Selama perhelatan Piala Asia U-17 sejak 1985, Indonesia sudah tujuh kali ambil bagian. Pencapaian terbaik negeri pecinta bola ini adalah peringkat keempat. Itu terjadi pada edisi 1990.
Setelah edisi yang berlangsung di Uni Emirat Arab tersebut, pencapaian Indonesia mundur jauh. PSSI gagal meloloskan tim dalam delapan edisi secara beruntung.
Saat kembali lolos kualifikasi pada 2008, pencapaian Indonesia tak lolos babak grup. Hal sama terulang pada edisi 2010. Kemudian gagal lolos kualifikasi kembali dalam tiga edisi beruntun.
Indonesia kembali ambil bagian dalam piramida turnamen strata terbawah AFC ini edisi 2018. Bahkan, Indonesia bisa lolos ke delapan besar dan hampir saja lolos ke semifinal.
Sempat absen pada edisi 2023 karena tak lolos kualifikasi, kini Indonesia kembali ke Piala Asia U-17 dengan gagah. Timnas Indonesia U-17 asuhan Nova Arianto main sangar.
Tak tanggung-tanggung, lawan yang dilibas adalah Korea Selatan, lantas Yaman. Dua kemenangan ini berbuah tiket lolos ke babak delapan besar sekaligus Piala Dunia U-17 2025.
Euforia pecah selepas menang 4-1 atas Yaman pada Senin (7/4) malam. Ini adalah kali pertama Indonesia lolos ke Piala Dunia U-17 melalui jalur kualifikasi dan bukan sebagai tuan rumah.
Target yang dipancang PSSI kepada Nova pun tercapai. Kini, beban di hati pemain juga telah mengendur. Namun, perjuangan sama sekali belum pantas diturunkan, apalagi dipadamkan.
Masih ada Afghanistan yang perlu disikat, dan babak delapan besar yang harus ditaklukkan. Juga pencapaian edisi 1990 yang perlu dilewati atau minimal disetarakan.
Fokus menatap pencapaian lebih besar harus dikobarkan. Bukan untuk gaya-gayaan atau busung dada, sebab ini hanya turnamen usia muda, tetapi jadi tonggak tolok ukur bangsa.
Baca lanjutan analisis ini di halaman berikutnya>>>
Piala Asia U-17 dan Piala Dunia U-17 tak boleh jadi ajang kesombongan. Banyak pemain gugur atau gagal selepas ajang prestisius ini. Dan, ini fakta.
Pencapaian tinggi di Piala Asia U-17 yang berlanjut main di Piala Dunia U-17, sering membuat sudut pandang kabur. Seolah, puncak tertinggi dunia sudah berhasil digapai. Selesai.
Nyatanya, Piala Asia U-17 dan Piala Dunia U-17 hanyalah bagian dari proses. Turnamen usia muda ini dibuat untuk mencipta tangga kematangan di masa yang akan datang.
Begitu pula kiranya anak-anak Garuda Asia, julukan Indonesia U-17. Zahaby Gholy dan kawan-kawan perlu diingatkan tentang pentingnya berjuang dan mencari pengalaman.
Prestasi usia muda, terkadang, hanya halusinasi. Mencapai perempat final Piala Asia U-17 2025 membanggakan, namun yang lebih penting bagi mereka adalah menaikkan level permainan.
Lawan yang akan dihadapi akan semakin berat dan akan terus bertambah berat. Saat fokus melemah, ketahanan turun, dan teknik serta strategi stagnan, niscaya berbuah kegagalan.
Mengenai hal ini, Nova tak main-main. Ia memproteksi para pemain dengan ketat dan bijak. Proteksi ini tak lain untuk menjauhkan pemain dari gulma-gulma pengganggu jalan sukses.
Setelah kelolosan ke Piala Dunia U-17 2025 misalnya, tak ada aksi dari para pemain di media sosial. Nova tak ingin pemain terlena atau diserang dua sisi 'mata uang' media sosial.
Nova juga telah menyatakan bakal merotasi pemain. Pemain yang belum mendapat jam terbang bakal diberi menit bermain saat melawan Afghanistan. Ini sikap bijak.
Dalam sepak bola usia muda, memberi jam terbang, apalagi di pentas internasional, merupakan langkah besar. Dari jam terbang ini pemain bisa memetik pelajaran dan pengalaman.
Dan, haus pengalaman tampil di ajang tertinggi ini harus terus dijaga dan dikobarkan. Dari pengalaman inilah sebuah prestasi bisa diraih di kemudian hari untuk Timnas Indonesia.
Selama perhelatan Piala Asia U-17 sejak 1985, Indonesia sudah tujuh kali ambil bagian. Pencapaian terbaik negeri pecinta bola ini adalah peringkat keempat. Itu terjadi pada edisi 1990.
Setelah edisi yang berlangsung di Uni Emirat Arab tersebut, pencapaian Indonesia mundur jauh. PSSI gagal meloloskan tim dalam delapan edisi secara beruntung.
Saat kembali lolos kualifikasi pada 2008, pencapaian Indonesia tak lolos babak grup. Hal sama terulang pada edisi 2010. Kemudian gagal lolos kualifikasi kembali dalam tiga edisi beruntun.
Indonesia kembali ambil bagian dalam piramida turnamen strata terbawah AFC ini edisi 2018. Bahkan, Indonesia bisa lolos ke delapan besar dan hampir saja lolos ke semifinal.
Sempat absen pada edisi 2023 karena tak lolos kualifikasi, kini Indonesia kembali ke Piala Asia U-17 dengan gagah. Timnas Indonesia U-17 asuhan Nova Arianto main sangar.
Tak tanggung-tanggung, lawan yang dilibas adalah Korea Selatan, lantas Yaman. Dua kemenangan ini berbuah tiket lolos ke babak delapan besar sekaligus Piala Dunia U-17 2025.
Euforia pecah selepas menang 4-1 atas Yaman pada Senin (7/4) malam. Ini adalah kali pertama Indonesia lolos ke Piala Dunia U-17 melalui jalur kualifikasi dan bukan sebagai tuan rumah.
Target yang dipancang PSSI kepada Nova pun tercapai. Kini, beban di hati pemain juga telah mengendur. Namun, perjuangan sama sekali belum pantas diturunkan, apalagi dipadamkan.
Masih ada Afghanistan yang perlu disikat, dan babak delapan besar yang harus ditaklukkan. Juga pencapaian edisi 1990 yang perlu dilewati atau minimal disetarakan.
Fokus menatap pencapaian lebih besar harus dikobarkan. Bukan untuk gaya-gayaan atau busung dada, sebab ini hanya turnamen usia muda, tetapi jadi tonggak tolok ukur bangsa.
Baca lanjutan analisis ini di halaman berikutnya>>>
Menjaga Rasa Haus Pengalaman
Evandra Florasta dan kawan-kawan masih harus menghadapi sederet lawan di Piala Asia U-17 2025. (dok. PSSI)
Piala Asia U-17 dan Piala Dunia U-17 tak boleh jadi ajang kesombongan. Banyak pemain gugur atau gagal selepas ajang prestisius ini. Dan, ini fakta.
Pencapaian tinggi di Piala Asia U-17 yang berlanjut main di Piala Dunia U-17, sering membuat sudut pandang kabur. Seolah, puncak tertinggi dunia sudah berhasil digapai. Selesai.
Nyatanya, Piala Asia U-17 dan Piala Dunia U-17 hanyalah bagian dari proses. Turnamen usia muda ini dibuat untuk mencipta tangga kematangan di masa yang akan datang.
Begitu pula kiranya anak-anak Garuda Asia, julukan Indonesia U-17. Zahaby Gholy dan kawan-kawan perlu diingatkan tentang pentingnya berjuang dan mencari pengalaman.
Prestasi usia muda, terkadang, hanya halusinasi. Mencapai perempat final Piala Asia U-17 2025 membanggakan, namun yang lebih penting bagi mereka adalah menaikkan level permainan.
Lawan yang akan dihadapi akan semakin berat dan akan terus bertambah berat. Saat fokus melemah, ketahanan turun, dan teknik serta strategi stagnan, niscaya berbuah kegagalan.
Mengenai hal ini, Nova tak main-main. Ia memproteksi para pemain dengan ketat dan bijak. Proteksi ini tak lain untuk menjauhkan pemain dari gulma-gulma pengganggu jalan sukses.
Setelah kelolosan ke Piala Dunia U-17 2025 misalnya, tak ada aksi dari para pemain di media sosial. Nova tak ingin pemain terlena atau diserang dua sisi 'mata uang' media sosial.
Nova juga telah menyatakan bakal merotasi pemain. Pemain yang belum mendapat jam terbang bakal diberi menit bermain saat melawan Afghanistan. Ini sikap bijak.
Dalam sepak bola usia muda, memberi jam terbang, apalagi di pentas internasional, merupakan langkah besar. Dari jam terbang ini pemain bisa memetik pelajaran dan pengalaman.
Dan, haus pengalaman tampil di ajang tertinggi ini harus terus dijaga dan dikobarkan. Dari pengalaman inilah sebuah prestasi bisa diraih di kemudian hari untuk Timnas Indonesia.