Keki 90 Menit Lihat Timnas Indonesia Belajar Bertahan Lawan Vietnam
Nova Arifianto | CNN Indonesia
Kamis, 16 Des 2021 06:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia membawa pulang satu poin dari laga melawan Vietnam di Piala AFF 2021.(Arsip PSSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Skor imbang 0-0 melawan Vietnam sedikit melipur rasa kesal lantaran permainan Timnas Indonesia yang mengecewakan di laga ketiga Piala AFF 2021.
Setelah dua kemenangan yang menghasilkan banyak gol, Timnas Indonesia menunjukkan kualitas yang membuat suporter jadi harap-harap cemas dan deg-degan selama 90 menit saat berjumpa timnas Vietnam.
Dengan keberadaan di puncak klasemen, muncul pula impian menang melawan Vietnam dan mendekatkan langkah ke semifinal Piala AFF. Namun pertandingan menghadapi anak asuh Park Hang Seo kembali membuat fan skuad Merah Putih menyadari kelas tim kebanggaannya belum sampai level terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Vietnam kini adalah kesebelasan terbaik di ASEAN, terbukti dengan peringkat 99 di ranking FIFA dan mengalahkan Thailand yang selama ini dikenal sebagai raja sepak bola ASEAN.
Anak asuh Park Hang Seo tampak ingin mempertontonkan keunggulan atas Indonesia di dalam lapangan, sekaligus memastikan tiket semifinal Piala AFF 2021 lebih awal.
Sejak peluit tanda pertandingan mulai berbunyi, Vietnam sudah dominan dalam penguasaan bola. Pressing terus dilakukan, bahkan saat sedang kehilangan bola. Hasilnya, Timnas Indonesia dibuat linglung.
Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan kesulitan keluar dari tekanan. Serba salah. Mau melepas umpan pendek, sudah ada pemain-pemain Vietnam yang sigap menekan. Mau mengirim umpan panjang lebih tidak terukur lagi akurasinya.
Vietnam nyaman memainkan sepak bola seperti itu. Mereka sudah terbiasa dengan gaya yang diterapkan Park sejak 2018.
Statistik menunjukkan Vietnam melepas 21 tembakan, berbanding satu milik Indonesia. Penguasaan bola pun tak kalah jomplang. Vietnam menyentuh 72 persen dan sisanya punya skuad Garuda.
Pertandingan berjalan satu arah hampir selama 90 menit. Bak latihan menyerang, Vietnam menggunakan segala daya upaya guna membongkar pertahanan Fachrudidn Wahyudi Aryanto cs.
Sebaliknya Timnas Indonesia tak ubah seperti tim yang sedang menjalani latihan bertahan. Sabar menanti gempuran demi gempuran dari lawan, yang hadir silih berganti dari penyerang-penyerang macam Nguyen Chong Puong dan Nguyen Quang Hai, hingga bek tengah lawan.
Pertandingan melawan Vietnam bukan sebuah laga yang nyaman ditonton pendukung Timnas Indonesia. Rasa cemas datang tiap kali pasukan Golden Star menggiring bola di daerah permainan Indonesia. Tak hanya cemas, senewen dan kesal pun campur jadi satu ketika bola dari Timnas Indonesia tak kunjung sampai ke daerah lawan dengan ancaman berarti.
Bangunan serangan Indonesia ibarat layu sebelum berkembang. Baru dibangun dari bawah, sudah patah di tengah.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Suporter tetaplah suporter yang ingin tim kesayangannya bermain bagus dan menjadi juara, meski permainan tim tersebut amburadul.
Sementara Timnas Indonesia punya Shin Tae Yong sebagai pelatih. Dengan label pelatih kelas Piala Dunia, Shin paham betul di mana level pemain-pemain yang ia panggil untuk Piala AFF.
Jika sebelumnya Shin menggunakan formasi 4-3-3, 4-2-2-2, atau 4-1-4-1, melawan Vietnam ada opsi lain yang diambil mantan gelandang timnas Korea Selatan itu.
Agaknya Shin memilih tidak kebobolan daripada harus bermain menyerang dan kemudian gagal meraih poin.
Perhitungan Shin tersebut kemudian diejawantahkan dengan menaruh tiga bek tengah dalam formasi 5-4-1.
"Memang kami menggunakan tiga bek dengan sengaja, karena pemain Vietnam nomor 19 [Quang Hai] dan 10 [Chong Puong] sangat baik," kata Shin dalam konferensi pers usai laga.
Faktor lain yang membuat Timnas Indonesia harus bermain dengan tiga bek, seperti yang diakui Shin, adalah ketiadaan Elkan Baggott yang harus menjalani karantina.
Shin sudah mengetahui kekuatan Vietnam setelah pertemuan di Kualifikasi Piala Dunia 2022 pada Juni lalu yang berakhir dengan pesta gol di kubu lawan.
Timnas Indonesia lebih banyak bertahan saat melawan Vietnam. (Dok. PSSI)
Dengan mengukur kemampuan lawan dan anak didiknya, Shin tak ingin lagi merasakan kekalahan telak. Alhasil main bertahan jadi pilihan.
Perjudian Shin dengan tembok rapat di belakang, meski membuat dongkol fan Timnas Indonesia, setidaknya menghasilkan poin dan posisi di puncak klasemen Grup B belum tergeser.
Lalu bagaimana nasib Timnas di Piala AFF 2021 kelak? Masih ada pertandingan melawan Malaysia sebagai laga penutup grup yang akan menentukan langkah kedua rival.
Vietnam yang menghadapi Kamboja di laga terakhir punya kans besar mengemas kemenangan dan merebut satu tiket ke semifinal, sehingga satu tiket lagi diburu Indonesia dan Malaysia.
Dengan kebutuhan mendulang satu poin untuk lolos ke semifinal, bukan tak mungkin Shin bakal kembali menerapkan permainan bertahan saat melawan Malaysia.
Jika Indonesia kembali gagal maju ke semifinal seperti tiga tahun lalu dan belum bisa menuntaskan penasaran jadi juara Piala AFF, ada kemungkinan kualitas tim Shin masih di bawah negara-negara tetangga.
Lagi pula tim nasional adalah cermin nyata dari kompetisi dan sejauh ini liga sepak bola di Indonesia belum ada perubahan berarti dan masih berkutat dengan banyak penyakit lama yang belum sembuh hingga kini.
Skor imbang 0-0 melawan Vietnam sedikit melipur rasa kesal lantaran permainan Timnas Indonesia yang mengecewakan di laga ketiga Piala AFF 2021.
Setelah dua kemenangan yang menghasilkan banyak gol, Timnas Indonesia menunjukkan kualitas yang membuat suporter jadi harap-harap cemas dan deg-degan selama 90 menit saat berjumpa timnas Vietnam.
Dengan keberadaan di puncak klasemen, muncul pula impian menang melawan Vietnam dan mendekatkan langkah ke semifinal Piala AFF. Namun pertandingan menghadapi anak asuh Park Hang Seo kembali membuat fan skuad Merah Putih menyadari kelas tim kebanggaannya belum sampai level terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Vietnam kini adalah kesebelasan terbaik di ASEAN, terbukti dengan peringkat 99 di ranking FIFA dan mengalahkan Thailand yang selama ini dikenal sebagai raja sepak bola ASEAN.
Anak asuh Park Hang Seo tampak ingin mempertontonkan keunggulan atas Indonesia di dalam lapangan, sekaligus memastikan tiket semifinal Piala AFF 2021 lebih awal.
Sejak peluit tanda pertandingan mulai berbunyi, Vietnam sudah dominan dalam penguasaan bola. Pressing terus dilakukan, bahkan saat sedang kehilangan bola. Hasilnya, Timnas Indonesia dibuat linglung.
Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan kesulitan keluar dari tekanan. Serba salah. Mau melepas umpan pendek, sudah ada pemain-pemain Vietnam yang sigap menekan. Mau mengirim umpan panjang lebih tidak terukur lagi akurasinya.
Vietnam nyaman memainkan sepak bola seperti itu. Mereka sudah terbiasa dengan gaya yang diterapkan Park sejak 2018.
Statistik menunjukkan Vietnam melepas 21 tembakan, berbanding satu milik Indonesia. Penguasaan bola pun tak kalah jomplang. Vietnam menyentuh 72 persen dan sisanya punya skuad Garuda.
Pertandingan berjalan satu arah hampir selama 90 menit. Bak latihan menyerang, Vietnam menggunakan segala daya upaya guna membongkar pertahanan Fachrudidn Wahyudi Aryanto cs.
Sebaliknya Timnas Indonesia tak ubah seperti tim yang sedang menjalani latihan bertahan. Sabar menanti gempuran demi gempuran dari lawan, yang hadir silih berganti dari penyerang-penyerang macam Nguyen Chong Puong dan Nguyen Quang Hai, hingga bek tengah lawan.
Pertandingan melawan Vietnam bukan sebuah laga yang nyaman ditonton pendukung Timnas Indonesia. Rasa cemas datang tiap kali pasukan Golden Star menggiring bola di daerah permainan Indonesia. Tak hanya cemas, senewen dan kesal pun campur jadi satu ketika bola dari Timnas Indonesia tak kunjung sampai ke daerah lawan dengan ancaman berarti.
Bangunan serangan Indonesia ibarat layu sebelum berkembang. Baru dibangun dari bawah, sudah patah di tengah.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Suporter Ingin Menang, tapi Shin Tae Yong Tahu Kemampuan Timnas
Shin Tae Yong paham kemampuan Timnas Indonesia. (Arsip PSSI)
Suporter tetaplah suporter yang ingin tim kesayangannya bermain bagus dan menjadi juara, meski permainan tim tersebut amburadul.
Sementara Timnas Indonesia punya Shin Tae Yong sebagai pelatih. Dengan label pelatih kelas Piala Dunia, Shin paham betul di mana level pemain-pemain yang ia panggil untuk Piala AFF.
Jika sebelumnya Shin menggunakan formasi 4-3-3, 4-2-2-2, atau 4-1-4-1, melawan Vietnam ada opsi lain yang diambil mantan gelandang timnas Korea Selatan itu.
Agaknya Shin memilih tidak kebobolan daripada harus bermain menyerang dan kemudian gagal meraih poin.
Perhitungan Shin tersebut kemudian diejawantahkan dengan menaruh tiga bek tengah dalam formasi 5-4-1.
"Memang kami menggunakan tiga bek dengan sengaja, karena pemain Vietnam nomor 19 [Quang Hai] dan 10 [Chong Puong] sangat baik," kata Shin dalam konferensi pers usai laga.
Faktor lain yang membuat Timnas Indonesia harus bermain dengan tiga bek, seperti yang diakui Shin, adalah ketiadaan Elkan Baggott yang harus menjalani karantina.
Shin sudah mengetahui kekuatan Vietnam setelah pertemuan di Kualifikasi Piala Dunia 2022 pada Juni lalu yang berakhir dengan pesta gol di kubu lawan.
Timnas Indonesia lebih banyak bertahan saat melawan Vietnam. (Dok. PSSI)
Dengan mengukur kemampuan lawan dan anak didiknya, Shin tak ingin lagi merasakan kekalahan telak. Alhasil main bertahan jadi pilihan.
Perjudian Shin dengan tembok rapat di belakang, meski membuat dongkol fan Timnas Indonesia, setidaknya menghasilkan poin dan posisi di puncak klasemen Grup B belum tergeser.
Lalu bagaimana nasib Timnas di Piala AFF 2021 kelak? Masih ada pertandingan melawan Malaysia sebagai laga penutup grup yang akan menentukan langkah kedua rival.
Vietnam yang menghadapi Kamboja di laga terakhir punya kans besar mengemas kemenangan dan merebut satu tiket ke semifinal, sehingga satu tiket lagi diburu Indonesia dan Malaysia.
Dengan kebutuhan mendulang satu poin untuk lolos ke semifinal, bukan tak mungkin Shin bakal kembali menerapkan permainan bertahan saat melawan Malaysia.
Jika Indonesia kembali gagal maju ke semifinal seperti tiga tahun lalu dan belum bisa menuntaskan penasaran jadi juara Piala AFF, ada kemungkinan kualitas tim Shin masih di bawah negara-negara tetangga.
Lagi pula tim nasional adalah cermin nyata dari kompetisi dan sejauh ini liga sepak bola di Indonesia belum ada perubahan berarti dan masih berkutat dengan banyak penyakit lama yang belum sembuh hingga kini.