Dihuni para pemain terbaik Indonesia, termasuk talenta naturalisasi, melengkapi skuad Garuda yang digadang-gadang sebagai kekuatan terbaik dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Trio Rizky Ridho, Jordi Amat, dan Elkan Baggott adalah pemain bertahan terbaik saat ini yang dimiliki Indonesia. Duo fullback Shayne Pattynama dan Asnawi Mangkualam siap bergerak aktif naik-turun.
Marck Klok, Ricky Kambuaya, dan Adam Alis jadi pengatur ritme permainan di li tengah. Sementara duet Dendy Sulistyawan dan Dimas Drajad diplot sebagai juru gedor yang diyakini bisa berbuat banyak saat melawan Irak.
Di awal-awal laga, Indonesia menunjukkan keberanian dengan mengambil inisiatif menyerang. Shin Tae Yong tak lagi menerapkan taktik parkir bus yang sering digunakan pendahulunya saat melawan tim-tim yang levelnya berada di atas Indonesia.
Sayang, perjuangan keras anak-anak Indonesia tak berbanding lurus dengan hasil akhir. Indonesia pulang dengan kekecewaan usai kalah telak 1-5 dari Irak.
Margin kekalahan besar benar-benar di luar ekspektasi. Indonesia hanya mampu mencetak satu gol lewat Shayne Pattynama di pengujung babak pertama. Namun, sebagian besar gol Irak terjadi karena blunder barisan pertahanan Indonesia.
Tiga gol awal yang dicetak tuan rumah berawal dari kesalahan para pemain Garuda. Dua gol karena kesalahan fatal di daerah pertahanan, sementara satu gol lainnya terjadi lantaran bunuh diri Jordi Amat.
Kesalahan demi kesalahan di lini belakang menyingkap fakta baru bahwa kualitas individu pemain tak jadi garansi permainan solid. Buktinya Jordi Amat dkk masih sering kehilangan konsentrasi saat menghadapi gempuran lawan.
Shin Tae Yong punya pekerjaan rumah yang mesti segera dibenahi. Selain persoalan teknis, mental dan motivasi pemain harus dikatrol kembali.
Cita-cita tembus babak ketiga Piala Dunia 2026 jangan buru-buru dihapus. Sebab, Garuda masih punya kesempatan terbang tinggi jika mampu meraih hasil positif di laga-laga berikutnya.
Baca di halaman berikutnya>>>
Lupakan hasil negatif dari Irak dan tatap pertandingan kedua melawan Filipina pada Selasa (21/11). Duel yang berlangsung di Stadion Rizal Memoriam ini bisa jadi tumpuan Timnas Indonesia untuk bangkit.
Asnawi Mangkualam dkk haram kalah dari Filipina demi menjaga peluang lolos ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Terlebih mereka punya catatan pertemuan mentereng.
Merujuk 11v11, Filipina dan Indonesia sudah bertemu sebanyak 25 kali sejak 1958. Hasilnya, Timnas Indonesia menang 20 kali, imbang empat kali, dan hanya sekali kalah.
Kemenangan terbesar Indonesia terjadi di Piala AFF 2002. Kali itu, Indonesia mampu meraih kemenangan dengan skor fantastis 13-1.
Sementara satu-satunya kemenangan Filipina terjadi pada Piala AFF 2014. Saat itu Indonesia dipaksa menyerah 0-4.
Statistik memang bukan segalanya. Namun, setidaknya itu bisa jadi motivasi tambahan bahwa level Indonesia sudah sejak lama berada di atas Filipina.
Namun, catatan mentereng itu tak boleh membuat Marc Klok dkk jemawa. Filipina juga berambisi bangkit setelah sebelumnya menelan kekalahan 0-2 dari Vietnam di depan publik sendiri.
Kekalahan dengan margin dua gol dari Vietnam menjadi bukti bahwa Filipina bukan lagi tim kacangan. Setidaknya mereka tidak kebobolan lebih banyak saat berhadapan dengan Vietnam yang merupakan salah satu tim raksasa ASEAN.
Indonesia mesti tetap membumi meski menargetkan kemenangan di markas Filipina. Yang pasti, skuad arahan Shin Tae Yong haram hukumnya kalah dari Filipina.
Sebab, kekalahan dari Filipina dapat membuat mental dan motivasi pemain ambruk dalam menatap laga selanjutnya. Posisi Shin Tae Yong di kursi pelatih juga bakal dirongrong.
Dihuni para pemain terbaik Indonesia, termasuk talenta naturalisasi, melengkapi skuad Garuda yang digadang-gadang sebagai kekuatan terbaik dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Trio Rizky Ridho, Jordi Amat, dan Elkan Baggott adalah pemain bertahan terbaik saat ini yang dimiliki Indonesia. Duo fullback Shayne Pattynama dan Asnawi Mangkualam siap bergerak aktif naik-turun.
Marck Klok, Ricky Kambuaya, dan Adam Alis jadi pengatur ritme permainan di li tengah. Sementara duet Dendy Sulistyawan dan Dimas Drajad diplot sebagai juru gedor yang diyakini bisa berbuat banyak saat melawan Irak.
Di awal-awal laga, Indonesia menunjukkan keberanian dengan mengambil inisiatif menyerang. Shin Tae Yong tak lagi menerapkan taktik parkir bus yang sering digunakan pendahulunya saat melawan tim-tim yang levelnya berada di atas Indonesia.
Sayang, perjuangan keras anak-anak Indonesia tak berbanding lurus dengan hasil akhir. Indonesia pulang dengan kekecewaan usai kalah telak 1-5 dari Irak.
Margin kekalahan besar benar-benar di luar ekspektasi. Indonesia hanya mampu mencetak satu gol lewat Shayne Pattynama di pengujung babak pertama. Namun, sebagian besar gol Irak terjadi karena blunder barisan pertahanan Indonesia.
Tiga gol awal yang dicetak tuan rumah berawal dari kesalahan para pemain Garuda. Dua gol karena kesalahan fatal di daerah pertahanan, sementara satu gol lainnya terjadi lantaran bunuh diri Jordi Amat.
Kesalahan demi kesalahan di lini belakang menyingkap fakta baru bahwa kualitas individu pemain tak jadi garansi permainan solid. Buktinya Jordi Amat dkk masih sering kehilangan konsentrasi saat menghadapi gempuran lawan.
Shin Tae Yong punya pekerjaan rumah yang mesti segera dibenahi. Selain persoalan teknis, mental dan motivasi pemain harus dikatrol kembali.
Cita-cita tembus babak ketiga Piala Dunia 2026 jangan buru-buru dihapus. Sebab, Garuda masih punya kesempatan terbang tinggi jika mampu meraih hasil positif di laga-laga berikutnya.
Baca di halaman berikutnya>>>
Saatnya Garuda Terbang Tinggi
Timnas Indonesia harus melupakan kekalahan telak dari Irak. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Lupakan hasil negatif dari Irak dan tatap pertandingan kedua melawan Filipina pada Selasa (21/11). Duel yang berlangsung di Stadion Rizal Memoriam ini bisa jadi tumpuan Timnas Indonesia untuk bangkit.
Asnawi Mangkualam dkk haram kalah dari Filipina demi menjaga peluang lolos ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Terlebih mereka punya catatan pertemuan mentereng.
Merujuk 11v11, Filipina dan Indonesia sudah bertemu sebanyak 25 kali sejak 1958. Hasilnya, Timnas Indonesia menang 20 kali, imbang empat kali, dan hanya sekali kalah.
Kemenangan terbesar Indonesia terjadi di Piala AFF 2002. Kali itu, Indonesia mampu meraih kemenangan dengan skor fantastis 13-1.
Sementara satu-satunya kemenangan Filipina terjadi pada Piala AFF 2014. Saat itu Indonesia dipaksa menyerah 0-4.
Statistik memang bukan segalanya. Namun, setidaknya itu bisa jadi motivasi tambahan bahwa level Indonesia sudah sejak lama berada di atas Filipina.
Namun, catatan mentereng itu tak boleh membuat Marc Klok dkk jemawa. Filipina juga berambisi bangkit setelah sebelumnya menelan kekalahan 0-2 dari Vietnam di depan publik sendiri.
Kekalahan dengan margin dua gol dari Vietnam menjadi bukti bahwa Filipina bukan lagi tim kacangan. Setidaknya mereka tidak kebobolan lebih banyak saat berhadapan dengan Vietnam yang merupakan salah satu tim raksasa ASEAN.
Indonesia mesti tetap membumi meski menargetkan kemenangan di markas Filipina. Yang pasti, skuad arahan Shin Tae Yong haram hukumnya kalah dari Filipina.
Sebab, kekalahan dari Filipina dapat membuat mental dan motivasi pemain ambruk dalam menatap laga selanjutnya. Posisi Shin Tae Yong di kursi pelatih juga bakal dirongrong.