5 Faktor Barcelona Bisa Lebih Hebat Usai Messi Pergi
CNN Indonesia
Minggu, 22 Agu 2021 05:31 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Lionel Messi memberikan banyak gelar untuk Barcelona. (AFP/JOSEP LAGO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hengkangnya Lionel Messi disebut-sebut sebagai akhir era jaya Barcelona, tetapi tak sedikit pula yang malah yakin ini menjadi siklus baru era kehebatan baru Blaugrana.
Tak dimungkiri, era Messi selama 17 tahun, dari 2004-2021, adalah masa paling sukses. Barcelona meraih 35 gelar, terdiri dari 10 gelar liga, 7 gelar Copa del Rey, 8 gelar Piala Super Spanyol, 4 trofi Liga Champions, 3 Piala Super Eropa, dan 3 Piala Dunia Antarklub.
Dalam rentang waktu itu, Messi menjalani 778 pertandingan, melesakkan 672 gol, dan 266 assist. Banyak rekor Barcelona ia pecahkan atau terlampaui, yang kemungkinan besar akan sulit dipecahkan pada masa-masa mendatang.
Walau begitu segala torehan Messi bukan berarti tak bisa atau mustahil dilampaui pemain lainnya. Berikut ini adalah lima faktor mengapa Barcelona bisa lebih hebat atau lebih berjaya pada era selepas Messi pergi:
1. Kesempatan Memulai dari Awal
Masa seperti hari ini, Messi tak lagi di Barcelona, sudah pasti datang baik itu hengkang atau karena pensiun. Messi tak akan membela Barcelona adalah kepastian yang tak bisa terelakkan, mengingat usianya sudah 34 tahun.
Kini, dengan hengkangnya Messi ke Paris Saint-Germain kesempatan menata ulang kekuatan tim bisa dimulai lebih cepat. Awal dekade ketiga abad milenium bisa menjadi momentum Barcelona memperbaiki atau menata ulang sistem klub.
Frasa 'tak ada pemain yang lebih hebat dari klub' perlu digaungkan lagi. Nama besar Messi yang seolah-olah mengalahkan nama besar Barcelona, sudah runtuh. Barcelona harus membuktikan tanpa Messi mereka tetap klub juara.
2. Menebas Ketergantungan Pemain
Fakta bahwa Barcelona representasi Messi dan Messi identik dengan Barcelona, sulit terbantahkan. Sihir 'Argentina Kecil' ini sangat luar biasa. Statistik membuktikan permainan Barcelona menurun drastis saat Messi absen.
Sepanjang Agustus 2017 hingga Februari 2020 misalnya, Messi tampil 129 kali, 88 di antaranya berakhir dengan kemenangan dan delapan kali kalah. Pada periode yang sama saat Messi absen, Barcelona menang 15 kali dan kalah tujuh kali.
Persentase kemenangan Barcelona menurun dari 68,2 persen menjadi 57,7 persen, sedangkan persentase kekalahan naik dari 6,2 persen menjadi 26,9 persen. Karenanya ini menjadi momentum menebas ketergantungan berlebihan terhadap satu pemain yakni Messi.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
3. Kolektivitas Tim
Filosofi sepak bola Barcelona sudah kuat. Tanpa Messi, juga Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, lantas Ronaldinho dan Samuel Eto'o tetap saja Barcelona. Bintang demi bintang datang dan pergi, tapi Barcelona akan tetap sama.
Era di mana satu bintang mengalahkan sinar terang pemain lainnya sudah selesai. Kini Barcelona bisa mengedepankan kolektivitas tim lagi, tak hanya dalam sisi permainan secara teknis tetapi dalam hal kebersamaan semua elemen tim.
Pekerjaan besar ini tergantung pelatih Ronald Koeman. Jika permainan Barcelona tak semenarik saat Messi ada, Koeman akan ditekan terus-terusan. Musim 2021/2022 tentu saja bayang-bayang Messi masih akan menjadi momok bagi Barcelona.
Penghasilan Messi di Barcelona diperkirakan mencapai 141 juta euro per tahun. Itu terdiri dari gaji, bonus, dan insentif lainnya. Angka ini membuat Barcelona menghabiskan sekitar 110 persen pendapatan klub untuk gaji pemain.
Karena beban gaji tidak simetris dengan pemasukan, Barcelona banyak 'menabung' utang. Bahkan, angkanya ditaksir lebih dari satu miliar euro. Utang Barcelona ini disebut Planet Sport lebih besar ketimbang utang beberapa negara.
Perginya Messi, walau secara bisnis berdampak pada klub, kas klub jadi lebih ringan. Beban utang Barcelona yang menumpuk pun bisa dikurangi. Kebijakan keuangan Barcelona setidaknya bisa ditata ulang dari awal lagi.
5. Era Baru Anak Muda Pedri
Ada robot pada musim 2020/2021. Ialah Pedro Gonzalez Lopez alias Pedri yang dianggap robot karena tampil tanpa henti sepanjang musim.
Total 73 dimainkan Pedri pada musim lalu, dengan rincian 52 laga dengan Barcelona, dan 21 dengan Timnas Spanyol.
Pedri memang bukan Messi juga Xavi. Ia sosok kecil lain yang menandai bahwa Barcelona tak kehabisan talenta. Musim ini, Barca pun punya perpaduan pemain-pemain muda berbakat, seperti Ansu Fati, Frankie de Jong, dan Eric Garcia.
Akankah Barcelona meraih gelar juara tanpa Messi pada musim ini? Tak ada yang tahu pasti, tetapi Pedri dan kolega seusianya bisa menjadi tumpuan baru klub Catalunya ini. Lagi pula Messi jebolan La Masia, yang berarti bisa diproduksi lagi.
Hengkangnya Lionel Messi disebut-sebut sebagai akhir era jaya Barcelona, tetapi tak sedikit pula yang malah yakin ini menjadi siklus baru era kehebatan baru Blaugrana.
Tak dimungkiri, era Messi selama 17 tahun, dari 2004-2021, adalah masa paling sukses. Barcelona meraih 35 gelar, terdiri dari 10 gelar liga, 7 gelar Copa del Rey, 8 gelar Piala Super Spanyol, 4 trofi Liga Champions, 3 Piala Super Eropa, dan 3 Piala Dunia Antarklub.
Dalam rentang waktu itu, Messi menjalani 778 pertandingan, melesakkan 672 gol, dan 266 assist. Banyak rekor Barcelona ia pecahkan atau terlampaui, yang kemungkinan besar akan sulit dipecahkan pada masa-masa mendatang.
Walau begitu segala torehan Messi bukan berarti tak bisa atau mustahil dilampaui pemain lainnya. Berikut ini adalah lima faktor mengapa Barcelona bisa lebih hebat atau lebih berjaya pada era selepas Messi pergi:
1. Kesempatan Memulai dari Awal
Masa seperti hari ini, Messi tak lagi di Barcelona, sudah pasti datang baik itu hengkang atau karena pensiun. Messi tak akan membela Barcelona adalah kepastian yang tak bisa terelakkan, mengingat usianya sudah 34 tahun.
Kini, dengan hengkangnya Messi ke Paris Saint-Germain kesempatan menata ulang kekuatan tim bisa dimulai lebih cepat. Awal dekade ketiga abad milenium bisa menjadi momentum Barcelona memperbaiki atau menata ulang sistem klub.
Frasa 'tak ada pemain yang lebih hebat dari klub' perlu digaungkan lagi. Nama besar Messi yang seolah-olah mengalahkan nama besar Barcelona, sudah runtuh. Barcelona harus membuktikan tanpa Messi mereka tetap klub juara.
2. Menebas Ketergantungan Pemain
Fakta bahwa Barcelona representasi Messi dan Messi identik dengan Barcelona, sulit terbantahkan. Sihir 'Argentina Kecil' ini sangat luar biasa. Statistik membuktikan permainan Barcelona menurun drastis saat Messi absen.
Sepanjang Agustus 2017 hingga Februari 2020 misalnya, Messi tampil 129 kali, 88 di antaranya berakhir dengan kemenangan dan delapan kali kalah. Pada periode yang sama saat Messi absen, Barcelona menang 15 kali dan kalah tujuh kali.
Persentase kemenangan Barcelona menurun dari 68,2 persen menjadi 57,7 persen, sedangkan persentase kekalahan naik dari 6,2 persen menjadi 26,9 persen. Karenanya ini menjadi momentum menebas ketergantungan berlebihan terhadap satu pemain yakni Messi.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Era Barcelona Bersama Pedri
Pedri akan menjadi penanda era baru Barcelona. (AP/Joan Monfort)
3. Kolektivitas Tim
Filosofi sepak bola Barcelona sudah kuat. Tanpa Messi, juga Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, lantas Ronaldinho dan Samuel Eto'o tetap saja Barcelona. Bintang demi bintang datang dan pergi, tapi Barcelona akan tetap sama.
Era di mana satu bintang mengalahkan sinar terang pemain lainnya sudah selesai. Kini Barcelona bisa mengedepankan kolektivitas tim lagi, tak hanya dalam sisi permainan secara teknis tetapi dalam hal kebersamaan semua elemen tim.
Pekerjaan besar ini tergantung pelatih Ronald Koeman. Jika permainan Barcelona tak semenarik saat Messi ada, Koeman akan ditekan terus-terusan. Musim 2021/2022 tentu saja bayang-bayang Messi masih akan menjadi momok bagi Barcelona.
Penghasilan Messi di Barcelona diperkirakan mencapai 141 juta euro per tahun. Itu terdiri dari gaji, bonus, dan insentif lainnya. Angka ini membuat Barcelona menghabiskan sekitar 110 persen pendapatan klub untuk gaji pemain.
Karena beban gaji tidak simetris dengan pemasukan, Barcelona banyak 'menabung' utang. Bahkan, angkanya ditaksir lebih dari satu miliar euro. Utang Barcelona ini disebut Planet Sport lebih besar ketimbang utang beberapa negara.
Perginya Messi, walau secara bisnis berdampak pada klub, kas klub jadi lebih ringan. Beban utang Barcelona yang menumpuk pun bisa dikurangi. Kebijakan keuangan Barcelona setidaknya bisa ditata ulang dari awal lagi.
5. Era Baru Anak Muda Pedri
Ada robot pada musim 2020/2021. Ialah Pedro Gonzalez Lopez alias Pedri yang dianggap robot karena tampil tanpa henti sepanjang musim.
Total 73 dimainkan Pedri pada musim lalu, dengan rincian 52 laga dengan Barcelona, dan 21 dengan Timnas Spanyol.
Pedri memang bukan Messi juga Xavi. Ia sosok kecil lain yang menandai bahwa Barcelona tak kehabisan talenta. Musim ini, Barca pun punya perpaduan pemain-pemain muda berbakat, seperti Ansu Fati, Frankie de Jong, dan Eric Garcia.
Akankah Barcelona meraih gelar juara tanpa Messi pada musim ini? Tak ada yang tahu pasti, tetapi Pedri dan kolega seusianya bisa menjadi tumpuan baru klub Catalunya ini. Lagi pula Messi jebolan La Masia, yang berarti bisa diproduksi lagi.