Vita Marissa: Kisah Tak Main-main Tampil di Dua Sektor
Vita Marissa | CNN Indonesia
Rabu, 27 Sep 2023 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Vita Marissa terkenal sebagai atlet badminton yang bermain rangkap di sektor ganda putri dan ganda campuran. (AFP/TENGKU BAHAR)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bermainbadminton dari semula hobi, kemudian membuat orang tua bangga, dan saya juga merasakan aura luar biasa ketika berdiri membawa bendera Indonesia. Menurut saya itu 'wow' banget dan tidak semua orang seberuntung saya.
Bermain di dua Olimpiade, 2004 dan 2008, adalah hal yang spesial karena semua pemain ingin main di Olimpiade. Pada Olimpiade 2004 saya bermain bersama Nova Widianto sampai babak perempat final, dan empat tahun kemudian saya berpasangan dengan Flandy Limpele sampai babak perebutan medali perunggu.
Saya juga bermain rangkap di sektor ganda putri pada Olimpiade 2008. Ketika itu saya berduet dengan Liliyana Natsir yang juga main rangkap bersama Nova di sektor ganda campuran.
Meski gagal meraih medali, Olimpiade menurut saya adalah prestasi paling terbaik.
Di luar itu, yang namanya gelar juara tetap tidak kalah penting dan selalu punya memori positif. Semua gelar juara tentu ada kenangan manis, tetapi yang paling saya ingat adalah juara Japan Open 2006 ketika pertama kali dipasangkan bersama Flandy. Itu benar-benar berkesan karena saya habis operasi.
Saya comeback di situ dan berpikir: "Wah gila jadi juara lagi". Padahal sebelumnya harapan sudah mau pupus dan menyerah karena cedera bahu yang membuat saya istirahat panjang dan sampai ada pergantian pasangan.
Indonesia pernah memiliki dua pasang ganda campuran yang menguasai ranking BWF yakni Flandy Limpele/Vita Marissa (kanan) dan Nova Widianto/Liliyana Natsir (kiri). (Photo by TENGKU BAHAR / AFP)
Sebelumnya saya bermain di ganda campuran bersama Nova. Kemudian saya cedera, Nova dipasangkan dengan Butet. Sementara setelah sembuh, saya bermain bersama Flandy.
Untuk peringkat saya pernah di level atas bersama Nova dan Flandy di ganda campuran dan pernah juga bareng Deyana Lomban, Emma Ermawati, dan Butet.
Saya memang main di dua sektor tersebut. Sebenarnya waktu kecil, sebagaimana atlet-atlet cilik, saya main di nomor tunggal dulu. Atas saran Papa, selanjutnya saya main di sektor ganda karena melihat persaingan waktu itu.
Saya masuk pelatnas di sektor ganda putri. Seingat saya waktu itu latihan ganda putri dan ganda campuran masih digabung. Sektor mixed double juga istilahnya masih jadi 'anak tiri', enggak seperti sekarang.
Dari situ saya mulai berkenalan dengan sektor ganda campuran, mengalir dan kemudian bermain rangkap.
Saya benar-benar termotivasi dengan prestasi dan ingin tampil di lapangan. Satu hal lagi adalah saya menikmati. Itulah alasan saya main di ganda putri dan ganda campuran.
Kalau ditanya, "Kok, kamu kuat?", ya saya juga enggak tahu, ha ha ha. Saya hanya merasa senang saja bisa main di dua sektor. Lagi pula ada juga atlet luar yang main rangkap seperti Ge Fei, Gao Ling, atau Ra Kyung Min. Jadi menurut saya itu bukan hal yang aneh.
Kemudian ada pula pertanyaan soal bagaimana saya membagi fokus. Kalau main dua di dua sektor itu mana yang lebih jadi prioritas? Kalau saya ya fight saja. Enggak banyak pikir, jalani saja, yang penting prestasi.
Vita Marissa pernah menjalani dua peran berbeda di Pelatnas PBSI Cipayung, sebagai pemain dan pelatih. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Memang kalau di lapangan ada perbedaan yang cukup besar antara main di ganda putri dan ganda campuran. Kalau di ganda putri saya harus siap capek dan bermain sabar. Sementara di ganda campuran saya harus membawa diri saya lebih berani dalam bermain karena salah satu lawan yang dihadapi adalah laki-laki.
Main di dua sektor tidak membuat saya menggandakan porsi latihan. Saya latihan normal saja seperti yang lain, paling ya ada tambahan 30 atau 40 menit. Kuncinya ada di mindset.
Sebenarnya kalau dihitung-hitung latihan sehari kira-kira 5-6 jam, seminggu latihan terus. Kalau dibandingkan sama bertanding, paling sekali main satu jam. Kalau menurut saya logikanya seperti itu.
Cedera jadi salah satu titik terendah dalam kehidupan karier saya. Ada hal lain lagi yang membuat saya harus mengambil keputusan berat, yaitu ketika keluar dari pelatnas PBSI.
Menurut saya, waktu itu saya harus keluar dari Cipayung karena ada masalah dengan perkataan salah satu pengurus baru. Detik itu juga saya tidak terima, dan saya pilih keluar dari PBSI. Faktor harga diri, sakit hati, dan tersinggung atas salah satu pengurus membuat saya tak berpikir panjang untuk pergi.
Di sepanjang karier saya, banyak rekan duet di lapangan. Dari yang usianya senior dibanding saya ataupun yang junior. Ketika masih bermain, saya percaya kepada pilihan pelatih untuk menentukan siapa yang menjadi pasangan saya. Tugas pemain di lapangan adalah menyesuaikan dengan siapa kita bermain. Saya bukan tidak pernah komplain, tetapi saya selalu berusaha untuk main maksimal dan beradaptasi dengan siapapun saya dipasangkan.
Di antara banyak rekan bermain bersama, menurut saya semuanya punya jalan cerita, sejarah, dan efek positif dalam hidup. Hanya saja biasanya yang diingat atau yang dibanggakan adalah yang punya prestasi tertinggi karena biasanya kalau kita bisa juara dengan pasangan kita maka masa dipasangkannya lebih lama.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Bulu tangkismerupakan salah satu dari sekian banyak olahraga yang dikenalkan Papa, Aris Harsono, sejak saya masih kecil.
Saya pilih lebih giat tepok-tepok shuttlecock karena terbilang ringkas, cuma butuh raket dan kok. Sering dulu waktu saya masih kecil, sehabis pulang sekolah langsung main badminton di halaman rumah. Sementara kalau olahraga lain, seperti renang, tenis meja, atau biliar tidak bisa sesimpel itu.
Papa juga kemudian mendatangkan orang untuk mengajarkan badminton secara privat ketika saya sudah menunjukkan ketertarikan main badminton.
Kebetulan Papa kenal orang-orang yang bisa melatih badminton di dekat-dekat rumah. Jadi waktu saya masih kecil dulu sudah kenal dengan Koh Herry IP [pelatih ganda campuran pelatnas PBSI] dan Koh Hendry Saputra [mantan pelatih tunggal putra pelatnas PBSI]. Untuk latihan privat ini waktunya memang terbilang singkat, bukan sampai dalam momen yang lama.
Selain latihan privat, saya juga masuk klub badminton yang juga masih di area dekat rumah di Jakarta Barat seperti Aqua Puspita dan B29.
Saya benar-benar serius memilih badminton itu sekitar usia 13. Tolok ukur saya bilang 'serius' adalah karena waktu itu saya sudah tinggal di asrama.
Berjarak dua tahun dari keseriusan saya memilih badminton, pintu pelatnas PBSI di Cipayung terbuka untuk saya. Bukan secara tiba-tiba saya bisa masuk ke sana, tetapi karena perjuangan yang berbuah hasil baik di kejuaraan-kejuaraan sirkuit nasional.
Pada waktu mengikuti turnamen-turnamen itu saya rasa memang saya bermain enjoy, tidak ada beban, dan menjalani itu seperti hobi. Selain itu saya juga gengsi kalau kalah dan dari situ muncul rasa ingin selalu menang.
Jujur saya enggak punya idola waktu kecil. Kepingin menang, karena saya mau juara dan tidak mau kalah. Bukan karena mau jadi seperti pemain A atau jadi terkenal.
Vita Marissa masuk pelatnas PBSI sejak usia 15 tahun sekitar 1996. (Photo by MANAN VATSYAYANA / AFP)
Mental saya yang dulu ingin jadi juara masih terjaga sampai sekarang saya melatih. Betul kata orang, jadi pelatih lebih stres karena kita tidak melakukan sendiri, tetapi kita memberi instruksi kepada pemain yang otaknya tidak bisa di-setting.
Selain posisi yang berbeda, zaman juga berbeda. Kalau sekarang mungkin ada media sosial ada netizen yang mengkritik, tapi jangan salah dulu kalau enggak juara mana mungkin masuk Kompas atau Bola, ha ha ha.
Soal media sosial menurut saya memang sekarang lagi zamannya, sulit untuk menghindar. Satu pesan saya bagi pemain adalah siap untuk segala keadaan. Kalau enggak bisa meng-handle keadaan ketika ada yang mencaci, berarti enggak siap jadi juara di era sekarang.
Selain itu saya ingin menciptakan atlet sukses punya titel juara dengan karakter yang baik, contohnya seperti Hendra Setiawan atau Liliyana Natsir.
Sekarang saya jadi pelatih di PB Djarum. Saya masih ada di dalam dunia badminton seperti yang Papa saya inginkan. Saat ini Papa sudah 88 tahun dan saya tahu apa yang saya jalani sekarang bisa membuat beliau tenang dan menikmati hidup. Itu adalah rasa syukur terbesar sampai hari ini, masih bisa membuat Papa senang.
Mungkin bisa dibilang Papa juga yang membuat saya tetap di Indonesia meski ada tawaran dari negara lain. Tetapi buat saya, selama masih bisa berada di sini ya saya akan lakukan yang terbaik.
Kalau ada pemain atau pelatih yang sampai ke luar negeri, itu wajar saja karena enggak akan muat semua membela Indonesia dan ada kepentingan ekonomi di balik semua itu. Tetapi percaya saya, semua pemain atau pelatih Indonesia pasti ingin sekali kembali dan membela bendera Merah Putih.
Bermainbadminton dari semula hobi, kemudian membuat orang tua bangga, dan saya juga merasakan aura luar biasa ketika berdiri membawa bendera Indonesia. Menurut saya itu 'wow' banget dan tidak semua orang seberuntung saya.
Bermain di dua Olimpiade, 2004 dan 2008, adalah hal yang spesial karena semua pemain ingin main di Olimpiade. Pada Olimpiade 2004 saya bermain bersama Nova Widianto sampai babak perempat final, dan empat tahun kemudian saya berpasangan dengan Flandy Limpele sampai babak perebutan medali perunggu.
Saya juga bermain rangkap di sektor ganda putri pada Olimpiade 2008. Ketika itu saya berduet dengan Liliyana Natsir yang juga main rangkap bersama Nova di sektor ganda campuran.
Meski gagal meraih medali, Olimpiade menurut saya adalah prestasi paling terbaik.
Di luar itu, yang namanya gelar juara tetap tidak kalah penting dan selalu punya memori positif. Semua gelar juara tentu ada kenangan manis, tetapi yang paling saya ingat adalah juara Japan Open 2006 ketika pertama kali dipasangkan bersama Flandy. Itu benar-benar berkesan karena saya habis operasi.
Saya comeback di situ dan berpikir: "Wah gila jadi juara lagi". Padahal sebelumnya harapan sudah mau pupus dan menyerah karena cedera bahu yang membuat saya istirahat panjang dan sampai ada pergantian pasangan.
Indonesia pernah memiliki dua pasang ganda campuran yang menguasai ranking BWF yakni Flandy Limpele/Vita Marissa (kanan) dan Nova Widianto/Liliyana Natsir (kiri). (Photo by TENGKU BAHAR / AFP)
Sebelumnya saya bermain di ganda campuran bersama Nova. Kemudian saya cedera, Nova dipasangkan dengan Butet. Sementara setelah sembuh, saya bermain bersama Flandy.
Untuk peringkat saya pernah di level atas bersama Nova dan Flandy di ganda campuran dan pernah juga bareng Deyana Lomban, Emma Ermawati, dan Butet.
Saya memang main di dua sektor tersebut. Sebenarnya waktu kecil, sebagaimana atlet-atlet cilik, saya main di nomor tunggal dulu. Atas saran Papa, selanjutnya saya main di sektor ganda karena melihat persaingan waktu itu.
Saya masuk pelatnas di sektor ganda putri. Seingat saya waktu itu latihan ganda putri dan ganda campuran masih digabung. Sektor mixed double juga istilahnya masih jadi 'anak tiri', enggak seperti sekarang.
Dari situ saya mulai berkenalan dengan sektor ganda campuran, mengalir dan kemudian bermain rangkap.
Saya benar-benar termotivasi dengan prestasi dan ingin tampil di lapangan. Satu hal lagi adalah saya menikmati. Itulah alasan saya main di ganda putri dan ganda campuran.
Kalau ditanya, "Kok, kamu kuat?", ya saya juga enggak tahu, ha ha ha. Saya hanya merasa senang saja bisa main di dua sektor. Lagi pula ada juga atlet luar yang main rangkap seperti Ge Fei, Gao Ling, atau Ra Kyung Min. Jadi menurut saya itu bukan hal yang aneh.
Kemudian ada pula pertanyaan soal bagaimana saya membagi fokus. Kalau main dua di dua sektor itu mana yang lebih jadi prioritas? Kalau saya ya fight saja. Enggak banyak pikir, jalani saja, yang penting prestasi.
Vita Marissa pernah menjalani dua peran berbeda di Pelatnas PBSI Cipayung, sebagai pemain dan pelatih. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Memang kalau di lapangan ada perbedaan yang cukup besar antara main di ganda putri dan ganda campuran. Kalau di ganda putri saya harus siap capek dan bermain sabar. Sementara di ganda campuran saya harus membawa diri saya lebih berani dalam bermain karena salah satu lawan yang dihadapi adalah laki-laki.
Main di dua sektor tidak membuat saya menggandakan porsi latihan. Saya latihan normal saja seperti yang lain, paling ya ada tambahan 30 atau 40 menit. Kuncinya ada di mindset.
Sebenarnya kalau dihitung-hitung latihan sehari kira-kira 5-6 jam, seminggu latihan terus. Kalau dibandingkan sama bertanding, paling sekali main satu jam. Kalau menurut saya logikanya seperti itu.
Cedera jadi salah satu titik terendah dalam kehidupan karier saya. Ada hal lain lagi yang membuat saya harus mengambil keputusan berat, yaitu ketika keluar dari pelatnas PBSI.
Menurut saya, waktu itu saya harus keluar dari Cipayung karena ada masalah dengan perkataan salah satu pengurus baru. Detik itu juga saya tidak terima, dan saya pilih keluar dari PBSI. Faktor harga diri, sakit hati, dan tersinggung atas salah satu pengurus membuat saya tak berpikir panjang untuk pergi.
Di sepanjang karier saya, banyak rekan duet di lapangan. Dari yang usianya senior dibanding saya ataupun yang junior. Ketika masih bermain, saya percaya kepada pilihan pelatih untuk menentukan siapa yang menjadi pasangan saya. Tugas pemain di lapangan adalah menyesuaikan dengan siapa kita bermain. Saya bukan tidak pernah komplain, tetapi saya selalu berusaha untuk main maksimal dan beradaptasi dengan siapapun saya dipasangkan.
Di antara banyak rekan bermain bersama, menurut saya semuanya punya jalan cerita, sejarah, dan efek positif dalam hidup. Hanya saja biasanya yang diingat atau yang dibanggakan adalah yang punya prestasi tertinggi karena biasanya kalau kita bisa juara dengan pasangan kita maka masa dipasangkannya lebih lama.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Sudah Kenal Pelatih Pelatnas Sejak Kecil
Vita Marissa melanjutkan karier di dunia badminton sebagai pelatih setelah gantung raket. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Bulu tangkismerupakan salah satu dari sekian banyak olahraga yang dikenalkan Papa, Aris Harsono, sejak saya masih kecil.
Saya pilih lebih giat tepok-tepok shuttlecock karena terbilang ringkas, cuma butuh raket dan kok. Sering dulu waktu saya masih kecil, sehabis pulang sekolah langsung main badminton di halaman rumah. Sementara kalau olahraga lain, seperti renang, tenis meja, atau biliar tidak bisa sesimpel itu.
Papa juga kemudian mendatangkan orang untuk mengajarkan badminton secara privat ketika saya sudah menunjukkan ketertarikan main badminton.
Kebetulan Papa kenal orang-orang yang bisa melatih badminton di dekat-dekat rumah. Jadi waktu saya masih kecil dulu sudah kenal dengan Koh Herry IP [pelatih ganda campuran pelatnas PBSI] dan Koh Hendry Saputra [mantan pelatih tunggal putra pelatnas PBSI]. Untuk latihan privat ini waktunya memang terbilang singkat, bukan sampai dalam momen yang lama.
Selain latihan privat, saya juga masuk klub badminton yang juga masih di area dekat rumah di Jakarta Barat seperti Aqua Puspita dan B29.
Saya benar-benar serius memilih badminton itu sekitar usia 13. Tolok ukur saya bilang 'serius' adalah karena waktu itu saya sudah tinggal di asrama.
Berjarak dua tahun dari keseriusan saya memilih badminton, pintu pelatnas PBSI di Cipayung terbuka untuk saya. Bukan secara tiba-tiba saya bisa masuk ke sana, tetapi karena perjuangan yang berbuah hasil baik di kejuaraan-kejuaraan sirkuit nasional.
Pada waktu mengikuti turnamen-turnamen itu saya rasa memang saya bermain enjoy, tidak ada beban, dan menjalani itu seperti hobi. Selain itu saya juga gengsi kalau kalah dan dari situ muncul rasa ingin selalu menang.
Jujur saya enggak punya idola waktu kecil. Kepingin menang, karena saya mau juara dan tidak mau kalah. Bukan karena mau jadi seperti pemain A atau jadi terkenal.
Vita Marissa masuk pelatnas PBSI sejak usia 15 tahun sekitar 1996. (Photo by MANAN VATSYAYANA / AFP)
Mental saya yang dulu ingin jadi juara masih terjaga sampai sekarang saya melatih. Betul kata orang, jadi pelatih lebih stres karena kita tidak melakukan sendiri, tetapi kita memberi instruksi kepada pemain yang otaknya tidak bisa di-setting.
Selain posisi yang berbeda, zaman juga berbeda. Kalau sekarang mungkin ada media sosial ada netizen yang mengkritik, tapi jangan salah dulu kalau enggak juara mana mungkin masuk Kompas atau Bola, ha ha ha.
Soal media sosial menurut saya memang sekarang lagi zamannya, sulit untuk menghindar. Satu pesan saya bagi pemain adalah siap untuk segala keadaan. Kalau enggak bisa meng-handle keadaan ketika ada yang mencaci, berarti enggak siap jadi juara di era sekarang.
Selain itu saya ingin menciptakan atlet sukses punya titel juara dengan karakter yang baik, contohnya seperti Hendra Setiawan atau Liliyana Natsir.
Sekarang saya jadi pelatih di PB Djarum. Saya masih ada di dalam dunia badminton seperti yang Papa saya inginkan. Saat ini Papa sudah 88 tahun dan saya tahu apa yang saya jalani sekarang bisa membuat beliau tenang dan menikmati hidup. Itu adalah rasa syukur terbesar sampai hari ini, masih bisa membuat Papa senang.
Mungkin bisa dibilang Papa juga yang membuat saya tetap di Indonesia meski ada tawaran dari negara lain. Tetapi buat saya, selama masih bisa berada di sini ya saya akan lakukan yang terbaik.
Kalau ada pemain atau pelatih yang sampai ke luar negeri, itu wajar saja karena enggak akan muat semua membela Indonesia dan ada kepentingan ekonomi di balik semua itu. Tetapi percaya saya, semua pemain atau pelatih Indonesia pasti ingin sekali kembali dan membela bendera Merah Putih.