Timnas Indonesia melangkah ke final Piala AFF 2020 dengan segala daya upaya hingga menjalani laga 120 menit melawan Singapura. Berikut 5 faktor Timnas Indonesia bisa mengalahkan Singapura.
Usai semifinal leg pertama yang berakhir imbang 1-1, kedua kesebelasan sudah memiliki rencana main yang matang menghadapi leg kedua.
Tanpa mengenal gol kandang dan tandang sebagai penentu, kemenangan adalah target bagi kedua kesebelasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timnas Indonesia memimpin lebih dulu melalui Ezra Walian. Singapura yang kalah jumlah pemain kemudian membalikkan keadaan berkat gol Song Ui Yong dan Shahdan Sulaiman.
Skuad Garuda kemudian kembali menyamakan kedudukan melalui Pratama Arhan pada menit akhir waktu normal. Dua upaya Egy Maulana Vikri menghasilkan gol penentu kemenangan. Yang pertama berujung gol bunuh diri Shawal Anuar, dan yang kedua berasal dari kaki pemain FK Senica tersebut.
Berikut 5 faktor Timnas Indonesia mengalahkan Singapura di semifinal Piala AFF:
1. Mental
Meskipun sempat mengalami kesulitan, terutama ketika unggul jumlah pemain, pemain-pemain Timnas Indonesia bisa menata mental di situasi sulit.
Dalam situasi 11 vs 9, dengan dua pemain Singapura mendapat kartu merah, Indonesia malah tertinggal 1-2.
Kemampuan berpikir positif membuat anak asuh Shin Tae Yong kemudian mampu menyamakan kedudukan, dan meski kecolongan penalti pada masa injury time kejernihan pikiran Nadeo Argawinata pantas mendapat kredit.
2. Tepisan Nadeo
Tanpa ada penyelamatan Nadeo bukan tidak mungkin tim Merah Putih sedang berkemas pulang sekarang, namun kini justru Singapura yang harus menjadi penonton laga final.
Kiper Bali United itu menihilkan kemustahilan dengan membaca penalti Faris Ramli dan kemudian menjauhkan bola dari gawang.
Setelah skor 2-2 terjaga hingga waktu normal usai, Timnas Indonesia kemudian mampu menguasai babak tambahan dan menggenggam tiket ke final.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Gigih Berjuang, Kepala Tetap Dingin
Pemain-pemain Indonesia menjaga kepala tetap dingin dalam situasi kepepet di lapangan. (AFP/ROSLAN RAHMAN)
3. Daya Juang Tinggi
Bukan perkara mudah menghadapi Singapura yang kokoh dalam bertahan serta sigap ketika menyerang balik. Timnas Indonesia dituntut tak mudah menyerah ketika serangan patah oleh lawan atau dihalau kiper Hassan Sunny.
Berkali-kali gagal, Asnawi Mangkualam cs kemudian bisa menyamakan kedudukan setelah tertinggal 1-2. Gol Pratama Arhan menjadi bukti upaya tak kenal lelah.
4. Pergantian Pemain yang Tepat
Shin Tae Yong melakukan pergantian pemain dengan jeli guna mengubah hasil laga. Elkan Baggott, Irfan Jaya, dan Egy Maulana Vikri punya peran penting dalam mewujudkan impian ke final.
Elkan menjadi pengadang bagi Ikhsan Fandi yang masuk pada babak kedua, sementara Irfan dan Egy membuktikan kapasitas daya dobrak dengan hasil beda.
Irfan Fandi harus menggunakan cara ilegal untuk menghentikan kecepatan Irfan Jaya. Alhasil Singapura bermain dengan sembilan pemain.
Sementara Egy punya kontribusi besar pada dua gol terakhir Timnas Indonesia. Gol bunuh diri Shawal Anuar terjadi lantaran sepakan Egy, dan pemain asal Sumatera Utara itu menggenapkan keunggulan atas tuan rumah.
![]() |
5. Kepala Dingin
Kerap kali dalam tensi tinggi, pemain-pemain Indonesia mudah terpancing emosi sehingga menjadi bumerang bagi tim. Namun yang terjadi saat laga melawan Singapura adalah hal berbeda.
Dalam laga tersebut justru Singapura yang kecolongan meladeni Indonesia dengan emosi tak stabil.
Meski ada hal yang masih harus dibenahi Shin, ketenangan pemain-pemain muda menghadapi hasutan dan tindak-tanduk pemain Singapura sudah memunculkan poin positif tersendiri.

