Sukses Ganda Cokorda Raka, Putra Dewata Pengawal Tradisi Medali Basket
Cokorda Raka Satrya Wibawa | CNN Indonesia
Rabu, 05 Apr 2023 19:02 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Cokorda Raka ketika sudah menjadi pelatih. (CNNIndonesia.com/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bola basket Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Dari era ke era menunjukkan perkembangan. Saya kebetulan merupakan salah satu anggota tim yang pernah menorehkan sejarah di SEA Games.
Berbicara perkembangan basket Indonesia, saya menilai emas SEA Games 2021 adalah hal positif. Saya bangga akhirnya setelah puluhan tahun kita bisa meraih emas cabang olahraga bola basket, meruntuhkan dominasi Filipina.
Saya tak ada dalam tim SEA Games itu. Saya ada di generasi yang sudah lebih dulu main ketimbang generasi Andakara Prastawa dan kawan-kawan.
Meski begitu saya senang bisa berada di sebuah era yang penuh dengan talenta basket nasional sehingga bisa meraih banyak gelar selama berkarier. Ketika saya bermain, prestasi terbaik Indonesia adalah perak SEA Games dan SEABA. Mungkin kalau dulu sudah ada pemain naturalisasi seperti sekarang, Indonesia bisa lebih dulu meraih emas hahaha.
Empat medali perak, masing-masing dua di SEA Games dan di SEABA, merupakan pencapaian prestisius saya untuk Indonesia. Meraih medali untuk negara, membela bangsa, adalah hal yang tak bisa dibandingkan dengan apapun. Gengsinya nyata.
Terlebih kalau di ajang multicabang macam SEA Games. Ketika ketemu atlet-atlet dari cabang lain, kalau sudah punya medali itu beda rasanya. Ada tanggung jawab yang terbayar.
Makanya saya menyesal sekali ketika pada SEA Games 1997 di Jakarta tak bisa meraih medali. Jujur saya malu. Tetapi saya bisa membuktikan kemampuan dengan meraih perunggu pada 1999 dan dua perak pada 2001 dan 2007.
Jika perunggu pada SEA Games 1999 adalah yang kedua dalam sejarah bola basket putra Indonesia, maka perak SEA Games 2001 adalah capaian bergengsi bagi Indonesia. Untuk kali pertama tim bola basket putra bisa menempati posisi runner up. Hal yang tentu membanggakan. Lawan Filipina oke lah kami kalah, tetapi hasil kerja keras kami ketika bisa mengalahkan Thailand dan Malaysia itu luar biasa. Mungkin kalau ada videonya atau lihat datanya, bisa dicek sendiri, skor melawan dua negara itu ketat banget.
Perak SEA Games 2001 jadi pelipur lara bagi olahraga permainan beregu Indonesia yang waktu itu kering medali. Kalau tidak salah hanya basket yang bisa meraih medali, sementara cabang olahraga permainan beregu lainnya harus pulang dengan tangan hampa.
Setelah perunggu pada 1999 dan perak pada 2001, ada keinginan meraih emas pada SEA Games 2003. Apa mau di kata, waktu itu saya malah justru tidak bisa bermain untuk Timnas Indonesia. Pelatih mencoret saya karena kondisi kebugaran saya yang belum pulih benar setelah terkena demam berdarah.
Selepas kegagalan Indonesia meraih medali di SEA Games 2003, saya kemudian memiliki kesempatan lagi main di 2007. Sebagai catatan, pada 2005 basket tidak dipertandingkan.
Saya dan teman-teman waktu itu kembali bisa meraih medali perak. Posisi runner up kedua bagi saya dan bagi Timnas Indonesia setelah 2001.
Jika dibandingkan enam tahun sebelumnya, perak 2007 perjuangannya lebih gila-gilaan. Timnas basket terancam tidak diberangkatkan karena mungkin dianggap bukan prioritas dan satu tim ini anggotanya kan banyak sementara medalinya cuma satu.
Timnas Basket harus mengikuti sederet persyaratan untuk bisa pergi ke SEA Games. Syaratnya ada banyak, kami harus bisa meraih target-target di beberapa kejuaraan seperti SEABA, Sister City, dan FIBA Championship.
Runner up di SEABA, juara di Sister City, dan peringkat 12 di FIBA Championship menjadi cerminan perjuangan untuk meyakinkan kalau kami itu benar-benar mampu berjuang mengharumkan nama bangsa.
Tetapi ternyata setelah target-target di berbagai kejuaraan itu terpenuhi masih ada satu syarat lagi yang harus dilewati. Kami harus tes fisik. Sialnya dalam tes fisik, Timnas Basket ini dinyatakan buruk. Salah satu penyebabnya adalah saya. Ketika itu saya dinilai memiliki kondisi fisik terburuk hahaha.
Kemudian kami berusaha keras, tim pelatih pun juga berusaha membuat kondisi fisik saya lebih baik. Hingga akhirnya kami bisa berangkat ke SEA Games dan pulang bawa medali.
Itu salah satu bukti rangkaian kerja keras sebagai tim. Di SEA Games 2007 mungkin saya tidak dominan main karena waktu itu ada Ronny Gunawan, tetapi saya merasa punya sumbangsih besar ketika bisa menjadi juara di Sister City yang sekaligus menjadi target dari KONI sebagai syarat Timnas Basket melaju ke SEA Games.
Karier saya di Timnas cukup panjang, sampai akhirnya tuntas di ajang SEABA 2009 yang berujung medali perak. Lebih kurang 12 tahun, meski tidak beruntun, saya menjadi anggota tim nasional.
Saya rasa itu tidak lepas dari konsistensi saya main di kompetisi basket nasional di beberapa klub. Untuk level nasional, saya punya empat gelar bersama Aspac yang diraih tahun 1995, 1996, 2000, dan 2001. Selain itu ada juga sebuah gelar di level ASEAN bersama klub Indonesia Warriors.
Hampir 20 tahun saya bermain di level profesional, termasuk ketika saya bergabung dengan Aspac, Satria Muda, Citra Satria, Garuda Bandung, dan Indonesia Warriors. Sejarah yang panjang untuk menemukan arti bola basket dalam hidup saya.
Selama hampir satu dekade lebih itu pula saya menemukan kenangan-kenangan manis dan memori yang tak terlupakan. Bertemu berbagai pemain dari berbagai latar belakang. Mereka, teman-teman saya baik senior maupun junior, adalah orang-orang yang saya anggap sebagai sosok-sosok istimewa dan punya kesan tersendiri dalam hidup saya.
Sementara kalau untuk pelatih, saya memiliki kesan tersendiri terhadap pelatih Raoul Miguel dan juru latih dari Filipina David Zamar atau yang lebih dikenal dengan panggilan Boyce. Ketika berada di bawah arahan beliau, saya merasa bisa menampilkan permainan terbaik dan dia bisa memaksimalkan potensi saya. Saya seperti benar-benar bisa dipercaya dalam bermain.
Segala yang saya dapat di olahraga basket ini, sebenarnya adalah buah hasil perjalanan 'singkat' karena saya baru mendalami basket di akhir kelas 2 SMP.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Kalau dibandingkan pemain-pemain lain, mungkin saya adalah orang yang telat latihan serius. Saya sudah mengenal basket itu sejak SD. Waktu itu enggak saya lanjutkan bermain karena merasa latihannya berat. Mungkin waktu itu karena saya berlatih bersama orang-orang yang lebih senior.
Kemudian saya baru berlatih basket lagi saat SMP karena dipicu melihat kakak pertama saya bermain basket . Saya melihat sepertinya kok enak ya bisa bermain basket. Akhirnya saya berlatih di klub bersama kakak saya.
Tinggi tubuh yang sudah mencapai lebih dari 190 cm pada saat SMP menjadi modal penting buat saya yang telat mengenal basket. Di klub itu saya paling tinggi, tapi paling enggak bisa main hahaha. Lay up enggak bisa, lari masih harus diajari, benar-benar seperti itu.
Latihan keras pun kembali saya rasakan, capek. Sempat kepingin berhenti, tetapi waktu itu pelatih saya sampai datang ke rumah untuk mencari saya agar ikut latihan.
Faktor terbesar yang membuat saya tetap berada di lapangan basket adalah dukungan orang tua. Kedua orang tua saya bukan atlet, tak punya hubungan dengan lapangan basket, karena mereka adalah profesor.
Bapak saya Prof. Dr. dr. Tjokorda Alit Kamar Adnyana, SpFK dan ibu saya Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ.
Meski punya sederet gelar akademis, orang tua saya tidak memaksakan kehendak agar anaknya mengikuti jejak mereka. Justru mereka selalu memberi dukungan untuk anak-anaknya menekuni berbagai bidang yang disuka. Mereka pun memberi support penuh bagi saya bermain basket.
Sampai kemudian saya benar-benar bisa main basket, masuk level daerah sampai kemudian membela Bali dan terpantau tim nasional junior serta klub.
Ketika saya membela Bali di kejuaraan junior tingkat nasional, bos tim Aspac Irawan Haryono melihat bakat saya dan berniat merekrut saya. Tetapi ketika itu tahun 1994 saya masih kelas 2 SMA dan tanggung rasanya untuk meneruskan sekolah yang tinggal satu tahun lagi.
Saya pun memilih tetap di Bali, hingga setahun kemudian bergabung ke Aspac. Saya ke Jakarta karena saya yakin basket adalah jalan hidup saya. Satu hal yang benar-benar membuat langkah ringan adalah izin dan restu orang tua. Sebelum berangkat orang tua saya menitipkan pesan ke pak Irawan agar saya bisa mendapat pendidikan lanjutan tingkat universitas.
Sebenarnya ketika kelas 3 SMA itu saya sempat mencoba mengikuti kakak-kakak saya masuk ITB, namun garis hidup mengarahkan saya ke lapangan basket. Saya bergabung dengan Aspac sambil berkuliah di Jakarta.
Selain panggilan pak Irawan, sebenarnya ada satu panggilan lagi ketika saya masih SMA. Ketika itu mas Bambang Hermansyah menghubungi saya untuk ke Jakarta masuk Timnas Basket junior. Saya itu enggak tahu siapa mas Bambang yang waktu itu menelepon langsung ke rumah. Dia sampai bilang kalau dia itu pemain basket tim nasional hahaha.
Jujur saja saya itu hanya main basket saja dan tidak menonton basket. Apalagi waktu itu kan belum seperti sekarang ada media sosial dan macam-macam. Selain itu acara basket di televisi kan tidak banyak.
Bahkan ketika saya membela Bali di kejuaraan junior, saya sempat dikenalkan kepada Romy Chandra dan M Rifky yang merupakan bintang basket Indonesia pada waktu itu. Mungkin kalau anak Jakarta sudah tahu siapa mereka, tapi saya benar-benar enggak tahu jadi biasa saja pas diperkenalkan ke mereka hahaha.
Setelah masuk Aspac saya kemudian mulai merasakan latihan yang lebih berat lagi. Di samping itu saya juga harus mengikuti latihan, tetapi perlahan saya bisa mengikuti.
Sempat saya mendapat nilai jelek waktu kuliah. Teguran-teguran pun datang dari kampus.
"Ini mau pilih basket atau kuliah?" "Anak profesor kok nilainya seperti ini?"
Itu jadi pertanyaan-pertanyaan telak, tetapi juga membuat saya bangkit. Mungkin banyak yang menganggap prestasi akademik dan prestasi olahraga enggak bisa jalan bersamaan, tetapi saya ingin membuktikan kalau saya bisa menjalankan dua-duanya. Basket jalan, kuliah juga lanjut.
Perjuangannya luar biasa waktu itu untuk tetap seimbang di lapangan dan bangku kuliah. Untung pihak klub memberi dukungan.
Sering kali, ketika masih kuliah, saya pagi di Jakarta dan kemudian setelah kelas selesai saya naik pesawat atau kereta sehingga sore hari saya baru gabung tim untuk berlatih atau bertanding di kota lain.
Pernah juga waktu itu ada seri liga basket di Cirebon. Saya main sore hari, malamnya saya naik kereta kelas ekonomi ke Jakarta. Tahun itu kelas ekonomi belum ada AC, jadi bisa kebayang panasnya seperti apa hahaha.
Setelah lulus S1 teknik mesin, saya kemudian lanjut S2 manajemen keuangan. Semua saya tuntaskan di masa saya masih menjadi pemain.
Sebenarnya sejak 2010 saya sudah berstatus ASN setelah diangkat di Kemenpora. Kendati demikian saya tetap mendapat kesempatan bermain dan kemudian saya sempat menjadi pelatih dan juara bersama Satria Muda.
Kemudian sejak 2018 saya mutasi ke Bali, karena ingin mengabdi untuk tanah kelahiran. Kini saya bertugas sebagai pejabat Eselon IV di Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali. Lantaran itu saya sekarang dituntut banyak tahu beragam olahraga, tidak cuma basket saja. Seperti beberapa waktu lalu saya juga sempat dipercaya diterjunkan Pemprov Bali menjadi panitia lokal atau LOC di ajang Liga 1.
Menjadi pegawai kantoran jadi hal yang berbeda dibanding menjalani karier sebagai pemain basket. Tetapi saya tetap bisa mengaplikasikan hal-hal yang saya pelajari di olahraga untuk melanjutkan pekerjaan seperti bagaimana kita bekerja sama sebagai tim, bagaimana kita berjuang, tidak patah semangat, dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik.
Bola basket Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Dari era ke era menunjukkan perkembangan. Saya kebetulan merupakan salah satu anggota tim yang pernah menorehkan sejarah di SEA Games.
Berbicara perkembangan basket Indonesia, saya menilai emas SEA Games 2021 adalah hal positif. Saya bangga akhirnya setelah puluhan tahun kita bisa meraih emas cabang olahraga bola basket, meruntuhkan dominasi Filipina.
Saya tak ada dalam tim SEA Games itu. Saya ada di generasi yang sudah lebih dulu main ketimbang generasi Andakara Prastawa dan kawan-kawan.
Meski begitu saya senang bisa berada di sebuah era yang penuh dengan talenta basket nasional sehingga bisa meraih banyak gelar selama berkarier. Ketika saya bermain, prestasi terbaik Indonesia adalah perak SEA Games dan SEABA. Mungkin kalau dulu sudah ada pemain naturalisasi seperti sekarang, Indonesia bisa lebih dulu meraih emas hahaha.
Empat medali perak, masing-masing dua di SEA Games dan di SEABA, merupakan pencapaian prestisius saya untuk Indonesia. Meraih medali untuk negara, membela bangsa, adalah hal yang tak bisa dibandingkan dengan apapun. Gengsinya nyata.
Terlebih kalau di ajang multicabang macam SEA Games. Ketika ketemu atlet-atlet dari cabang lain, kalau sudah punya medali itu beda rasanya. Ada tanggung jawab yang terbayar.
Makanya saya menyesal sekali ketika pada SEA Games 1997 di Jakarta tak bisa meraih medali. Jujur saya malu. Tetapi saya bisa membuktikan kemampuan dengan meraih perunggu pada 1999 dan dua perak pada 2001 dan 2007.
Jika perunggu pada SEA Games 1999 adalah yang kedua dalam sejarah bola basket putra Indonesia, maka perak SEA Games 2001 adalah capaian bergengsi bagi Indonesia. Untuk kali pertama tim bola basket putra bisa menempati posisi runner up. Hal yang tentu membanggakan. Lawan Filipina oke lah kami kalah, tetapi hasil kerja keras kami ketika bisa mengalahkan Thailand dan Malaysia itu luar biasa. Mungkin kalau ada videonya atau lihat datanya, bisa dicek sendiri, skor melawan dua negara itu ketat banget.
Perak SEA Games 2001 jadi pelipur lara bagi olahraga permainan beregu Indonesia yang waktu itu kering medali. Kalau tidak salah hanya basket yang bisa meraih medali, sementara cabang olahraga permainan beregu lainnya harus pulang dengan tangan hampa.
Setelah perunggu pada 1999 dan perak pada 2001, ada keinginan meraih emas pada SEA Games 2003. Apa mau di kata, waktu itu saya malah justru tidak bisa bermain untuk Timnas Indonesia. Pelatih mencoret saya karena kondisi kebugaran saya yang belum pulih benar setelah terkena demam berdarah.
Selepas kegagalan Indonesia meraih medali di SEA Games 2003, saya kemudian memiliki kesempatan lagi main di 2007. Sebagai catatan, pada 2005 basket tidak dipertandingkan.
Saya dan teman-teman waktu itu kembali bisa meraih medali perak. Posisi runner up kedua bagi saya dan bagi Timnas Indonesia setelah 2001.
Jika dibandingkan enam tahun sebelumnya, perak 2007 perjuangannya lebih gila-gilaan. Timnas basket terancam tidak diberangkatkan karena mungkin dianggap bukan prioritas dan satu tim ini anggotanya kan banyak sementara medalinya cuma satu.
Timnas Basket harus mengikuti sederet persyaratan untuk bisa pergi ke SEA Games. Syaratnya ada banyak, kami harus bisa meraih target-target di beberapa kejuaraan seperti SEABA, Sister City, dan FIBA Championship.
Runner up di SEABA, juara di Sister City, dan peringkat 12 di FIBA Championship menjadi cerminan perjuangan untuk meyakinkan kalau kami itu benar-benar mampu berjuang mengharumkan nama bangsa.
Tetapi ternyata setelah target-target di berbagai kejuaraan itu terpenuhi masih ada satu syarat lagi yang harus dilewati. Kami harus tes fisik. Sialnya dalam tes fisik, Timnas Basket ini dinyatakan buruk. Salah satu penyebabnya adalah saya. Ketika itu saya dinilai memiliki kondisi fisik terburuk hahaha.
Kemudian kami berusaha keras, tim pelatih pun juga berusaha membuat kondisi fisik saya lebih baik. Hingga akhirnya kami bisa berangkat ke SEA Games dan pulang bawa medali.
Itu salah satu bukti rangkaian kerja keras sebagai tim. Di SEA Games 2007 mungkin saya tidak dominan main karena waktu itu ada Ronny Gunawan, tetapi saya merasa punya sumbangsih besar ketika bisa menjadi juara di Sister City yang sekaligus menjadi target dari KONI sebagai syarat Timnas Basket melaju ke SEA Games.
Karier saya di Timnas cukup panjang, sampai akhirnya tuntas di ajang SEABA 2009 yang berujung medali perak. Lebih kurang 12 tahun, meski tidak beruntun, saya menjadi anggota tim nasional.
Saya rasa itu tidak lepas dari konsistensi saya main di kompetisi basket nasional di beberapa klub. Untuk level nasional, saya punya empat gelar bersama Aspac yang diraih tahun 1995, 1996, 2000, dan 2001. Selain itu ada juga sebuah gelar di level ASEAN bersama klub Indonesia Warriors.
Hampir 20 tahun saya bermain di level profesional, termasuk ketika saya bergabung dengan Aspac, Satria Muda, Citra Satria, Garuda Bandung, dan Indonesia Warriors. Sejarah yang panjang untuk menemukan arti bola basket dalam hidup saya.
Selama hampir satu dekade lebih itu pula saya menemukan kenangan-kenangan manis dan memori yang tak terlupakan. Bertemu berbagai pemain dari berbagai latar belakang. Mereka, teman-teman saya baik senior maupun junior, adalah orang-orang yang saya anggap sebagai sosok-sosok istimewa dan punya kesan tersendiri dalam hidup saya.
Sementara kalau untuk pelatih, saya memiliki kesan tersendiri terhadap pelatih Raoul Miguel dan juru latih dari Filipina David Zamar atau yang lebih dikenal dengan panggilan Boyce. Ketika berada di bawah arahan beliau, saya merasa bisa menampilkan permainan terbaik dan dia bisa memaksimalkan potensi saya. Saya seperti benar-benar bisa dipercaya dalam bermain.
Segala yang saya dapat di olahraga basket ini, sebenarnya adalah buah hasil perjalanan 'singkat' karena saya baru mendalami basket di akhir kelas 2 SMP.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Jaya di Lapangan, Tak Lupa Pendidikan
Cokorda Raka (tengah) menjadi bagian Timnas Indonesia yang meraih medali di SEA Games. Tangkapan Layar Instagram @cokordaraka)
Kalau dibandingkan pemain-pemain lain, mungkin saya adalah orang yang telat latihan serius. Saya sudah mengenal basket itu sejak SD. Waktu itu enggak saya lanjutkan bermain karena merasa latihannya berat. Mungkin waktu itu karena saya berlatih bersama orang-orang yang lebih senior.
Kemudian saya baru berlatih basket lagi saat SMP karena dipicu melihat kakak pertama saya bermain basket . Saya melihat sepertinya kok enak ya bisa bermain basket. Akhirnya saya berlatih di klub bersama kakak saya.
Tinggi tubuh yang sudah mencapai lebih dari 190 cm pada saat SMP menjadi modal penting buat saya yang telat mengenal basket. Di klub itu saya paling tinggi, tapi paling enggak bisa main hahaha. Lay up enggak bisa, lari masih harus diajari, benar-benar seperti itu.
Latihan keras pun kembali saya rasakan, capek. Sempat kepingin berhenti, tetapi waktu itu pelatih saya sampai datang ke rumah untuk mencari saya agar ikut latihan.
Faktor terbesar yang membuat saya tetap berada di lapangan basket adalah dukungan orang tua. Kedua orang tua saya bukan atlet, tak punya hubungan dengan lapangan basket, karena mereka adalah profesor.
Bapak saya Prof. Dr. dr. Tjokorda Alit Kamar Adnyana, SpFK dan ibu saya Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ.
Meski punya sederet gelar akademis, orang tua saya tidak memaksakan kehendak agar anaknya mengikuti jejak mereka. Justru mereka selalu memberi dukungan untuk anak-anaknya menekuni berbagai bidang yang disuka. Mereka pun memberi support penuh bagi saya bermain basket.
Sampai kemudian saya benar-benar bisa main basket, masuk level daerah sampai kemudian membela Bali dan terpantau tim nasional junior serta klub.
Ketika saya membela Bali di kejuaraan junior tingkat nasional, bos tim Aspac Irawan Haryono melihat bakat saya dan berniat merekrut saya. Tetapi ketika itu tahun 1994 saya masih kelas 2 SMA dan tanggung rasanya untuk meneruskan sekolah yang tinggal satu tahun lagi.
Saya pun memilih tetap di Bali, hingga setahun kemudian bergabung ke Aspac. Saya ke Jakarta karena saya yakin basket adalah jalan hidup saya. Satu hal yang benar-benar membuat langkah ringan adalah izin dan restu orang tua. Sebelum berangkat orang tua saya menitipkan pesan ke pak Irawan agar saya bisa mendapat pendidikan lanjutan tingkat universitas.
Sebenarnya ketika kelas 3 SMA itu saya sempat mencoba mengikuti kakak-kakak saya masuk ITB, namun garis hidup mengarahkan saya ke lapangan basket. Saya bergabung dengan Aspac sambil berkuliah di Jakarta.
Selain panggilan pak Irawan, sebenarnya ada satu panggilan lagi ketika saya masih SMA. Ketika itu mas Bambang Hermansyah menghubungi saya untuk ke Jakarta masuk Timnas Basket junior. Saya itu enggak tahu siapa mas Bambang yang waktu itu menelepon langsung ke rumah. Dia sampai bilang kalau dia itu pemain basket tim nasional hahaha.
Jujur saja saya itu hanya main basket saja dan tidak menonton basket. Apalagi waktu itu kan belum seperti sekarang ada media sosial dan macam-macam. Selain itu acara basket di televisi kan tidak banyak.
Bahkan ketika saya membela Bali di kejuaraan junior, saya sempat dikenalkan kepada Romy Chandra dan M Rifky yang merupakan bintang basket Indonesia pada waktu itu. Mungkin kalau anak Jakarta sudah tahu siapa mereka, tapi saya benar-benar enggak tahu jadi biasa saja pas diperkenalkan ke mereka hahaha.
Setelah masuk Aspac saya kemudian mulai merasakan latihan yang lebih berat lagi. Di samping itu saya juga harus mengikuti latihan, tetapi perlahan saya bisa mengikuti.
Sempat saya mendapat nilai jelek waktu kuliah. Teguran-teguran pun datang dari kampus.
"Ini mau pilih basket atau kuliah?" "Anak profesor kok nilainya seperti ini?"
Itu jadi pertanyaan-pertanyaan telak, tetapi juga membuat saya bangkit. Mungkin banyak yang menganggap prestasi akademik dan prestasi olahraga enggak bisa jalan bersamaan, tetapi saya ingin membuktikan kalau saya bisa menjalankan dua-duanya. Basket jalan, kuliah juga lanjut.
Perjuangannya luar biasa waktu itu untuk tetap seimbang di lapangan dan bangku kuliah. Untung pihak klub memberi dukungan.
Sering kali, ketika masih kuliah, saya pagi di Jakarta dan kemudian setelah kelas selesai saya naik pesawat atau kereta sehingga sore hari saya baru gabung tim untuk berlatih atau bertanding di kota lain.
Pernah juga waktu itu ada seri liga basket di Cirebon. Saya main sore hari, malamnya saya naik kereta kelas ekonomi ke Jakarta. Tahun itu kelas ekonomi belum ada AC, jadi bisa kebayang panasnya seperti apa hahaha.
Setelah lulus S1 teknik mesin, saya kemudian lanjut S2 manajemen keuangan. Semua saya tuntaskan di masa saya masih menjadi pemain.
Sebenarnya sejak 2010 saya sudah berstatus ASN setelah diangkat di Kemenpora. Kendati demikian saya tetap mendapat kesempatan bermain dan kemudian saya sempat menjadi pelatih dan juara bersama Satria Muda.
Kemudian sejak 2018 saya mutasi ke Bali, karena ingin mengabdi untuk tanah kelahiran. Kini saya bertugas sebagai pejabat Eselon IV di Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali. Lantaran itu saya sekarang dituntut banyak tahu beragam olahraga, tidak cuma basket saja. Seperti beberapa waktu lalu saya juga sempat dipercaya diterjunkan Pemprov Bali menjadi panitia lokal atau LOC di ajang Liga 1.
Menjadi pegawai kantoran jadi hal yang berbeda dibanding menjalani karier sebagai pemain basket. Tetapi saya tetap bisa mengaplikasikan hal-hal yang saya pelajari di olahraga untuk melanjutkan pekerjaan seperti bagaimana kita bekerja sama sebagai tim, bagaimana kita berjuang, tidak patah semangat, dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik.