Duel 26 tahun silam berakhir dengan skor sama kuat 2-2 pada waktu normal. Pertandingan pun harus dilanjutkan dengan adu penalti. Hasilnya Kroasia yang bertindak sebagai tim tamu menang dengan skor 7-6.
Karena itu bisa dibilang ini sarana Maroko untuk membalas kekalahan tersebut. Jika melihat enam pertandingan sebelumnya, The Atlas Lions sangat berpeluang untuk revans sekaligus menciptakan sejarah.
Saat melawan Prancis misalnya, Maroko mendominasi dengan 61 persen ball possession. Jumlah tembakan ke gawang juga sejajar dengan Prancis, 14 berbanding 13. Hanya soal penyelesaian akhir saja yang kalah.
Sejatinya ini anomali. Sejak babak grup, Maroko bukan tim yang doyan menguasai permainan. Namun pada laga semifinal mereka terjebak dengan pragmatisme yang diusung Prancis.
Ini sejalan dengan statistik Kroasia saat melawan Argentina. Tim asuhan Zlatko Dalic ini mendominasi permainan hingga 61 persen, melepaskan 12 tembakan dan memiliki 4 sepak pojok. Sayang kemampuan melakukan penyelesaian akhir di kotak penalti lawan lemah.
Sama seperti Maroko, Kroasia juga jadi korban pragmatisme Argentina. Mereka dibiarkan mengendalikan permainan, tetapi tidak diberi ruang untuk menusuk masuk ke kotak pertahanan.
Kalau dicermati saksama, pragmatisme juga diusung Maroko dan Kroasia dalam lima laga sebelum semifinal. Keduanya bermain 'aman' dengan mengandalkan lini tengah sebagai peredam.
Lantas siapa yang nanti akan lebih pragmatis? Saat dua tim pragmatis berduel, biasanya yang lebih progresif yang akan menang. Jika sama-sama ngotot pragmatis, penalti kiranya jadi penentu.
Karena itu duel ini jadi ujian kecerdikan Zlatko Dalic dan Walid Regragui. Terobosan yang dilakukan keduanya sama-sama jitu, termasuk saat semifinal, dan sekali lagi perlu dibuktikan.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Berkaca dari perjalanan Kroasia dan Maroko selama Piala Dunia 2022, duel nyali dua gelandang bertahan sepertinya tidak akan terhindarkan.
Kroasia akan mengedepankan Marcelo Brozovic untuk meredam aksi Hakim Ziyech, Azzedine Ounahi, atau Selim Amallah. Pemain Inter Milan ini terbukti ampuh jadi senjata peredam Kroasia.
Brozovic jadi pemain paling dominan Kroasia dengan jarak lari terjauh: 78,87 kilometer, paling banyak melepas operan: 520 kali, dan pemain paling banyak menerima operan: 561 kali.
Dengan perannya yang begitu kental dalam permainan Vatreni, Brozovic tinggal menunjukkan sekali lagi nyalinya. Serangan balik Maroko yang tajam harus diredam oleh Brozovic.
Dari kubu Maroko ada Sofyan Amrabat. Pemain Fiorentina ini tampil gemilang selama turnamen. Kylian Mbappe contohnya, tidak bisa menusuk dengan nyaman saat dikawal ketat pemain 26 tahun ini.
Kini Amrabat akan bertugas menghentikan Luka Modric. Kapten Kroasia ini pemain yang licin dengan umpan-umpan mematikan sehingga akan sangat berbahaya jika diberi keleluasaan ruang.
Dengan statistik sebagai pemain Maroko paling jauh berlari, 70,58 kilometer, Amrabat punya potensi menyulitkan Modric. Pemain 37 tahun ini sudah tidak lincah dan tinggal ditempel ketat.
Akankah sesederhana itu duel ini? Tentu saja tidak. Namun demikian, statistik dan olah performa membuktikan bahwa Kroasia dan Maroko sama-sama bisa mencapai final bukan karena keberuntungan.
Mereka datang dengan skuad yang matang dan disentuh dengan strategi jenius pelatih. Maroko dan Kroasia sama-sama tidak ke fase ini karena keajaiban. Kisah mereka di Piala Dunia 2022 bukan dongeng.
Dongeng memang dibumbui dengan cerita kemustahilan-kemustahilan yang terpatahkan dan Kroasia bersama Maroko mengalami hal itu, tetapi lebih megah lagi adalah kinerja kedua tim sangat luar biasa.
Kroasia dan Maroko sama-sama menunjukkan kelas dedikasi, cinta, nasionalisme, dan pengorbanan tingkat tinggi. Itu mengapa duel peringkat ketiga ini lebih dari sekadar gengsi dan prestasi.
Duel 26 tahun silam berakhir dengan skor sama kuat 2-2 pada waktu normal. Pertandingan pun harus dilanjutkan dengan adu penalti. Hasilnya Kroasia yang bertindak sebagai tim tamu menang dengan skor 7-6.
Karena itu bisa dibilang ini sarana Maroko untuk membalas kekalahan tersebut. Jika melihat enam pertandingan sebelumnya, The Atlas Lions sangat berpeluang untuk revans sekaligus menciptakan sejarah.
Saat melawan Prancis misalnya, Maroko mendominasi dengan 61 persen ball possession. Jumlah tembakan ke gawang juga sejajar dengan Prancis, 14 berbanding 13. Hanya soal penyelesaian akhir saja yang kalah.
Sejatinya ini anomali. Sejak babak grup, Maroko bukan tim yang doyan menguasai permainan. Namun pada laga semifinal mereka terjebak dengan pragmatisme yang diusung Prancis.
Ini sejalan dengan statistik Kroasia saat melawan Argentina. Tim asuhan Zlatko Dalic ini mendominasi permainan hingga 61 persen, melepaskan 12 tembakan dan memiliki 4 sepak pojok. Sayang kemampuan melakukan penyelesaian akhir di kotak penalti lawan lemah.
Sama seperti Maroko, Kroasia juga jadi korban pragmatisme Argentina. Mereka dibiarkan mengendalikan permainan, tetapi tidak diberi ruang untuk menusuk masuk ke kotak pertahanan.
Kalau dicermati saksama, pragmatisme juga diusung Maroko dan Kroasia dalam lima laga sebelum semifinal. Keduanya bermain 'aman' dengan mengandalkan lini tengah sebagai peredam.
Lantas siapa yang nanti akan lebih pragmatis? Saat dua tim pragmatis berduel, biasanya yang lebih progresif yang akan menang. Jika sama-sama ngotot pragmatis, penalti kiranya jadi penentu.
Karena itu duel ini jadi ujian kecerdikan Zlatko Dalic dan Walid Regragui. Terobosan yang dilakukan keduanya sama-sama jitu, termasuk saat semifinal, dan sekali lagi perlu dibuktikan.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Duel Nyali Brozovic vs Amrabat
Sofyan Amrabat (kiri) memiliki tugas membatasi pergerakan Luka Modric. (REUTERS/MARKO DJURICA)
Berkaca dari perjalanan Kroasia dan Maroko selama Piala Dunia 2022, duel nyali dua gelandang bertahan sepertinya tidak akan terhindarkan.
Kroasia akan mengedepankan Marcelo Brozovic untuk meredam aksi Hakim Ziyech, Azzedine Ounahi, atau Selim Amallah. Pemain Inter Milan ini terbukti ampuh jadi senjata peredam Kroasia.
Brozovic jadi pemain paling dominan Kroasia dengan jarak lari terjauh: 78,87 kilometer, paling banyak melepas operan: 520 kali, dan pemain paling banyak menerima operan: 561 kali.
Dengan perannya yang begitu kental dalam permainan Vatreni, Brozovic tinggal menunjukkan sekali lagi nyalinya. Serangan balik Maroko yang tajam harus diredam oleh Brozovic.
Dari kubu Maroko ada Sofyan Amrabat. Pemain Fiorentina ini tampil gemilang selama turnamen. Kylian Mbappe contohnya, tidak bisa menusuk dengan nyaman saat dikawal ketat pemain 26 tahun ini.
Kini Amrabat akan bertugas menghentikan Luka Modric. Kapten Kroasia ini pemain yang licin dengan umpan-umpan mematikan sehingga akan sangat berbahaya jika diberi keleluasaan ruang.
Dengan statistik sebagai pemain Maroko paling jauh berlari, 70,58 kilometer, Amrabat punya potensi menyulitkan Modric. Pemain 37 tahun ini sudah tidak lincah dan tinggal ditempel ketat.
Akankah sesederhana itu duel ini? Tentu saja tidak. Namun demikian, statistik dan olah performa membuktikan bahwa Kroasia dan Maroko sama-sama bisa mencapai final bukan karena keberuntungan.
Mereka datang dengan skuad yang matang dan disentuh dengan strategi jenius pelatih. Maroko dan Kroasia sama-sama tidak ke fase ini karena keajaiban. Kisah mereka di Piala Dunia 2022 bukan dongeng.
Dongeng memang dibumbui dengan cerita kemustahilan-kemustahilan yang terpatahkan dan Kroasia bersama Maroko mengalami hal itu, tetapi lebih megah lagi adalah kinerja kedua tim sangat luar biasa.
Kroasia dan Maroko sama-sama menunjukkan kelas dedikasi, cinta, nasionalisme, dan pengorbanan tingkat tinggi. Itu mengapa duel peringkat ketiga ini lebih dari sekadar gengsi dan prestasi.