Jakarta, CNN Indonesia -- Kevin Diks berpotensi jadi batu sandungan Chelsea saat jumpa FC Copenhagen pada babak 16 besar UEFA Conference League 2024/2025.
Pertandingan Copenhagen versus Chelsea akan berlangsung di Stadion Venue Parken pada Kamis (6/3) malam waktu Denmark atau Jumat (7/3) dini hari WIB.
Diks adalah 'jimat' Copenhagen di pentas kontinental. Buktinya, saat pemain Timnas Indonesia ini absen, kekalahan didera, kendati main di kandang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu terjadi pada 13 Februari 2025. Diks absen pada leg pertama play off babak 16 besar melawan klub Jerman, FC Heidenheim, karena akumulasi kartu kuning.
Hasilnya Copenhagen kalah 1-2 di kandang. Pada leg kedua, saat tandang ke markas Heidenheim, Diks bisa main. Diks menyumbang satu gol dan assist untuk kemenangan 3-1.
Pelatih Copenhagen, Jacob Neestrup, juga sangat suka dengan gaya main Diks di pentas Eropa. Diks bisa saja dicadangkan di liga domestik, tetapi tidak dalam ajang UEFA.
Buktinya, Diks hanya tampil tujuh menit saat Copenhagen melawan Randers FC pada 17 Februari 2025. Ini memunculkan asumsi Diks akan absen di Conference League.
Nyatanya, pada 20 Februari 2025, Diks jadi starter melawan Heidenheim. Diks tampil penuh 120 menit. Tak hanya main penuh, tetapi juga mencetak gol dan assist.
Musim ini Diks sudah membukukan enam gol dalam ajang UEFA Conference League. Empat gol pada fase grup, satu gol saat kualifikasi, dan satu gol ketika play off.
Semua gol itu memang dilesakkan lewat titik putih alias penalti, tetapi ini menunjukkan kelas Diks. Pemain berposisi bek kanan ini punya mentalitas kuat.
Dengan fakta-fakta ini, Diks berpotensi jadi pilihan utama Copenhagen saat melawan Chelsea. Bahkan, Diks juga bisa membuat The Blues merana di Denmark.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Chelsea Labil dan Aral Copenhagen
Chelsea belakangan tampil kurang meyakinkan. (Action Images via Reuters/Andrew Couldridge)
Superkomputer Opta memprediksi Chelsea akan lolos dari babak 16 besar UEFA Conference League 2024/2025 dengan persentase sebesar 82,6 persen.
Pada saat yang sama Opta hanya memberi angka 17,4 persen untuk kans Copenhagen lolos ke quarter final. Ini seperti jadi penegasan bahwa Chelsea di atas angin.
Sejarah mencatat, Copenhagen dan Chelsea sudah bentrok sebanyak dua kali. Duel ini terjadi pada babak 16 besar Liga Champions 2010/2011.
Dalam pertemuan di Denmark pada 23 Februari 2011, Copenhagen takluk 0-2 di kandang. Adapun laga kedua di Inggris pada 17 Maret 2011 berakhir imbang 0-0.
Namun ini semua tak bisa menjadi acuan. Performa tim yang akan menentukan hasil akhir. Dan, sekilas, performa Chelsea tak menunjukkan potensi menang.
Dalam lima laga terakhir tim asuhan Enzo Maresca ini menelan tiga kekalahan. Chelsea kalah dari Aston Villa dan dua kali dari Brighton & Hove Albion.
Pada saat yang sama Copenhagen sedang berada di jalur stabil. Tim berjulukan Løverne atau Singa tak terkalahkan dalam empat laga terakhir di semua ajang.
Venue Parken juga terbilang angker bagi tim tamu. Sebelum kalah dari Heidenheim, Copenhagen menang dalam sembilan laga beruntun di kandang.
Masalahnya, ada sedikit aral di kubu Copenhagen. Pangkalnya adalah pernyataan pemegang saham klub Lars Seier Christensen soal geopolitik Eropa-Amerika.
Kendati tak ada kaitannya dengan pemain, faktor-faktor non teknis bisa memberi dampak pada psikologis tim. Efeknya, kemenangan yang didambakan gagal diraih.
Karena itu pula dibutuhkan pemain bermental baja seperti Kevin Diks. Apakah tuah Diks akan kembali tergambar dalam laga melawan Chelsea? Asa Copenhagen sangat besar.
[Gambas:Video CNN]