Inggris tak bermain dengan baik di Euro 2024, namun bisa menembus babak semifinal. (REUTERS/Bernadett Szabo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Inggris dinaungi Dewi Fortuna. Inggris yang cuma punya tiga shot on target dalam 120 menit melawan Swiss, lolos ke semifinal Euro 2024.
Dibanding tiga semifinalis lainnya, Spanyol, Prancis, dan Belanda, lini serang Inggris paling tumpul. Dari lima laga, The Three Lions hanya punya 15 tembakan tepat sasaran.
Pada saat yang sama Spanyol punya 35 peluang on target, Prancis (21), dan Belanda (20). Dalam urusan membangun serangan, statistik Inggris juga kalah dari Spanyol dan Prancis.
Satu-satunya statistik unggul tim asuhan Gareth Southgate ini adalah umpan panjang. Selama Euro 2024, Declan Rise dan kawan-kawan melepas 250 umpan panjang (182 akurat).
Saat tampil fase gugur, Inggris juga harus berjuang keras hingga extra time. Duel melawan Slovakia selesai 120 menit dan melawan Swiss terpaksa disudahi lewat adu penalti.
Dan, kartu keberuntungan Inggris diyakini habis. Keberuntungan Inggris habis untuk grup enak: bersaing dengan Denmark, Slovenia, dan Serbia, lantas di bagan nyaman fase gugur.
Terlepas tak ada tim inferior di Euro 2024, perjalanan Inggris untuk mencapai semifinal terbilang paling ringan dari sudut nama besar lawan, dibanding tim semifinalis lainnya.
Spanyol berjibaku dengan Jerman dan Georgia, Prancis jumpa Portugal dan Slovenia, dan Belanda melawan Turki dan Romania, sedangkan Inggris kontra Swiss dan Slovakia.
Di babak semifinal, Inggris akan bentrok dengan Belanda. Sejatinya Belanda juga bukan tim mengerikan di Euro 2024, tetapi performa Virgil van Dijk dan kolega meningkat.
Jika Southgate tak bisa mengatrol performa pemain ke level lebih baik, setidaknya di level ketika membela klub, Dewi Keberuntungan tak akan lagi menaungi.
Ada pepatah bijak berkata, keberuntungan dicipta bukan diminta. Inggris harus menciptakan keberuntungannya atas Belanda di semifinal Euro 2024, agar 'God Save the Three Lions' bukan cuma sebatas jargon.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Datang ke Jerman dengan status juara bertahan UEFA Nations League 2023, awalnya Spanyol tetap dipandang sebelah mata.
Namun, perlahan tapi pasti, Luis De La Fuente menyadarkan publik bahwa sepak bola Spanyol masih ada. Masih ada di level teratas meski generasi emasnya telah purna tugas.
Gaya main La Furia Roja racikan De La Fuente tak menanggalkan gaya tiki-taka. Namun, tidak sepenuhnya ala Barcelona. Kini pendekatannya lebih agresif dan progresif.
Seni bermain bola dengan kekuatan umpan dan intuisi keindahan, dipadu padankan oleh De La Fuente dengan nuansa 'rock' mirip gegenpressing untuk membungkam imajinasi lawan.
Sinyal atau kolektivitas pemain Spanyol sudah seperti di jaringan 5G yang stabil. Terbuka pula, dari empat semifinalis Euro 2024, akurasi umpan Spanyol memang paling tinggi.
Begitulah kira-kira permainan Spanyol pada 20 hingga 30 menit pertama permainannya. Setelah itu, jika berkaca lima laga sebelumnya, Spanyol main agak kehilangan jati diri.
Ini pula, yang kira-kira, membuat Jerman akhirnya bisa memperpanjang nafas di babak delapan besar. Beruntung De La Fuente kembali bisa menyadarkan pemain di masa injury time.
Yang juga membuat Spanyol tampak begitu stabil, tak ada pemain yang didewakan. Saat Pedri cedera di awal laga melawan Jerman, Dani Olmo tampil mengagumkan sebagai pengganti.
Namun, absennya Dani Carvajal dan Robin Le Normand di semifinal karena akumulasi kartu, bisa menjadi titik lemah. Prancis punya barisan depan yang lincah dan cepat.
Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, N'Golo Kante, Eduardo Camavinga, hingga Randal Kolo Muani, bisa merepotkan Spanyol, meski untuk saat ini sekilas sama sekali tak berbahaya.
Prancis adalah tim dengan jumlah gol paling minim, satu. Menang ada dua gol lainnya, tetapi tercatat atas nama lawan alias gol bunuh diri. Spanyol bisa berbahaya buat Prancis.
Inggris dinaungi Dewi Fortuna. Inggris yang cuma punya tiga shot on target dalam 120 menit melawan Swiss, lolos ke semifinal Euro 2024.
Dibanding tiga semifinalis lainnya, Spanyol, Prancis, dan Belanda, lini serang Inggris paling tumpul. Dari lima laga, The Three Lions hanya punya 15 tembakan tepat sasaran.
Pada saat yang sama Spanyol punya 35 peluang on target, Prancis (21), dan Belanda (20). Dalam urusan membangun serangan, statistik Inggris juga kalah dari Spanyol dan Prancis.
Satu-satunya statistik unggul tim asuhan Gareth Southgate ini adalah umpan panjang. Selama Euro 2024, Declan Rise dan kawan-kawan melepas 250 umpan panjang (182 akurat).
Saat tampil fase gugur, Inggris juga harus berjuang keras hingga extra time. Duel melawan Slovakia selesai 120 menit dan melawan Swiss terpaksa disudahi lewat adu penalti.
Dan, kartu keberuntungan Inggris diyakini habis. Keberuntungan Inggris habis untuk grup enak: bersaing dengan Denmark, Slovenia, dan Serbia, lantas di bagan nyaman fase gugur.
Terlepas tak ada tim inferior di Euro 2024, perjalanan Inggris untuk mencapai semifinal terbilang paling ringan dari sudut nama besar lawan, dibanding tim semifinalis lainnya.
Spanyol berjibaku dengan Jerman dan Georgia, Prancis jumpa Portugal dan Slovenia, dan Belanda melawan Turki dan Romania, sedangkan Inggris kontra Swiss dan Slovakia.
Di babak semifinal, Inggris akan bentrok dengan Belanda. Sejatinya Belanda juga bukan tim mengerikan di Euro 2024, tetapi performa Virgil van Dijk dan kolega meningkat.
Jika Southgate tak bisa mengatrol performa pemain ke level lebih baik, setidaknya di level ketika membela klub, Dewi Keberuntungan tak akan lagi menaungi.
Ada pepatah bijak berkata, keberuntungan dicipta bukan diminta. Inggris harus menciptakan keberuntungannya atas Belanda di semifinal Euro 2024, agar 'God Save the Three Lions' bukan cuma sebatas jargon.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Tiki-taka 5G La Furia Roja
Spanyol menjadi salah satu kandidat juara yang menampilkan performa impresif sejak fase grup hingga babak perempat final. (REUTERS/Leonhard Simon)
Datang ke Jerman dengan status juara bertahan UEFA Nations League 2023, awalnya Spanyol tetap dipandang sebelah mata.
Namun, perlahan tapi pasti, Luis De La Fuente menyadarkan publik bahwa sepak bola Spanyol masih ada. Masih ada di level teratas meski generasi emasnya telah purna tugas.
Gaya main La Furia Roja racikan De La Fuente tak menanggalkan gaya tiki-taka. Namun, tidak sepenuhnya ala Barcelona. Kini pendekatannya lebih agresif dan progresif.
Seni bermain bola dengan kekuatan umpan dan intuisi keindahan, dipadu padankan oleh De La Fuente dengan nuansa 'rock' mirip gegenpressing untuk membungkam imajinasi lawan.
Sinyal atau kolektivitas pemain Spanyol sudah seperti di jaringan 5G yang stabil. Terbuka pula, dari empat semifinalis Euro 2024, akurasi umpan Spanyol memang paling tinggi.
Begitulah kira-kira permainan Spanyol pada 20 hingga 30 menit pertama permainannya. Setelah itu, jika berkaca lima laga sebelumnya, Spanyol main agak kehilangan jati diri.
Ini pula, yang kira-kira, membuat Jerman akhirnya bisa memperpanjang nafas di babak delapan besar. Beruntung De La Fuente kembali bisa menyadarkan pemain di masa injury time.
Yang juga membuat Spanyol tampak begitu stabil, tak ada pemain yang didewakan. Saat Pedri cedera di awal laga melawan Jerman, Dani Olmo tampil mengagumkan sebagai pengganti.
Namun, absennya Dani Carvajal dan Robin Le Normand di semifinal karena akumulasi kartu, bisa menjadi titik lemah. Prancis punya barisan depan yang lincah dan cepat.
Kylian Mbappe, Antoine Griezmann, N'Golo Kante, Eduardo Camavinga, hingga Randal Kolo Muani, bisa merepotkan Spanyol, meski untuk saat ini sekilas sama sekali tak berbahaya.
Prancis adalah tim dengan jumlah gol paling minim, satu. Menang ada dua gol lainnya, tetapi tercatat atas nama lawan alias gol bunuh diri. Spanyol bisa berbahaya buat Prancis.