Gaduh Jersey Timnas: Identitas, Komoditas, dan Sakralitas
Abdul Susila | CNN Indonesia
Rabu, 03 Apr 2024 07:41 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jersey Timnas Indonesia produksi Erspo jadi kontroversi. (AFP/BAY ISMOYO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jersey terbaru Timnas Indonesia yang diproduksi Erspo memicu gaduh. Diawali kritik kualitas dan desain, merembet hingga konspirasi komoditas.
Kerja sama PSSI dengan Mills sebagai produsen jersey Timnas Indonesia periode 2020-2024 resmi berakhir pada akhir Februari. Sebagai gantinya PSSI menunjuk Erigo.
Sebelum itu, PSSI lewat anak perusahaan bernama PT Garuda Sepakbola Indonesia (GSI) membuka tender sponsorship kategori pakaian, sepatu, dan aksesoris Timnas Indonesia pada Agustus 2023.
Tepat pada 24 Oktober 2023, PSSI merilis ada 20 perusahaan yang ikut tender. Ke-20 perusahaan ini bersaing untuk memproduksi lima jenis perlengkapan Timnas Indonesia.
Setelah menjalani seleksi, PSSI memilih Erigo sebagai jenama yang akan menyuplai kebutuhan apparel Skuad Garuda. Keputusan itu diumumkan PSSI pada 22 Januari 2024 dalam jumpa pers.
Namun, bukan nama Erigo yang terpajang di dada sebelah kanan jersey Timnas. Melainkan logo Erspo, singkatan Ergonomic Sporty Outfit, yang akan digunakan.
Pada 18 Maret 2024 jersey baru Timnas Indonesia diluncurkan. Beberapa hari sebelum diluncurkan, penampakan desain baru jersey Timnas bocor di berbagai kanal media sosial.
Tak pelak, penampakan baru jersey yang akan digunakan Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan ini dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Banyak pihak kecewa dengan desain terbaru itu.
Tak dinyana, CEO yang mendesain jersey tersebut, Ernanda Putra dari Makna Creative, membuat pernyataan kontroversial di media sosial. Secara serampangan para pengkritik disudutkan.
Aksi Ernanda ini pada akhirnya memantik emosi warganet atau netizen. Gerakan boikot muncul. Dampaknya, Erspo membuat pernyataan mengakhiri kerja sama dengan Makna Creative.
Dari kisruh ini akhirnya keluar rilis dari pihak Erspo, akan dilakukan desain ulang Timnas Indonesia. Jersey baru Timnas kemungkinan dirilis pada tengah tahun ini.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Memakai kaus dengan lambang garuda di dada punya kebanggaan tersendiri. Jangankan atlet yang berlaga di pentas internasional, emosional itu dirasakan pula oleh suporter.
Tak heran seragam Timnas Indonesia juga punya sakralitas tersendiri. Karenanya pula publik punya hak untuk mengkritisi desain jersey skuad Merah Putih.
Pihak-pihak yang tidak suka dengan jersey terbaru Timnas Indonesia buatan Erspo, tak bisa diartikan sebagai orang-orang yang 'digerakkan' oleh jenama-jenama yang kalah tender.
Apalagi dengan melontarkan asumsi bahwa, seolah pecinta Timnas hanya sibuk dengan urusan jersey, yak tak esensial. Itu pemikiran picik. Jersey Timnas Indonesia itu identitas.
Jika aksi-aksi pemain di lapangan, semangat juang, sportivitas, dan kualitas, dimaknai sebagai citra bangsa, jersey Timnas Indonesia dipandang juga sebagai wajah negara.
Bagi pemain, mengenakan jersey dengan kualitas paling buruk sekalipun, asal ada lambang Garuda di dada, akan sama membanggakannya. Namun, kesan seragam tempur Timnas, tak demikian dipandangnya.
Tak bisa dibenarkan mendesain jersey Timnas dengan serampangan. Kreativitas, penggalian filosofi, dan pemaknaan akan unsur keren, sudah menjadi satu kesatuan.
Karenanya pula detail-detail yang terpajang di seluruh elemen jersey Timnas, tak boleh comot sana comot sini. Menjiplak tentu saja berbeda dengan terinspirasi.
Seperti teori semiotika Roland Barthes, jersey Timnas Indonesia juga punya makna konotasi, denotasi, dan mitos. Ketiganya bisa dianggap sebagai dialektika zaman.
Secara konotatif jersey Timnas bisa diartikan sebagai identitas, secara denotatif jadi komoditas budaya, dan secara mitos merupakan sakralitas.
Dan, memakai jersey Timnas Indonesia itu sudah jadi gaya hidup. Ia tak hanya dipakai ke stadion. Ia dipakai di banyak situasi, sehingga nilai-nilai identitas dan sakralitasnya kudu dibuat keren.
Jersey terbaru Timnas Indonesia yang diproduksi Erspo memicu gaduh. Diawali kritik kualitas dan desain, merembet hingga konspirasi komoditas.
Kerja sama PSSI dengan Mills sebagai produsen jersey Timnas Indonesia periode 2020-2024 resmi berakhir pada akhir Februari. Sebagai gantinya PSSI menunjuk Erigo.
Sebelum itu, PSSI lewat anak perusahaan bernama PT Garuda Sepakbola Indonesia (GSI) membuka tender sponsorship kategori pakaian, sepatu, dan aksesoris Timnas Indonesia pada Agustus 2023.
Tepat pada 24 Oktober 2023, PSSI merilis ada 20 perusahaan yang ikut tender. Ke-20 perusahaan ini bersaing untuk memproduksi lima jenis perlengkapan Timnas Indonesia.
Setelah menjalani seleksi, PSSI memilih Erigo sebagai jenama yang akan menyuplai kebutuhan apparel Skuad Garuda. Keputusan itu diumumkan PSSI pada 22 Januari 2024 dalam jumpa pers.
Namun, bukan nama Erigo yang terpajang di dada sebelah kanan jersey Timnas. Melainkan logo Erspo, singkatan Ergonomic Sporty Outfit, yang akan digunakan.
Pada 18 Maret 2024 jersey baru Timnas Indonesia diluncurkan. Beberapa hari sebelum diluncurkan, penampakan desain baru jersey Timnas bocor di berbagai kanal media sosial.
Tak pelak, penampakan baru jersey yang akan digunakan Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan ini dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Banyak pihak kecewa dengan desain terbaru itu.
Tak dinyana, CEO yang mendesain jersey tersebut, Ernanda Putra dari Makna Creative, membuat pernyataan kontroversial di media sosial. Secara serampangan para pengkritik disudutkan.
Aksi Ernanda ini pada akhirnya memantik emosi warganet atau netizen. Gerakan boikot muncul. Dampaknya, Erspo membuat pernyataan mengakhiri kerja sama dengan Makna Creative.
Dari kisruh ini akhirnya keluar rilis dari pihak Erspo, akan dilakukan desain ulang Timnas Indonesia. Jersey baru Timnas kemungkinan dirilis pada tengah tahun ini.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Jersey Timnas Itu Wajah Bangsa
Jersey tim nasional memiliki nilai kebanggan bagi pemain yang memakainya. (AFP)
Memakai kaus dengan lambang garuda di dada punya kebanggaan tersendiri. Jangankan atlet yang berlaga di pentas internasional, emosional itu dirasakan pula oleh suporter.
Tak heran seragam Timnas Indonesia juga punya sakralitas tersendiri. Karenanya pula publik punya hak untuk mengkritisi desain jersey skuad Merah Putih.
Pihak-pihak yang tidak suka dengan jersey terbaru Timnas Indonesia buatan Erspo, tak bisa diartikan sebagai orang-orang yang 'digerakkan' oleh jenama-jenama yang kalah tender.
Apalagi dengan melontarkan asumsi bahwa, seolah pecinta Timnas hanya sibuk dengan urusan jersey, yak tak esensial. Itu pemikiran picik. Jersey Timnas Indonesia itu identitas.
Jika aksi-aksi pemain di lapangan, semangat juang, sportivitas, dan kualitas, dimaknai sebagai citra bangsa, jersey Timnas Indonesia dipandang juga sebagai wajah negara.
Bagi pemain, mengenakan jersey dengan kualitas paling buruk sekalipun, asal ada lambang Garuda di dada, akan sama membanggakannya. Namun, kesan seragam tempur Timnas, tak demikian dipandangnya.
Tak bisa dibenarkan mendesain jersey Timnas dengan serampangan. Kreativitas, penggalian filosofi, dan pemaknaan akan unsur keren, sudah menjadi satu kesatuan.
Karenanya pula detail-detail yang terpajang di seluruh elemen jersey Timnas, tak boleh comot sana comot sini. Menjiplak tentu saja berbeda dengan terinspirasi.
Seperti teori semiotika Roland Barthes, jersey Timnas Indonesia juga punya makna konotasi, denotasi, dan mitos. Ketiganya bisa dianggap sebagai dialektika zaman.
Secara konotatif jersey Timnas bisa diartikan sebagai identitas, secara denotatif jadi komoditas budaya, dan secara mitos merupakan sakralitas.
Dan, memakai jersey Timnas Indonesia itu sudah jadi gaya hidup. Ia tak hanya dipakai ke stadion. Ia dipakai di banyak situasi, sehingga nilai-nilai identitas dan sakralitasnya kudu dibuat keren.