Timnas Indonesia U-19 punya misi besar yaitu lolos ke Piala Dunia U-20 2025. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Dalam biografi yang ditulis FX Rudy Gunawan, terbitan 2014, Indra Sjafri berkata, "Kita saja yang tidak mau hebat, bukan kita tidak hebat!"
Untuk menjadi hebat, tentu saja 'banyak jalan menuju Roma'. Kebetulan, PSSI membuka jalan itu. Meski kompetisi akar rumput belum diurus betul, program Indra didukung penuh.
Uji coba lawan Thailand, Uzbekistan, lantas China, buktinya. Sebelumnya, tak ada tim yang begitu diistimewakan begini. Baru dibentuk langsung uji coba internasional.
Setelah itu Timnas Indonesia U-19 yang sebagian besar jebolan juara Piala AFF U-16 2022 dan Piala Dunia U-17 2023, dikirim ke Prancis ikut turnamen Toulun Cup.
Memang kalah terus di Prancis, lawan Ukraina, Italia, Panama, Jepang, dan Korea Selatan. Namun, kekalahan lawan tim kelas dunia ini mematangkan mentalitas.
Tentu saja hasilnya juara Piala AFF U-19 2024. Kalau tak juara, keterlaluan. Indonesia paling siap menatap Piala AFF U-19 2024. Ini gelar yang sudah ditakdirkan. Begitu kira kira.
Namun, secara permainan, masih jauh dari mapan. Bahkan, sesumbar Indra bahwa tim ini lebih baik dari angkatan Evan Dimas yang juara Piala AFF U-19 2013, belum terbukti.
Indra Sjafri dapat dukungan penuh dari PSSI dalam persiapan menuju Piala AFF U-19 2024. (ANTARA FOTO/Rizal Hanafi)
Kualitas individunya bisa saja benar. Tetapi secara permainan tidak demikian. Dan, masih ada cukup waktu untuk memoles tim kaya pengalaman ini. Kebetulan PSSI sangat perhatian.
September nanti tim ini akan menjalani Kualifikasi Piala Asia U-20 2025. Di atas kertas Indonesia bisa lolos. Hanya Yaman lawan yang kualitasnya agak setara.
Jika lolos akan tampil di Piala Asia U-20 2025 di China pada 6-23 Februari 2025. Agar bisa tampil di Piala Dunia U-20 2025, harus lolos hingga babak semifinal.
Di sini kualitas Indra akan diuji. ASEAN sudah ditaklukkan Indra (kategori usia). Tak perlu ada perdebatan soal ini. Bisakah Indra membawa Indonesia ke Piala Dunia?
Mari kita nanti. Asal tidak ada politisasi dan eksploitasi seperti 2014, ada harapan. Frasa Latin 'in vino veritas' yang artinya dalam anggur ada kebenaran, bisa menghantui. Awas, mabuk.
Dalam falsafah si Dinamit-Nietzsche, amor fati itu bukan soal kekekalan, soal keberbedaan, masa depan, atau bahkan masa lalu. Ini soal takdir dan cinta dalam dialektika diri.
Secara puitis, amor fati itu mencintai takdir. Seperti mencintai takdir sebagai pelatih, jalan pahit pun dirakit Indra. Dikutuk dan dipiting keadaan tak jadi alasan untuk menyerah.
Anarkisnya, Indra telah melewati salah satu fase paling buram: fatum brutum amor fati. Frasa latin ini kira-kira bermakna: mencintai takdir walau takdir hadir dengan begitu brutal.
Indra datang ke blantika sepak bola nasional saat PSSI porak poranda: dualisme (2011). Dari situ Indra blusukan keliling negeri. Ia mencari bakat yang tak dibina kompetisi.
Kerja kerasnya berbuah juara Piala AFF U-19 2013 bersama generasi Evan Dimas. Ini gelar juara internasional pertama Indonesia setelah 24 tahun. Setelah emas SEA Games 1991.
Indra yang memberi nama anak didiknya Garuda Nusantara lantas membidik Piala Dunia U-20 2015. Untuk itu Indonesia U-19 harus masuk semifinal Piala Asia U-19 2015.
Sayang, lahir 'Tur Nusantara' dari PSSI. Tim yang membantai Korea Selatan 3-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno ini jadi sirkus. Keliling Indonesia untuk 25 laga uji coba.
Akhirnya, jangankan lolos ke Piala Dunia U-20 2015, lolos babak grup Piala Asia U-19 2015 pun tidak. Kerakusan federasi membuat performa anak-anak Indonesia U-19 hilang kuda-kuda.
Setelah itu bersama angkatan Witan Sulaeman pada 2017 dan 2018 tak ada gelar juara diraih. Tahun berikutnya, menjelang SEA Games 2019, Indra meraih gelar juara Piala AFF U-22 2019.
Berikutnya, saat Shin Tae Yong datang, Indra pernah 'tersisihkan'. Namun, ia berdamai dengan keadaan. Belum cukup alasan untuk balik badan. Jadi Direktur Teknik PSSI pun jadi.
Hari-hari berganti, bulan-bulan terlewati, dan tahun demi tahun dilalui, tiba-tiba Erick Thohir meminta Indra menjadi pelatih Indonesia untuk SEA Games 2023 di Kamboja.
Dalam bayang-bayang Shin yang dipuja-puji, Indra dipandang sebelah mata. Berangkat ke Kamboja tanpa pemain keturunan yang sedang naik daun, emas SEA Games setelah 32 tahun direbut.
Inilah fatum brutum amor fati Indra Sjafri. Pria kelahiran Desa Lubuk Nyiur, Sumatera Barat ini membuktikan cintanya tak tersungkur ditikam takdir: sepak bola Indonesia yang terbelakang.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Awas Termakan 'In Vino Veritas'
Timnas Indonesia U-19 punya misi besar yaitu lolos ke Piala Dunia U-20 2025. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Dalam biografi yang ditulis FX Rudy Gunawan, terbitan 2014, Indra Sjafri berkata, "Kita saja yang tidak mau hebat, bukan kita tidak hebat!"
Untuk menjadi hebat, tentu saja 'banyak jalan menuju Roma'. Kebetulan, PSSI membuka jalan itu. Meski kompetisi akar rumput belum diurus betul, program Indra didukung penuh.
Uji coba lawan Thailand, Uzbekistan, lantas China, buktinya. Sebelumnya, tak ada tim yang begitu diistimewakan begini. Baru dibentuk langsung uji coba internasional.
Setelah itu Timnas Indonesia U-19 yang sebagian besar jebolan juara Piala AFF U-16 2022 dan Piala Dunia U-17 2023, dikirim ke Prancis ikut turnamen Toulun Cup.
Memang kalah terus di Prancis, lawan Ukraina, Italia, Panama, Jepang, dan Korea Selatan. Namun, kekalahan lawan tim kelas dunia ini mematangkan mentalitas.
Tentu saja hasilnya juara Piala AFF U-19 2024. Kalau tak juara, keterlaluan. Indonesia paling siap menatap Piala AFF U-19 2024. Ini gelar yang sudah ditakdirkan. Begitu kira kira.
Namun, secara permainan, masih jauh dari mapan. Bahkan, sesumbar Indra bahwa tim ini lebih baik dari angkatan Evan Dimas yang juara Piala AFF U-19 2013, belum terbukti.
Indra Sjafri dapat dukungan penuh dari PSSI dalam persiapan menuju Piala AFF U-19 2024. (ANTARA FOTO/Rizal Hanafi)
Kualitas individunya bisa saja benar. Tetapi secara permainan tidak demikian. Dan, masih ada cukup waktu untuk memoles tim kaya pengalaman ini. Kebetulan PSSI sangat perhatian.
September nanti tim ini akan menjalani Kualifikasi Piala Asia U-20 2025. Di atas kertas Indonesia bisa lolos. Hanya Yaman lawan yang kualitasnya agak setara.
Jika lolos akan tampil di Piala Asia U-20 2025 di China pada 6-23 Februari 2025. Agar bisa tampil di Piala Dunia U-20 2025, harus lolos hingga babak semifinal.
Di sini kualitas Indra akan diuji. ASEAN sudah ditaklukkan Indra (kategori usia). Tak perlu ada perdebatan soal ini. Bisakah Indra membawa Indonesia ke Piala Dunia?
Mari kita nanti. Asal tidak ada politisasi dan eksploitasi seperti 2014, ada harapan. Frasa Latin 'in vino veritas' yang artinya dalam anggur ada kebenaran, bisa menghantui. Awas, mabuk.