Setelah kalah 0-2 dari Argentina pada 19 Juni 2023 di GBK, kepercayaan diri publik naik tajam. Hanya kalah 0-2, padahal diprediksi bakal takluk dengan selisih lima gol, mengatrol persepsi.
Publik jadi yakin Timnas Indonesia sudah naik kelas. Walau belum setara Jepang, Korea Selatan, atau Iran, Indonesia tak akan lagi jadi bulan-bulanan lawan. Persepsi ini ternyata salah.
Tandang ke Irak untuk laga Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia digulung 1-5. Kekalahan ini membuat kepercayaan diri publik runtuh. Kualitas Shin kembali jadi pergunjingan.
Dengan komposisi pemain yang sudah dibangun dalam dua tahun terakhir, ditambah pemain naturalisasi, kualitas Indonesia tetap jeblok. Strategi sepak bola Shin ternyata tak terlalu canggih.
Sejumlah kalangan, yang awalnya percaya pada Shin, mulai ragu. Persaingan Grup F yang awalnya terlihat mudah, samar-samar mulai tampak menyeramkan. Trauma kualifikasi sebelumnya masih terasa.
Kisah Kualifikasi Piala Dunia 2022 memang getir. Pada 2019 itu publik sangat yakin Indonesia bisa lolos grup karena bergabung dengan Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Uni Emirat Arab.
Realita berkata lain. Indonesia dipermalukan Malaysia 2-3 di GBK, lantas dilumat 0-3 oleh Thailand, juga di GBK. Ini membuat emosi publik atas Simon McMenemy memuncak.
Pada akhirnya Indonesia menjadi juru kunci grup. Dari delapan pertandingan hanya sekali imbang dan sisanya kalah. Timnas Indonesia benar-benar kacang di mata Malaysia, Vietnam, dan Thailand.
Trauma ini tak ingin diulangi publik. Terbantai 1-5 sudah jadi awal yang pahit. Hal sama tidak boleh terulang saat melawan Filipina di Stadion Rizal Memorial pada Selasa (21/11) malam.
Jika sampai Indonesia kalah dari Filipina, dorongan kepada Shin untuk mundur akan membesar. Pasalnya nama baik Timnas Indonesia di Piala Asia 2023 (2024) yang jadi pertaruhan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Keberhasilan Shin Tae Yong membawa Timnas Indonesia kembali ke Piala Asia sangat diapresiasi. Namun kalau cuma lolos lantas jadi bulan-bulanan, tentu saja sangat tidak diharapkan.
Indonesia terakhir kali tampil di Piala Asia pada 2007, saat menjadi tuan rumah. Itu mengapa banyak yang suka dengan Shin begitu berhasil membawa skuad Garuda ke Piala Asia 2023.
Masalahnya, Indonesia tergabung di Grup A bersama Jepang, Irak, dan Vietnam. Jika dilihat dari peringkat FIFA, Indonesia adalah tim terlemah dan kemungkinan jadi sasaran empuk gol.
Persepsi ini jadi punya dasar. Buktinya Indonesia dilumat 1-5 oleh Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Jika Irak saja bisa pesta gol, bagaimana dengan Jepang yang sedang di fase garang-garangnya?
Sebelum menatap Piala Asia 2023 di Qatar pada 12 Januari hingga 10 Februari 2024, awalnya Kualifikasi Piala Dunia 2026 ingin dijadikan pemanasan. Eh, malah jadi kepanasan.
Setelah kalah 1-5 dari Irak, Asnawi Mangkualam Bahar dan kawan-kawan kudu bangkit saat jumpa Filipina, Selasa (21/11). Ini adalah modal kompetitif terakhir sebelum Piala Asia 2023.
Selepas melawan Filipina, beberapa uji coba memang dirancang PSSI. Salah satunya melawan Iran di Qatar. Ada pula uji coba ketika pemusatan latihan di Turki pada Desember.
Sejarah mencatat, Indonesia dan Filipina sudah bentrok 25 kali. Hasilnya Indonesia menang 20 kali, 4 kali imbang, dan hanya sekali kalah. Kekalahan itu tercipta pada 25 November 2014.
Kisah 'November Kelabu' itu diharapkan tak terjadi lagi tahun ini. Shin juga punya catatan manis, menang 2-1 atas Filipina dalam persaingan Piala AFF 2022 pada 2 Januari 2023.
Persoalannya, pertandingan kali ini akan tersaji di atas rumput artifisial. Biasanya pemain Indonesia agak kewalahan saat tampil di atas rumput sintetis. Ini bisa dimanfaatkan tuan rumah.
Belum lagi kondisi fisik pemain terkuras. Setelah melawan Irak, pemain Timnas Indonesia harus melakoni 18 jam perjalanan ke Manila. Dua hal inilah yang jadi tantangan besar Timnas Indonesia di Filipina.
Setelah kalah 0-2 dari Argentina pada 19 Juni 2023 di GBK, kepercayaan diri publik naik tajam. Hanya kalah 0-2, padahal diprediksi bakal takluk dengan selisih lima gol, mengatrol persepsi.
Publik jadi yakin Timnas Indonesia sudah naik kelas. Walau belum setara Jepang, Korea Selatan, atau Iran, Indonesia tak akan lagi jadi bulan-bulanan lawan. Persepsi ini ternyata salah.
Tandang ke Irak untuk laga Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia digulung 1-5. Kekalahan ini membuat kepercayaan diri publik runtuh. Kualitas Shin kembali jadi pergunjingan.
Dengan komposisi pemain yang sudah dibangun dalam dua tahun terakhir, ditambah pemain naturalisasi, kualitas Indonesia tetap jeblok. Strategi sepak bola Shin ternyata tak terlalu canggih.
Sejumlah kalangan, yang awalnya percaya pada Shin, mulai ragu. Persaingan Grup F yang awalnya terlihat mudah, samar-samar mulai tampak menyeramkan. Trauma kualifikasi sebelumnya masih terasa.
Kisah Kualifikasi Piala Dunia 2022 memang getir. Pada 2019 itu publik sangat yakin Indonesia bisa lolos grup karena bergabung dengan Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Uni Emirat Arab.
Realita berkata lain. Indonesia dipermalukan Malaysia 2-3 di GBK, lantas dilumat 0-3 oleh Thailand, juga di GBK. Ini membuat emosi publik atas Simon McMenemy memuncak.
Pada akhirnya Indonesia menjadi juru kunci grup. Dari delapan pertandingan hanya sekali imbang dan sisanya kalah. Timnas Indonesia benar-benar kacang di mata Malaysia, Vietnam, dan Thailand.
Trauma ini tak ingin diulangi publik. Terbantai 1-5 sudah jadi awal yang pahit. Hal sama tidak boleh terulang saat melawan Filipina di Stadion Rizal Memorial pada Selasa (21/11) malam.
Jika sampai Indonesia kalah dari Filipina, dorongan kepada Shin untuk mundur akan membesar. Pasalnya nama baik Timnas Indonesia di Piala Asia 2023 (2024) yang jadi pertaruhan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Cari Modal Sebelum Piala Asia 2023
Timnas Indonesia butuh hasil bagus di kandang Filipina. (Dok. PSSI)
Keberhasilan Shin Tae Yong membawa Timnas Indonesia kembali ke Piala Asia sangat diapresiasi. Namun kalau cuma lolos lantas jadi bulan-bulanan, tentu saja sangat tidak diharapkan.
Indonesia terakhir kali tampil di Piala Asia pada 2007, saat menjadi tuan rumah. Itu mengapa banyak yang suka dengan Shin begitu berhasil membawa skuad Garuda ke Piala Asia 2023.
Masalahnya, Indonesia tergabung di Grup A bersama Jepang, Irak, dan Vietnam. Jika dilihat dari peringkat FIFA, Indonesia adalah tim terlemah dan kemungkinan jadi sasaran empuk gol.
Persepsi ini jadi punya dasar. Buktinya Indonesia dilumat 1-5 oleh Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Jika Irak saja bisa pesta gol, bagaimana dengan Jepang yang sedang di fase garang-garangnya?
Sebelum menatap Piala Asia 2023 di Qatar pada 12 Januari hingga 10 Februari 2024, awalnya Kualifikasi Piala Dunia 2026 ingin dijadikan pemanasan. Eh, malah jadi kepanasan.
Setelah kalah 1-5 dari Irak, Asnawi Mangkualam Bahar dan kawan-kawan kudu bangkit saat jumpa Filipina, Selasa (21/11). Ini adalah modal kompetitif terakhir sebelum Piala Asia 2023.
Selepas melawan Filipina, beberapa uji coba memang dirancang PSSI. Salah satunya melawan Iran di Qatar. Ada pula uji coba ketika pemusatan latihan di Turki pada Desember.
Sejarah mencatat, Indonesia dan Filipina sudah bentrok 25 kali. Hasilnya Indonesia menang 20 kali, 4 kali imbang, dan hanya sekali kalah. Kekalahan itu tercipta pada 25 November 2014.
Kisah 'November Kelabu' itu diharapkan tak terjadi lagi tahun ini. Shin juga punya catatan manis, menang 2-1 atas Filipina dalam persaingan Piala AFF 2022 pada 2 Januari 2023.
Persoalannya, pertandingan kali ini akan tersaji di atas rumput artifisial. Biasanya pemain Indonesia agak kewalahan saat tampil di atas rumput sintetis. Ini bisa dimanfaatkan tuan rumah.
Belum lagi kondisi fisik pemain terkuras. Setelah melawan Irak, pemain Timnas Indonesia harus melakoni 18 jam perjalanan ke Manila. Dua hal inilah yang jadi tantangan besar Timnas Indonesia di Filipina.