Mundari Karya: Penjaga Maradona, Pemandu Pemain Muda
Mundari Karya | CNN Indonesia
Rabu, 03 Agu 2022 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mundari Karya pernah dipercaya menjadi penjaga Diego Maradona pada Piala Dunia U-20 1979. (Tangkapan Layar Instagram/@mundarikarya_)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sepak bola adalah sebuah cita-cita yang kemudian mempertemukan saya dengan Diego Maradona yang legendaris. Lebih dari itu, saya juga bisa mengharumkan nama Indonesia.
Pertemuan dengan Maradona, sang bintang Argentina, terjadi pada Piala Dunia U-20 1979. Sebelum bercerita soal duel melawan salah satu bintang top dunia itu izinkan saya cerita proses menuju ke sana.
Semua bermula dari masa kecil tinggal di area sekitar Pasar Minggu dan Ragunan, Jakarta. Kalau bicara tahun 1970-an ada klub terkenal yang bermarkas di sana, namanya Jayakarta. Saya melihat pemain-pemain nasional pada masa itu di situ, seperti Iswadi Idris, Andi Lala, dan Anjas Asmara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situ saya makin tertarik dengan sepak bola. Dari sekolah saya memang sudah suka sepak bola dan kemudian keluarga juga punya kegemaran yang sama. Dari kecil saya sudah anak bola banget lah. Sampai kemudian seorang pemandu bakat dari PSK Prina merekrut saya.
Prina adalah salah satu klub yang berada di bawah naungan Persija. Di Prina saya ditempa jadi pemain sepak bola, saya dilatih seperti di sebuah training centre di daerah Cijantung.
Dari Prina kemudian saya terpilih masuk tim Persija junior dan bermain di Piala Soeratin yang merupakan wadah kompetisi pemain muda. Berkat keberhasilan membawa Persija ke peringkat ketiga, saya mendapat tiket undangan seleksi Timnas Indonesia untuk Piala Asia U-19 1978.
Saya hanya satu dari puluhan pemain yang ikut seleksi. Sampai kemudian saya terpilih membela Timnas Indonesia U-19. Pada waktu itu target PSSI enggak main-main, lolos ke Piala Dunia U-20 1979. Artinya kita harus tembus final.
Pertandingan pertama di Bangladesh waktu itu Timnas Indonesia kalah dari Irak. Kekalahan enggak buat pemain jadi lemah. Namanya masih muda waktu itu, ya main saja. Di pertandingan kedua menang atas Malaysia dan pertandingan terakhir menang lawan Yordania sehingga Timnas Indonesia ke perempat final.
Di perempat final lawan Korea Utara, kita kalah. Dari situ mimpi ke Piala Dunia selesai. Pemain-pemain pulang. Mayoritas pemain-pemain di tim U-19 ini ditarik ke klub-klub Galatama (Liga sepak bola utama), kebetulan pada waktu itu Galatama baru mulai. Saya pun dapat tawaran masuk tim Jaka Utama di Lampung berkat Jacob Sihasale yang memantau bakat saya.
Saat persiapan tampil di Galatama sedang menggebu-gebu, kemudian Indonesia dapat kepastian tampil di Piala Dunia U-20 1979. Karena ada negara-negara yang mengundurkan diri, Indonesia dapat jatah mewakili Asia.
Saya kembali ikut seleksi. Sama seperti sebelum Piala Asia U-19 1978, banyak pemain yang dipanggil. Tetapi kali ini pelatihnya berbeda. Seorang legenda sepak bola Indonesia, Sucipto Suntoro, dipilih menjadi pelatih menggantikan Djamiat Dalhar yang wafat pada 1979.
Setelah seleksi saya kembali terpilih. Ada banyak perubahan pemain kalau tidak salah waktu itu dibanding tim U-19 1978. Beberapa nama, bahkan kapten di U-19 di Piala Asia, Nurdin dari PSMS, tidak masuk tim untuk Piala Dunia.
Berbeda dengan Piala Asia U-19 1978, PSSI tidak membebankan target apa-apa di Piala Dunia U-20 1979 karena kita satu grup dengan negara-negara peserta Piala Dunia di level senior yakni Argentina, Yugoslavia, dan Polandia.
Khusus Argentina, nama negara satu ini sudah didengung-dengungkan media. Apalagi kalau bukan karena Maradona. Ketika Argentina juara Piala Dunia 1978 memang belum ada Maradona, tetapi pemain itu sudah sering masuk berita waktu itu.
Pemain-pemain dan pelatih tahu Maradona dari media, seperti koran Bola. Selain itu saya juga sempat lihat ada siaran langsung atau video Maradona lawan Belanda di sebuah pertandingan.
Menghadapi Argentina yang diperkuat Maradona, pelatih lantas memberi tugas khusus kepada saya untuk mengawal sang bintang. Agar benar-benar siap menjaga Maradona, saya pun mendapat porsi latihan berbeda dari pemain lain. Seperti latihan fisik yang lebih dan ada instruksi-instruksi lain.
Timnas Indonesia U-20 ini benar-benar dipersiapkan matang dan kita bermain cukup meyakinkan juga di pertandingan uji coba lawan klub-klub Galatama. Kita bisa menang lawan pemain-pemain senior. Ada rasa percaya diri yang muncul sebelum berangkat ke Jepang, tuan rumah Piala Dunia U-20 1979.
Sampai di Jepang, kami satu hotel dengan tiga negara segrup. Maradona sudah terlihat sejak di hotel. Pemain yang satu ini memang beda. Dia lebih sering jalan bersama pelatih Cesar Luis Menotti, yang juga merupakan pelatih Timnas Argentina senior yang setahun sebelumnya jadi juara dunia.
Maradona pemain yang baik di luar lapangan, dia mau diajak foto bersama. Banyak teman-teman saya yang foto bareng, tapi saya malah enggak sempat.
Hari pertandingan pun tiba, Indonesia dijadwalkan melawan Argentina di pertandingan pertama. Sebelum pertandingan mulai, pelatih mendapat titipan pesan dari ofisial pertandingan agar saya hati-hati menjaga Maradona.
"Jangan sampai kena kartu kuning," kata Mas Cipto waktu itu.
Ini sepertinya merupakan instruksi khusus karena Maradona merupakan rising star, sementara di sisi lain Indonesia waktu itu tidak ketahuan level permainannya.
Peluit tanda pertandingan dimulai dibunyikan, Maradona langsung unjuk kualitas. Dia dribel bola sendirian sampai kotak penalti terus nembak, kena tiang. Saya pikir memang beda ini pemain.
Tommy Latuperisa yang dipasang jadi bek kiri tanpa tedeng aling-aling menjatuhkan Maradona di menit awal dan langsung dapat kartu kuning. Tommy kemudian diganti dengan Didik Darmadi. Saya langsung ingat nasihat pelatih agar jangan terlalu keras dengan Maradona.
Argentina bikin lima gol di babak pertama. Maradona cetak dua gol, tiga lainnya dibuat Ramon Diaz. Saat turun minum saya jelas kena semprot pelatih karena dianggap tidak becus menjaga Maradona.
Mendapat sorotan pelatih, saya pun lantas menjawab kesulitan menjaga pemain-pemain Argentina karena muka mereka mirip.
"Kan bisa lo lihat, ada nomornya!" kata Mas Cipto waktu itu, hahaha.
Jujur saja saya memang susah membedakan Maradona dengan pemain lain karena saya melihat mereka itu mirip. Maradona, Ramon Diaz, itu sepertinya muka-mukanya persis.
Selain itu saya menilai waktu itu kegagalan saya menjaga Maradona adalah karena posisi saya sebagai center back, sementara Maradona bermain lebih ke belakang. Waktu itu penyerang utamanya Ramon Diaz dan Maradona ada di belakangnya.
Setelah Argentina unggul 5-0 di babak pertama, mereka tidak bikin gol lagi di babak kedua. Sepertinya mereka sudah enggak nafsu lagi, hahaha. Tetapi secara permainan memang Timnas Indonesia U-20 bermain lebih baik menurut saya dibanding babak pertama yang benar-benar enggak karuan.
Pada pertandingan selanjutnya, melawan Polandia dan Yugoslavia, kita kalah lagi. Kalau lawan dua negara ini persoalannya lebih ke postur menurut saya. Mereka bikin gol dari bola-bola atas.
Jujur pada waktu itu memang ada perbedaan antara Indonesia dan tim-tim lain, nah pada tahun depan di Piala Dunia U-20 2023 saya penasaran mau lihat level Indonesia itu masih berbeda jauh atau sudah lebih baik.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Karier saya diTimnas Indonesia berlanjut hingga ke level senior. Saya juga sempat masuk Timnas Indonesia yang dikirim ke Brasil setelah pulang dari Piala Dunia U-20 1979.
Pada tahun itu saya bisa bermain bersama pemain-pemain top Indonesia seperti Ronny Pattinasarani dan Simson Rumapassal, wah itu rasanya bangga sekali bisa satu tim sama bang Ronny dan bang Simson. Benar-benar ini mimpi yang jadi kenyataan bisa bermain sama pemain yang dulu cuma saya lihat dari jauh.
Pada era 1980-an, ada dua tim yang dipersiapkan yakni timnas Utama dan Pratama. Kira-kira tahun 1984 saya mengalami cedera dan harus degradasi ke tim pratama.
Selain pernah tampil membela Timnas Indonesia, perjalanan saya di level klub juga alhamdulillah terbilang baik. Ketika membela Jaka Utama di Lampung memang saya tidak bisa mempersembahkan gelar Galatama, namun saya waktu itu bisa membawa Lampung juara PON.
Selepas dari Jaka Utama, saya membela Yanita Utama di Bogor. Di situ saya juara Galatama dua kali. Dari Yanita Utama ke Kramayudha Tiga Berlian di Palembang. Di sana selain juara Galatama dua kali juga bisa tampil di Liga Champions Asia. Buat saya ini adalah salah satu prestasi membanggakan karena Kramayudha bisa menembus peringkat tiga, sampai sekarang belum ada lagi klub Indonesia yang bisa lagi mengulang prestasi itu.
Lebih dari itu yang spesial adalah kami bisa menembus peringkat tiga dan pada saat itu pertandingan berlangsung di Arab Saudi. Pada waktu itu ada anggapan Indonesia dipandang remeh di Arab Saudi karena banyak tenaga kerja kita di sana yang berada di sektor pekerjaan kasar. Nah dengan kemenangan di Arab itu, saya merasa bisa memberi kebanggaan tersendiri buat saudara-saudara kita di sana.
Lanjut dari Kramayudha saya pindah ke Pelita Jaya dan saya meraih tiga gelar juara Galatama. Saya hampir 14 tahun di Pelita Jaya, sebagai pemain dan asisten pelatih bahkan sempat menjadi pelatih juga di sana. Pada Liga Indonesia pertama tahun 1994/1995, saya tiba-tiba jadi pelatih Pelita Jaya karena pelatih Romano Matte ditunjuk menjadi pelatih Timnas Indonesia ke SEA Games.
Keputusan saya menjadi pelatih memang sudah ada di kepala sejak saya jadi pemain. Saya pernah mendapat tawaran untuk bekerja di perusahaan-perusahaan pada tahun 1980-an karena pada tahun itu ada semacam liga sepak bola bagi perusahaan atau bank dan sebagainya. Banyak pemain sepak bola yang kemudian pindah dan berkarier di perusahaan, sementara saya berpikir sepak bola adalah hidup saya jadi tidak berpikir masuk perusahaan.
Bertahun-tahun di Pelita Jaya saya merasakan menjadi asisten dari pelatih-pelatih yang juga sosok terkenal seperti Mario Kempes dan Henk Wullems. Setelah belasan tahun di Pelita Jaya, saya pindah ke Barito Putera. Semula keinginan saya hengkang mendapat penolakan dari pak Nirwan Bakrie selaku pemilik karena sudah dianggap sebagai keluarga, namun karena beliau punya kedekatan juga dengan pemilik Barito akhirnya saya diizinkan pindah pada tahun 2000-an.
Jalan saya sebagai pelatih berlanjut dari Barito ke Persija. Pada awal 2000-an itu saya juga banyak terlibat melatih Timnas Indonesia menjadi asisten pelatih Benny Dolo dan Ivan Kolev. Saya juga dapat kesempatan melatih Timnas Indonesia di Pra Olimpiade. Dari situ saya bergabung ke Petrokimia Putra.
Selepas dari Petrokimia saya jadi pelatih Timnas Indonesia U-16. Waktu itu kalau enggak salah tahun 2006 kita bisa tembus ke Piala Asia. Saya juga sempat pegang U-14. Kemudian saya juga sempat melatih Persih Tembilahan, Persisam, terus ke Barito Putera lagi.
Saya memang sering jadi pelatih di level usia muda, mungkin karena enggak banyak yang tertarik hahaha. Tapi itu mungkin juga tidak lepas dari filosofi saya yang selalu ingin memunculkan pemain-pemain muda.
Jadi pelatih usia muda banyak tantangannya, waktu saya jadi pelatih usia muda di tahun 2000-an itu kompetisinya enggak ada. Dibanding waktu saya masih jadi pemain muda, kondisinya berbeda sekali. Sehingga saya waktu itu hanya bisa menyeleksi pemain dari Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di kota-kota besar. Baru setelah itu ada Indra Sjafri yang mulai 'blusukan'. Karena pengalaman itu juga saya sekarang mau ikut menata kompetisi di level kelompok umur.
Selain soal kompetisi yang sempat mati suri, ada banyak hal lain yang menjadi seni dalam melatih atau memandu bakat pemain muda. Latar belakang pemain, gaya hidup, sampai asupan makanan itu benar-benar memengaruhi.
Seperti kita tahu sepak bola di Indonesia ini yang main kebanyakan dari level status ekonomi sosial menengah atau bahkan bawah, ini begitu memengaruhi pemain. Pertama dari asupan makanan, contoh kecil mereka waktu kecil tidak mengenal susu. Setelah itu ketika mereka bisa mencari uang di usia muda, langsung ada perubahan gaya hidup yang signifikan seperti kenal media sosial, pergaulan dengan teman sebaya, hingga kehidupan malam. Kadang ada pemain muda yang terbentur masalah itu.
Belum lagi ketika kita sudah menemukan bakat menjanjikan, tetapi pelatih di tim utama tidak mau memberi menit bermain kepada pemain muda itu. Pemain-pemain muda ini membutuhkan pengakuan ketika ada di tim utama.
Saya yang aktif dalam pembinaan usia muda itu benar-benar mengemban tanggung jawab besar ketika merekrut pemain muda dari daerah. Maka dari itu saya hanya benar-benar berani menggaet pemain ke klub jika benar-benar punya potensi. Saya enggak berani kalau ada pemain titipan, karena risikonya besar sekali.
Pemain bola itu profesi yang unik, di masa sekolah kita enggak bisa full belajar 100 persen karena juga harus berlatih. Oleh karena itu jika fokus jadi pemain sepak bola, bisa dibilang konsentrasi sekolah bisa terpecah. Jika seseorang yang semula fokus di sepak bola tetapi ternyata dia tidak bisa benar-benar jadi pemain, saya khawatir mereka jadi masalah di lingkungan sekitar.
Beberapa pemain yang saya 'temukan' bakatnya di usia muda adalah Muhammad Ilham yang pernah bermain di Timnas Indonesia pada tahun 2000-an. Setelah itu ada Makan Konate dan Rohit Chand yang juga saya pantau di awal-awal sebelum mereka masuk kompetisi Liga 1. Kalau untuk pemain sekarang ada Asnawi Mangkualam, Syahrian Abimanyu, Luthfi Kamal Baharsyah, M Riyandi, David Maulana, dan Arkhan Fikri.
Akhir kata, saya berharap perjalanan karier saya di sepak bola dari tahun 1970-an sebagai pemain sampai sekarang menjadi instruktur pelatih bisa membuahkan hasil membanggakan bagi Indonesia di masa depan.
Sepak bola adalah sebuah cita-cita yang kemudian mempertemukan saya dengan Diego Maradona yang legendaris. Lebih dari itu, saya juga bisa mengharumkan nama Indonesia.
Pertemuan dengan Maradona, sang bintang Argentina, terjadi pada Piala Dunia U-20 1979. Sebelum bercerita soal duel melawan salah satu bintang top dunia itu izinkan saya cerita proses menuju ke sana.
Semua bermula dari masa kecil tinggal di area sekitar Pasar Minggu dan Ragunan, Jakarta. Kalau bicara tahun 1970-an ada klub terkenal yang bermarkas di sana, namanya Jayakarta. Saya melihat pemain-pemain nasional pada masa itu di situ, seperti Iswadi Idris, Andi Lala, dan Anjas Asmara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situ saya makin tertarik dengan sepak bola. Dari sekolah saya memang sudah suka sepak bola dan kemudian keluarga juga punya kegemaran yang sama. Dari kecil saya sudah anak bola banget lah. Sampai kemudian seorang pemandu bakat dari PSK Prina merekrut saya.
Prina adalah salah satu klub yang berada di bawah naungan Persija. Di Prina saya ditempa jadi pemain sepak bola, saya dilatih seperti di sebuah training centre di daerah Cijantung.
Dari Prina kemudian saya terpilih masuk tim Persija junior dan bermain di Piala Soeratin yang merupakan wadah kompetisi pemain muda. Berkat keberhasilan membawa Persija ke peringkat ketiga, saya mendapat tiket undangan seleksi Timnas Indonesia untuk Piala Asia U-19 1978.
Saya hanya satu dari puluhan pemain yang ikut seleksi. Sampai kemudian saya terpilih membela Timnas Indonesia U-19. Pada waktu itu target PSSI enggak main-main, lolos ke Piala Dunia U-20 1979. Artinya kita harus tembus final.
Pertandingan pertama di Bangladesh waktu itu Timnas Indonesia kalah dari Irak. Kekalahan enggak buat pemain jadi lemah. Namanya masih muda waktu itu, ya main saja. Di pertandingan kedua menang atas Malaysia dan pertandingan terakhir menang lawan Yordania sehingga Timnas Indonesia ke perempat final.
Di perempat final lawan Korea Utara, kita kalah. Dari situ mimpi ke Piala Dunia selesai. Pemain-pemain pulang. Mayoritas pemain-pemain di tim U-19 ini ditarik ke klub-klub Galatama (Liga sepak bola utama), kebetulan pada waktu itu Galatama baru mulai. Saya pun dapat tawaran masuk tim Jaka Utama di Lampung berkat Jacob Sihasale yang memantau bakat saya.
Saat persiapan tampil di Galatama sedang menggebu-gebu, kemudian Indonesia dapat kepastian tampil di Piala Dunia U-20 1979. Karena ada negara-negara yang mengundurkan diri, Indonesia dapat jatah mewakili Asia.
Saya kembali ikut seleksi. Sama seperti sebelum Piala Asia U-19 1978, banyak pemain yang dipanggil. Tetapi kali ini pelatihnya berbeda. Seorang legenda sepak bola Indonesia, Sucipto Suntoro, dipilih menjadi pelatih menggantikan Djamiat Dalhar yang wafat pada 1979.
Setelah seleksi saya kembali terpilih. Ada banyak perubahan pemain kalau tidak salah waktu itu dibanding tim U-19 1978. Beberapa nama, bahkan kapten di U-19 di Piala Asia, Nurdin dari PSMS, tidak masuk tim untuk Piala Dunia.
Berbeda dengan Piala Asia U-19 1978, PSSI tidak membebankan target apa-apa di Piala Dunia U-20 1979 karena kita satu grup dengan negara-negara peserta Piala Dunia di level senior yakni Argentina, Yugoslavia, dan Polandia.
Khusus Argentina, nama negara satu ini sudah didengung-dengungkan media. Apalagi kalau bukan karena Maradona. Ketika Argentina juara Piala Dunia 1978 memang belum ada Maradona, tetapi pemain itu sudah sering masuk berita waktu itu.
Pemain-pemain dan pelatih tahu Maradona dari media, seperti koran Bola. Selain itu saya juga sempat lihat ada siaran langsung atau video Maradona lawan Belanda di sebuah pertandingan.
Menghadapi Argentina yang diperkuat Maradona, pelatih lantas memberi tugas khusus kepada saya untuk mengawal sang bintang. Agar benar-benar siap menjaga Maradona, saya pun mendapat porsi latihan berbeda dari pemain lain. Seperti latihan fisik yang lebih dan ada instruksi-instruksi lain.
Timnas Indonesia U-20 ini benar-benar dipersiapkan matang dan kita bermain cukup meyakinkan juga di pertandingan uji coba lawan klub-klub Galatama. Kita bisa menang lawan pemain-pemain senior. Ada rasa percaya diri yang muncul sebelum berangkat ke Jepang, tuan rumah Piala Dunia U-20 1979.
Sampai di Jepang, kami satu hotel dengan tiga negara segrup. Maradona sudah terlihat sejak di hotel. Pemain yang satu ini memang beda. Dia lebih sering jalan bersama pelatih Cesar Luis Menotti, yang juga merupakan pelatih Timnas Argentina senior yang setahun sebelumnya jadi juara dunia.
Maradona pemain yang baik di luar lapangan, dia mau diajak foto bersama. Banyak teman-teman saya yang foto bareng, tapi saya malah enggak sempat.
Hari pertandingan pun tiba, Indonesia dijadwalkan melawan Argentina di pertandingan pertama. Sebelum pertandingan mulai, pelatih mendapat titipan pesan dari ofisial pertandingan agar saya hati-hati menjaga Maradona.
"Jangan sampai kena kartu kuning," kata Mas Cipto waktu itu.
Ini sepertinya merupakan instruksi khusus karena Maradona merupakan rising star, sementara di sisi lain Indonesia waktu itu tidak ketahuan level permainannya.
Peluit tanda pertandingan dimulai dibunyikan, Maradona langsung unjuk kualitas. Dia dribel bola sendirian sampai kotak penalti terus nembak, kena tiang. Saya pikir memang beda ini pemain.
Tommy Latuperisa yang dipasang jadi bek kiri tanpa tedeng aling-aling menjatuhkan Maradona di menit awal dan langsung dapat kartu kuning. Tommy kemudian diganti dengan Didik Darmadi. Saya langsung ingat nasihat pelatih agar jangan terlalu keras dengan Maradona.
Argentina bikin lima gol di babak pertama. Maradona cetak dua gol, tiga lainnya dibuat Ramon Diaz. Saat turun minum saya jelas kena semprot pelatih karena dianggap tidak becus menjaga Maradona.
Mendapat sorotan pelatih, saya pun lantas menjawab kesulitan menjaga pemain-pemain Argentina karena muka mereka mirip.
"Kan bisa lo lihat, ada nomornya!" kata Mas Cipto waktu itu, hahaha.
Jujur saja saya memang susah membedakan Maradona dengan pemain lain karena saya melihat mereka itu mirip. Maradona, Ramon Diaz, itu sepertinya muka-mukanya persis.
Selain itu saya menilai waktu itu kegagalan saya menjaga Maradona adalah karena posisi saya sebagai center back, sementara Maradona bermain lebih ke belakang. Waktu itu penyerang utamanya Ramon Diaz dan Maradona ada di belakangnya.
Setelah Argentina unggul 5-0 di babak pertama, mereka tidak bikin gol lagi di babak kedua. Sepertinya mereka sudah enggak nafsu lagi, hahaha. Tetapi secara permainan memang Timnas Indonesia U-20 bermain lebih baik menurut saya dibanding babak pertama yang benar-benar enggak karuan.
Pada pertandingan selanjutnya, melawan Polandia dan Yugoslavia, kita kalah lagi. Kalau lawan dua negara ini persoalannya lebih ke postur menurut saya. Mereka bikin gol dari bola-bola atas.
Jujur pada waktu itu memang ada perbedaan antara Indonesia dan tim-tim lain, nah pada tahun depan di Piala Dunia U-20 2023 saya penasaran mau lihat level Indonesia itu masih berbeda jauh atau sudah lebih baik.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Koleksi Gelar dan Bikin Bangga Orang Indonesia di Arab Saudi
Mundari Karya kini aktif membina pemain muda dan menjadi instruktur pelatih. (Tangkapan Layar Instagram/@mundarikarya_)
Karier saya diTimnas Indonesia berlanjut hingga ke level senior. Saya juga sempat masuk Timnas Indonesia yang dikirim ke Brasil setelah pulang dari Piala Dunia U-20 1979.
Pada tahun itu saya bisa bermain bersama pemain-pemain top Indonesia seperti Ronny Pattinasarani dan Simson Rumapassal, wah itu rasanya bangga sekali bisa satu tim sama bang Ronny dan bang Simson. Benar-benar ini mimpi yang jadi kenyataan bisa bermain sama pemain yang dulu cuma saya lihat dari jauh.
Pada era 1980-an, ada dua tim yang dipersiapkan yakni timnas Utama dan Pratama. Kira-kira tahun 1984 saya mengalami cedera dan harus degradasi ke tim pratama.
Selain pernah tampil membela Timnas Indonesia, perjalanan saya di level klub juga alhamdulillah terbilang baik. Ketika membela Jaka Utama di Lampung memang saya tidak bisa mempersembahkan gelar Galatama, namun saya waktu itu bisa membawa Lampung juara PON.
Selepas dari Jaka Utama, saya membela Yanita Utama di Bogor. Di situ saya juara Galatama dua kali. Dari Yanita Utama ke Kramayudha Tiga Berlian di Palembang. Di sana selain juara Galatama dua kali juga bisa tampil di Liga Champions Asia. Buat saya ini adalah salah satu prestasi membanggakan karena Kramayudha bisa menembus peringkat tiga, sampai sekarang belum ada lagi klub Indonesia yang bisa lagi mengulang prestasi itu.
Lebih dari itu yang spesial adalah kami bisa menembus peringkat tiga dan pada saat itu pertandingan berlangsung di Arab Saudi. Pada waktu itu ada anggapan Indonesia dipandang remeh di Arab Saudi karena banyak tenaga kerja kita di sana yang berada di sektor pekerjaan kasar. Nah dengan kemenangan di Arab itu, saya merasa bisa memberi kebanggaan tersendiri buat saudara-saudara kita di sana.
Lanjut dari Kramayudha saya pindah ke Pelita Jaya dan saya meraih tiga gelar juara Galatama. Saya hampir 14 tahun di Pelita Jaya, sebagai pemain dan asisten pelatih bahkan sempat menjadi pelatih juga di sana. Pada Liga Indonesia pertama tahun 1994/1995, saya tiba-tiba jadi pelatih Pelita Jaya karena pelatih Romano Matte ditunjuk menjadi pelatih Timnas Indonesia ke SEA Games.
Keputusan saya menjadi pelatih memang sudah ada di kepala sejak saya jadi pemain. Saya pernah mendapat tawaran untuk bekerja di perusahaan-perusahaan pada tahun 1980-an karena pada tahun itu ada semacam liga sepak bola bagi perusahaan atau bank dan sebagainya. Banyak pemain sepak bola yang kemudian pindah dan berkarier di perusahaan, sementara saya berpikir sepak bola adalah hidup saya jadi tidak berpikir masuk perusahaan.
Bertahun-tahun di Pelita Jaya saya merasakan menjadi asisten dari pelatih-pelatih yang juga sosok terkenal seperti Mario Kempes dan Henk Wullems. Setelah belasan tahun di Pelita Jaya, saya pindah ke Barito Putera. Semula keinginan saya hengkang mendapat penolakan dari pak Nirwan Bakrie selaku pemilik karena sudah dianggap sebagai keluarga, namun karena beliau punya kedekatan juga dengan pemilik Barito akhirnya saya diizinkan pindah pada tahun 2000-an.
Jalan saya sebagai pelatih berlanjut dari Barito ke Persija. Pada awal 2000-an itu saya juga banyak terlibat melatih Timnas Indonesia menjadi asisten pelatih Benny Dolo dan Ivan Kolev. Saya juga dapat kesempatan melatih Timnas Indonesia di Pra Olimpiade. Dari situ saya bergabung ke Petrokimia Putra.
Selepas dari Petrokimia saya jadi pelatih Timnas Indonesia U-16. Waktu itu kalau enggak salah tahun 2006 kita bisa tembus ke Piala Asia. Saya juga sempat pegang U-14. Kemudian saya juga sempat melatih Persih Tembilahan, Persisam, terus ke Barito Putera lagi.
Saya memang sering jadi pelatih di level usia muda, mungkin karena enggak banyak yang tertarik hahaha. Tapi itu mungkin juga tidak lepas dari filosofi saya yang selalu ingin memunculkan pemain-pemain muda.
Jadi pelatih usia muda banyak tantangannya, waktu saya jadi pelatih usia muda di tahun 2000-an itu kompetisinya enggak ada. Dibanding waktu saya masih jadi pemain muda, kondisinya berbeda sekali. Sehingga saya waktu itu hanya bisa menyeleksi pemain dari Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada di kota-kota besar. Baru setelah itu ada Indra Sjafri yang mulai 'blusukan'. Karena pengalaman itu juga saya sekarang mau ikut menata kompetisi di level kelompok umur.
Selain soal kompetisi yang sempat mati suri, ada banyak hal lain yang menjadi seni dalam melatih atau memandu bakat pemain muda. Latar belakang pemain, gaya hidup, sampai asupan makanan itu benar-benar memengaruhi.
Seperti kita tahu sepak bola di Indonesia ini yang main kebanyakan dari level status ekonomi sosial menengah atau bahkan bawah, ini begitu memengaruhi pemain. Pertama dari asupan makanan, contoh kecil mereka waktu kecil tidak mengenal susu. Setelah itu ketika mereka bisa mencari uang di usia muda, langsung ada perubahan gaya hidup yang signifikan seperti kenal media sosial, pergaulan dengan teman sebaya, hingga kehidupan malam. Kadang ada pemain muda yang terbentur masalah itu.
Belum lagi ketika kita sudah menemukan bakat menjanjikan, tetapi pelatih di tim utama tidak mau memberi menit bermain kepada pemain muda itu. Pemain-pemain muda ini membutuhkan pengakuan ketika ada di tim utama.
Saya yang aktif dalam pembinaan usia muda itu benar-benar mengemban tanggung jawab besar ketika merekrut pemain muda dari daerah. Maka dari itu saya hanya benar-benar berani menggaet pemain ke klub jika benar-benar punya potensi. Saya enggak berani kalau ada pemain titipan, karena risikonya besar sekali.
Pemain bola itu profesi yang unik, di masa sekolah kita enggak bisa full belajar 100 persen karena juga harus berlatih. Oleh karena itu jika fokus jadi pemain sepak bola, bisa dibilang konsentrasi sekolah bisa terpecah. Jika seseorang yang semula fokus di sepak bola tetapi ternyata dia tidak bisa benar-benar jadi pemain, saya khawatir mereka jadi masalah di lingkungan sekitar.
Beberapa pemain yang saya 'temukan' bakatnya di usia muda adalah Muhammad Ilham yang pernah bermain di Timnas Indonesia pada tahun 2000-an. Setelah itu ada Makan Konate dan Rohit Chand yang juga saya pantau di awal-awal sebelum mereka masuk kompetisi Liga 1. Kalau untuk pemain sekarang ada Asnawi Mangkualam, Syahrian Abimanyu, Luthfi Kamal Baharsyah, M Riyandi, David Maulana, dan Arkhan Fikri.
Akhir kata, saya berharap perjalanan karier saya di sepak bola dari tahun 1970-an sebagai pemain sampai sekarang menjadi instruktur pelatih bisa membuahkan hasil membanggakan bagi Indonesia di masa depan.