Mau Jadi Atlet Badminton? Tak Semua Berakhir Manis
CNN Indonesia
Kamis, 27 Okt 2022 09:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Untuk bisa jadi atlet kelas dunia, atlet dituntut untuk bisa menjaga fokus dan ambisi mereka dalam rentang waktu yang terbilang lama. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menjadi juara dunia badminton adalah mimpi indah yang bisa lantang diucapkan, tapi sulit dan penuh liku untuk diwujudkan.
Sebagai negara yang dikenal punya tradisi kuat di badminton dari dekade ke dekade, bisa dikatakan Indonesia punya bibit-bibit untuk olahraga ini akan terus mengalir dari tahun ke tahun, dari era ke era.
Di sisi lain, dengan jumlah atlet yang terdaftar nyaris 60 ribu --berdasarkan data di situs PBSI-- dan tentu lebih banyak dengan nama-nama lain yang belum terdaftar, persaingan menuju podium juara di level dunia bak jalan yang penuh liku.
Untuk bisa masuk ke klub-klub besar di Indonesia saja, seorang anak butuh perjuangan besar. Persaingan menuju klub elite sangatlah ketat.
Dari ratusan hingga ribuan peminat, hanya ada maksimal puluhan yang diterima tiap tahunnya. Karena itu dasar-dasar badminton sudah harus diletakkan sejak usia dini sebagai bekal agar anak bisa lolos seleksi di klub besar.
Seorang atlet bisa saja berkarier mandiri atau di klub lain bila tak diterima di klub besar. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, biasanya akan lebih banyak kocek pribadi yang dibutuhkan.
Klub-klub besar yang punya tradisi dari tahun ke tahun, bakal menanggung biaya untuk mengikuti kompetisi kelompok umur skala nasional. Sedangkan di luar itu, bisa jadi pemain harus menanggung biaya sendiri untuk mengikuti turnamen.
Setelah bisa rutin mengikuti turnamen nasional, sang pemain harus bisa menunjukkan prestasi yang mengkilap. Jangka waktu untuk penentuan nasib pun terbilang singkat.
Atlet-atlet sudah harus berhadapan dengan kompetisi ketat sejak kecil. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Ketika atlet sudah masuk kategori taruna (17-19 tahun), periode tersebut jadi penentuan masa depan sang atlet. Bila atlet menunjukkan prestasi, ia bisa dilirik masuk ke Pelatnas Cipayung. Namun andai saat usia 19 tahun ia tak juga mendapat panggilan, pintu untuk masuk ke Pelatnas Cipayung makin kecil,meski tak menutup kemungkinan ada beberapa momen atlet dipanggil ke Pelatnas Cipayung saat sudah masuk kategori dewasa.
Dalam lima tahun terakhir, setiap tahunnya atlet anyar yang dipanggil ke Pelatnas Cipayung tidak pernah lebih dari 30 orang dari lima nomor yang ada. Sementara secara total, biasanya ada sekitar 80 hingga 90 atlet dalam satu periode, dengan sejumlah atlet dilepas jika tak menunjukkan perkembangan.
Hal tersebut jadi gambaran betapa beratnya persaingan untuk bisa masuk ke Pelatnas Cipayung.
Setelah menginjakkan kaki di Pelatnas Cipayung, sang atlet harus bertarung dengan rekan sepelatnas dan tidak lagi memandang batasan umur. Persaingan akan lebih keras dan ketat, mulai dari internal hingga saat mereka harus saling sikut dengan atlet dari negara lain.
Seorang atlet bisa saja berkiprah di luar Pelatnas Cipayung, namun lagi-lagi hal tersebut membutuhkan dana besar. Bila masuk jadi anggota Pelatnas Cipayung, seluruh kebutuhan bakal dipenuhi sehingga atlet bisa fokus berlatih tanpa dipusingkan masalah biaya.
Tekanan tinggi yang dijalani atlet sejak kecil hingga dewasa tak pelak menimbulkan faktor kejenuhan. Hal ini diakui oleh Kepala Pelatih PB Djarum Fung Permadi.
"Kejenuhan jadi salah satu kendala paling besar. Anak-anak berlatih setiap hari di lapangan badminton, mereka menghabiskan sebagian besar harinya di lapangan," ucap Fung Permadi.
"Lalu bisa juga berkaitan dengan hasil. Seorang pemain sudah mencoba secara maksimal, tetapi hasil pertandingan kurang baik. Sudah mencoba seperti apapun, tetap mentok. Itu bisa jadi salah satu faktor," katanya melanjutkan.
Selain itu sejumlah tantangan lain yang dihadapi adalah perasaan homesick karena jauh dari orang tua dan perkembangan usia yang terkadang membuat atlet muda berubah pandangan soal badminton sebagai jalan hidup.
"Kalau untuk tahun-tahun awal homesick jadi kendala. Biasanya ada yang nangis. Tetapi kita beri pemahaman sampai akhirnya bisa mengatasi hal itu."
"Sedangkan hal lain yang dialami oleh atlet adalah masa puber. Masa puber terkadang membuat perubahan cara pandang dan berpikir," tutur Fung Permadi.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Dalam meniti karier jadi pemain badminton, atlet dan orang-orang terdekat harus benar-benar jeli melihat perkembangan sang pemain. Ketika sang atlet kesulitan bersaing, keputusan pahit terkadang memang harus diambil.
"Sekarang karena hadiah turnamen besar-besar jadi banyak orang tua yang mau anaknya jadi pemain bulutangkis. Gairahnya meningkat meski risikonya besar dan harus jeli."
"Misalnya saya punya anak tetapi anak itu tidak istimewa. Jadinya ya sudah lanjut sekolah saja," kata Ketua PB Jaya Raya Imelda Wiguna.
Imelda berharap atlet-atlet badminton Indonesia juga bisa seiring sejalan dalam hal latihan dan juga pendidikan. Hal itu bisa jadi bekal bagi atlet, baik mereka yang sukses sebagai bintang badminton kelas dunia maupun mereka yang harus menghentikan mimpinya di tengah jalan.
Dalam pandangan Ketua SGS Taufik Hidayat, jalan karier atlet badminton adalah sebuah jalan pertaruhan. Karena itu, setiap atlet harus punya rencana lain bila hal-hal manis yang dimimpikannya di dunia badminton berakhir miris.
"Tidak hanya atlet badminton, namanya jadi atlet itu secara keseluruhan adalah pertaruhan. Risikonya harus mereka ketahui jadi memang yang benar-benar mau saja."
"Mereka juga harus tahu kalau tidak jadi atlet akan jadi apa," tutur Taufik.
Fung Permadi menyatakan bahwa tiap mimpi untuk jadi juara dunia memang harus disertai dengan kesadaran risiko kegagalan di dalamnya. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)
Ketegasan untuk menentukan pilihan adalah hal yang seringkali harus dilakukan, bukan hanya dari sisi atlet melainkan juga dari sisi klub. Hal itu juga diakui oleh Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin. Ketegasan itu yang kemudian akhirnya berbentuk pada proses promosi-degradasi yang dilakukan oleh klub-klub Indonesia di tiap tahunnya.
"Mungkin ada pikiran kasihan masih kecil. Tetapi kalau kami kasihan, kami justru akan mengorbankan masa depannya."
"Kami harus berani jujur untuk mengatakan stop kepada atlet yang dinilai tidak punya prospek. Jangan digantung terus dan kami juga wajib mengingatkan orang tua," tutur Yoppy.
Fung pun menilai bahwa hidup masih menawarkan banyak pilihan selain jadi atlet badminton. Karena itu setiap orang yang berani bermimpi untuk jadi atlet kelas dunia juga harus sadar dengan risiko yang menyertainya.
"Kita harus menerima realitas dan bersikap realistis. Memang semua punya keinginan mau jadi juara bulutangkis, tetapi tidak semua bisa mewujudkannya. Selama masih ada kesempatan di bidang bulutangkis, manfaatkan waktu sebaik-baiknya."
"Namun bila gagal, hidup masih harus terus berjalan. Masih banyak bidang lain di luar sana," ujar Fung.
Menjadi juara dunia badminton adalah mimpi indah yang bisa lantang diucapkan, tapi sulit dan penuh liku untuk diwujudkan.
Sebagai negara yang dikenal punya tradisi kuat di badminton dari dekade ke dekade, bisa dikatakan Indonesia punya bibit-bibit untuk olahraga ini akan terus mengalir dari tahun ke tahun, dari era ke era.
Di sisi lain, dengan jumlah atlet yang terdaftar nyaris 60 ribu --berdasarkan data di situs PBSI-- dan tentu lebih banyak dengan nama-nama lain yang belum terdaftar, persaingan menuju podium juara di level dunia bak jalan yang penuh liku.
Untuk bisa masuk ke klub-klub besar di Indonesia saja, seorang anak butuh perjuangan besar. Persaingan menuju klub elite sangatlah ketat.
Dari ratusan hingga ribuan peminat, hanya ada maksimal puluhan yang diterima tiap tahunnya. Karena itu dasar-dasar badminton sudah harus diletakkan sejak usia dini sebagai bekal agar anak bisa lolos seleksi di klub besar.
Seorang atlet bisa saja berkarier mandiri atau di klub lain bila tak diterima di klub besar. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, biasanya akan lebih banyak kocek pribadi yang dibutuhkan.
Klub-klub besar yang punya tradisi dari tahun ke tahun, bakal menanggung biaya untuk mengikuti kompetisi kelompok umur skala nasional. Sedangkan di luar itu, bisa jadi pemain harus menanggung biaya sendiri untuk mengikuti turnamen.
Setelah bisa rutin mengikuti turnamen nasional, sang pemain harus bisa menunjukkan prestasi yang mengkilap. Jangka waktu untuk penentuan nasib pun terbilang singkat.
Atlet-atlet sudah harus berhadapan dengan kompetisi ketat sejak kecil. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Ketika atlet sudah masuk kategori taruna (17-19 tahun), periode tersebut jadi penentuan masa depan sang atlet. Bila atlet menunjukkan prestasi, ia bisa dilirik masuk ke Pelatnas Cipayung. Namun andai saat usia 19 tahun ia tak juga mendapat panggilan, pintu untuk masuk ke Pelatnas Cipayung makin kecil,meski tak menutup kemungkinan ada beberapa momen atlet dipanggil ke Pelatnas Cipayung saat sudah masuk kategori dewasa.
Dalam lima tahun terakhir, setiap tahunnya atlet anyar yang dipanggil ke Pelatnas Cipayung tidak pernah lebih dari 30 orang dari lima nomor yang ada. Sementara secara total, biasanya ada sekitar 80 hingga 90 atlet dalam satu periode, dengan sejumlah atlet dilepas jika tak menunjukkan perkembangan.
Hal tersebut jadi gambaran betapa beratnya persaingan untuk bisa masuk ke Pelatnas Cipayung.
Setelah menginjakkan kaki di Pelatnas Cipayung, sang atlet harus bertarung dengan rekan sepelatnas dan tidak lagi memandang batasan umur. Persaingan akan lebih keras dan ketat, mulai dari internal hingga saat mereka harus saling sikut dengan atlet dari negara lain.
Seorang atlet bisa saja berkiprah di luar Pelatnas Cipayung, namun lagi-lagi hal tersebut membutuhkan dana besar. Bila masuk jadi anggota Pelatnas Cipayung, seluruh kebutuhan bakal dipenuhi sehingga atlet bisa fokus berlatih tanpa dipusingkan masalah biaya.
Tekanan tinggi yang dijalani atlet sejak kecil hingga dewasa tak pelak menimbulkan faktor kejenuhan. Hal ini diakui oleh Kepala Pelatih PB Djarum Fung Permadi.
"Kejenuhan jadi salah satu kendala paling besar. Anak-anak berlatih setiap hari di lapangan badminton, mereka menghabiskan sebagian besar harinya di lapangan," ucap Fung Permadi.
"Lalu bisa juga berkaitan dengan hasil. Seorang pemain sudah mencoba secara maksimal, tetapi hasil pertandingan kurang baik. Sudah mencoba seperti apapun, tetap mentok. Itu bisa jadi salah satu faktor," katanya melanjutkan.
Selain itu sejumlah tantangan lain yang dihadapi adalah perasaan homesick karena jauh dari orang tua dan perkembangan usia yang terkadang membuat atlet muda berubah pandangan soal badminton sebagai jalan hidup.
"Kalau untuk tahun-tahun awal homesick jadi kendala. Biasanya ada yang nangis. Tetapi kita beri pemahaman sampai akhirnya bisa mengatasi hal itu."
"Sedangkan hal lain yang dialami oleh atlet adalah masa puber. Masa puber terkadang membuat perubahan cara pandang dan berpikir," tutur Fung Permadi.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Perhatikan Persimpangan Jalan
Banyak tantangan dan hambatan yang mesti dilewati atlet untuk bisa jadi bintang kelas dunia. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Dalam meniti karier jadi pemain badminton, atlet dan orang-orang terdekat harus benar-benar jeli melihat perkembangan sang pemain. Ketika sang atlet kesulitan bersaing, keputusan pahit terkadang memang harus diambil.
"Sekarang karena hadiah turnamen besar-besar jadi banyak orang tua yang mau anaknya jadi pemain bulutangkis. Gairahnya meningkat meski risikonya besar dan harus jeli."
"Misalnya saya punya anak tetapi anak itu tidak istimewa. Jadinya ya sudah lanjut sekolah saja," kata Ketua PB Jaya Raya Imelda Wiguna.
Imelda berharap atlet-atlet badminton Indonesia juga bisa seiring sejalan dalam hal latihan dan juga pendidikan. Hal itu bisa jadi bekal bagi atlet, baik mereka yang sukses sebagai bintang badminton kelas dunia maupun mereka yang harus menghentikan mimpinya di tengah jalan.
Dalam pandangan Ketua SGS Taufik Hidayat, jalan karier atlet badminton adalah sebuah jalan pertaruhan. Karena itu, setiap atlet harus punya rencana lain bila hal-hal manis yang dimimpikannya di dunia badminton berakhir miris.
"Tidak hanya atlet badminton, namanya jadi atlet itu secara keseluruhan adalah pertaruhan. Risikonya harus mereka ketahui jadi memang yang benar-benar mau saja."
"Mereka juga harus tahu kalau tidak jadi atlet akan jadi apa," tutur Taufik.
Fung Permadi menyatakan bahwa tiap mimpi untuk jadi juara dunia memang harus disertai dengan kesadaran risiko kegagalan di dalamnya. (CNN Indonesia/Surya Sumirat)
Ketegasan untuk menentukan pilihan adalah hal yang seringkali harus dilakukan, bukan hanya dari sisi atlet melainkan juga dari sisi klub. Hal itu juga diakui oleh Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin. Ketegasan itu yang kemudian akhirnya berbentuk pada proses promosi-degradasi yang dilakukan oleh klub-klub Indonesia di tiap tahunnya.
"Mungkin ada pikiran kasihan masih kecil. Tetapi kalau kami kasihan, kami justru akan mengorbankan masa depannya."
"Kami harus berani jujur untuk mengatakan stop kepada atlet yang dinilai tidak punya prospek. Jangan digantung terus dan kami juga wajib mengingatkan orang tua," tutur Yoppy.
Fung pun menilai bahwa hidup masih menawarkan banyak pilihan selain jadi atlet badminton. Karena itu setiap orang yang berani bermimpi untuk jadi atlet kelas dunia juga harus sadar dengan risiko yang menyertainya.
"Kita harus menerima realitas dan bersikap realistis. Memang semua punya keinginan mau jadi juara bulutangkis, tetapi tidak semua bisa mewujudkannya. Selama masih ada kesempatan di bidang bulutangkis, manfaatkan waktu sebaik-baiknya."
"Namun bila gagal, hidup masih harus terus berjalan. Masih banyak bidang lain di luar sana," ujar Fung.