Sihir dan Provokasi Messi di Argentina vs Arab Saudi
Abdul Susila | CNN Indonesia
Selasa, 22 Nov 2022 07:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Argentina difavoritkan menang telak atas Arab Saudi. (REUTERS/AMR ALFIKY)
Pertandingan Argentina versus Arab Saudi berpotensi jadi sejarah baru. Argentina bisa mematahkan rekor panjang tak terkalahkan Brasil.
Brasil pernah tak terkalahkan dalam 36 laga beruntun pada 1993-1996. Jumlah tersebut telah disamai Argentina dan kini berpeluang dipatahkan oleh Lionel Messi dan kawan-kawan.
Jika mengalahkan Arab Saudi pada Selasa (22/11), Argentina tak hanya melewati Brasil, tetapi juga menyamai Italia. Rekor tak terkalahkan terpanjang saat ini dipegang Italia dengan 37 laga.
Mengacu peringkat FIFA, tim asuhan Lionel Scaloni ini unggul segala-galanya. Ini karena Argentina berada di urutan ketiga ranking FIFA, sedangkan The Green Falcons menempati posisi ke-51.
Dalam empat pertemuan sebelumnya pada 6 dan 16 Juli 1988, 20 Oktober 1992, dan 14 November 2012, Arab tak pernah menang. Sejarah memang tak bisa jadi acuan, tetapi peta dunia sepak bola belum berubah.
Kalaupun Messi mati kutu karena mendapat pengawalan khusus, seperti terjadi dalam banyak pertandingan baik di klub maupun di tim nasional, pemain Argentina tak kalah menjanjikan.
Lautaro Martinez salah satunya. Pemain Inter Milan itu adalah antagonis lini depan Argentina, jika Messi sang protagonis. Pembawaannya yang meledak-ledak membuat lawan sering emosional.
Julian Alvarez juga sedang jadi sorotan. Pemain 22 tahun ini mencetak dua gol dalam dua laga terakhir Argentina. Itu mengapa Alvarez jadi pilihan utama Scaloni saat melawan Uni Emirat Arab.
Namun bukan Piala Dunia jika tak ada kejutan. Arab Saudi yang diremehkan bisa saja membuat kejutan seperti Piala Dunia 1994. Ketika itu Arab Saudi jadi runner up Grup F tanpa sekalipun kalah.
Hanya saja generasi 1990-an dengan saat ini sudah berbeda. Arab Saudi pada 1990-an adalah jawara Asia, sedangkan saat ini hanya pelengkap di bawah bayang-bayang Iran, Jepang, dan Korea Selatan.
Dan, sekali lagi, ada Messi dalam laga Argentina versus Arab Saudi. Messiah, julukannya, sangat bisa menjadi 'penyihir' yang tak hanya membuat penonton terhibur, tetapi juga sang lawan.
(jal)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lionel Messi sedang dikemas provokatif. Kapten timnas Argentina itu terus disorot jelang lawan Arab Saudi dalam laga grup C Piala Dunia 2022 di Stadion Ikonik Lusail, Selasa (22/11).
Aksi provokatif pertama Messi adalah membukukan 10 gol dalam empat pertandingan terakhir Argentina. Dari 10 gol itu lima di antaranya ia lesakkan saat La Albiceleste bentrok dengan Estonia.
Dari seluruh pemain kontestan Piala Dunia 2022, tidak ada yang membukukan gol sebanyak itu dalam empat laga terakhirnya. Ini seperti jadi sinyal bahwa La Pulga sangat siap tempur.
Torehan Messi bersama Paris Saint-Germain pada musim 2022/2023, yang disebut-sebut sebagai medium memanaskan mesin menjelang Piala Dunia 2022, tak terlalu buruk: 12 gol dari 19 laga.
Provokasi kedua, entah ini terkait atau tidak secara langsung, Messi jadi bintang tunggal dalam iklan Adidas. Ini kontradiktif dengan iklan Nike yang menampilkan banyak bintang.
Produsen olahraga asal Jerman itu seolah ingin menegaskan bahwa Piala Dunia 2022 adalah panggung Messi. Nama besar dan citra bintang lainnya tak setara dengan 'sinar mentari' Messi.
Provokasi ketiga, Messi menjalani latihan terpisah menjelang laga melawan Arab Saudi. Spekulasi pun muncul bahwa Messi akan absen hingga analisis ini pertanda buruk bagi sang megabintang.
Seperti mempermainkan psikologi para pencinta plus pembencinya, Messi dikabarkan bisa tampil dalam laga pembuka Grup C itu. Sihir pemain 35 tahun ini diyakini akan muncul di Losail.
Harus diakui Messi adalah magnet yang sangat dinanti di Qatar. Sihir-sihir bolanya sangat dinanti, bahkan oleh bangsa Arab yang akan menjadi lawannya dan kemungkinan memberi kekalahan.
Kans Arab jadi bulan-bulan Argentina sangat terbuka lebar. Ini tak lain karena performa tim asuhan Herve Renard sama sekali tak meyakinkan menjelang Piala Dunia 2022.
Dalam 10 laga uji coba terakhirnya, Arab Saudi hanya dua kali menang. Bahkan yang terakhir disikat Kroasia 0-1. Karenanya sangat wajar jika Argentina bersama Messi diyakini akan menang mudah.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Patahkan Rekor Brasil
Argentina difavoritkan menang telak atas Arab Saudi. (REUTERS/AMR ALFIKY)
Pertandingan Argentina versus Arab Saudi berpotensi jadi sejarah baru. Argentina bisa mematahkan rekor panjang tak terkalahkan Brasil.
Brasil pernah tak terkalahkan dalam 36 laga beruntun pada 1993-1996. Jumlah tersebut telah disamai Argentina dan kini berpeluang dipatahkan oleh Lionel Messi dan kawan-kawan.
Jika mengalahkan Arab Saudi pada Selasa (22/11), Argentina tak hanya melewati Brasil, tetapi juga menyamai Italia. Rekor tak terkalahkan terpanjang saat ini dipegang Italia dengan 37 laga.
Mengacu peringkat FIFA, tim asuhan Lionel Scaloni ini unggul segala-galanya. Ini karena Argentina berada di urutan ketiga ranking FIFA, sedangkan The Green Falcons menempati posisi ke-51.
Dalam empat pertemuan sebelumnya pada 6 dan 16 Juli 1988, 20 Oktober 1992, dan 14 November 2012, Arab tak pernah menang. Sejarah memang tak bisa jadi acuan, tetapi peta dunia sepak bola belum berubah.
Kalaupun Messi mati kutu karena mendapat pengawalan khusus, seperti terjadi dalam banyak pertandingan baik di klub maupun di tim nasional, pemain Argentina tak kalah menjanjikan.
Lautaro Martinez salah satunya. Pemain Inter Milan itu adalah antagonis lini depan Argentina, jika Messi sang protagonis. Pembawaannya yang meledak-ledak membuat lawan sering emosional.
Julian Alvarez juga sedang jadi sorotan. Pemain 22 tahun ini mencetak dua gol dalam dua laga terakhir Argentina. Itu mengapa Alvarez jadi pilihan utama Scaloni saat melawan Uni Emirat Arab.
Namun bukan Piala Dunia jika tak ada kejutan. Arab Saudi yang diremehkan bisa saja membuat kejutan seperti Piala Dunia 1994. Ketika itu Arab Saudi jadi runner up Grup F tanpa sekalipun kalah.
Hanya saja generasi 1990-an dengan saat ini sudah berbeda. Arab Saudi pada 1990-an adalah jawara Asia, sedangkan saat ini hanya pelengkap di bawah bayang-bayang Iran, Jepang, dan Korea Selatan.
Dan, sekali lagi, ada Messi dalam laga Argentina versus Arab Saudi. Messiah, julukannya, sangat bisa menjadi 'penyihir' yang tak hanya membuat penonton terhibur, tetapi juga sang lawan.