Kevin/Marcus dan Langkah Buram di Jalan yang Temaram
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Kamis, 15 Jun 2023 13:02 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kevin/Marcus membukukan pencapaian terbaik lolos ke semifinal di Thailand Open. (Antara Foto/Sigid Kurniawan))
Jakarta, CNN Indonesia --
Kevin Sanjaya Sukamuljodan Marcus Fernaldi Gideonmasih berjalan bersama. Namun pertanyaan tentang berapa lama lagi usia kebersamaan mereka sebagai pasangan terus mengemuka. Situasi makin pelik lantaran hasil-hasil pertandingan yang mereka raih tak lagi sama seperti sebelumnya.
Melihat Kevin/Marcus adalah melihat tentang kemenangan. Kevin/Marcus adalah cerita tentang dominasi sepasang ganda di BWF Tour yang pernah terjadi selama tiga tahun beruntun.
Ketika Kevin/Marcus kemudian sempat menurun di 2021, sinyal-sinyal perlawanan masih ditunjukkan oleh Kevin/Marcus. Mereka berusaha keras untuk kembali ke posisi teratas dan asa itu sempat timbul di akhir 2021.
Namun cedera yang menimpa Marcus dan permasalahan yang sempat dialami oleh Kevin dengan Herry IP turut mempengaruhi performa Kevin/Marcus di 2022. Kevin/Marcus lalu mencoba menyusun ulang kekuatan dan akhirnya kembali hadir di awal Race to Olympics.
Penampilan Kevin/Marcus di Thailand Open sejatinya cukup menjanjikan. Mereka bisa menginjak babak semifinal walaupun akhirnya tak mampu melanjutkan perjalanan ke partai puncak.
Tetapi kemudian Kevin/Marcus menelan kekalahan di babak kedua Singapore Open 2023. Kevin/Marcus tumbang di hadapan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, lawan yang juga mengalahkan mereka di babak yang sama pada Malaysia Masters.
"Memang harus diakui, saya sangat berat sudah tambah umur. Kami ketinggalan terus. Kami juga sudah berkurang kecepatannya. Dengan karakter shuttlecock yang cepat, kami makin ketinggalan dan susah mengimbangi kecepatan lawan," ucap Marcus Fernaldi Gideon seusai kekalahan tersebut.
Komentar Marcus tersebut terbilang menyayat hati. Selama ini Kevin/Marcus dikenal sebagai ganda yang cepat dan eksplosif di lapangan.
Kevin/Marcus memang juga mengalami momen-momen kesulitan, tetapi biasanya hal itu berkaitan dengan laju shuttlecock yang lambat, baik itu karena bobot shuttlecock, kondisi angin, hingga kelembaban arena pertandingan. Dalam kondisi itu, serangan Kevin/Marcus tidak bisa melaju cepat seperti biasa dan hal itu yang akan membuat mereka kerepotan.
Karena itulah ketika Marcus menyebut bahwa mereka kalah dalam kecepatan di hadapan lawan, mau tidak mau dan suka tidak suka, hal itu bisa dianggap sebagai sebuah pengakuan akan kemunduran atau ketertinggalan.
Kevin/Marcus sempat merajai BWF Tour sebagai pasangan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Setelah kalah di Singapore Open, Kevin/Marcus tak ambil bagian di Indonesia Open karena Marcus mengalami cedera. Herry IP juga kemudian menyebut bakal ada agenda duduk bersama selepas Indonesia Open untuk menentukan arah perjalanan Kevin/Marcus.
"Nanti semua itu akan terjawab setelah Indonesia Open 2023. Kita akan duduk bersama dan ngomong ke depannya seperti apa," tutur Herry IP.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Langkah Kevin/Marcus saat ini terbilang buram, mereka ada di antara dua kemungkinan, lanjut atau pisah jalan.
Bila menimbang hal paling realistis yaitu mengacu pada Olimpiade Paris 2024, tetap berjalan beriringan adalah pilihan yang paling relevan.
Kevin/Marcus belum benar-benar kehilangan peluang menuju Olimpiade 2024. Mereka masih dalam posisi sejajar, bahkan unggul poin atas beberapa ganda Indonesia lainnya jika mengacu pencapaian hingga Singapore Open kemarin.
Berpisah jalan ketika Race to Olympics telah diputar juga bakal jadi keputusan yang berat. Tim ganda putra Indonesia sudah punya enam pasang ganda utama yang akan dibiarkan bertarung untuk lolos ke Paris tahun depan.
Andai berpisah jalan, hal itu berarti Kevin dan Marcus kemungkinan besar juga bakal harus melupakan mimpi tampil di Olimpiade dengan pasangan selanjutnya. Walaupun bisa tampil dengan notional point di sejumlah seri awal BWF Tour, Kevin dan Marcus akan berkejar-kejaran dengan tuntutan hasil bagus sejak awal karena mereka butuh untuk segera membuat peringkat mereka melesat ke atas demi masuk zona lolos Olimpiade.
Jalan yang bakal ditempuh Minions sendiri saat ini memang terbilang temaram. Rutinitas masa lalu saat kata juara terus melekat pada diri mereka, turut berkembang menjadi beban tambahan saat podium tertinggi di BWF Tour kali ini masih jauh dari jangkauan.
Kevin/Marcus absen di Indonesia Open 2023 karena Marcus mengalami cedera. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Kevin/Marcus sebelumnya adalah nama yang dibicarakan di persaingan juara dan berat tentunya menjaga hati dan pikiran mereka untuk tidak merasa kecewa ketika hasil-hasil yang didapatkan tidak lagi serupa sebelumnya.
Hal lain yang kemudian patut jadi pertimbangan adalah perbedaan usia Marcus dan Kevin. Marcus tahun ini berumur 32 tahun sedangkan Kevin akan menginjak 28 tahun. Dengan usia yang berbeda, sudut pandang keduanya terhadap sisa karier bisa jadi tak lagi sama.
Karena itulah, kelanjutan perjalanan pasangan ini sepenuhnya akan ditentukan pada sudut pandang Kevin dan Marcus memandang diri mereka sebagai sebuah kesatuan.
Kevin dan Marcus perlu menuangkan semua hal yang mereka rasakan, hingga nantinya keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kesan teranyar mereka berdua sebagai pasangan yang berjuang bersama di lapangan.
Kevin Sanjaya Sukamuljodan Marcus Fernaldi Gideonmasih berjalan bersama. Namun pertanyaan tentang berapa lama lagi usia kebersamaan mereka sebagai pasangan terus mengemuka. Situasi makin pelik lantaran hasil-hasil pertandingan yang mereka raih tak lagi sama seperti sebelumnya.
Melihat Kevin/Marcus adalah melihat tentang kemenangan. Kevin/Marcus adalah cerita tentang dominasi sepasang ganda di BWF Tour yang pernah terjadi selama tiga tahun beruntun.
Ketika Kevin/Marcus kemudian sempat menurun di 2021, sinyal-sinyal perlawanan masih ditunjukkan oleh Kevin/Marcus. Mereka berusaha keras untuk kembali ke posisi teratas dan asa itu sempat timbul di akhir 2021.
Namun cedera yang menimpa Marcus dan permasalahan yang sempat dialami oleh Kevin dengan Herry IP turut mempengaruhi performa Kevin/Marcus di 2022. Kevin/Marcus lalu mencoba menyusun ulang kekuatan dan akhirnya kembali hadir di awal Race to Olympics.
Penampilan Kevin/Marcus di Thailand Open sejatinya cukup menjanjikan. Mereka bisa menginjak babak semifinal walaupun akhirnya tak mampu melanjutkan perjalanan ke partai puncak.
Tetapi kemudian Kevin/Marcus menelan kekalahan di babak kedua Singapore Open 2023. Kevin/Marcus tumbang di hadapan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, lawan yang juga mengalahkan mereka di babak yang sama pada Malaysia Masters.
"Memang harus diakui, saya sangat berat sudah tambah umur. Kami ketinggalan terus. Kami juga sudah berkurang kecepatannya. Dengan karakter shuttlecock yang cepat, kami makin ketinggalan dan susah mengimbangi kecepatan lawan," ucap Marcus Fernaldi Gideon seusai kekalahan tersebut.
Komentar Marcus tersebut terbilang menyayat hati. Selama ini Kevin/Marcus dikenal sebagai ganda yang cepat dan eksplosif di lapangan.
Kevin/Marcus memang juga mengalami momen-momen kesulitan, tetapi biasanya hal itu berkaitan dengan laju shuttlecock yang lambat, baik itu karena bobot shuttlecock, kondisi angin, hingga kelembaban arena pertandingan. Dalam kondisi itu, serangan Kevin/Marcus tidak bisa melaju cepat seperti biasa dan hal itu yang akan membuat mereka kerepotan.
Karena itulah ketika Marcus menyebut bahwa mereka kalah dalam kecepatan di hadapan lawan, mau tidak mau dan suka tidak suka, hal itu bisa dianggap sebagai sebuah pengakuan akan kemunduran atau ketertinggalan.
Kevin/Marcus sempat merajai BWF Tour sebagai pasangan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Setelah kalah di Singapore Open, Kevin/Marcus tak ambil bagian di Indonesia Open karena Marcus mengalami cedera. Herry IP juga kemudian menyebut bakal ada agenda duduk bersama selepas Indonesia Open untuk menentukan arah perjalanan Kevin/Marcus.
"Nanti semua itu akan terjawab setelah Indonesia Open 2023. Kita akan duduk bersama dan ngomong ke depannya seperti apa," tutur Herry IP.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Minions, Lanjut Bersama atau Pisah Jalan?
Kevin/Marcus terbiasa dengan persaingan perebutan gelar juara di tiap turnamen yang diikuti.(Arsip PBSI)
Langkah Kevin/Marcus saat ini terbilang buram, mereka ada di antara dua kemungkinan, lanjut atau pisah jalan.
Bila menimbang hal paling realistis yaitu mengacu pada Olimpiade Paris 2024, tetap berjalan beriringan adalah pilihan yang paling relevan.
Kevin/Marcus belum benar-benar kehilangan peluang menuju Olimpiade 2024. Mereka masih dalam posisi sejajar, bahkan unggul poin atas beberapa ganda Indonesia lainnya jika mengacu pencapaian hingga Singapore Open kemarin.
Berpisah jalan ketika Race to Olympics telah diputar juga bakal jadi keputusan yang berat. Tim ganda putra Indonesia sudah punya enam pasang ganda utama yang akan dibiarkan bertarung untuk lolos ke Paris tahun depan.
Andai berpisah jalan, hal itu berarti Kevin dan Marcus kemungkinan besar juga bakal harus melupakan mimpi tampil di Olimpiade dengan pasangan selanjutnya. Walaupun bisa tampil dengan notional point di sejumlah seri awal BWF Tour, Kevin dan Marcus akan berkejar-kejaran dengan tuntutan hasil bagus sejak awal karena mereka butuh untuk segera membuat peringkat mereka melesat ke atas demi masuk zona lolos Olimpiade.
Jalan yang bakal ditempuh Minions sendiri saat ini memang terbilang temaram. Rutinitas masa lalu saat kata juara terus melekat pada diri mereka, turut berkembang menjadi beban tambahan saat podium tertinggi di BWF Tour kali ini masih jauh dari jangkauan.
Kevin/Marcus absen di Indonesia Open 2023 karena Marcus mengalami cedera. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Kevin/Marcus sebelumnya adalah nama yang dibicarakan di persaingan juara dan berat tentunya menjaga hati dan pikiran mereka untuk tidak merasa kecewa ketika hasil-hasil yang didapatkan tidak lagi serupa sebelumnya.
Hal lain yang kemudian patut jadi pertimbangan adalah perbedaan usia Marcus dan Kevin. Marcus tahun ini berumur 32 tahun sedangkan Kevin akan menginjak 28 tahun. Dengan usia yang berbeda, sudut pandang keduanya terhadap sisa karier bisa jadi tak lagi sama.
Karena itulah, kelanjutan perjalanan pasangan ini sepenuhnya akan ditentukan pada sudut pandang Kevin dan Marcus memandang diri mereka sebagai sebuah kesatuan.
Kevin dan Marcus perlu menuangkan semua hal yang mereka rasakan, hingga nantinya keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan kesan teranyar mereka berdua sebagai pasangan yang berjuang bersama di lapangan.