Mia Audina, Kisah Bocah Ajaib di Kemenangan Uber Cup 1994
CNN Indonesia
Jumat, 08 Okt 2021 11:36 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mia Audina jadi penentu kemenangan Indonesia di Uber Cup 1994. (AFP/TOMMY CHENG)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia memendam mimpi untuk bisa kembali juara Uber Cup di tahun 1994. Mimpi itu akhirnya digantungkan pada sosok berusia 14 tahun bernama Mia Audina yang bertarung di laga penentuan.
Sebelumnya Indonesia hanya pernah mengecap satu gelar juara Piala Uberyaitu pada 1975. Setelah hampir dua dekade berselang, Indonesia berharap bisa mengangkat lagi trofi Piala Uber ketika bertindak sebagai tuan rumah.
Setelah melalui perjalanan panjang menuju babak final, Indonesia bertemu China. China adalah penguasa Uber Cup sejak ikut bergabung tampil di turnamen tersebut pada 1984.
Di dua partai awal, Susy Susanti dan Lili Tampi/Finarsih membawa euforia kemenangan seiring keberhasilan mereka menaklukkan lawan. Namun China menunjukkan bahwa mereka memang punya mental dan tradisi kuat di badminton putri.
China berhasil menyamakan skor menjadi 2-2 lewat Han Jingna dan Ge Fei/Gu Jun.
Dalam kondisi skor imbang 2-2, partai kelima bakal jadi partai penentuan. Indonesia menampilkan Mia Audina yang masih berusia 14 tahun. China menurunkan Zhang Ning yang berusia 19 tahun.
Penonton di Istora Senayan penuh sorak-sorai menyemangati Mia Audina. Mia berusaha tampil penuh percaya diri dan melepaskan tekanan berat yang ada di pundaknya.
Di awal permainan, Mia sempat tertinggal 0-5 dari Zhang Ning. Namun lewat netting silang yang dikombinasikan dengan variasi serangan lain, Mia Audina perlahan bisa menyusul perolehan poin Zhang Ning.
Indonesia sempat unggul 2-0 lewat Susy Susanti dan Lili Tampi/Finarsih namun kemudian China berhasil menyamakan kedudukan. (AFP PHOTO / TOMMY CHENG)
Footwork Mia dan kelenturan tubuhnya saat melakukan pukulan overhead jadi salah satu hal yang mencolok dari Mia di laga tersebut.
Mia akhirnya memenangkan set pertama dengan skor 11-7 saat pukulan yang ia lepaskan ke belakang masih masuk dalam area permainan.
Menang di set pertama, Mia Audina makin tampil ganas di set kedua. Mia mampu merebut championship point di angka 10-6.
Pada satu kesempatan match point, Mia sukses mendorong shuttlecock ke belakang. Zhang Ning mampu mengembalikan shuttlecock tetapi posisinya sudah jauh dari ideal.
Mia sudah menunggu dan menebak arah shuttlecock di depan net. Tetapi pukulan Mia justru menyangkut di net dan membuat servis berpindah. Rasa kesal tampak jelas dari wajah Mia lantaran kegagalan tersebut.
Kegagalan itu sepertinya turut memecah fokus Mia.
Teriakan dukungan 'Mia, Mia' yang menggema di Istora tak membantunya menyelesaikan permainan.
Zhang Ning justru bisa mengejar poin dan akhirnya menang dengan skor 12-10. Pertandingan pun berlanjut ke set penentuan.
Dalam situasi kritis ini, Mia Audina bisa menunjukkan kematangan mengelola tekanan. Mia bisa langsung unggul 3-0 atas Zhang Ning dan berlanjut menjadi 7-0 saat ia berganti lapangan.
Mia Audina terus berusaha menjaga fokus dan tak mau kejadian di set kedua terulang. Smes Mia ke sisi kiri Zhang Ning membuat ia meraih match point sekaligus championship point untuk Indonesia di Uber Cup 1994.
Pertandingan akhirnya dimenangkan Mia setelah pukulan Zhang Ning membentur net.
Mia mengangkat tangan lalu terlihat larut dalam haru. Tak lama kemudian pemain-pemain Indonesia berlari berdatangan memeluk Mia Audina.
Indonesia berhasil merebut gelar Uber Cup untuk kedua kalinya.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Di mata Imelda Wiguna, Mia Audina merupakan sosok pemain yang memiliki permainan dan teknik bulutangkis yang bagus. Ia tergabung di klub Jaya Raya sejak usianya masih empat tahun. Mia kemudian dibimbing langsung oleh Retno Kustijah sebagai pelatih.
"Yang saya dengar, dia [Mia Audina] sejak usia 4 tahun sudah latihan. Bahkan waktu latihan sampai bawa dot, bawa botol susu ke lapangan. Dari kecil dia sudah istimewa. Jadi dia dibentuk sejak kecil oleh orang tuanya, sehingga saat usianya 14 tahun sudah matang kemudian dapat kesempatan dan pengalaman bertandingan di Uber Cup," kata Imelda kepada CNNIndonesia.com saat mengenang sosok Mia Audina, Rabu (6/10).
Sebenarnya saat latihan, Mia Audina disebut sama seperti anak-anak lainnya. Hanya saja, semangatnya terlihat luar biasa dan fokus untuk bulutangkis.
"Dia masuk ke dalam skuad Indonesia kala itu sebenarnya lebih karena kita melihat dia punya permainan bagus. Mentalnya bagus banget, daya juang tinggi. Dari kecil dia sudah punya kepercayaan diri yang bagus," ujarnya.
Artinya, lanjut Imelda, Mia mampu memenuhi harapan seorang pemain untuk bisa berada di tim beregu. Mulai dari teknik dan kemampuan yang mumpuni, mental bagus, kepercayaan diri dan sikap tidak mau kalah siapapun lawan yang dihadapinya.
Imelda Wiguna menyebut Mia Audina punya mental kuat sehingga terlihat matang di usia muda. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
"Mia itu pemain yang tidak mau kalah. Tahun 1994-1995 Mia dan Susy Susanti itu jadi andalan. Mereka punya hal yang semua atlet tidak punya di luar teknis dan itu mendukung permainan mereka jadi lebih bagus. Rekan satu tim jadi punya harapan dan besar hati kalau Mia dan Susy yang turun buat dapat poin."
"Prestasinya sudah terlihat sejak usia dini, pemula sampai remaja. Makanya dia disebut anak ajaib. Dan sampai hari ini belum ada lagi pemain yang sekelas dengan Mia dan Susy," jelas Imelda.
Sementara itu, Susy mengatakan meskipun usianya terpaut sembilan tahun dari Mia Audina di Uber Cup 1994, Mia tidak menunjukkan kesan bahwa dia adalah seorang pemain berusia paling muda di tim.
Di luar lapangan, Susy menyebut Mia Audiana adalah sosok yang natural dan cepat beradaptasi dengan pemain yang usianya jauh lebih tua darinya. Keduanya juga kerap saling ngobrol dan saling memberikan masukan soal lawan yang akan dihadapi.
Terlebih, dalam turnamen bulutangkis beregu, pemain juga harus saling memberikan motivasi demi kemenangan tim di pertandingan.
"Dia dibilang bayi ajaib, cara main dia ngotot bagus dan unik. Di usia yang masih muda dia sudah menunjukkan keberanian. Meskipun di situasi genting, dia main lepas. Dia sosok pemain yang bermain menyerang. Kalau dibilang, dia main di lapangan pintar, jadi tidak kelihatan kaya anak kecil. Dia juga cerdik dan berani," ungkapnya.
"Waktu lawan China di partai terakhir, dia jadi penentu. Dia tampil apa adanya. Dia main lepas yang justru membuat musuhnya jadi tegang. Itu jadi keuntungan yang membuat Indonesia unggul dan bisa mengalahkan China," tutur Susy.
Indonesia memendam mimpi untuk bisa kembali juara Uber Cup di tahun 1994. Mimpi itu akhirnya digantungkan pada sosok berusia 14 tahun bernama Mia Audina yang bertarung di laga penentuan.
Sebelumnya Indonesia hanya pernah mengecap satu gelar juara Piala Uberyaitu pada 1975. Setelah hampir dua dekade berselang, Indonesia berharap bisa mengangkat lagi trofi Piala Uber ketika bertindak sebagai tuan rumah.
Setelah melalui perjalanan panjang menuju babak final, Indonesia bertemu China. China adalah penguasa Uber Cup sejak ikut bergabung tampil di turnamen tersebut pada 1984.
Di dua partai awal, Susy Susanti dan Lili Tampi/Finarsih membawa euforia kemenangan seiring keberhasilan mereka menaklukkan lawan. Namun China menunjukkan bahwa mereka memang punya mental dan tradisi kuat di badminton putri.
China berhasil menyamakan skor menjadi 2-2 lewat Han Jingna dan Ge Fei/Gu Jun.
Dalam kondisi skor imbang 2-2, partai kelima bakal jadi partai penentuan. Indonesia menampilkan Mia Audina yang masih berusia 14 tahun. China menurunkan Zhang Ning yang berusia 19 tahun.
Penonton di Istora Senayan penuh sorak-sorai menyemangati Mia Audina. Mia berusaha tampil penuh percaya diri dan melepaskan tekanan berat yang ada di pundaknya.
Di awal permainan, Mia sempat tertinggal 0-5 dari Zhang Ning. Namun lewat netting silang yang dikombinasikan dengan variasi serangan lain, Mia Audina perlahan bisa menyusul perolehan poin Zhang Ning.
Indonesia sempat unggul 2-0 lewat Susy Susanti dan Lili Tampi/Finarsih namun kemudian China berhasil menyamakan kedudukan. (AFP PHOTO / TOMMY CHENG)
Footwork Mia dan kelenturan tubuhnya saat melakukan pukulan overhead jadi salah satu hal yang mencolok dari Mia di laga tersebut.
Mia akhirnya memenangkan set pertama dengan skor 11-7 saat pukulan yang ia lepaskan ke belakang masih masuk dalam area permainan.
Menang di set pertama, Mia Audina makin tampil ganas di set kedua. Mia mampu merebut championship point di angka 10-6.
Pada satu kesempatan match point, Mia sukses mendorong shuttlecock ke belakang. Zhang Ning mampu mengembalikan shuttlecock tetapi posisinya sudah jauh dari ideal.
Mia sudah menunggu dan menebak arah shuttlecock di depan net. Tetapi pukulan Mia justru menyangkut di net dan membuat servis berpindah. Rasa kesal tampak jelas dari wajah Mia lantaran kegagalan tersebut.
Kegagalan itu sepertinya turut memecah fokus Mia.
Teriakan dukungan 'Mia, Mia' yang menggema di Istora tak membantunya menyelesaikan permainan.
Zhang Ning justru bisa mengejar poin dan akhirnya menang dengan skor 12-10. Pertandingan pun berlanjut ke set penentuan.
Dalam situasi kritis ini, Mia Audina bisa menunjukkan kematangan mengelola tekanan. Mia bisa langsung unggul 3-0 atas Zhang Ning dan berlanjut menjadi 7-0 saat ia berganti lapangan.
Mia Audina terus berusaha menjaga fokus dan tak mau kejadian di set kedua terulang. Smes Mia ke sisi kiri Zhang Ning membuat ia meraih match point sekaligus championship point untuk Indonesia di Uber Cup 1994.
Pertandingan akhirnya dimenangkan Mia setelah pukulan Zhang Ning membentur net.
Mia mengangkat tangan lalu terlihat larut dalam haru. Tak lama kemudian pemain-pemain Indonesia berlari berdatangan memeluk Mia Audina.
Indonesia berhasil merebut gelar Uber Cup untuk kedua kalinya.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Menggeluti Badminton Sejak Usia Empat Tahun
Mia Audina sudah menekuni badminton sejak usia empat tahun. (AFP/TOMMY CHENG)
Di mata Imelda Wiguna, Mia Audina merupakan sosok pemain yang memiliki permainan dan teknik bulutangkis yang bagus. Ia tergabung di klub Jaya Raya sejak usianya masih empat tahun. Mia kemudian dibimbing langsung oleh Retno Kustijah sebagai pelatih.
"Yang saya dengar, dia [Mia Audina] sejak usia 4 tahun sudah latihan. Bahkan waktu latihan sampai bawa dot, bawa botol susu ke lapangan. Dari kecil dia sudah istimewa. Jadi dia dibentuk sejak kecil oleh orang tuanya, sehingga saat usianya 14 tahun sudah matang kemudian dapat kesempatan dan pengalaman bertandingan di Uber Cup," kata Imelda kepada CNNIndonesia.com saat mengenang sosok Mia Audina, Rabu (6/10).
Sebenarnya saat latihan, Mia Audina disebut sama seperti anak-anak lainnya. Hanya saja, semangatnya terlihat luar biasa dan fokus untuk bulutangkis.
"Dia masuk ke dalam skuad Indonesia kala itu sebenarnya lebih karena kita melihat dia punya permainan bagus. Mentalnya bagus banget, daya juang tinggi. Dari kecil dia sudah punya kepercayaan diri yang bagus," ujarnya.
Artinya, lanjut Imelda, Mia mampu memenuhi harapan seorang pemain untuk bisa berada di tim beregu. Mulai dari teknik dan kemampuan yang mumpuni, mental bagus, kepercayaan diri dan sikap tidak mau kalah siapapun lawan yang dihadapinya.
Imelda Wiguna menyebut Mia Audina punya mental kuat sehingga terlihat matang di usia muda. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
"Mia itu pemain yang tidak mau kalah. Tahun 1994-1995 Mia dan Susy Susanti itu jadi andalan. Mereka punya hal yang semua atlet tidak punya di luar teknis dan itu mendukung permainan mereka jadi lebih bagus. Rekan satu tim jadi punya harapan dan besar hati kalau Mia dan Susy yang turun buat dapat poin."
"Prestasinya sudah terlihat sejak usia dini, pemula sampai remaja. Makanya dia disebut anak ajaib. Dan sampai hari ini belum ada lagi pemain yang sekelas dengan Mia dan Susy," jelas Imelda.
Sementara itu, Susy mengatakan meskipun usianya terpaut sembilan tahun dari Mia Audina di Uber Cup 1994, Mia tidak menunjukkan kesan bahwa dia adalah seorang pemain berusia paling muda di tim.
Di luar lapangan, Susy menyebut Mia Audiana adalah sosok yang natural dan cepat beradaptasi dengan pemain yang usianya jauh lebih tua darinya. Keduanya juga kerap saling ngobrol dan saling memberikan masukan soal lawan yang akan dihadapi.
Terlebih, dalam turnamen bulutangkis beregu, pemain juga harus saling memberikan motivasi demi kemenangan tim di pertandingan.
"Dia dibilang bayi ajaib, cara main dia ngotot bagus dan unik. Di usia yang masih muda dia sudah menunjukkan keberanian. Meskipun di situasi genting, dia main lepas. Dia sosok pemain yang bermain menyerang. Kalau dibilang, dia main di lapangan pintar, jadi tidak kelihatan kaya anak kecil. Dia juga cerdik dan berani," ungkapnya.
"Waktu lawan China di partai terakhir, dia jadi penentu. Dia tampil apa adanya. Dia main lepas yang justru membuat musuhnya jadi tegang. Itu jadi keuntungan yang membuat Indonesia unggul dan bisa mengalahkan China," tutur Susy.