Cristiano Ronaldo dikaitkan dengan Paris Saint-Germain. (REUTERS/DAVID KLEIN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Cristiano Ronaldo menjadi 'bintang' di bursa transfer jelang musim baru karena kabar ia ingin hengkang dari Manchester United.
Kabar Ronaldo ingin hengkang langsung disambut klub-klub top benua biru. Bayern Munchen, Chelsea, Barcelona, hingga Paris Saint-Germain dikaitkan dengan kapten timnas Portugal itu.
Ronaldo boleh saja sudah berusia 37 tahun. Namun sosoknya masih menjadi magnet buat tim-tim yang ingin memburu prestasi tertinggi di pentas domestik dan Eropa.
Merekrut Ronaldo jelas ide yang menarik buat deretan klub tersebut. Meski bergaji tinggi, mencapai 450 ribu poundsterling di Man Utd, kedatangan Ronaldo jelas menguntungkan.
Selain bakal cuan dari segi bisnis, Ronaldo juga masih salah satu yang terbaik di kotak penalti lawan. Meski tak lagi setajam di masa emasnya, pemain asal Madeira itu mampu mencetak 24 gol musim lalu dan jadi top skor di Man Utd.
Dua aspek ini agaknya yang jadi pertimbangan klub-klub peminat termasuk PSG. Meskipun agak mengherankan Les Parisiens masuk dalam pusaran perburuan Ronaldo.
Kekuatan finansial PSG sejak dimiliki Nasser Al-Khelaifi memang mengerikan. Klub raksasa Prancis itu mudah saja menawarkan kontrak yang menggiurkan untuk pemain top dunia yang kerap bikin klub lain kesal.
Namun yang menjadi pertanyaan, buat apa PSG merekrut Ronaldo. Apakah mereka benar-benar butuh Ronaldo dalam skema pelatih anyar Christophe Galtier.
Tim yang bermarkas di Parc des Princes itu sudah punya tiga bintang di lini depan; Neymar, Kylian Mbappe, dan Lionel Messi. Ketiga pemain ini jelas mendapatkan garansi starter andai tak cedera.
Jika Ronaldo datang maka situasinya bakal lebih rumit. Harus ada salah satu pemain yang dikorbankan dan ini tidak akan mudah.
Ronaldo alergi tidak bisa bermain di setiap pertandingan. Hal yang sama juga berlaku untuk Neymar, Mbappe, dan Messi.
Keempat pemain ini terbiasa menjadi pemeran utama. Potensi salah satu pemain ini ngambek karena jarang bermain bakal menghantui dalam perjalanan tim dalam semusim.
Galtier bisa saja mengalah dengan memainkan empat bintang ini sebagai starter andai Ronaldo benar-benar datang ke PSG. Aksi keempatnya di lapangan hijau tentu akan menarik buat penonton dan membuat petinggi PSG tersenyum lebar.
Ronaldo dan Messi ada di tim yang sama merupakan impian banyak orang namun tak akan mudah untuk diwujudkan. (AP/Joan Monfort)
Neymar akan menari-nari di lapangan, Messi memanjakan rekannya lewat umpan-umpan berkelas, dan publik bersukacita merayakan gol-gol dari Mbappe atau Ronaldo.
Namun persoalannya tidak semudah fantasi liar semacam itu. Memainkan empat pemain dengan naluri ofensif yang tinggi secara bersamaan mengandung risiko yang tidak kecil.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Tim asuhan Galtier berpotensi terganggu dalam hal keseimbangan permainan. PSG akan menjadi tim yang terlalu ofensif dan rapuh saat bertahan.
Lagipula jujur sulit untuk melihat Messi, Neymar, dan Ronaldo aktif dalam membantu pertahanan. Praktis hanya Mbappe yang mungkin mau untuk aktif membantu pertahanan mengingat kecepatan yang ia miliki dan faktor usia yang masih 23 tahun.
Memainkan keempat pemain bintang tidak akan mudah buat pelatih manapun, tak terkecuali Galtier. Apalagi pelatih yang sukses mengantarkan Lille juara Liga Prancis itu tidak punya reputasi yang mentereng macam Zinedine Zidane yang sempat didekati oleh PSG.
Galtier bukan sosok yang asing di Prancis, tetapi jika bicara label pelatih top maka pria berusia 55 itu belum masuk hitungan. Kesempatan melatih Les Parisiens jadi kesempatan emas buatnya membuktikan diri pantas masuk jajaran elite.
Galtier juga akan merasakan tekanan yang berbeda melatih PSG. Ego para pemain bintang dunia yang ada di PSG akan menjadi pengalaman baru buat Galtier apalagi jika sampai Ronaldo datang. Butuh kesiapan mental karena Galtier tidak akan bisa membuat semua pemain bahagia.
Meredam ego pemain bintang tidak akan pernah mudah, terutama saat sang pemain bintang itu hanya duduk di bangku cadangan. Di sisi lain, Galtier jelas punya kepentingan taktik yang harus diutamakan di PSG demi mengukir prestasi tertinggi.
Selain tekanan hebat yang berpotensi didapat Galtier, manajemen PSG juga perlu belajar dari Real Madrid. Los Merengues pernah bertabur bintang dan dilabeli Los Galacticos pada awal 2000-an.
Madrid yang bernafsu menjadi raja di Eropa dan Spanyol diperkuat pemain-pemain top seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, David Beckham, hingga Fabio Cannavaro. Kedatangan para bintang sepak bola dunia itu nyatanya tak lantas membuat Madrid bergelimang gelar.
Benar Madrid bisa juara Liga Champions musim 2001/2022 dan mengangkat trofi Liga Spanyol 2002/2003. Tiga musim berikutnya, tim penuh bintang ini gagal mempersembahkan gelar bergengsi buat Madrid.
Oleh karena itu, PSG perlu berhitung dengan cermat jika benar ingin mendatangkan Ronaldo. Jangan sampai kehadiran Ronaldo justru menjadi pembelian yang gagal dan malah mengganggu keharmonisan trio MNM sebagai tumpuan utama tim asal Paris itu dalam meraih kemenangan.
Cristiano Ronaldo menjadi 'bintang' di bursa transfer jelang musim baru karena kabar ia ingin hengkang dari Manchester United.
Kabar Ronaldo ingin hengkang langsung disambut klub-klub top benua biru. Bayern Munchen, Chelsea, Barcelona, hingga Paris Saint-Germain dikaitkan dengan kapten timnas Portugal itu.
Ronaldo boleh saja sudah berusia 37 tahun. Namun sosoknya masih menjadi magnet buat tim-tim yang ingin memburu prestasi tertinggi di pentas domestik dan Eropa.
Merekrut Ronaldo jelas ide yang menarik buat deretan klub tersebut. Meski bergaji tinggi, mencapai 450 ribu poundsterling di Man Utd, kedatangan Ronaldo jelas menguntungkan.
Selain bakal cuan dari segi bisnis, Ronaldo juga masih salah satu yang terbaik di kotak penalti lawan. Meski tak lagi setajam di masa emasnya, pemain asal Madeira itu mampu mencetak 24 gol musim lalu dan jadi top skor di Man Utd.
Dua aspek ini agaknya yang jadi pertimbangan klub-klub peminat termasuk PSG. Meskipun agak mengherankan Les Parisiens masuk dalam pusaran perburuan Ronaldo.
Kekuatan finansial PSG sejak dimiliki Nasser Al-Khelaifi memang mengerikan. Klub raksasa Prancis itu mudah saja menawarkan kontrak yang menggiurkan untuk pemain top dunia yang kerap bikin klub lain kesal.
Namun yang menjadi pertanyaan, buat apa PSG merekrut Ronaldo. Apakah mereka benar-benar butuh Ronaldo dalam skema pelatih anyar Christophe Galtier.
Tim yang bermarkas di Parc des Princes itu sudah punya tiga bintang di lini depan; Neymar, Kylian Mbappe, dan Lionel Messi. Ketiga pemain ini jelas mendapatkan garansi starter andai tak cedera.
Jika Ronaldo datang maka situasinya bakal lebih rumit. Harus ada salah satu pemain yang dikorbankan dan ini tidak akan mudah.
Ronaldo alergi tidak bisa bermain di setiap pertandingan. Hal yang sama juga berlaku untuk Neymar, Mbappe, dan Messi.
Keempat pemain ini terbiasa menjadi pemeran utama. Potensi salah satu pemain ini ngambek karena jarang bermain bakal menghantui dalam perjalanan tim dalam semusim.
Galtier bisa saja mengalah dengan memainkan empat bintang ini sebagai starter andai Ronaldo benar-benar datang ke PSG. Aksi keempatnya di lapangan hijau tentu akan menarik buat penonton dan membuat petinggi PSG tersenyum lebar.
Ronaldo dan Messi ada di tim yang sama merupakan impian banyak orang namun tak akan mudah untuk diwujudkan. (AP/Joan Monfort)
Neymar akan menari-nari di lapangan, Messi memanjakan rekannya lewat umpan-umpan berkelas, dan publik bersukacita merayakan gol-gol dari Mbappe atau Ronaldo.
Namun persoalannya tidak semudah fantasi liar semacam itu. Memainkan empat pemain dengan naluri ofensif yang tinggi secara bersamaan mengandung risiko yang tidak kecil.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
PSG Perlu Berhitung Rekrut Ronaldo
PSG sudah punya Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Neymar. (AP/Michel Euler)
Tim asuhan Galtier berpotensi terganggu dalam hal keseimbangan permainan. PSG akan menjadi tim yang terlalu ofensif dan rapuh saat bertahan.
Lagipula jujur sulit untuk melihat Messi, Neymar, dan Ronaldo aktif dalam membantu pertahanan. Praktis hanya Mbappe yang mungkin mau untuk aktif membantu pertahanan mengingat kecepatan yang ia miliki dan faktor usia yang masih 23 tahun.
Memainkan keempat pemain bintang tidak akan mudah buat pelatih manapun, tak terkecuali Galtier. Apalagi pelatih yang sukses mengantarkan Lille juara Liga Prancis itu tidak punya reputasi yang mentereng macam Zinedine Zidane yang sempat didekati oleh PSG.
Galtier bukan sosok yang asing di Prancis, tetapi jika bicara label pelatih top maka pria berusia 55 itu belum masuk hitungan. Kesempatan melatih Les Parisiens jadi kesempatan emas buatnya membuktikan diri pantas masuk jajaran elite.
Galtier juga akan merasakan tekanan yang berbeda melatih PSG. Ego para pemain bintang dunia yang ada di PSG akan menjadi pengalaman baru buat Galtier apalagi jika sampai Ronaldo datang. Butuh kesiapan mental karena Galtier tidak akan bisa membuat semua pemain bahagia.
Meredam ego pemain bintang tidak akan pernah mudah, terutama saat sang pemain bintang itu hanya duduk di bangku cadangan. Di sisi lain, Galtier jelas punya kepentingan taktik yang harus diutamakan di PSG demi mengukir prestasi tertinggi.
Selain tekanan hebat yang berpotensi didapat Galtier, manajemen PSG juga perlu belajar dari Real Madrid. Los Merengues pernah bertabur bintang dan dilabeli Los Galacticos pada awal 2000-an.
Madrid yang bernafsu menjadi raja di Eropa dan Spanyol diperkuat pemain-pemain top seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, David Beckham, hingga Fabio Cannavaro. Kedatangan para bintang sepak bola dunia itu nyatanya tak lantas membuat Madrid bergelimang gelar.
Benar Madrid bisa juara Liga Champions musim 2001/2022 dan mengangkat trofi Liga Spanyol 2002/2003. Tiga musim berikutnya, tim penuh bintang ini gagal mempersembahkan gelar bergengsi buat Madrid.
Oleh karena itu, PSG perlu berhitung dengan cermat jika benar ingin mendatangkan Ronaldo. Jangan sampai kehadiran Ronaldo justru menjadi pembelian yang gagal dan malah mengganggu keharmonisan trio MNM sebagai tumpuan utama tim asal Paris itu dalam meraih kemenangan.