Arab Saudi vs Indonesia: Tanam Asa Lolos ke Piala Dunia
Abdul Susila | CNN Indonesia
Kamis, 05 Sep 2024 08:32 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia bakal berjuang mewujudkan mimpi lolos ke Piala Dunia 2026. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Timnas Indonesiaakan memulai perjalanan mewujudkan mimpi lolos ke Piala Dunia 2026. Arab Saudi jadi ujian berat pertama bagi Skuad Garuda.
Perjuangan besar akan diawali Timnas Indonesia pada fase ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan melawan Arab Saudi di Stadion King Abdullah Sport City, Kamis (5/9) malam.
Ini sama sekali bukan laga yang mudah. Selain karena laga tandang, Indonesia juga dianggap sebagai tim terlemah di Grup C yang diisi Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain, dan China.
Namun, Indonesia tak bisa menghindar. Malahan, Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan harus menguatkan mental berhadapan dengan para raksasa sepak bola Benua Asia ini.
Sejarah mencatat, belum ada wakil ASEAN yang bisa lolos dari fase ketiga. Thailand dan Vietnam yang pernah di fase seperti Indonesia saat ini, akhirnya jadi bulan-bulanan.
Apakah tim Merah Putih akan mengalami hal serupa? Sekilas, jika mengacu ranking FIFA, Indonesia akan dibuat menderita. Tak hanya saat tandang, tetapi juga ketiga di kandang.
Belum lagi ada fakta, Timnas Indonesia kesulitan di laga perdana kalender FIFA Matchday. Tiga pertandingan di fase ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah bukti nyata.
Ketika itu Indonesia dibantai Irak di laga perdana, kemudian kesulitan saat menjamu Vietnam sebelum menyala saat tandang, dan takluk dari Irak dalam laga kandang di GBK.
Shin Tae Yong mengatakan, pemain Indonesia butuh waktu menyatukan chemistry permainan. Karena itu laga pertama di kalender internasional lebih sulit dibanding laga kedua.
Hal sama dialami pemain sebelum melawan Arab Saudi. Saat ini mayoritas kompetisi sepak bola sudah berlangsung, tetapi banyak pemain belum dalam kondisi terbaik.
Marselino Ferdinan misalnya, baru bergabung dengan Oxford United di Inggris dan belum debut. Bahkan Thom Haye belum mendapat klub, meski isunya sudah dikontrak klub Belanda.
Waktu persiapan yang singkat jadi tantangan bagi Timnas Indonesia jelang duel lawan Arab Saudi. (dok. PSSI)
Inilah kendala utama yang dihadapi Shin. Para pemain belum dalam kondisi terbaik menjelang laga. Waktu berkumpul juga relatif singkat, hanya sekitar tiga hari saja.
Seluruh pemain Indonesia, baru berkumpul pada 2 September. Shin hanya punya waktu tiga hari untuk meracik strategi dan membuat kompak permainan tim.
Sudah begitu, waktu latihan kurang maksimal karena cuaca. Saat ini sedang sering turun hujan di Arab Saudi, yang membuat sesi latihan skuad Garuda agak terganggu.
Publik akhirnya bertanya-tanya, bisakah Indonesia tak kalah dengan skor besar? Alih-alih berharap menang, bisa imbang dari Arab saja sudah dianggap sebagai pencapaian mentereng.
Namun, bukan Shin Tae Yong namanya jika tak bisa menebar optimisme. Indonesia memang sama sekali tak diunggulkan, tetapi situasi ini malah bisa membuat pemain terlecut.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Dalam dua tahun terakhir Timnas Indonesia enggan bermain negatif. Meski lawan lebih kuat, Indonesia selalu berusaha bermain terbuka, menekan, dan menyerang.
Contoh kasusnya di Piala Asia 2023 (2024) dan uji coba melawan Argentina. Dalam laga-laga tersebut Indonesia bermain dengan berani dan beberapa unggul penguasaan bola.
Masalahnya sistem pertahanan Indonesia masih mudah ditembus. Semangat juang tinggi untuk menyerang tak diimbangi soliditas pemain bertahan menahan gempuran.
Kabar baiknya, saat ini pertahanan Indonesia dikomando Jay Idzes. Saat pemain Venezia FC ini tampil, kiper Indonesia membuat clean-sheet atau tidak kebobolan.
Kehadiran Jay saat melawan Arab Saudi, sekali lagi diharapkan bisa membuat gawang Indonesia tak kebobolan. Kini tergantung siapa dua bek tengah lain yang akan dipilih Shin.
Kemungkinan besar Jay akan tampil bersama Rizki Ridho dan Shandy Walsh dalam formasi tiga bek sejajar. Sebagai penguat, gelandang bertahan yang dipilih Thom Haye dan Nathan Tjoe-A-On.
Jika formasi 3-4-3 kembali dipakai Shin, ketahanan bek sayap, kemungkinan Asnawi Mangkualam di kanan dan Calvin Verdonk di kiri, akan menjadi kunci Arab tak mudah melakukan tusukan.
Nathan Tjoe-A-On termasuk tipe gelandang yang juga punya kepiawaian dalam bertahan karena ia juga biasa beroperasi sebagai bek. ( AFP/KARIM JAAFAR)
Dilematika yang dihadapi Shin dalam pemilihan ini pun tak mudah. Pasalnya, memilih pemain yang kuat bertahan mengurangi daya dobrak. Pilihannya, kuat bertahan atau menyerang.
Dalam situasi seperti ini, kecerdikan analisis staf kepelatihan Shin akan diuji. Sejauh ini kinerja tim analis Shin belum cukup bertuah untuk meredam gaya main tim-tim kuat Asia.
Selalu, yang jadi alasan, pemain Indonesia kalah kualitas. Ini cara mudah membuat alasan kekalahan. Padahal, kinerja tim analis diharapkan bisa membuat terobosan cara main berbeda.
Akankah ada sistem bertahan dan menyerang baru yang dipakai Shin dalam laga melawan Arab Saudi? Semoga saja ada. Jika Shin tak pragmatis, mungkin saja ada kejutan.
Yang tak kalah dinanti juga bagaimana gaya menyerang Indonesia gubahan Shin di laga kali ini. Masihkah Rafael Struick pilihan utama? Akankah Dimas Drajad atau Ramadhan Sananta dipercaya?
Satu yang pasti, dukungan atas Timnas Indonesia semakin besar. Kalah dari Arab Saudi mungkin akan dimaklumi, tetapi bagaimana cara kalahnya. Itu hal lain yang tak kalah penting.
Kalau sampai menang, Shin akan membuat sejarah. Selama ini Timnas Indonesia dan Arab sudah bentrok 12 kali dengan hasil sekali imbang dan 11 kalah. Ayo Shin, patahkan lagi rekor.
Timnas Indonesiaakan memulai perjalanan mewujudkan mimpi lolos ke Piala Dunia 2026. Arab Saudi jadi ujian berat pertama bagi Skuad Garuda.
Perjuangan besar akan diawali Timnas Indonesia pada fase ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan melawan Arab Saudi di Stadion King Abdullah Sport City, Kamis (5/9) malam.
Ini sama sekali bukan laga yang mudah. Selain karena laga tandang, Indonesia juga dianggap sebagai tim terlemah di Grup C yang diisi Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain, dan China.
Namun, Indonesia tak bisa menghindar. Malahan, Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan harus menguatkan mental berhadapan dengan para raksasa sepak bola Benua Asia ini.
Sejarah mencatat, belum ada wakil ASEAN yang bisa lolos dari fase ketiga. Thailand dan Vietnam yang pernah di fase seperti Indonesia saat ini, akhirnya jadi bulan-bulanan.
Apakah tim Merah Putih akan mengalami hal serupa? Sekilas, jika mengacu ranking FIFA, Indonesia akan dibuat menderita. Tak hanya saat tandang, tetapi juga ketiga di kandang.
Belum lagi ada fakta, Timnas Indonesia kesulitan di laga perdana kalender FIFA Matchday. Tiga pertandingan di fase ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah bukti nyata.
Ketika itu Indonesia dibantai Irak di laga perdana, kemudian kesulitan saat menjamu Vietnam sebelum menyala saat tandang, dan takluk dari Irak dalam laga kandang di GBK.
Shin Tae Yong mengatakan, pemain Indonesia butuh waktu menyatukan chemistry permainan. Karena itu laga pertama di kalender internasional lebih sulit dibanding laga kedua.
Hal sama dialami pemain sebelum melawan Arab Saudi. Saat ini mayoritas kompetisi sepak bola sudah berlangsung, tetapi banyak pemain belum dalam kondisi terbaik.
Marselino Ferdinan misalnya, baru bergabung dengan Oxford United di Inggris dan belum debut. Bahkan Thom Haye belum mendapat klub, meski isunya sudah dikontrak klub Belanda.
Waktu persiapan yang singkat jadi tantangan bagi Timnas Indonesia jelang duel lawan Arab Saudi. (dok. PSSI)
Inilah kendala utama yang dihadapi Shin. Para pemain belum dalam kondisi terbaik menjelang laga. Waktu berkumpul juga relatif singkat, hanya sekitar tiga hari saja.
Seluruh pemain Indonesia, baru berkumpul pada 2 September. Shin hanya punya waktu tiga hari untuk meracik strategi dan membuat kompak permainan tim.
Sudah begitu, waktu latihan kurang maksimal karena cuaca. Saat ini sedang sering turun hujan di Arab Saudi, yang membuat sesi latihan skuad Garuda agak terganggu.
Publik akhirnya bertanya-tanya, bisakah Indonesia tak kalah dengan skor besar? Alih-alih berharap menang, bisa imbang dari Arab saja sudah dianggap sebagai pencapaian mentereng.
Namun, bukan Shin Tae Yong namanya jika tak bisa menebar optimisme. Indonesia memang sama sekali tak diunggulkan, tetapi situasi ini malah bisa membuat pemain terlecut.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Tergantung Racikan Sistem Pertahanan
Shin Tae Yong harus bisa menyiapkan skema pertahanan yang apik. ( ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Dalam dua tahun terakhir Timnas Indonesia enggan bermain negatif. Meski lawan lebih kuat, Indonesia selalu berusaha bermain terbuka, menekan, dan menyerang.
Contoh kasusnya di Piala Asia 2023 (2024) dan uji coba melawan Argentina. Dalam laga-laga tersebut Indonesia bermain dengan berani dan beberapa unggul penguasaan bola.
Masalahnya sistem pertahanan Indonesia masih mudah ditembus. Semangat juang tinggi untuk menyerang tak diimbangi soliditas pemain bertahan menahan gempuran.
Kabar baiknya, saat ini pertahanan Indonesia dikomando Jay Idzes. Saat pemain Venezia FC ini tampil, kiper Indonesia membuat clean-sheet atau tidak kebobolan.
Kehadiran Jay saat melawan Arab Saudi, sekali lagi diharapkan bisa membuat gawang Indonesia tak kebobolan. Kini tergantung siapa dua bek tengah lain yang akan dipilih Shin.
Kemungkinan besar Jay akan tampil bersama Rizki Ridho dan Shandy Walsh dalam formasi tiga bek sejajar. Sebagai penguat, gelandang bertahan yang dipilih Thom Haye dan Nathan Tjoe-A-On.
Jika formasi 3-4-3 kembali dipakai Shin, ketahanan bek sayap, kemungkinan Asnawi Mangkualam di kanan dan Calvin Verdonk di kiri, akan menjadi kunci Arab tak mudah melakukan tusukan.
Nathan Tjoe-A-On termasuk tipe gelandang yang juga punya kepiawaian dalam bertahan karena ia juga biasa beroperasi sebagai bek. ( AFP/KARIM JAAFAR)
Dilematika yang dihadapi Shin dalam pemilihan ini pun tak mudah. Pasalnya, memilih pemain yang kuat bertahan mengurangi daya dobrak. Pilihannya, kuat bertahan atau menyerang.
Dalam situasi seperti ini, kecerdikan analisis staf kepelatihan Shin akan diuji. Sejauh ini kinerja tim analis Shin belum cukup bertuah untuk meredam gaya main tim-tim kuat Asia.
Selalu, yang jadi alasan, pemain Indonesia kalah kualitas. Ini cara mudah membuat alasan kekalahan. Padahal, kinerja tim analis diharapkan bisa membuat terobosan cara main berbeda.
Akankah ada sistem bertahan dan menyerang baru yang dipakai Shin dalam laga melawan Arab Saudi? Semoga saja ada. Jika Shin tak pragmatis, mungkin saja ada kejutan.
Yang tak kalah dinanti juga bagaimana gaya menyerang Indonesia gubahan Shin di laga kali ini. Masihkah Rafael Struick pilihan utama? Akankah Dimas Drajad atau Ramadhan Sananta dipercaya?
Satu yang pasti, dukungan atas Timnas Indonesia semakin besar. Kalah dari Arab Saudi mungkin akan dimaklumi, tetapi bagaimana cara kalahnya. Itu hal lain yang tak kalah penting.
Kalau sampai menang, Shin akan membuat sejarah. Selama ini Timnas Indonesia dan Arab sudah bentrok 12 kali dengan hasil sekali imbang dan 11 kalah. Ayo Shin, patahkan lagi rekor.