Mirwan Suwarso: Mimpi Como dan Asa Bawa Pemain Indonesia di Masa Depan
Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Sabtu, 18 Mei 2024 07:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Como 1907 lolos ke Serie A. (REUTERS/Matteo Gribaudi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Asisten Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas tak bisa menyembunyikan ketegangan di pinggir lapangan. Bersama para pemain, ia menyaksikan pertandingan Venezia vs Spezia pada pekan terakhir Serie B, Sabtu (11/5) lalu.
Kalahnya Venezia dari Spezia dengan skor 1-2 membuat Como memastikan lolos ke Serie A. Padahal sesaat sebelumnya, Como bermain imbang 1-1 lawan Cosenza.
Como akhirnya kembali ke Serie A setelah terakhir kali berada di kasta tertinggi sepak bola Italia pada musim 2002-2003 atau 21 tahun lalu. Selama dua dekade, klub yang berbasis di tepian Danau Como itu menjalani jalur terjal hingga pernah merasakan level amatir di Serie D.
Namun pada 2019, klub berjulukan I Lariani itu dipinang Keluarga Hartono, pengusaha Indonesia dengan mahar Rp5 miliar. Perlahan-lahan, klub yang pernah tiga kali bangkrut itu kembali ke panggung tertinggi, menantang klub-klub raksasa Italia.
Perwakilan pemilik Como 1907, Mirwan Suwarso menceritakan awal mula akuisisi klub hingga mengungkap kesempatan pemain Timnas Indonesia untuk ikut serta. Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Mirwan Suwarso:
Bagaimana awal cerita Grup Djarum bisa memilih Como, alih-alih klub lain yang secara bisnis mungkin lebih prospektif?
Sebenarnya, di awal rencana kami di Como bukan untuk kepentingan bisnis. Kami ingin Como untuk mengakomodasi program Garuda Select.
Program Garuda Select yang sudah dimulai sejak 2016, membuat kami berencana bagaimana caranya para pemain bisa berkompetisi di Eropa supaya lebih bagus jam terbangnya.
Tapi sehubung Italia tidak lolos ke Piala Dunia setelah kami beli klubnya, tidak lama setelah itu klub amatir dan klub di bawah serie A tidak boleh memiliki pemain yang non-Uni Eropa.
Sehingga pada akhirnya kami punya klubnya tapi tidak bisa dimanfaatkan buat program Garuda Select. Oleh karena itu mau tidak mau kami mencoba cari cara bagaimana caranya memanfaatkan aset yang sudah dipegang.
Awalnya di tahun 2019 kami jadikan konten dokumenter tentang pengelolaan klub yang kami pasarkan di 75 negara.
Seiring dengan lolosnya tim ke Serie B, biaya makin besar, sehingga kami harus mencari cara untuk mendapatkan investasi dari yang sudah digelontorkan. Tidak mungkin dari konten saja atau inisiatif kecil sehingga harus kami kelola klubnya untuk meningkatkan value-nya dan mengembalikan dana yang sudah digelontorkan.
Como dibeli pada 2019 lalu dengan harga 850 ribu Euro atau setara Rp5 miliar. Apakah itu harga pasarannya? Bagaimana proses negosiasinya hingga mencapai kata sepakat?
Kami melihat lokasi. Lokasinya hanya 20 menit dari kota Milan jadi secara logistik itu mudah karena dekat dengan bandara. Banyak klub di Eropa lain yang dijual juga tapi kalau harga segitu menurut saya wajar, tergantung siapa yang beli dan jual.
Kami melihat Como karena dekat dengan Milan dan sudah ada kontrak juga dengan stadion sehingga mereka punya fasilitas. Jadi harga segitu [Rp5 miliar] masuk akal.
Apa saja tantangan besar membangun klub Italia? Terlebih menangani klub yang berkali-kali punya catatan bangkrut
Tantangan paling berat adalah bagaimana caranya meningkatkan pemasukan, itu tantangan utamanya. Bagaimanapun sepak bola Italia tuntutan kualitasnya berat.
Kalau di serie B itu saingannya klub-klub yang ingin ke serie A. Ada Palermo yang dimiliki oleh Manchester City, ada Bari yang dimiliki Napoli, ada Parma, ada Venezia, Spezia, Sampdoria. Itu tim-tim besar yang kurang lebih kalibernya Serie A.
Jadi biaya gaji pemain juga harus bersaing atau pintar-pintarnya kami mencari pemain berkualitas sekaligus gajinya jangan sampai berlebihan.
Kami benar-benar bekerja secara keras terutama sejak kami masuk. Kami mulai memprioritaskan bagaimana caranya operasional itu efisien dan itu yang paling berat. Tapi yang tidak kalah berat adalah mengimbangi dengan pemasukan klub itu sendiri.
Kalau bicara pemasukan klub, yang dikasih dari hak siar televisi cuma 7 juta Euro. Kalau memainkan pemain muda ada insentif 2 juta Euro. Jadi [pemasukan] maksimal kira-kira 10 juta sampai 11 juta Euro sudah termasuk penjualan baju, tiket, dan lain-lain.
Kalau sampai pengeluaran bisa sampai 20 atau 30 juta Euro, berarti minusnya besar setiap tahun. Itu yang harus dijaga supaya gap antara kedua itu sangat kecil atau hilang.
Berapa biaya yang dihabiskan untuk operasional klub profesional seperti Como dalam satu musim?
Berbeda-beda, kalau kita bicara klub serie C itu antara dua sampai 4 juta euro. Kalau klub serie D tidak sampai 1 juta. Klub serie B ada yang cuma 8 juta euro ada juga kayak Parma sampai 40 juta euro. Itu per tahun. Proporsi terbesar itu untuk gaji pemain.
Nama Indonesia turut serta saat diakuisisi 2019 lalu. Apakah ada sikap skeptis dari masyarakat Como saat kali pertama saat membeli klub?
Mereka sadar klub ini sudah bangkrut tiga kali dan pemilik sebelumnya kabur tanpa membayar gaji. Tentunya mereka skeptis dengan kehadiran kami.
Apalagi kami dari Indonesia, jadi bayangkan ada klub Liga 1 yang dibeli dari antah berantah misalkan dari Fiji, Maladewa, mungkin orang Indonesia juga bingung.
Itu yang mungkin mereka alami [di Como]. Tapi dengan berjalannya waktu selama di Serie C banyak kegiatan komunitas, apalagi ketika masuk ke Serie B, cara menjalin komunikasi dengan masyarakat setempat sangat kuat. Kami sudah dipercaya di komunitas Como dan dipandang juga di sana.
Pendekatan kami memang fokus di Como itu sendiri karena target utama untuk meningkatkan pendapatan Como untuk pasar internasional.
Bidikan utama kami adalah pasar Amerika Serikat dan Eropa. Kalau Indonesia itu ketika awal dicoba, tapi justru yang menghasilkan pemasukan besar-besaran dari Amerika dan Eropa, terutama Inggris.
Danau Como, salah satu objek wisata terkenal di Como. Djarum Group mengakuisisi klub asal kota ini dan kemudian bisa membawanya promosi ke Serie A. (AFP/GIUSEPPE CACACE)
Apakah dengan memiliki Como, Djarum Group punya wewenang untuk memasukkan 1-2 atau lebih pemain Indonesia ke dalam tim?
Kalau bicara masa depan mungkin-mungkin saja. Masa sekarang ini tidak mungkin. Kenapa, karena kami proses rekrutmen berdasarkan data.
Saat kami mengakuisisi Como, kami [awalnya] mengandalkan insting dan pengalaman orang-orang yang sudah berkutat di sepak bola. Lalu kami sadar bahwa orang-orang ini asal ngomong tanpa akuntabilitas.
Lalu kami cari cara bagaimana bisa mempertanggungjawabkan keputusan di sepak bola. Lalu kami bertemu dengan pemiliknya Brighton, Tony Bloom.
Mereka tidak melakukan seleksi dengan pakar bola, mereka melakukan nya berdasarkan data. Mereka mencari pemain paling efektif dan efisien hingga terbukti mampu bersaing di manapun kompetisi berada.
Bahkan pemilik Brighton itu juga punya klub di Belgia, Union Saint-Guilloise yang gajinya itu sepertiga dari Anderlecht dan Mechelen tapi bisa juara. Yang mereka lakukan adalah analisis efisiensi.
Itu yang kami pelajari ketika tahun pertama di Serie B dan bisa selamat. Tahun kedua sempat terseok-seok padahal investasinya makin besar dan ada Cesc Fabregas juga.
Tapi permainannya sempat tidak kunjung jelas. Sehingga musim ini saat kami pikir bakal sama saja, bulan Oktober pengurus diganti semua dan bekerjasama dengan pakar teknologi untuk membuat tim data baru sehingga bisa rekrut pemain berdasarkan efisiensi.
Fabregas menjadi arsitek strategi agar permainan jadi menarik. Dari situ baru bisa mencari data permainan yang sesuai dengan kriteria.
Sistem data itu juga bisa melihat pemain yang sekarang bermain di kompetisi ini cocok atau tidak di Serie B atau di Serie A. Itu yang jadi cara kami melihat ke depannya.
Buktinya sejak Oktober itu hasil pertandingan dan gaya bertanding juga berubah. Kami naik dari posisi delapan ke posisi dua. Jadi data dan analisis terbukti untuk tim.
Ke depannya, untuk di Serie A itu dari 27 pemain hanya 10 yang bisa dipertahankan. Yang 17 pemain itu tidak memenuhi kualitas Serie A.
Dari timnas Indonesia yang ada, kebanyakan paling-paling bisa masuk di pelapis nomor tiga atau pelapis nomor empat sehingga tidak mungkin mereka bisa masuk ke tim Serie A saat ini.
Kalau kami sudah stabil di Serie A, mungkin bisa ambil risiko karena jatah untuk pemain asing [Non-Uni Eropa] cuma bisa tiga. Sambil melihat persaingan gaji dan kompetisi, pasti juga harus mencari pemain asing yang sesuai dengan performa tim bukan pas-pasan.
Kami sempat pernah melihat Thom Haye karena cocok di Serie B. Tapi untuk ke Serie A belum tentu. Jadi kami belum berani.
Venezia juga akan melakukan hal serupa jika lolos ke Serie A tentu mencari pemain baru juga. Kalau tidak mereka bisa turun lagi ke Serie B.
Mirwan Suwarso menceritakan perjuangan dan proyeksi jangka panjang Como 1907. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Berarti untuk Thom Haye tutup pintu untuk direkrut?
Tidak mungkin [direkrut]. Kami sudah lihat dan dia tidak memenuhi standar untuk mengangkat. Jadi pelapis mungkin, tapi pelapis ketiga.
Dia berposisi gelandang, kami sudah punya Daniele Baselli sebagai pelapis kedua. Kami sudah punya Ben Kone yang sedang cedera, mustahil memecat pemain cedera.
Ada juga Matthias Braunoder kapten timnas Austria di usianya 22 tahun yang bisa diproyeksikan meningkat terus. Valuasi dia juga bisa mencapai 3 juta Euro dari yang kami beli 150 ribu Euro. Kalau kami mainkan separuh musim nilai dia bisa sampai 10 juta Euro. Kami sudah ada Lucas Da Cunha yang pasti akan kami pertahankan karena nilainya mencapai 10 juta Euro.
Di posisi itu juga ada Abilgard pemain Denmark yang kekuatan duel udara sangat dibutuhkan untuk situasi defensif di Serie A. Kami sudah punya segitu banyak pemain, belum lagi pemain 17 tahunnya bisa diproyeksikan.
Tapi kami masih kekurangan pemain nomor 8 dan 10 yang harus dinamis serta agresif. Sedangkan Thom sendiri bukan tipe seperti itu karena kami butuh permainan pressing. Thom tipe pemain quarterback dengan umpan akurat dari belakang, bukan tipe pemain pressing. Jadi secara sistem tidak sesuai dengan permainan kami.
Setelah dua dekade akhirnya kembali ke kasta tertinggi, apa target klub di Serie A? Seberapa besar ambisi meraih scudetto?
Tidak mungkin [bersaing scudetto]. Kami bandingkan dari gaji, tim-tim di atas misalnya Inter Milan itu di atas 100 juta Euro. AS Roma, AC Milan, Juventus itu di atas 80 juta sampai 100 juta Euro.
Yang kejutan itu Bologna karena hanya 28 juta Euro untuk [biaya] pemain intinya.
Kami paling level gaji sama dengan Empoli dan Lecce. Tapi menggunakan kekuatan analisis tim data dan pelatih kami berharap bisa meniru Bologna atau klub-klub yang budget efisien tapi bisa bersaing.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Apakah ada rencana mendatangkan Como untuk tur pramusim ke Indonesia dan membangun basis klub yang lebih besar?
Karena ini Serie A, jadi Fabregas sendiri sudah tahu upaya bisa lolos ke serie A saja harus kerja keras tiga kali lipat. Untuk itu dia minta tiga pra musim.
Jadi di awal yang dekat-dekat saja. Kedua dia ingin di Austria atau di Swiss karena ketinggian datarannya cocok dan temperatur tidak begitu panas. Kemudian banyak tim kompetitif yang sedang latihan di situ.
Kami perlu bertemu dengan tim-tim seperti Atalanta, Borussia Dortmund supaya tim kami terbiasa bertemu tim tinggi.
Ketiga, dia ingin ke Marbella di Spanyol. Di sana juga banyak tim Eropa yang berkumpul di sana dan lebih mudah mencari lawan tanding.
Ini karena lompat dari Serie B ke Serie A berat sekali. Bahkan secara statistik, lebih dari 50 persen tim promosi akan langsung degradasi. Kemudian 75 persen tim promosi di serie A, setelah dua tahun akan degradasi.
Jadi kans untuk bertahan kecil sekali, mungkin cuma 25 persen. Karena itu kami ingin membangun tim yang kuat jangan sampai naik-turun dan persiapan harus tiga kali lebih keras dari pada sebelumnya.
Tapi kami juga tidak boleh lupa bahwa kami klub orang Indonesia. Apa saja yang bisa kami lakukan untuk Indonesia? Dari tahun lalu kami sudah mulai untuk sharing knowledge makanya ada Kurniawan dan Dani [Suryadi] di Como.
Como berhasil memastikan diri lolos ke Serie A di pekan terakhir. (REUTERS/Matteo Gribaudi)
Kurniawan belajar sebagai asisten pelatih di tim U-19. Dani belajar jadi analis bersama tim data terbaik di Eropa saat ini.
Kami mengambil pakar data dari Brighton, Ajax, Liverpool. Kami cukup diakui soal tim data. Jadi Dani kami harap bisa belajar banyak di sini.
Komitmen Grup Djarum juga ke tim wanita yang kerap dianggap terabaikan. Jadi mungkin kami akan mengalihkan program Garuda Select dari yang sebelumnya untuk ke tim wanita.
Kami mencoba menampung pemain wanita untuk bermain di tim wanita kami. Di tim wanita tidak ada kendala pemain non Uni Eropa seperti di tim pria.
Kemudian risiko untuk kami untuk menampung pemain Indonesia itu terbilang minim karena tidak ada degradasi dan sebagainya.
Kalau di Serie A, ketika kami ambil pemain Indonesia tapi tidak main karena kurang standar, kasihan pemain dan kasihan kami juga karena jatah pemain asing berkurang. Jadi kontribusi kami ke Indonesia di tempat yang bisa maksimal hasilnya.
Memasukkan pemain wanita itu trial terlebih dahulu atau rekrut langsung?
Kami mencoba mencari langsung pemain terbaik untuk main di tim kami. Target kami ingin meningkatkan kualitas tim wanita. Tim primavera kami masih di kasta kedua dan harus lolos ke kasta utama.
Sayangnya, di Italia untuk tim putra itu juga tidak bisa asal ambil pemain asing. Untuk tim primavera saja pemain asing di tim muda juga memakan kuota tim senior.
Kami tidak boleh ambil pemain di bawah 18 tahun. Kalaupun kami ambil misalnya [dari Indonesia] akan sulit bersaing dengan pemain dari Brasil atau Irlandia yang sudah main di timnas U-21 meski baru berumur 17 tahun.
Kami juga harus berhati-hati karena kami adalah tamu di negara orang. Itu yang membuat kami tidak bisa tiba-tiba 'menjajah' dengan membawa macam-macam ke sana. Itu yang membuat warga Como sangat bangga dengan keluarga Hartono sebagai pemilik klub.
Kami sangat tahu diri sebagai tamu di negara mereka. Kami menghormati mereka dan mencoba jadi bagian dari komunitas tanpa mengatur-atur.
Itu yang kami khawatirkan kalau orang Indonesia terlalu heboh dengan Como dan segala macamnya, khawatirnya fans di Como malah turn-off sama fans dari Indonesia.
Oleh karena itu kami ingin menjaga keseimbangan dengan membawa kepentingan yang banyak dari Indonesia karena itu prioritas kami, tapi juga menjaga kepentingan tuan rumah di Como. Kami tidak ingin merusak kebudayaan di Como.
Bagaimana proyeksi ke depan untuk Como? Apakah akan jor-joran seperti investor lain mendatangkan pemain bintang?
Yang harus kami lakukan adalah pengembangan usaha dulu. Tahun pertama kami di Serie B penjualan baju tidak sampai 35 ribu Euro.
Kami tidak punya infrastruktur sama sekali untuk menjual itu, tapi sekarang punya afiliasi 310 toko yang menjual barang-barang kami di Como saja.
Penduduk Como itu cuma 810 ribu, tidak sampai 1/30 Jakarta. Tapi dari 310 toko itu pemasukan kami dari 35 ribu Euro untuk penjualan baju langsung lompat ke 4 juta Euro.
Lalu kami juga ingin meningkatkan fans internasional. Jadi musim ini kami sudah menjual tiket pertandingan ke 122 negara yang 20 persennya pemasukan tiket dari luar negeri bukan dari Italia saja. Ada juga beberapa pertandingan yang 40 persen dari luar negeri penontonnya.
Como adalah salah satu tujuan wisata terbesar di Italia dan mayoritas dari Amerika kelas atas. Rata-rata mereka tahu Como karena ada rumah George Clooney, tempat syuting James Bond dan Star Wars.
Ke depannya akan merenovasi stadion yang di pinggir danau untuk menjadi salah satu destinasi turis besar di Como. Seharusnya pemasukan dari turis bisa menandingi atau melebihi tim sepak bolanya.
Jika itu terjadi maka cash flow akan lebih ringan dan tidak perlu suntikan dana dari grup lagi dan bisa berjalan sendiri.
Como punya ambisi bertahan di Serie A. (Dok. Como)
Saat ini kami masih minus 10-15 juta euro per tahun. Ini harus kami kecilkan sampai nol. Target di Serie A kami sudah mulai break even point dan tidak perlu meminta uang dari Indonesia lagi.
Untuk itu, tujuan utama kami dengan membeli dan menjual pemain secara efektif. Saat ini kami berusaha menjual 17 pemain yang ada dan menghasilkan dana besar.
Kami mulai menggelar camp sepak bola yang sedang berlibur di Italia, kami punya TV di Como juga yang menjual daerah wisata dan makanan di Como untuk turis.
Kalau bisa bertahan di Serie A, targetnya adalah untung 30 persen di atas biaya. Dalam lima tahun menjaga hal ini seharusnya kami bisa mempertahankan posisi di Liga Champions tanpa uang dari Indonesia lagi.
Kami sadar ini bisnis tapi bukan mengejar gengsi dan ego. Kami harus benar-benar bisa membuat bisnis ini berjalan sendiri. Kalau sudah sampai di situ barulah bisa rileks dan mendatangkan pemain Indonesia.
Kalau perlu tiga slot pemain asing untuk Indonesia semua. Tapi kami awal-awal ini ingin survive dulu di Serie A. Mungkin kejar dulu posisi 14, lalu 10, lama-lama posisi lima.
Tapi mentok di lima saja, kami tidak ingin mengejar scudetto karena itu terlalu ambisius. Persaingannya ratusan juta dollar.
Lolos Conference League saja sudah bagus itu. Mengejar posisi Atalanta dan Bologna saja tidak mudah. Saingannya banyak sekali.
Asisten Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas tak bisa menyembunyikan ketegangan di pinggir lapangan. Bersama para pemain, ia menyaksikan pertandingan Venezia vs Spezia pada pekan terakhir Serie B, Sabtu (11/5) lalu.
Kalahnya Venezia dari Spezia dengan skor 1-2 membuat Como memastikan lolos ke Serie A. Padahal sesaat sebelumnya, Como bermain imbang 1-1 lawan Cosenza.
Como akhirnya kembali ke Serie A setelah terakhir kali berada di kasta tertinggi sepak bola Italia pada musim 2002-2003 atau 21 tahun lalu. Selama dua dekade, klub yang berbasis di tepian Danau Como itu menjalani jalur terjal hingga pernah merasakan level amatir di Serie D.
Namun pada 2019, klub berjulukan I Lariani itu dipinang Keluarga Hartono, pengusaha Indonesia dengan mahar Rp5 miliar. Perlahan-lahan, klub yang pernah tiga kali bangkrut itu kembali ke panggung tertinggi, menantang klub-klub raksasa Italia.
Perwakilan pemilik Como 1907, Mirwan Suwarso menceritakan awal mula akuisisi klub hingga mengungkap kesempatan pemain Timnas Indonesia untuk ikut serta. Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Mirwan Suwarso:
Bagaimana awal cerita Grup Djarum bisa memilih Como, alih-alih klub lain yang secara bisnis mungkin lebih prospektif?
Sebenarnya, di awal rencana kami di Como bukan untuk kepentingan bisnis. Kami ingin Como untuk mengakomodasi program Garuda Select.
Program Garuda Select yang sudah dimulai sejak 2016, membuat kami berencana bagaimana caranya para pemain bisa berkompetisi di Eropa supaya lebih bagus jam terbangnya.
Tapi sehubung Italia tidak lolos ke Piala Dunia setelah kami beli klubnya, tidak lama setelah itu klub amatir dan klub di bawah serie A tidak boleh memiliki pemain yang non-Uni Eropa.
Sehingga pada akhirnya kami punya klubnya tapi tidak bisa dimanfaatkan buat program Garuda Select. Oleh karena itu mau tidak mau kami mencoba cari cara bagaimana caranya memanfaatkan aset yang sudah dipegang.
Awalnya di tahun 2019 kami jadikan konten dokumenter tentang pengelolaan klub yang kami pasarkan di 75 negara.
Seiring dengan lolosnya tim ke Serie B, biaya makin besar, sehingga kami harus mencari cara untuk mendapatkan investasi dari yang sudah digelontorkan. Tidak mungkin dari konten saja atau inisiatif kecil sehingga harus kami kelola klubnya untuk meningkatkan value-nya dan mengembalikan dana yang sudah digelontorkan.
Como dibeli pada 2019 lalu dengan harga 850 ribu Euro atau setara Rp5 miliar. Apakah itu harga pasarannya? Bagaimana proses negosiasinya hingga mencapai kata sepakat?
Kami melihat lokasi. Lokasinya hanya 20 menit dari kota Milan jadi secara logistik itu mudah karena dekat dengan bandara. Banyak klub di Eropa lain yang dijual juga tapi kalau harga segitu menurut saya wajar, tergantung siapa yang beli dan jual.
Kami melihat Como karena dekat dengan Milan dan sudah ada kontrak juga dengan stadion sehingga mereka punya fasilitas. Jadi harga segitu [Rp5 miliar] masuk akal.
Apa saja tantangan besar membangun klub Italia? Terlebih menangani klub yang berkali-kali punya catatan bangkrut
Tantangan paling berat adalah bagaimana caranya meningkatkan pemasukan, itu tantangan utamanya. Bagaimanapun sepak bola Italia tuntutan kualitasnya berat.
Kalau di serie B itu saingannya klub-klub yang ingin ke serie A. Ada Palermo yang dimiliki oleh Manchester City, ada Bari yang dimiliki Napoli, ada Parma, ada Venezia, Spezia, Sampdoria. Itu tim-tim besar yang kurang lebih kalibernya Serie A.
Jadi biaya gaji pemain juga harus bersaing atau pintar-pintarnya kami mencari pemain berkualitas sekaligus gajinya jangan sampai berlebihan.
Kami benar-benar bekerja secara keras terutama sejak kami masuk. Kami mulai memprioritaskan bagaimana caranya operasional itu efisien dan itu yang paling berat. Tapi yang tidak kalah berat adalah mengimbangi dengan pemasukan klub itu sendiri.
Kalau bicara pemasukan klub, yang dikasih dari hak siar televisi cuma 7 juta Euro. Kalau memainkan pemain muda ada insentif 2 juta Euro. Jadi [pemasukan] maksimal kira-kira 10 juta sampai 11 juta Euro sudah termasuk penjualan baju, tiket, dan lain-lain.
Kalau sampai pengeluaran bisa sampai 20 atau 30 juta Euro, berarti minusnya besar setiap tahun. Itu yang harus dijaga supaya gap antara kedua itu sangat kecil atau hilang.
Berapa biaya yang dihabiskan untuk operasional klub profesional seperti Como dalam satu musim?
Berbeda-beda, kalau kita bicara klub serie C itu antara dua sampai 4 juta euro. Kalau klub serie D tidak sampai 1 juta. Klub serie B ada yang cuma 8 juta euro ada juga kayak Parma sampai 40 juta euro. Itu per tahun. Proporsi terbesar itu untuk gaji pemain.
Nama Indonesia turut serta saat diakuisisi 2019 lalu. Apakah ada sikap skeptis dari masyarakat Como saat kali pertama saat membeli klub?
Mereka sadar klub ini sudah bangkrut tiga kali dan pemilik sebelumnya kabur tanpa membayar gaji. Tentunya mereka skeptis dengan kehadiran kami.
Apalagi kami dari Indonesia, jadi bayangkan ada klub Liga 1 yang dibeli dari antah berantah misalkan dari Fiji, Maladewa, mungkin orang Indonesia juga bingung.
Itu yang mungkin mereka alami [di Como]. Tapi dengan berjalannya waktu selama di Serie C banyak kegiatan komunitas, apalagi ketika masuk ke Serie B, cara menjalin komunikasi dengan masyarakat setempat sangat kuat. Kami sudah dipercaya di komunitas Como dan dipandang juga di sana.
Pendekatan kami memang fokus di Como itu sendiri karena target utama untuk meningkatkan pendapatan Como untuk pasar internasional.
Bidikan utama kami adalah pasar Amerika Serikat dan Eropa. Kalau Indonesia itu ketika awal dicoba, tapi justru yang menghasilkan pemasukan besar-besaran dari Amerika dan Eropa, terutama Inggris.
Danau Como, salah satu objek wisata terkenal di Como. Djarum Group mengakuisisi klub asal kota ini dan kemudian bisa membawanya promosi ke Serie A. (AFP/GIUSEPPE CACACE)
Apakah dengan memiliki Como, Djarum Group punya wewenang untuk memasukkan 1-2 atau lebih pemain Indonesia ke dalam tim?
Kalau bicara masa depan mungkin-mungkin saja. Masa sekarang ini tidak mungkin. Kenapa, karena kami proses rekrutmen berdasarkan data.
Saat kami mengakuisisi Como, kami [awalnya] mengandalkan insting dan pengalaman orang-orang yang sudah berkutat di sepak bola. Lalu kami sadar bahwa orang-orang ini asal ngomong tanpa akuntabilitas.
Lalu kami cari cara bagaimana bisa mempertanggungjawabkan keputusan di sepak bola. Lalu kami bertemu dengan pemiliknya Brighton, Tony Bloom.
Mereka tidak melakukan seleksi dengan pakar bola, mereka melakukan nya berdasarkan data. Mereka mencari pemain paling efektif dan efisien hingga terbukti mampu bersaing di manapun kompetisi berada.
Bahkan pemilik Brighton itu juga punya klub di Belgia, Union Saint-Guilloise yang gajinya itu sepertiga dari Anderlecht dan Mechelen tapi bisa juara. Yang mereka lakukan adalah analisis efisiensi.
Itu yang kami pelajari ketika tahun pertama di Serie B dan bisa selamat. Tahun kedua sempat terseok-seok padahal investasinya makin besar dan ada Cesc Fabregas juga.
Tapi permainannya sempat tidak kunjung jelas. Sehingga musim ini saat kami pikir bakal sama saja, bulan Oktober pengurus diganti semua dan bekerjasama dengan pakar teknologi untuk membuat tim data baru sehingga bisa rekrut pemain berdasarkan efisiensi.
Fabregas menjadi arsitek strategi agar permainan jadi menarik. Dari situ baru bisa mencari data permainan yang sesuai dengan kriteria.
Sistem data itu juga bisa melihat pemain yang sekarang bermain di kompetisi ini cocok atau tidak di Serie B atau di Serie A. Itu yang jadi cara kami melihat ke depannya.
Buktinya sejak Oktober itu hasil pertandingan dan gaya bertanding juga berubah. Kami naik dari posisi delapan ke posisi dua. Jadi data dan analisis terbukti untuk tim.
Ke depannya, untuk di Serie A itu dari 27 pemain hanya 10 yang bisa dipertahankan. Yang 17 pemain itu tidak memenuhi kualitas Serie A.
Dari timnas Indonesia yang ada, kebanyakan paling-paling bisa masuk di pelapis nomor tiga atau pelapis nomor empat sehingga tidak mungkin mereka bisa masuk ke tim Serie A saat ini.
Kalau kami sudah stabil di Serie A, mungkin bisa ambil risiko karena jatah untuk pemain asing [Non-Uni Eropa] cuma bisa tiga. Sambil melihat persaingan gaji dan kompetisi, pasti juga harus mencari pemain asing yang sesuai dengan performa tim bukan pas-pasan.
Kami sempat pernah melihat Thom Haye karena cocok di Serie B. Tapi untuk ke Serie A belum tentu. Jadi kami belum berani.
Venezia juga akan melakukan hal serupa jika lolos ke Serie A tentu mencari pemain baru juga. Kalau tidak mereka bisa turun lagi ke Serie B.
Mirwan Suwarso menceritakan perjuangan dan proyeksi jangka panjang Como 1907. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Berarti untuk Thom Haye tutup pintu untuk direkrut?
Tidak mungkin [direkrut]. Kami sudah lihat dan dia tidak memenuhi standar untuk mengangkat. Jadi pelapis mungkin, tapi pelapis ketiga.
Dia berposisi gelandang, kami sudah punya Daniele Baselli sebagai pelapis kedua. Kami sudah punya Ben Kone yang sedang cedera, mustahil memecat pemain cedera.
Ada juga Matthias Braunoder kapten timnas Austria di usianya 22 tahun yang bisa diproyeksikan meningkat terus. Valuasi dia juga bisa mencapai 3 juta Euro dari yang kami beli 150 ribu Euro. Kalau kami mainkan separuh musim nilai dia bisa sampai 10 juta Euro. Kami sudah ada Lucas Da Cunha yang pasti akan kami pertahankan karena nilainya mencapai 10 juta Euro.
Di posisi itu juga ada Abilgard pemain Denmark yang kekuatan duel udara sangat dibutuhkan untuk situasi defensif di Serie A. Kami sudah punya segitu banyak pemain, belum lagi pemain 17 tahunnya bisa diproyeksikan.
Tapi kami masih kekurangan pemain nomor 8 dan 10 yang harus dinamis serta agresif. Sedangkan Thom sendiri bukan tipe seperti itu karena kami butuh permainan pressing. Thom tipe pemain quarterback dengan umpan akurat dari belakang, bukan tipe pemain pressing. Jadi secara sistem tidak sesuai dengan permainan kami.
Setelah dua dekade akhirnya kembali ke kasta tertinggi, apa target klub di Serie A? Seberapa besar ambisi meraih scudetto?
Tidak mungkin [bersaing scudetto]. Kami bandingkan dari gaji, tim-tim di atas misalnya Inter Milan itu di atas 100 juta Euro. AS Roma, AC Milan, Juventus itu di atas 80 juta sampai 100 juta Euro.
Yang kejutan itu Bologna karena hanya 28 juta Euro untuk [biaya] pemain intinya.
Kami paling level gaji sama dengan Empoli dan Lecce. Tapi menggunakan kekuatan analisis tim data dan pelatih kami berharap bisa meniru Bologna atau klub-klub yang budget efisien tapi bisa bersaing.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Ambisi Ajak Pemain Indonesia ke Tim Putri
Como merangkak naik ke Serie A dari Serie D di 2019. (REUTERS/Ciro De Luca)
Apakah ada rencana mendatangkan Como untuk tur pramusim ke Indonesia dan membangun basis klub yang lebih besar?
Karena ini Serie A, jadi Fabregas sendiri sudah tahu upaya bisa lolos ke serie A saja harus kerja keras tiga kali lipat. Untuk itu dia minta tiga pra musim.
Jadi di awal yang dekat-dekat saja. Kedua dia ingin di Austria atau di Swiss karena ketinggian datarannya cocok dan temperatur tidak begitu panas. Kemudian banyak tim kompetitif yang sedang latihan di situ.
Kami perlu bertemu dengan tim-tim seperti Atalanta, Borussia Dortmund supaya tim kami terbiasa bertemu tim tinggi.
Ketiga, dia ingin ke Marbella di Spanyol. Di sana juga banyak tim Eropa yang berkumpul di sana dan lebih mudah mencari lawan tanding.
Ini karena lompat dari Serie B ke Serie A berat sekali. Bahkan secara statistik, lebih dari 50 persen tim promosi akan langsung degradasi. Kemudian 75 persen tim promosi di serie A, setelah dua tahun akan degradasi.
Jadi kans untuk bertahan kecil sekali, mungkin cuma 25 persen. Karena itu kami ingin membangun tim yang kuat jangan sampai naik-turun dan persiapan harus tiga kali lebih keras dari pada sebelumnya.
Tapi kami juga tidak boleh lupa bahwa kami klub orang Indonesia. Apa saja yang bisa kami lakukan untuk Indonesia? Dari tahun lalu kami sudah mulai untuk sharing knowledge makanya ada Kurniawan dan Dani [Suryadi] di Como.
Como berhasil memastikan diri lolos ke Serie A di pekan terakhir. (REUTERS/Matteo Gribaudi)
Kurniawan belajar sebagai asisten pelatih di tim U-19. Dani belajar jadi analis bersama tim data terbaik di Eropa saat ini.
Kami mengambil pakar data dari Brighton, Ajax, Liverpool. Kami cukup diakui soal tim data. Jadi Dani kami harap bisa belajar banyak di sini.
Komitmen Grup Djarum juga ke tim wanita yang kerap dianggap terabaikan. Jadi mungkin kami akan mengalihkan program Garuda Select dari yang sebelumnya untuk ke tim wanita.
Kami mencoba menampung pemain wanita untuk bermain di tim wanita kami. Di tim wanita tidak ada kendala pemain non Uni Eropa seperti di tim pria.
Kemudian risiko untuk kami untuk menampung pemain Indonesia itu terbilang minim karena tidak ada degradasi dan sebagainya.
Kalau di Serie A, ketika kami ambil pemain Indonesia tapi tidak main karena kurang standar, kasihan pemain dan kasihan kami juga karena jatah pemain asing berkurang. Jadi kontribusi kami ke Indonesia di tempat yang bisa maksimal hasilnya.
Memasukkan pemain wanita itu trial terlebih dahulu atau rekrut langsung?
Kami mencoba mencari langsung pemain terbaik untuk main di tim kami. Target kami ingin meningkatkan kualitas tim wanita. Tim primavera kami masih di kasta kedua dan harus lolos ke kasta utama.
Sayangnya, di Italia untuk tim putra itu juga tidak bisa asal ambil pemain asing. Untuk tim primavera saja pemain asing di tim muda juga memakan kuota tim senior.
Kami tidak boleh ambil pemain di bawah 18 tahun. Kalaupun kami ambil misalnya [dari Indonesia] akan sulit bersaing dengan pemain dari Brasil atau Irlandia yang sudah main di timnas U-21 meski baru berumur 17 tahun.
Kami juga harus berhati-hati karena kami adalah tamu di negara orang. Itu yang membuat kami tidak bisa tiba-tiba 'menjajah' dengan membawa macam-macam ke sana. Itu yang membuat warga Como sangat bangga dengan keluarga Hartono sebagai pemilik klub.
Kami sangat tahu diri sebagai tamu di negara mereka. Kami menghormati mereka dan mencoba jadi bagian dari komunitas tanpa mengatur-atur.
Itu yang kami khawatirkan kalau orang Indonesia terlalu heboh dengan Como dan segala macamnya, khawatirnya fans di Como malah turn-off sama fans dari Indonesia.
Oleh karena itu kami ingin menjaga keseimbangan dengan membawa kepentingan yang banyak dari Indonesia karena itu prioritas kami, tapi juga menjaga kepentingan tuan rumah di Como. Kami tidak ingin merusak kebudayaan di Como.
Bagaimana proyeksi ke depan untuk Como? Apakah akan jor-joran seperti investor lain mendatangkan pemain bintang?
Yang harus kami lakukan adalah pengembangan usaha dulu. Tahun pertama kami di Serie B penjualan baju tidak sampai 35 ribu Euro.
Kami tidak punya infrastruktur sama sekali untuk menjual itu, tapi sekarang punya afiliasi 310 toko yang menjual barang-barang kami di Como saja.
Penduduk Como itu cuma 810 ribu, tidak sampai 1/30 Jakarta. Tapi dari 310 toko itu pemasukan kami dari 35 ribu Euro untuk penjualan baju langsung lompat ke 4 juta Euro.
Lalu kami juga ingin meningkatkan fans internasional. Jadi musim ini kami sudah menjual tiket pertandingan ke 122 negara yang 20 persennya pemasukan tiket dari luar negeri bukan dari Italia saja. Ada juga beberapa pertandingan yang 40 persen dari luar negeri penontonnya.
Como adalah salah satu tujuan wisata terbesar di Italia dan mayoritas dari Amerika kelas atas. Rata-rata mereka tahu Como karena ada rumah George Clooney, tempat syuting James Bond dan Star Wars.
Ke depannya akan merenovasi stadion yang di pinggir danau untuk menjadi salah satu destinasi turis besar di Como. Seharusnya pemasukan dari turis bisa menandingi atau melebihi tim sepak bolanya.
Jika itu terjadi maka cash flow akan lebih ringan dan tidak perlu suntikan dana dari grup lagi dan bisa berjalan sendiri.
Como punya ambisi bertahan di Serie A. (Dok. Como)
Saat ini kami masih minus 10-15 juta euro per tahun. Ini harus kami kecilkan sampai nol. Target di Serie A kami sudah mulai break even point dan tidak perlu meminta uang dari Indonesia lagi.
Untuk itu, tujuan utama kami dengan membeli dan menjual pemain secara efektif. Saat ini kami berusaha menjual 17 pemain yang ada dan menghasilkan dana besar.
Kami mulai menggelar camp sepak bola yang sedang berlibur di Italia, kami punya TV di Como juga yang menjual daerah wisata dan makanan di Como untuk turis.
Kalau bisa bertahan di Serie A, targetnya adalah untung 30 persen di atas biaya. Dalam lima tahun menjaga hal ini seharusnya kami bisa mempertahankan posisi di Liga Champions tanpa uang dari Indonesia lagi.
Kami sadar ini bisnis tapi bukan mengejar gengsi dan ego. Kami harus benar-benar bisa membuat bisnis ini berjalan sendiri. Kalau sudah sampai di situ barulah bisa rileks dan mendatangkan pemain Indonesia.
Kalau perlu tiga slot pemain asing untuk Indonesia semua. Tapi kami awal-awal ini ingin survive dulu di Serie A. Mungkin kejar dulu posisi 14, lalu 10, lama-lama posisi lima.
Tapi mentok di lima saja, kami tidak ingin mengejar scudetto karena itu terlalu ambisius. Persaingannya ratusan juta dollar.
Lolos Conference League saja sudah bagus itu. Mengejar posisi Atalanta dan Bologna saja tidak mudah. Saingannya banyak sekali.