Mohammad Ahsan punya rambu-rambu soal makanan lebaran. (PBSI)
Saat Idul Fitri apakah memberi THR untuk keponakan?
Kalau ada rezeki pasti kasih. Karena kan kita dulu juga begitu pas masih kecil [minta THR]. Apalagi sekarang kan sudah ada keponakan, ada anak-anak teman yang ke rumah. Suka ada teman-teman dekat yang datang.
Sekarang punya berapa keponakan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau yang di sini [Jakarta] ada tiga, kalau yang tiga lainnya di Palembang. Lebaran di sini saja karena ibu saya di Jakarta.
Biasanya habis berapa untuk kasih THR ke keponakan?
Enggak hitung. Tapi memang biasanya selalu kasih, Insya Allah. Karena dulu waktu kecil kan berharap meski kadang-kadang ada yang enggak ngasih juga.
Saya memang senang juga lihat anak kecil. Karena waktu kecil dikasih THR kan bermakna, enggak pernah lihat nominal tapi bawannya happy saja.
Selain THR, apakah kasih kado juga?
Kalau kado enggak, yang simpel-simpel saja.
Apakah sering terima kado atau hampers Idul Fitri?
Ada saja yang kirim dari teman-teman dekat. Tahun lalu ada juga sih dari sesama atlet.
Apakah ada perbedaan antara Lebaran atlet dan orang pada umumnya?
Mungkin yang berbedanya kalau mepet pertandingan, Lebaran hari ini tapi besoknya sudah mulai latihan lagi. Terus makan juga enggak bisa dihajar semua karena bawaannya mau balas makan makanan enak. Takutnya sudah turun berat badan tapi malah over lagi kalau dihajar semua.
Bagaimana rambu-rambu Anda soal makanan Lebaran?
Enggak ada, mungkin porsinya jangan berlebihan. Makan opor dan lain-lain itu tetap makan. Biasanya juga kan kalau lihat opor terlalu sering enggak senikmat yang pertama jadi otomatis sudah ada batasnya.
Apakah Anda jajan bakso ketika siang hari di hari Lebaran?
Enggak terlalu sering kalau jajan karena di meja makan sudah banyak makanan. Makan yang ada dulu saja. Biasanya hari kedua atau ketiga baru cari menu lain.
(rhr/ikw/rhr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Atlet bulutangkis Indonesia, Mohammad Ahsan bercerita tentang momen Idul Fitri bersama keluarga dan risiko sebagai atlet selama Lebaran.
Ganda putra yang berpasangan dengan Hendra Setiawan itu menjadikan Idul Fitri sebagai momen spesial. Sebagai atlet, ia kerap berhadapan dengan situasi pelik ketika terpaksa tak bisa berkumpul karena harus fokus menjalani turnamen.
Karena itu saat memiliki waktu berkumpul dengan keluarga, tak disia-siakan oleh pemilik tiga gelar juara dunia itu. Selain bertemu dengan sanak famili, ia juga rutin memberi Tunjangan Hari Raya (THR) untuk keponakan dan anak-anak lainnya.
Menurutnya hal itu merupakan balas budi lantaran saat masih kecil, Ahsan juga berharap diguyur uang tunai oleh saudara yang lebih tua. Berikut wawancara dengan Mohammad Ahsan tentang momen Idul Fitri.
Bagaimana rasanya merayakan Idul Fitri saat harus menjalankan tanggungjawab sebagai atlet?
Dari dulu sudah sering lebaran jauh dari keluarga, dan sempat juga lebaran di luar negeri. Tapi tahun ini Insya Allah lebaran bisa kumpul semua karena ibu saya juga ada di Jakarta.
Hal apa saja yang paling berbeda ketika Idul Fitri jauh dari rumah?
Pasti suasana dan makanannya berbeda. Biasanya kalau lebaran di luar dirayakan sama atlet-atlet saja. Bahkan sering ada jadwal pertandingan juga ketika lebaran.
Bagaimana pengalaman pertama Idul Fitri jauh dari keluarga?
Pastinya ada [pengalaman Idul Fitri jauh dari keluarga], tapi itu sudah risiko jadi atlet dan lama-lama sudah terbiasa seperti itu. Pertama kali lebaran di luar negeri itu di kejuaraan dunia di Guangzhou tahun 2013.
Ketika masih jadi bagian di Pelatnas Cipayung, bagaimana suasana Idul Fitri di sana?
Kalau Idul Fitri dibolehkan pulang. Kalau Idul Adha baru di Pelatnas. Kalau Idul Fitri biasanya boleh pulang karena dikasih waktu libur kecuali bentrok waktu pertandingan.
Apakah Idul Fitri bersama keluarga terasa lebih spesial?
Pastinya, karena momen berkumpul itu jarang. Bukan hanya pas Lebaran tapi juga hari-hari biasa juga lebih banyak di luar. Momen Lebaran ini setahun sekali dan belum tentu dapat.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Ahsan: Beda Lebaran Atlet dan Orang Biasa
Mohammad Ahsan punya rambu-rambu soal makanan lebaran. (PBSI)
Saat Idul Fitri apakah memberi THR untuk keponakan?
Kalau ada rezeki pasti kasih. Karena kan kita dulu juga begitu pas masih kecil [minta THR]. Apalagi sekarang kan sudah ada keponakan, ada anak-anak teman yang ke rumah. Suka ada teman-teman dekat yang datang.
Sekarang punya berapa keponakan?
Kalau yang di sini [Jakarta] ada tiga, kalau yang tiga lainnya di Palembang. Lebaran di sini saja karena ibu saya di Jakarta.
Biasanya habis berapa untuk kasih THR ke keponakan?
Enggak hitung. Tapi memang biasanya selalu kasih, Insya Allah. Karena dulu waktu kecil kan berharap meski kadang-kadang ada yang enggak ngasih juga.
Saya memang senang juga lihat anak kecil. Karena waktu kecil dikasih THR kan bermakna, enggak pernah lihat nominal tapi bawannya happy saja.
Selain THR, apakah kasih kado juga?
Kalau kado enggak, yang simpel-simpel saja.
Apakah sering terima kado atau hampers Idul Fitri?
Ada saja yang kirim dari teman-teman dekat. Tahun lalu ada juga sih dari sesama atlet.
Apakah ada perbedaan antara Lebaran atlet dan orang pada umumnya?
Mungkin yang berbedanya kalau mepet pertandingan, Lebaran hari ini tapi besoknya sudah mulai latihan lagi. Terus makan juga enggak bisa dihajar semua karena bawaannya mau balas makan makanan enak. Takutnya sudah turun berat badan tapi malah over lagi kalau dihajar semua.
Bagaimana rambu-rambu Anda soal makanan Lebaran?
Enggak ada, mungkin porsinya jangan berlebihan. Makan opor dan lain-lain itu tetap makan. Biasanya juga kan kalau lihat opor terlalu sering enggak senikmat yang pertama jadi otomatis sudah ada batasnya.
Apakah Anda jajan bakso ketika siang hari di hari Lebaran?
Enggak terlalu sering kalau jajan karena di meja makan sudah banyak makanan. Makan yang ada dulu saja. Biasanya hari kedua atau ketiga baru cari menu lain.