Tak Ada yang Sempurna, Termasuk Jerman yang Medioker
Nova Arifianto | CNN Indonesia
Minggu, 23 Jun 2024 07:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jerman menampilkan kekuatan yang terlihat gres di Euro 2024. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak ada sesuatu yang benar-benar sempurna di dunia ini termasuk timnas Jerman yang pernah begitu digdaya dan kini masih mencari cara untuk mengembalikan nama baik di Euro 2024.
Jerman akan berhadapan dengan Swiss pada laga terakhir fase grup. Sebenarnya Manuel Neuer dan rekan-rekan sudah mengantongi tiket ke babak 16 besar, namun Die Mannschaft sedang mencari kesempurnaan demi modal mengibarkan kejayaan.
Andaikata tak jadi tuan rumah pada Euro 2024, Jerman belum tentu jadi unggulan dan tergabung di pot 1. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, Jerman kehilangan sentuhan di dalam lapangan. Akrab dengan kekalahan dan terasing dari podium.
Setelah menjadi juara dunia untuk kali keempat pada 10 tahun silam, Jerman mengalami penurunan tren. Tak ada gelar lagi dalam pentas-pentas akbar setelah Piala Dunia 2014. Bahkan hasil yang didapat cenderung memalukan. Mentok di fase grup Piala Dunia 2018 dan 2022, serta 16 besar Piala Eropa 2020. Hanya semifinalis Euro 2016 yang bisa dibilang 'mendingan'.
Kini angin segar tengah dirasakan timnas Jerman dan pendukungnya. Setelah kering gelar dan gersang prestasi, ada sinyal kebangkitan di kandang sendiri. Menang 5-1 atas Skotlandia dan mengalahkan Hungaria 2-0, Jerman bak menapaki tangga juara.
Mencetak tujuh gol dari dua laga, Jerman menjadi tim paling produktif di Euro 2024. Menarik pula melihat daftar pencetak gol anak asuh Julian Nagelsmann karena tujuh gol dibuat enam pemain berbeda. Tanda positif bahwa Jerman bisa mencetak gol lewat siapapun, tanpa bergantung pada satu pemain.
Pertandingan melawan Swiss bisa menjadi penegasan. Jika berakhir dengan kemenangan, maka Jerman bisa mendapat afirmasi soal status unggulan yang lama hilang. Sedangkan seri melawan Swiss adalah tanda Jerman belum boleh pongah. Yang bahaya adalah apabila kalah dari La Nati, itu berarti Jerman masih belum beranjak dari level medioker yang belakangan begitu menempel.
Rasa-rasanya Jerman akan kembali mengulang rumus yang sama seperti dalam dua laga awal yakni bermain menyerang. Swiss harus siap mengantisipasi permainan Jerman jika tak mau kocar-kacir seperti Skotlandia.
Nagelsmann yang menganut aliran gabungan taktik menyerang dan pressing dari segala sisi bakal membuat lawan kerepotan jika tak memiliki ketenangan dan pemain kunci yang bisa mengubah keadaan. Apakah Swiss bisa bermain tenang dan punya sosok game changer?
Temukan jawabannya di halaman selanjutnya>>>
Murat Yakin di balik kemudi timnas Swiss akan menggunakan hasil seri melawan Skotlandia sebagai pelajaran penting. Merotasi pemain akan jadi pilihan penuh perjudian mengingat di laga lain Hungaria dan Skotlandia juga masih punya kesempatan menembus babak 16 besar.
Yakin sudah punya 'the winning team' dan melawan Jerman adalah hal yang masuk akal bila ia memasang para andalan. Dengan begitu Swiss bisa membuat Jerman tidak nyaman. Mencuri poin pun bisa dilakukan.
Jika Swiss memilih bermain pasif, maka Jerman berpeluang kembali berpesta gol seperti pada laga melawan Skotlandia.
Jerman sudah membuktikan bisa meladeni pertahanan rapat yang coba dilakukan Skotlandia dengan bermain menjaga intensitas dari awal sampai akhir. Kedisiplinan Hungaria pun bisa diterabas.
Granit Xhaka dan kawan-kawan diyakini akan memberi tantangan lebih sulit kepada Jerman dibanding Skotlandia atau Hungaria, namun Swiss dituntut tanpa cacat untuk meredam Jerman yang sedang dalam proses menuju kesempurnaan.
Yang bisa dimanfaatkan Swiss antara lain adalah kecepatan pemain untuk menaklukkan Jonathan Tah dan Antonio Rudiger, serta menahan Robert Andrich agar tak berkutik sebagai pelapis pertahanan Jerman.
Mengunci alur distribusi bola Toni Kroos adalah tugas berat yang harus dilakukan oleh Remo Feruler atau Xhaka. Seandainya tugas itu bisa dikerjakan dengan baik, setidaknya sepertiga kekuatan Jerman sudah dijinakkan.
Cairnya pemain Jerman melakukan rotasi di atas lapangan juga bisa menjadi perhatian Swiss. Selalu kebobolan dalam dua laga fase grup sebelumnya juga harus disikapi bijak oleh Yakin yang menerapkan formasi menyerang.
Seumpama Yakin tetap menginstruksikan anak asuhnya untuk aktif menekan, maka laga akan sangat menarik untuk ditonton tak ubahnya seperti pertandingan sengit Turki vs Georgia yang menghadirkan sebuah pertunjukan saling balas serangan.
Di sisi lain Swiss dan Jerman juga harus mewaspadai kekuatan lawan dalam menyerang. Organisasi permainan Jerman bisa membuat lubang menganga di daerah sepertiga akhir Swiss, sebaliknya serangan balik Swiss bisa membuat Jerman keteteran.
Tak ada sesuatu yang benar-benar sempurna di dunia ini termasuk timnas Jerman yang pernah begitu digdaya dan kini masih mencari cara untuk mengembalikan nama baik di Euro 2024.
Jerman akan berhadapan dengan Swiss pada laga terakhir fase grup. Sebenarnya Manuel Neuer dan rekan-rekan sudah mengantongi tiket ke babak 16 besar, namun Die Mannschaft sedang mencari kesempurnaan demi modal mengibarkan kejayaan.
Andaikata tak jadi tuan rumah pada Euro 2024, Jerman belum tentu jadi unggulan dan tergabung di pot 1. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, Jerman kehilangan sentuhan di dalam lapangan. Akrab dengan kekalahan dan terasing dari podium.
Setelah menjadi juara dunia untuk kali keempat pada 10 tahun silam, Jerman mengalami penurunan tren. Tak ada gelar lagi dalam pentas-pentas akbar setelah Piala Dunia 2014. Bahkan hasil yang didapat cenderung memalukan. Mentok di fase grup Piala Dunia 2018 dan 2022, serta 16 besar Piala Eropa 2020. Hanya semifinalis Euro 2016 yang bisa dibilang 'mendingan'.
Kini angin segar tengah dirasakan timnas Jerman dan pendukungnya. Setelah kering gelar dan gersang prestasi, ada sinyal kebangkitan di kandang sendiri. Menang 5-1 atas Skotlandia dan mengalahkan Hungaria 2-0, Jerman bak menapaki tangga juara.
Mencetak tujuh gol dari dua laga, Jerman menjadi tim paling produktif di Euro 2024. Menarik pula melihat daftar pencetak gol anak asuh Julian Nagelsmann karena tujuh gol dibuat enam pemain berbeda. Tanda positif bahwa Jerman bisa mencetak gol lewat siapapun, tanpa bergantung pada satu pemain.
Pertandingan melawan Swiss bisa menjadi penegasan. Jika berakhir dengan kemenangan, maka Jerman bisa mendapat afirmasi soal status unggulan yang lama hilang. Sedangkan seri melawan Swiss adalah tanda Jerman belum boleh pongah. Yang bahaya adalah apabila kalah dari La Nati, itu berarti Jerman masih belum beranjak dari level medioker yang belakangan begitu menempel.
Rasa-rasanya Jerman akan kembali mengulang rumus yang sama seperti dalam dua laga awal yakni bermain menyerang. Swiss harus siap mengantisipasi permainan Jerman jika tak mau kocar-kacir seperti Skotlandia.
Nagelsmann yang menganut aliran gabungan taktik menyerang dan pressing dari segala sisi bakal membuat lawan kerepotan jika tak memiliki ketenangan dan pemain kunci yang bisa mengubah keadaan. Apakah Swiss bisa bermain tenang dan punya sosok game changer?
Temukan jawabannya di halaman selanjutnya>>>
Perjudian Yakin di Swiss dan Ambisi Besar Jerman
Organisasi timnas Swiss bakal dituntut sempurna saat menghadapi Jerman. (REUTERS/Thilo Schmuelgen)
Murat Yakin di balik kemudi timnas Swiss akan menggunakan hasil seri melawan Skotlandia sebagai pelajaran penting. Merotasi pemain akan jadi pilihan penuh perjudian mengingat di laga lain Hungaria dan Skotlandia juga masih punya kesempatan menembus babak 16 besar.
Yakin sudah punya 'the winning team' dan melawan Jerman adalah hal yang masuk akal bila ia memasang para andalan. Dengan begitu Swiss bisa membuat Jerman tidak nyaman. Mencuri poin pun bisa dilakukan.
Jika Swiss memilih bermain pasif, maka Jerman berpeluang kembali berpesta gol seperti pada laga melawan Skotlandia.
Jerman sudah membuktikan bisa meladeni pertahanan rapat yang coba dilakukan Skotlandia dengan bermain menjaga intensitas dari awal sampai akhir. Kedisiplinan Hungaria pun bisa diterabas.
Granit Xhaka dan kawan-kawan diyakini akan memberi tantangan lebih sulit kepada Jerman dibanding Skotlandia atau Hungaria, namun Swiss dituntut tanpa cacat untuk meredam Jerman yang sedang dalam proses menuju kesempurnaan.
Yang bisa dimanfaatkan Swiss antara lain adalah kecepatan pemain untuk menaklukkan Jonathan Tah dan Antonio Rudiger, serta menahan Robert Andrich agar tak berkutik sebagai pelapis pertahanan Jerman.
Mengunci alur distribusi bola Toni Kroos adalah tugas berat yang harus dilakukan oleh Remo Feruler atau Xhaka. Seandainya tugas itu bisa dikerjakan dengan baik, setidaknya sepertiga kekuatan Jerman sudah dijinakkan.
Cairnya pemain Jerman melakukan rotasi di atas lapangan juga bisa menjadi perhatian Swiss. Selalu kebobolan dalam dua laga fase grup sebelumnya juga harus disikapi bijak oleh Yakin yang menerapkan formasi menyerang.
Seumpama Yakin tetap menginstruksikan anak asuhnya untuk aktif menekan, maka laga akan sangat menarik untuk ditonton tak ubahnya seperti pertandingan sengit Turki vs Georgia yang menghadirkan sebuah pertunjukan saling balas serangan.
Di sisi lain Swiss dan Jerman juga harus mewaspadai kekuatan lawan dalam menyerang. Organisasi permainan Jerman bisa membuat lubang menganga di daerah sepertiga akhir Swiss, sebaliknya serangan balik Swiss bisa membuat Jerman keteteran.