Biasa Saja Indonesia Lolos Kualifikasi Piala Asia 2023
CNN Indonesia
Selasa, 12 Okt 2021 19:04 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tiimnas Indonesia lewati adangan Taiwan di playoff kualifikasi Piala Asia 2023. (Arsip PSSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tempik sorak suporter Timnas Indonesia begitu bising dari kursi penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang waktu itu masih berupa bangku panjang.
Fan skuad Garuda yang mayoritas mengenakan pakaian berwarna putih, serupa jersey yang dipakai Ponaryo Astaman dan kawan-kawan saat menghadapi timnas Korea Selatan diPiala Asia.
Harapan meraih poin guna memastikan lolos ke babak perempat final Piala Asia 2007 sirna seiring kegagalan mencetak gol ke gawang lawan. Justru skor menunjukkan angka 0-1. Korsel menang berkat gol tunggal Kim Jung Woo ke gawang Markus Horison.
Itulah pertandingan terakhir Timnas Indonesia di putaran final Piala Asia, yang terjadi ketika Egy Maulana Vikri masih 7 tahun. Setelah era tersebut, tim Merah Putih selalu kandas di babak kualifikasi.
Malam tadi, Senin (11/10), Egy membuka gol kemenangan Timnas Indonesia atas Taiwan pada leg kedua playoff kualifikasi Piala Asia 2023.
Sebuah sepakan kaki kiri bagian dalam yang membuat bola melintas dengan melengkung tak dapat dihalau kiper Shin Shin An lantaran ada pengaruh dari gerakan Dedik Setiawan yang berupaya menyundul bola.
Egy menambah keunggulan agregat Indonesia atas Taiwan, sebelum gol dari Ricky Kambuaya dan Witan Sulaeman turut menegaskan kemenangan menjadi 5-1.
Menundukkan Taiwan, Indonesia melaju ke kualifikasi Piala Asia 2023. Fase yang selama ini sebenarnya tidak asing kiprah timnas semenjak tampil di Piala Asia 2007.
Selain karena sanksi FIFA yang menyebabkan Indonesia tak bisa berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Asia 2019, generasi Boaz Solossa dan kawan-kawan rutin tampil dalam babak kualifikasi.
Hanya saja Indonesia selalu menjadi juru kunci dalam fase kualifikasi tersebut, baik saat menuju Piala Asia 2011 dan 2015.
Sebelumnya bahkan Indonesia sudah pernah mencicip pentas tertinggi di kawasan Asia ketika mengikuti Piala Asia 1996, 2000, dan 2004 melalui jalur kualifikasi, sebelum memastikan tiket Piala Asia 2007 lewat tiket tuan rumah bersama tiga negara ASEAN lainnya.
Cerita soal gol salto Widodo Cahyono Putro dan skor imbang melawan Korsel di Piala Asia 1996 serta gol jarak jauh Ponaryo dalam kemenangan atas Qatar di Piala Asia 2004 adalah kisah masa silam.
Timnas Indonesia melanjutkan kiprah ke kualifikasi Piala Asia 2023. (ANTARA FOTO/HUMAS PSSI)
Melaju ke kualifikasi dari fase playoff adalah sinyal positif. Namun, di balik itu ada fakta yang tragis bahwa kini Indonesia berada satu level dengan Kamboja dan Guam yang juga harus menjalani playoff di laga lain.
Selain itu, Indonesia pun berada pada pot atau daftar negara unggulan terendah dalam fase kualifikasi kelak. Anak asuh Shin Tae Yong ada di pot 4 bersama Nepal, Bangladesh, Mongolia, dan Sri Lanka.
Ini tak lepas dari posisi Indonesia yang hanya menjadi juru kunci dan lumbung gol dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022 lalu dan juga ranking FIFA.
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia ada jauh di belakang Vietnam yang sudah memastikan tiket ke Piala Asia karena menjadi runner up pada kualifikasi Piala Dunia.
Selain itu ada pula Thailand, Myanmar, dan Filipina yang menghuni pot 2, serta Malaysia dan Singapura di pot 3.
Bukan tidak mungkin kelak Indonesia akan bertemu salah satu atau dua dengan kelima negara tersebut di fase kualifikasi.
Selain tiga negara itu, Indonesia pun berpotensi bertemu dengan negara-negara lain yang bisa menyulitkan langkah melaju ke putaran final kualifikasi Piala Asia.
Uzbekistan, Yordania, Palestina, dan Bahrain yang berada di pot 1 atau Tajikistan dan Turkmenistan dari pot 2 bisa saja menghambat langkah Indonesia.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
MenujuPiala Asia 2023 adalah jalan panjang yang masih terlalu dini untuk dirayakan karena baru masuk ke babak kualifikasi.
Shin dan anak asuhnya masih harus bekerja keras mewujudkan harapan tampil di level Asia yang sudah 14 tahun terlewati tanpa jejak.
Setelah rangkaian pertandingan uji coba dan sisa kualifikasi Piala Dunia pada Juni 2021 yang berakhir satu hasil seri dan empat kekalahan, Shin kemudian tampil dengan kombinasi pemain muda dan senior dalam fase playoff kualifikasi Piala Asia.
Perkenalan Shin dengan pemain-pemain muda dari Timnas Indonesia U-19 sedikit banyak mewarnai pemilihan pemain di level senior.
Tak seperti Simon McMenemy yang sebelumnya memilih pemain-pemain jadi untuk masuk Timnas Indonesia, Shin mengambil keputusan 'berbeda' dengan menempatkan pemain-pemain muda dan muka-muka baru.
Gaya kerja keras ala Korsel yang menjadi acuan, tampaknya membuat Shin memilih pemain yang mau diatur dengan cara seperti itu. Pemain muda yang relatif masih bisa dibentuk menjadi tumpuan mantan pelatih Korsel tersebut.
Pandemi yang mereda dan liga sepak bola yang kembali berjalan juga membuka wawasan Shin mengenai Liga 1, sehingga ia berani memanggil pemain-pemain lain dari yang telah ia ketahui sebelumnya seperti Egy, Asnawi Mangkualam, Witan Sulaeman, dan Pratama Arhan.
Timnas Indonesia akan mulai berlaga di kualifikasi Piala Asia 2023 pada Februari 2022. (Dok. PSSI)
Daun-daun muda masih menjadi pilihan utama Shin. Muhammad Riyandi, Ramai Rumakiek, Gunansar Mandowen, Taufik Hidayat, Rizky Ridho, Muhammad Firly dan Ernando Ari Sutaryadi menegaskan warna peremajaan pada Timnas Indonesia.
Shin pun memanggil pemain-pemain yang berada di usia matang, namun minim caps Timnas seperti Ryuji Utomo, Vava Mario Yagalo, hingga Ricky Kambuaya.
Sementara pemanggilan Fachruddin Aryanto dan Victor Igbonefo adalah kejutan yang dapat dimaklumi mengingat demi perbaikan lini belakang yang kurang solid pada pertengahan tahun 2021 ketika dihajar Vietnam dan Uni Emirat Arab.
Waktu masih panjang bagi Shin untuk menentukan formasi terbaik, namun setidaknya sudah ada pakem yang terbentuk.
Kualifikasi Piala Asia 2023 yang akan berlangsung Februari hingga September 2022 bakal menjadi ajang penting. Selain mengumpulkan poin, pencarian bibit pemain sesuai dengan keinginan Shin juga bisa dilakukan dalam periode tersebut guna membentuk Timnas Indonesia yang kokoh.
Level lawan yang akan dihadapi di fase kualifikasi pun tentu tak kalah berat atau bahkan jauh lebih berat ketimbang Taiwan.
Tempik sorak suporter Timnas Indonesia begitu bising dari kursi penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang waktu itu masih berupa bangku panjang.
Fan skuad Garuda yang mayoritas mengenakan pakaian berwarna putih, serupa jersey yang dipakai Ponaryo Astaman dan kawan-kawan saat menghadapi timnas Korea Selatan diPiala Asia.
Harapan meraih poin guna memastikan lolos ke babak perempat final Piala Asia 2007 sirna seiring kegagalan mencetak gol ke gawang lawan. Justru skor menunjukkan angka 0-1. Korsel menang berkat gol tunggal Kim Jung Woo ke gawang Markus Horison.
Itulah pertandingan terakhir Timnas Indonesia di putaran final Piala Asia, yang terjadi ketika Egy Maulana Vikri masih 7 tahun. Setelah era tersebut, tim Merah Putih selalu kandas di babak kualifikasi.
Malam tadi, Senin (11/10), Egy membuka gol kemenangan Timnas Indonesia atas Taiwan pada leg kedua playoff kualifikasi Piala Asia 2023.
Sebuah sepakan kaki kiri bagian dalam yang membuat bola melintas dengan melengkung tak dapat dihalau kiper Shin Shin An lantaran ada pengaruh dari gerakan Dedik Setiawan yang berupaya menyundul bola.
Egy menambah keunggulan agregat Indonesia atas Taiwan, sebelum gol dari Ricky Kambuaya dan Witan Sulaeman turut menegaskan kemenangan menjadi 5-1.
Menundukkan Taiwan, Indonesia melaju ke kualifikasi Piala Asia 2023. Fase yang selama ini sebenarnya tidak asing kiprah timnas semenjak tampil di Piala Asia 2007.
Selain karena sanksi FIFA yang menyebabkan Indonesia tak bisa berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Asia 2019, generasi Boaz Solossa dan kawan-kawan rutin tampil dalam babak kualifikasi.
Hanya saja Indonesia selalu menjadi juru kunci dalam fase kualifikasi tersebut, baik saat menuju Piala Asia 2011 dan 2015.
Sebelumnya bahkan Indonesia sudah pernah mencicip pentas tertinggi di kawasan Asia ketika mengikuti Piala Asia 1996, 2000, dan 2004 melalui jalur kualifikasi, sebelum memastikan tiket Piala Asia 2007 lewat tiket tuan rumah bersama tiga negara ASEAN lainnya.
Cerita soal gol salto Widodo Cahyono Putro dan skor imbang melawan Korsel di Piala Asia 1996 serta gol jarak jauh Ponaryo dalam kemenangan atas Qatar di Piala Asia 2004 adalah kisah masa silam.
Timnas Indonesia melanjutkan kiprah ke kualifikasi Piala Asia 2023. (ANTARA FOTO/HUMAS PSSI)
Melaju ke kualifikasi dari fase playoff adalah sinyal positif. Namun, di balik itu ada fakta yang tragis bahwa kini Indonesia berada satu level dengan Kamboja dan Guam yang juga harus menjalani playoff di laga lain.
Selain itu, Indonesia pun berada pada pot atau daftar negara unggulan terendah dalam fase kualifikasi kelak. Anak asuh Shin Tae Yong ada di pot 4 bersama Nepal, Bangladesh, Mongolia, dan Sri Lanka.
Ini tak lepas dari posisi Indonesia yang hanya menjadi juru kunci dan lumbung gol dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022 lalu dan juga ranking FIFA.
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia ada jauh di belakang Vietnam yang sudah memastikan tiket ke Piala Asia karena menjadi runner up pada kualifikasi Piala Dunia.
Selain itu ada pula Thailand, Myanmar, dan Filipina yang menghuni pot 2, serta Malaysia dan Singapura di pot 3.
Bukan tidak mungkin kelak Indonesia akan bertemu salah satu atau dua dengan kelima negara tersebut di fase kualifikasi.
Selain tiga negara itu, Indonesia pun berpotensi bertemu dengan negara-negara lain yang bisa menyulitkan langkah melaju ke putaran final kualifikasi Piala Asia.
Uzbekistan, Yordania, Palestina, dan Bahrain yang berada di pot 1 atau Tajikistan dan Turkmenistan dari pot 2 bisa saja menghambat langkah Indonesia.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Pemuda Harapan Bangsa, Identitas Shin Tae Yong
Ramai Rumakiek jadi warna baru di Timnas Indonesia. (Arsip PSSI)
MenujuPiala Asia 2023 adalah jalan panjang yang masih terlalu dini untuk dirayakan karena baru masuk ke babak kualifikasi.
Shin dan anak asuhnya masih harus bekerja keras mewujudkan harapan tampil di level Asia yang sudah 14 tahun terlewati tanpa jejak.
Setelah rangkaian pertandingan uji coba dan sisa kualifikasi Piala Dunia pada Juni 2021 yang berakhir satu hasil seri dan empat kekalahan, Shin kemudian tampil dengan kombinasi pemain muda dan senior dalam fase playoff kualifikasi Piala Asia.
Perkenalan Shin dengan pemain-pemain muda dari Timnas Indonesia U-19 sedikit banyak mewarnai pemilihan pemain di level senior.
Tak seperti Simon McMenemy yang sebelumnya memilih pemain-pemain jadi untuk masuk Timnas Indonesia, Shin mengambil keputusan 'berbeda' dengan menempatkan pemain-pemain muda dan muka-muka baru.
Gaya kerja keras ala Korsel yang menjadi acuan, tampaknya membuat Shin memilih pemain yang mau diatur dengan cara seperti itu. Pemain muda yang relatif masih bisa dibentuk menjadi tumpuan mantan pelatih Korsel tersebut.
Pandemi yang mereda dan liga sepak bola yang kembali berjalan juga membuka wawasan Shin mengenai Liga 1, sehingga ia berani memanggil pemain-pemain lain dari yang telah ia ketahui sebelumnya seperti Egy, Asnawi Mangkualam, Witan Sulaeman, dan Pratama Arhan.
Timnas Indonesia akan mulai berlaga di kualifikasi Piala Asia 2023 pada Februari 2022. (Dok. PSSI)
Daun-daun muda masih menjadi pilihan utama Shin. Muhammad Riyandi, Ramai Rumakiek, Gunansar Mandowen, Taufik Hidayat, Rizky Ridho, Muhammad Firly dan Ernando Ari Sutaryadi menegaskan warna peremajaan pada Timnas Indonesia.
Shin pun memanggil pemain-pemain yang berada di usia matang, namun minim caps Timnas seperti Ryuji Utomo, Vava Mario Yagalo, hingga Ricky Kambuaya.
Sementara pemanggilan Fachruddin Aryanto dan Victor Igbonefo adalah kejutan yang dapat dimaklumi mengingat demi perbaikan lini belakang yang kurang solid pada pertengahan tahun 2021 ketika dihajar Vietnam dan Uni Emirat Arab.
Waktu masih panjang bagi Shin untuk menentukan formasi terbaik, namun setidaknya sudah ada pakem yang terbentuk.
Kualifikasi Piala Asia 2023 yang akan berlangsung Februari hingga September 2022 bakal menjadi ajang penting. Selain mengumpulkan poin, pencarian bibit pemain sesuai dengan keinginan Shin juga bisa dilakukan dalam periode tersebut guna membentuk Timnas Indonesia yang kokoh.
Level lawan yang akan dihadapi di fase kualifikasi pun tentu tak kalah berat atau bahkan jauh lebih berat ketimbang Taiwan.