Kunci 'Otak' yang Dibutuhkan Timnas Indonesia di Piala AFF 2024
Abdul Susila | CNN Indonesia
Jumat, 13 Des 2024 08:41 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia tidak memiliki pengatur serangan di Piala AFF 2024. (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Performa Timnas Indonesia menurun saat imbang 3-3 melawan Laos dalam lanjutan Piala AFF 2024 di Stadion Manahan, Solo pada Kamis (12/12).
Ada minus besar yang diperlihatkan Muhammad Ferarri dan kawan-kawan. Tim asuhan Shin Tae Yong ini seperti tidak punya landasan filosofi permainan yang terstruktur.
Statistik Indonesia memang menonjol. Mengacu statistik pertandingan di laman resmi Piala AFF 2024, ball possession tim Garuda mencapai 67 persen dan akurasi umpan mencapai 81 persen.
Namun yang tampak dalam pertandingan, banyak umpan yang sembarangan. Disiplin lini pertahanan juga kedodoran, sehingga serangan balik Laos jadi efektif.
Keputusan Shin memasang Kakang Rudianto di pertahanan, bersama Ferarri dan Kadek Arel, tak solid. Kakang beberapa kali salah antisipasi dan telat menutup gerak lawan.
Minus yang paling menonjol adalah banalitas gelandang serang. Rayhan Hannan yang diplot sebagai pengatur serangan, seperti tak punya cukup kreativitas dan imajinasi.
Pemain Persija ini tak bisa mengatur alur permainan dengan baik. Pada saat yang sama Arkhan Fikri juga tampil di bawah performa terbaiknya. Begitu Zanadin Faris main, situasi tak berubah.
Tak adanya 'otak permainan' atau sosok kreator di lini tengah ini membuat lini depan kesulitan dapat suplai bola tembak yang manis. Adapun serangan lewat bisa diantisipasi oleh Laos.
Alhasil bola mati, utamanya lemparan ke dalam lewat Pratama Arhan, jadi senjata. Buktinya dua gol Indonesia ke gawang Laos berawal dari lemparan Arhan, meski yang pertama tak langsung.
Itu pula yang membuat jajaran striker tim Merah Putih belum ada yang mencatatkan namanya di papan skor. Empat gol Indonesia di Piala AFF 2024 ini diborong pemain bertahan.
Lantas, siapakah yang bisa dikonstruksi menjadi seorang playmaker? Sejatinya Marselino Ferdinan punya potensi untuk itu, tetapi Shin lebih menjadikannya sebagai winger atau second striker. Apalagi, Marselino juga akan absen saat Indonesia melawan Vietnam pada Minggu (15/12) mendatang.
Shin belum menjadikan Asnawi Mangkualam Bahar sebagai pilihan utama dalam dua laga awal. Shin seperti ingin mencari pemain dan memberi jam terbang ke pemain lainnya.
Pertandingan melawan Myanmar dan Laos, kasarnya, seolah dijadikan sarana uji coba untuk menatap laga melawan tim terkuat di Grup B yang hadir dengan skuad terbaiknya, Vietnam.
Pertandingan melawan Vietnam akan berlangsung pada Minggu (15/12) di Stadion Viet Tri, Phu Tho. Laga ini bisa menjadi penentu apakah Indonesia akan jadi juara Grup B atau jadi runner up.
Nahasnya, Indonesia tak akan tampil dengan Marselino Ferdinan saat jumpa Vietnam. Pemain Oxford United ini mendapat kartu merah melawan Laos sehingga wajib absen di satu laga.
Melawan The Golden Stars, julukan Vietnam, tanpa Marselino tentu saja jadi minus tersendiri. Terlepas dari performa Marselino yang juga buruk saat melawan Laos, kehilangannya jadi celah.
Karena itu pula rasanya sudah cukup bagi Shin untuk main-main. Ini saatnya meracik formasi yang, anggap saja, baku dan terbaik, agar kekalahan menyakitkan tak hadir di Phu Tho.
Jika di dua laga sebelumnya Indonesia main terbuka dengan menguasai jalannya laga, pola pragmatis mungkin bakal dipakai lagi. Melawan Vietnam dengan terbuka bisa berbahaya.
Tampil dalam suhu lumayan dingin Vietnam, pertahanan lebih kukuh harus dibangun. Setidaknya dengan Asnawi Mangkualam kembali jadi starter dan Pratama Arhan kembali ke kiri.
Pada saat yang sama Dony Tri pamungkas juga bisa dikembalikan sebagai bek tengah. Permainannya saat melawan Myanmar tampak lebih baik dibanding saat jumpa Laos.
Hanya tinggal siapa yang akan jadi 'otak' permainan tim di tengah. Sejauh ini belum ada sosok yang akurat, tetapi Shin kiranya sudah punya opsi untuk mengisi minus besar Timnas Indonesia itu.
Performa Timnas Indonesia menurun saat imbang 3-3 melawan Laos dalam lanjutan Piala AFF 2024 di Stadion Manahan, Solo pada Kamis (12/12).
Ada minus besar yang diperlihatkan Muhammad Ferarri dan kawan-kawan. Tim asuhan Shin Tae Yong ini seperti tidak punya landasan filosofi permainan yang terstruktur.
Statistik Indonesia memang menonjol. Mengacu statistik pertandingan di laman resmi Piala AFF 2024, ball possession tim Garuda mencapai 67 persen dan akurasi umpan mencapai 81 persen.
Namun yang tampak dalam pertandingan, banyak umpan yang sembarangan. Disiplin lini pertahanan juga kedodoran, sehingga serangan balik Laos jadi efektif.
Keputusan Shin memasang Kakang Rudianto di pertahanan, bersama Ferarri dan Kadek Arel, tak solid. Kakang beberapa kali salah antisipasi dan telat menutup gerak lawan.
Minus yang paling menonjol adalah banalitas gelandang serang. Rayhan Hannan yang diplot sebagai pengatur serangan, seperti tak punya cukup kreativitas dan imajinasi.
Pemain Persija ini tak bisa mengatur alur permainan dengan baik. Pada saat yang sama Arkhan Fikri juga tampil di bawah performa terbaiknya. Begitu Zanadin Faris main, situasi tak berubah.
Tak adanya 'otak permainan' atau sosok kreator di lini tengah ini membuat lini depan kesulitan dapat suplai bola tembak yang manis. Adapun serangan lewat bisa diantisipasi oleh Laos.
Alhasil bola mati, utamanya lemparan ke dalam lewat Pratama Arhan, jadi senjata. Buktinya dua gol Indonesia ke gawang Laos berawal dari lemparan Arhan, meski yang pertama tak langsung.
Itu pula yang membuat jajaran striker tim Merah Putih belum ada yang mencatatkan namanya di papan skor. Empat gol Indonesia di Piala AFF 2024 ini diborong pemain bertahan.
Lantas, siapakah yang bisa dikonstruksi menjadi seorang playmaker? Sejatinya Marselino Ferdinan punya potensi untuk itu, tetapi Shin lebih menjadikannya sebagai winger atau second striker. Apalagi, Marselino juga akan absen saat Indonesia melawan Vietnam pada Minggu (15/12) mendatang.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sudah Cukup Main-mainnya STY
Shin Tae Yong saat melepaskan tembakan dalam latihan Timnas Indonesia. (ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO)
Shin belum menjadikan Asnawi Mangkualam Bahar sebagai pilihan utama dalam dua laga awal. Shin seperti ingin mencari pemain dan memberi jam terbang ke pemain lainnya.
Pertandingan melawan Myanmar dan Laos, kasarnya, seolah dijadikan sarana uji coba untuk menatap laga melawan tim terkuat di Grup B yang hadir dengan skuad terbaiknya, Vietnam.
Pertandingan melawan Vietnam akan berlangsung pada Minggu (15/12) di Stadion Viet Tri, Phu Tho. Laga ini bisa menjadi penentu apakah Indonesia akan jadi juara Grup B atau jadi runner up.
Nahasnya, Indonesia tak akan tampil dengan Marselino Ferdinan saat jumpa Vietnam. Pemain Oxford United ini mendapat kartu merah melawan Laos sehingga wajib absen di satu laga.
Melawan The Golden Stars, julukan Vietnam, tanpa Marselino tentu saja jadi minus tersendiri. Terlepas dari performa Marselino yang juga buruk saat melawan Laos, kehilangannya jadi celah.
Karena itu pula rasanya sudah cukup bagi Shin untuk main-main. Ini saatnya meracik formasi yang, anggap saja, baku dan terbaik, agar kekalahan menyakitkan tak hadir di Phu Tho.
Jika di dua laga sebelumnya Indonesia main terbuka dengan menguasai jalannya laga, pola pragmatis mungkin bakal dipakai lagi. Melawan Vietnam dengan terbuka bisa berbahaya.
Tampil dalam suhu lumayan dingin Vietnam, pertahanan lebih kukuh harus dibangun. Setidaknya dengan Asnawi Mangkualam kembali jadi starter dan Pratama Arhan kembali ke kiri.
Pada saat yang sama Dony Tri pamungkas juga bisa dikembalikan sebagai bek tengah. Permainannya saat melawan Myanmar tampak lebih baik dibanding saat jumpa Laos.
Hanya tinggal siapa yang akan jadi 'otak' permainan tim di tengah. Sejauh ini belum ada sosok yang akurat, tetapi Shin kiranya sudah punya opsi untuk mengisi minus besar Timnas Indonesia itu.