedihkan bagi Messi setelah Luis Suarez dipaksa pergi tanpa kejelasan musim lalu. Messi benar-benar kesepian dan berusaha tegar untuk terus berkostum Barcelona.
Hidup memang terbilang menarik untuk Messi. Saat ia ingin pergi di awal musim lalu, Barcelona tak mengizinkan.
Kini, di saat ia mau bertahan karena melihat ada perubahan di tubuh Barcelona seiring era Joan Laporta, justru situasi yang memaksanya untuk hengkang.
Messi terpaksa pergi dengan tangis dan berkali-kali menyatakan ia tak mau melewati pintu keluar Barcelona.
Namun beban gaji yang tak mungkin bisa diatasi, bahkan setelah Messi bersedia memangkas gaji, membuat Messi benar-benar dipersilakan pergi.
Walaupun pergi dengan tangis, Messi bisa melepas senyum ketika resmi diperkenalkan sebagai pemain baru PSG di Paris. Senyum Messi bisa jadi awal kebahagiaan baru La Pulga di ibu kota Prancis tersebut.
Messi Tak Punya Beban di PSG
Lionel Messi tak punya beban sebagai kapten dan pemimpin tim di PSG. (REUTERS/SARAH MEYSSONNIER)
Messi hadir ke PSG sebagai pemain baru yang tentu sangat diharapkan. Namun beban Messi di PSG tidak akan sebesar beban yang ia miliki di Barcelona atau timnas Argentina.
Bersama Barcelona dan Argentina, ada hal-hal lain yang melilit Messi dibanding sekadar tugasnya sebagai pemain sepak bola. Ada ikatan emosional dan cinta untuk waktu yang panjang.
Dalam balutan kostum baru PSG, Messi bisa meninggalkan itu semua. Messi bisa bermain penuh suka ria, terlebih ban kapten tidak akan lagi melingkar di lengannya.
Di PSG, Messi bakal tergabung dengan grup elite yang berisi Neymar, Kylian Mbappe, Angel Di Maria, Georginio Wijnaldum, Sergio Ramos, Marquinho, Achraf Hakimi, dan Gianluigi Donnarumma.
Butuh usaha keras untuk menyatukan grup berisi pemain-pemain bintang ini. Namun Messi tidak akan punya tanggung jawab berlebih dalam hal itu.
Ia akan cukup melaksanakan tugasnya sebagai pemain depan, sebagai pengatur ritme serangan, pemberi umpan, dan penyelesai serangan. 'Messiah' tak lagi wajib menggalang persatuan para pemain karena tugas itu bakal jadi milik Marquinhos atau Neymar yang lebih lama di PSG dibanding dirinya.
Bermain bersama Neymar, salah satu sahabat terbaiknya di dunia sepak bola, juga akan menghadirkan kegembiraan bagi Messi.
Messi tak menutupi kekecewaan saat Barcelona menjual Neymar ke PSG di 2017. Tak sampai di situ, nama Messi juga beberapa kali dikaitkan dalam operasi membawa kembali Neymar ke Camp Nou.
Di Parc des Princes, keduanya bakal kembali bersatu. Kolaborasi Neymar dan Messi, ditambah Mbappe bila tak hengkang secara mengejutkan, adalah ancaman bagi tim lawan sekaligus hiburan nyata bagi para pendukung PSG.
Dari segi kualitas, sama sekali tidak ada hal yang perlu diragukan dari Messi. Ia terbukti mampu tampil konsisten sepanjang musim.
Dari segi mental, Messi juga tengah bahagia karena baru saja membawa Argentina juara Copa America.
Seiring kepindahan Messi ke PSG, beban terberat bukan ada di pundak Messi melainkan Mauricio Pochettino. Pochettino kini tentu makin dituntut untuk juara Liga Champions seiring kehadiran pemain-pemain anyar berlabel elite.
Pochettino harus bisa menyusun formasi yang mampu memberikan keseimbangan bagi PSG, bukan hanya sekadar menakutkan di lini depan tetapi mudah goyah karena serangan lawan.
Bila Messi benar-benar bisa bermain dengan penuh kegembiraan layaknya anak kecil di lapangan tanpa beban berlebihan, bisa jadi Pochettino yang tersenyum lebar karena PSG panen gelar di akhir musim.