Ronaldo memang sudah gaek. Usianya 37 atau masa jayanya sudah redup. Musim ini misalnya, pemain dengan sebutan beken CR7 ini baru melesakkan tiga gol di semua ajang. Ini catatan terendah selama kariernya.
Konfliknya dengan Manchester United yang ditutup-tutupi akhirnya merekah. Sebelum Piala Dunia 2022, Ronaldo memutuskan angkat bicara untuk membersihkan kuman-kuman di kepala dan hatinya.
Tujuannya jelas, tampil lepas di Piala Dunia. Turnamen sejagat edisi ke-22 ini mungkin panggung terakhir Ronaldo bersama Selecao das Quinas. Setelah ini Ronaldo berpotensi pensiun dari tim nasional.
Karenanya Ronaldo ingin tampil garang dalam turnamen ini. Sebagai kapten tim, Ronaldo punya seribu alasan untuk bermain penuh gairah. Gangguan-gangguan kecil sebisa mungkin ingin dilepas.
Dan, Manchester United adalah kuman kecil itu. Mengacu wawancaranya dengan Piers Morgan, Setan Merah adalah kawah tua yang tak lagi candradimuka. Man Utd hanya klub besar dengan nostalgia lawas.
Pernyataan Ronaldo itu sudah diucap, karenanya ia punya tugas memberikan pembuktian terbalik. Laga melawan Ghana adalah salah satu sarana membuktikan bahwa opininya soal Man Utd sepenuhnya tak bisa dibantah.
Berkaca dari sejarah, Portugal dan Ronaldo punya cerita manis. Kedua negara baru bentrok sekali, yakni di Piala Dunia 2014. Ketika itu Portugal menang 2-1 dengan Ronaldo menyumbang satu gol.
Rapor Ronaldo saat bentrok dengan negara-negara Afrika pun mentereng. Selama karier Ronaldo bersama Portugal atau di 139 pertandingan, tidak sekalipun Portugal kalah dari tim-tim asal Afrika.
Sebelum berangkat ke Piala Dunia 2022, Portugal juga tampil solid dengan melumat Nigeria 4-0. Ini isyarat bahwa Portugal sudah sangat siap melumat tim-tim Grup H,, termasuk Ghana pada laga perdana.
Dengan kuman di baju yang telah ditanggalkan, Ronaldo kiranya siap manggung di Stadion 974, Doha. Bumbu dan drama perselisihan dengan Manchester United sudah luruh sebelum laga Piala Dunia 2022.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Portugal pernah punya beberapa generasi emas dengan bintang-bintang di dalamnya, tetapi generasi yang benar-benar ditulis dengan tinta emas adalah angkatan 2016.
Pada tahun tersebut Portugal juara Piala Eropa untuk pertama kalinya. Dari skuad juara tersebut tersisa enam pemain, yakni Cristiano Ronaldo, Joao Mario, William Carvalho, Raphael Guerreiro, Pepe, dan Rui Patricio.
Bisakah generasi baru ini kembali membuat sejarah untuk pertama kalinya jadi juara dunia? Peluang sangat terbuka. Ini tak lain karena komposisi pemain Portugal tak kalah mewah dibanding era 2016.
Ruben Dias, Joao Cancelo, Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Joao Felix, dan Rafael Leao adalah beberapa nama yang bisa mengatrol prestasi Portugal. Mereka sudah cukup mental untuk diperhitungkan.
Jajaran penyerang Portugal, dari Ronaldo hingga Goncalo Ramos juga cukup menjanjikan di klub. Musim ini, bersama klub, enam pemain lini depan Portugal total mencetak 42 gol di semua ajang. Ini torehan cukup mentereng.
Sebelum jauh mengarah ke sana, Portugal harus membuktikan taringnya sudah tajam. Ghana sebagai tim penghuni peringkat ke-61 FIFA harus dijungkalkan dengan permainan yang menawan.
Namun ini bukan pekerjaan mudah. Ghana yang dikomandoi Andre Ayew bersama pelatih Otto Addo siap membuat kejutan. Kekalahan Argentina dari Arab Saudi di Grup C kiranya bisa menjadi cerminan.
Nama besar dan status sama sekali tak akan menentukan hasil akhir. Hal inilah yang diusung Ghana dalam laga kali ini. Mereka bertekad menjadi tim Afrika pertama yang menang di Piala Dunia 2022.
Mengacu persiapan, sejatinya performa Ghana meragukan. Dari empat laga terakhir, mereka kalah dan menang dua kali. Bahkan salah satu kekalahannya adalah saat berlatih tanding dengan Qatar.
Hanya saja kembali lagi, hasil uji coba sama sekali tak bisa menjadi acuan. Kesiapan mental dan fisik menjelang duel ini akan jadi penentu. Portugal yang lebih diunggulkan bisa jadi motivasi.
Akankah Portugal tampil trengginas di laga pertamanya melawan Ghana? Jika mengacu psikologi Ronaldo yang telah menanggalkan kuman di badan dan kondisi internal Portugal, kans itu sangat terbuka.
Ronaldo memang sudah gaek. Usianya 37 atau masa jayanya sudah redup. Musim ini misalnya, pemain dengan sebutan beken CR7 ini baru melesakkan tiga gol di semua ajang. Ini catatan terendah selama kariernya.
Konfliknya dengan Manchester United yang ditutup-tutupi akhirnya merekah. Sebelum Piala Dunia 2022, Ronaldo memutuskan angkat bicara untuk membersihkan kuman-kuman di kepala dan hatinya.
Tujuannya jelas, tampil lepas di Piala Dunia. Turnamen sejagat edisi ke-22 ini mungkin panggung terakhir Ronaldo bersama Selecao das Quinas. Setelah ini Ronaldo berpotensi pensiun dari tim nasional.
Karenanya Ronaldo ingin tampil garang dalam turnamen ini. Sebagai kapten tim, Ronaldo punya seribu alasan untuk bermain penuh gairah. Gangguan-gangguan kecil sebisa mungkin ingin dilepas.
Dan, Manchester United adalah kuman kecil itu. Mengacu wawancaranya dengan Piers Morgan, Setan Merah adalah kawah tua yang tak lagi candradimuka. Man Utd hanya klub besar dengan nostalgia lawas.
Pernyataan Ronaldo itu sudah diucap, karenanya ia punya tugas memberikan pembuktian terbalik. Laga melawan Ghana adalah salah satu sarana membuktikan bahwa opininya soal Man Utd sepenuhnya tak bisa dibantah.
Berkaca dari sejarah, Portugal dan Ronaldo punya cerita manis. Kedua negara baru bentrok sekali, yakni di Piala Dunia 2014. Ketika itu Portugal menang 2-1 dengan Ronaldo menyumbang satu gol.
Rapor Ronaldo saat bentrok dengan negara-negara Afrika pun mentereng. Selama karier Ronaldo bersama Portugal atau di 139 pertandingan, tidak sekalipun Portugal kalah dari tim-tim asal Afrika.
Sebelum berangkat ke Piala Dunia 2022, Portugal juga tampil solid dengan melumat Nigeria 4-0. Ini isyarat bahwa Portugal sudah sangat siap melumat tim-tim Grup H,, termasuk Ghana pada laga perdana.
Dengan kuman di baju yang telah ditanggalkan, Ronaldo kiranya siap manggung di Stadion 974, Doha. Bumbu dan drama perselisihan dengan Manchester United sudah luruh sebelum laga Piala Dunia 2022.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Generasi Terbaik Portugal?
Portugal diperkuat pemain-pemain hebat lain seperti Bernardo Silva. (REUTERS/RODRIGO ANTUNES)
Portugal pernah punya beberapa generasi emas dengan bintang-bintang di dalamnya, tetapi generasi yang benar-benar ditulis dengan tinta emas adalah angkatan 2016.
Pada tahun tersebut Portugal juara Piala Eropa untuk pertama kalinya. Dari skuad juara tersebut tersisa enam pemain, yakni Cristiano Ronaldo, Joao Mario, William Carvalho, Raphael Guerreiro, Pepe, dan Rui Patricio.
Bisakah generasi baru ini kembali membuat sejarah untuk pertama kalinya jadi juara dunia? Peluang sangat terbuka. Ini tak lain karena komposisi pemain Portugal tak kalah mewah dibanding era 2016.
Ruben Dias, Joao Cancelo, Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Joao Felix, dan Rafael Leao adalah beberapa nama yang bisa mengatrol prestasi Portugal. Mereka sudah cukup mental untuk diperhitungkan.
Jajaran penyerang Portugal, dari Ronaldo hingga Goncalo Ramos juga cukup menjanjikan di klub. Musim ini, bersama klub, enam pemain lini depan Portugal total mencetak 42 gol di semua ajang. Ini torehan cukup mentereng.
Sebelum jauh mengarah ke sana, Portugal harus membuktikan taringnya sudah tajam. Ghana sebagai tim penghuni peringkat ke-61 FIFA harus dijungkalkan dengan permainan yang menawan.
Namun ini bukan pekerjaan mudah. Ghana yang dikomandoi Andre Ayew bersama pelatih Otto Addo siap membuat kejutan. Kekalahan Argentina dari Arab Saudi di Grup C kiranya bisa menjadi cerminan.
Nama besar dan status sama sekali tak akan menentukan hasil akhir. Hal inilah yang diusung Ghana dalam laga kali ini. Mereka bertekad menjadi tim Afrika pertama yang menang di Piala Dunia 2022.
Mengacu persiapan, sejatinya performa Ghana meragukan. Dari empat laga terakhir, mereka kalah dan menang dua kali. Bahkan salah satu kekalahannya adalah saat berlatih tanding dengan Qatar.
Hanya saja kembali lagi, hasil uji coba sama sekali tak bisa menjadi acuan. Kesiapan mental dan fisik menjelang duel ini akan jadi penentu. Portugal yang lebih diunggulkan bisa jadi motivasi.
Akankah Portugal tampil trengginas di laga pertamanya melawan Ghana? Jika mengacu psikologi Ronaldo yang telah menanggalkan kuman di badan dan kondisi internal Portugal, kans itu sangat terbuka.