Jonatan Christie, Pelatnas Cipayung, dan Kaki yang Melangkah Pergi
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Jumat, 16 Mei 2025 17:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jonatan Christie sudah melalui banyak hal dalam kiprahnya sebagai anggota Pelatnas Cipayung. (ANTARA FOTO/FAUZAN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jonatan Christiemelewati pintu masuk Pelatnas Cipayung sebagai sosok remaja usia belasan dengan sejuta harapan. Ia kemudian keluar dengan sosok sebagai pria dewasa yang penuh pertimbangan dan perhitungan.
Cipayung di tahun 2013, lapangan tampak penuh dengan puluhan pemain-pemain Pelatnas. Saat itu tidak ada jadwal turnamen yang digelar sehingga seluruh pemain Pelatnas Cipayung yang jumlahnya di kisaran 80-an berkumpul semua di lapangan latihan.
Di pojok sebelah kanan dari pintu masuk, di situlah tempat lapangan pemain-pemain tunggal putra berlatih. Di lapangan yang lebih sudut, pemain-pemain pratama sedang digembleng dengan latihan keras.
Pratama adalah kategori yang biasa dipakai untuk pemain-pemain muda, yang baru saja terpilih masuk dalam Pelatnas Cipayung. Sedangkan Utama adalah kategori pemain-pemain yang sudah jadi wajah depan tiap nomor, diisi oleh pemain yang sudah malang-melintang di berbagai kejuaraan level tinggi.
Saat itu, kategori Utama Pelatnas Cipayung diisi nama-nama Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan dua nama yang diharapkan bisa jadi andalan generasi berikutnya yaitu Tommy Sugiarto dan Dionysius Hayom Rumbaka.
Di kategori Pratama, ada nama-nama baru seperti Jonatan Christie, Anthony Ginting, Ihsan Maulana Mustofa, dan Bayu Pangisthu. Di antara nama-nama tersebut, Jonatan yang berusia paling muda.
"Jo, udah minum susu belum?" teriak Ihsan dan Bayu bergurau saat Jonatan sedang latihan yang dilanjut dengan tawa. Saat itu Ihsan dan Bayu sudah menyelesaikan gilirannya dan menunggu antrean berikutnya.
Itu hanya satu contoh kecil kemeriahan di sektor pratama tunggal putra pada 2013 silam. Ada berbagai kemeriahan lain termasuk aksi bercanda sambil kejar-kejaran dan lainnya.
Menimbang usia pemain-pemain anyar yang baru datang saat itu, wajar rasanya terpancar nuansa ceria saat mereka berlatih di lapangan. Pemandangan itu jelas berbeda bila dibandingkan dengan sektor utama.
Namun Jonatan dan kawan-kawan saat itu sadar bahwa situasi itu tidak akan serupa selamanya. Tahun berganti, beban angkatan Jonatan makin berat. Terlebih ketika PBSI membuat langkah drastis melakukan potong generasi dan langsung memajukan generasi Jonatan untuk digembleng dan ditempa sebagai andalan, melangkahi generasi-generasi di atas mereka.
Terlebih, generasi Jonatan adalah generasi yang bisa dibilang terkenal bahkan di saat mereka belum resmi masuk ke Pelatnas Cipayung.
Dari situlah, beban-beban pemain muda ini makin terasa berat. Seiring usia mereka bertambah, mereka diceburkan ke turnamen-turnamen yang berisi pemain-pemain yang lebih berpengalaman. Beban berat mulai ditanggung oleh pundak-pundak mereka, termasuk Jonatan. Mulai dari tampil di SEA Games dan dipercaya masuk skuad Thomas Cup.
Jonatan muda berhadapan dengan beban yang berat tetapi ia bisa memberikan jawaban dengan baik. Jonatan, Ginting, dan Ihsan ikut jadi bagian dari Tim Indonesia yang mampu menembus final Thomas Cup 2016.
Setahun kemudian, Jonatan mampu merebut medali emas SEA Games di usia 20. Tak lama berselang, Jonatan mampu mengukir namanya sebagai pemenang medali emas Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta.
Keberhasilan Jonatan Christie memenangkan emas Asian Games 2018 membuat namanya melejit dan dikenal banyak orang. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Prestasi inilah yang mengangkat nama Jonatan setinggi-tingginya. Ia yang sebelumnya sudah dikenal luas di kalangan penggemar badminton, menjadi makin dikenal oleh masyarakat umum seiring demam Asian Games 2018 yang memang benar-benar melanda Indonesia.
Sejak leher Jonatan dikalungi emas Asian Games, di situlah harapan yang sangat besar pada Jonatan tersemat diiringi beban yang terus menjadi lebih berat.
Tahun demi tahun berlalu, Jonatan terus berjalan. Meski teman-teman seangkatannya perlahan mulai menghilang dan tinggal menyisakan Anthony Ginting.
Sejumlah prestasi penting ia torehkan, mulai dari membawa Indonesia juara Thomas Cup setelah 19 tahun penantian, merebut gelar juara Asia, hingga memenangkan All England.
Jonatan juga jadi salah satu sosok yang menghadirkan gelombang baru penonton-penonton dan suporter bulu tangkis di Indonesia. Hal itu terjadi di momen Asian Games 2018 dan Thomas Cup 2020 di 2021.
Di luar prestasi gemilang itu, tak dimungkiri ada banyak pihak yang tetap menganggap Jonatan tidak memenuhi ekspetasi tinggi yang diharapkan banyak orang setelah Jonatan memenangkan medali emas Asian Games 2018.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Tujuh tahun berselang sejak momen Asian Games 2018, Jonatan memutuskan untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya. Jonatan memilih untuk berjuang di jalur mandiri di luar Pelatnas Cipayung atau yang lebih sering disebut sebagai pemain profesional.
Dalam pengumuman keputusan Jonatan keluar Pelatnas Cipayung, nada bicara Jonatan tetap tenang. Sejak usia belasan, Jonatan memang piawai dalam hal berbicara di depan umum termasuk media.
Ketika usia belasan, pembicaraan berkisar tentang dirinya dan harapan-harapan besar dalam kariernya. Kini, Jonatan tetap berbicara dengan tenang dan intonasi jelas saat membicarakan mimpi-mimpi yang masih bergelora dalam dirinya, tetapi ada banyak ucapan dan cerita yang didasarkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Pilihan menjadi pemain di jalur mandiri di luar Pelatnas Cipayung ini ibarat jalan tengah dari kemungkinan paling mengejutkan yang diambil Jonatan selepas Olimpiade Paris 2024 yaitu memilih pensiun dari dunia badminton.
Dengan statusnya kini sudah berkeluarga, Jonatan butuh waktu yang lebih fleksibel untuk menyusun program latihan. Hal itu bisa dilakukan bila ia menjadi pemain profesional di luar Pelatnas Cipayung dibanding harus meminta keringanan dan melanggar peraturan-peraturan yang sudah disepakati bersama dalam sesi latihan tunggal putra.
Meski tidak terucap secara langsung, keputusan Jonatan mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung juga bisa berarti memberi peluang lebih besar bagi pemain-pemain junior untuk tampil ke depan menggenggam tanggung jawab sekaligus beban dan juga menghadapi sorotan-sorotan tajam.
Jonatan Christie telah melalui perjalanan panjang sebagai anggota Pelatnas Cipayung, mulai dari kelompok paling muda hingga menjadi jajaran pemain paling senior. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar)
Selama ada Jonatan di Pelatnas Cipayung, pemain-pemain junior tersebut tidak akan sepenuhnya terpapar tekanan dan beban. Jonatan bakal berdiri di depan mereka sebagai sosok yang lebih dulu bakal diserang dan mendapat sorotan.
Jonatan sudah menghabiskan 12 tahun di Pelatnas Cipayung untuk tumbuh dan berkembang. Mulai sebagai pemain muda yang dikelilingi harapan hingga akhirnya jadi pemain andalan yang dikerubungi pujian sekaligus hujatan.
Dengan mengambil keputusan berlatih dan membiayai segala sesuatunya dari kantong pribadi, Jonatan seperti ingin menumbuhkan motivasi baru dalam dirinya. Bila tetap di Pelatnas Cipayung, Jonatan memang masih ada di zona aman dan nyaman, tetap jadi pemain nomor satu Indonesia meskipun ia terkadang terkena kejutan dan kalah di babak awal
Setelah keluar dari Pelatnas Cipayung, Jonatan kini tentu harus berhitung soal pengeluaran dan pendapatan, tak lagi seperti saat ia berlatih di Cipayung. Ada motivasi dalam dirinya untuk unjuk gigi dan membuktikan diri, dengan metode baru berlatih di luar yang secara psikologis membuatnya lebih nyaman karena punya lebih banyak waktu untuk keluarga.
Dengan cara-cara baru, bisa saja Jonatan mengumpulkan kepingan-kepingan yang selama ini belum didapatkannya termasuk medali Kejuaraan Dunia atau bahkan dalam rentang yang lebih panjang yaitu medali Olimpiade. Jalan menuju ke sana memang berat, tetapi ada satu modal yang sudah ia miliki, yaitu keyakinan bahwa motivasinya masih tinggi.
Januari 2013, Jonatan resmi masuk jadi bagian dari Pelatnas Cipayung. Ia datang sebagai pemain muda berusia belasan dengan wajah berseri-seri penuh harapan.
Mei 2025, Jonatan resmi keluar dari Pelatnas Cipayung. Ia pergi dengan punggung yang seolah bisa bercerita bahwa dirinya telah berusaha melakukan banyak hal untuk mengharumkan Indonesia.
Jonatan Christiemelewati pintu masuk Pelatnas Cipayung sebagai sosok remaja usia belasan dengan sejuta harapan. Ia kemudian keluar dengan sosok sebagai pria dewasa yang penuh pertimbangan dan perhitungan.
Cipayung di tahun 2013, lapangan tampak penuh dengan puluhan pemain-pemain Pelatnas. Saat itu tidak ada jadwal turnamen yang digelar sehingga seluruh pemain Pelatnas Cipayung yang jumlahnya di kisaran 80-an berkumpul semua di lapangan latihan.
Di pojok sebelah kanan dari pintu masuk, di situlah tempat lapangan pemain-pemain tunggal putra berlatih. Di lapangan yang lebih sudut, pemain-pemain pratama sedang digembleng dengan latihan keras.
Pratama adalah kategori yang biasa dipakai untuk pemain-pemain muda, yang baru saja terpilih masuk dalam Pelatnas Cipayung. Sedangkan Utama adalah kategori pemain-pemain yang sudah jadi wajah depan tiap nomor, diisi oleh pemain yang sudah malang-melintang di berbagai kejuaraan level tinggi.
Saat itu, kategori Utama Pelatnas Cipayung diisi nama-nama Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, dan dua nama yang diharapkan bisa jadi andalan generasi berikutnya yaitu Tommy Sugiarto dan Dionysius Hayom Rumbaka.
Di kategori Pratama, ada nama-nama baru seperti Jonatan Christie, Anthony Ginting, Ihsan Maulana Mustofa, dan Bayu Pangisthu. Di antara nama-nama tersebut, Jonatan yang berusia paling muda.
"Jo, udah minum susu belum?" teriak Ihsan dan Bayu bergurau saat Jonatan sedang latihan yang dilanjut dengan tawa. Saat itu Ihsan dan Bayu sudah menyelesaikan gilirannya dan menunggu antrean berikutnya.
Itu hanya satu contoh kecil kemeriahan di sektor pratama tunggal putra pada 2013 silam. Ada berbagai kemeriahan lain termasuk aksi bercanda sambil kejar-kejaran dan lainnya.
Menimbang usia pemain-pemain anyar yang baru datang saat itu, wajar rasanya terpancar nuansa ceria saat mereka berlatih di lapangan. Pemandangan itu jelas berbeda bila dibandingkan dengan sektor utama.
Namun Jonatan dan kawan-kawan saat itu sadar bahwa situasi itu tidak akan serupa selamanya. Tahun berganti, beban angkatan Jonatan makin berat. Terlebih ketika PBSI membuat langkah drastis melakukan potong generasi dan langsung memajukan generasi Jonatan untuk digembleng dan ditempa sebagai andalan, melangkahi generasi-generasi di atas mereka.
Terlebih, generasi Jonatan adalah generasi yang bisa dibilang terkenal bahkan di saat mereka belum resmi masuk ke Pelatnas Cipayung.
Dari situlah, beban-beban pemain muda ini makin terasa berat. Seiring usia mereka bertambah, mereka diceburkan ke turnamen-turnamen yang berisi pemain-pemain yang lebih berpengalaman. Beban berat mulai ditanggung oleh pundak-pundak mereka, termasuk Jonatan. Mulai dari tampil di SEA Games dan dipercaya masuk skuad Thomas Cup.
Jonatan muda berhadapan dengan beban yang berat tetapi ia bisa memberikan jawaban dengan baik. Jonatan, Ginting, dan Ihsan ikut jadi bagian dari Tim Indonesia yang mampu menembus final Thomas Cup 2016.
Setahun kemudian, Jonatan mampu merebut medali emas SEA Games di usia 20. Tak lama berselang, Jonatan mampu mengukir namanya sebagai pemenang medali emas Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta.
Keberhasilan Jonatan Christie memenangkan emas Asian Games 2018 membuat namanya melejit dan dikenal banyak orang. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Prestasi inilah yang mengangkat nama Jonatan setinggi-tingginya. Ia yang sebelumnya sudah dikenal luas di kalangan penggemar badminton, menjadi makin dikenal oleh masyarakat umum seiring demam Asian Games 2018 yang memang benar-benar melanda Indonesia.
Sejak leher Jonatan dikalungi emas Asian Games, di situlah harapan yang sangat besar pada Jonatan tersemat diiringi beban yang terus menjadi lebih berat.
Tahun demi tahun berlalu, Jonatan terus berjalan. Meski teman-teman seangkatannya perlahan mulai menghilang dan tinggal menyisakan Anthony Ginting.
Sejumlah prestasi penting ia torehkan, mulai dari membawa Indonesia juara Thomas Cup setelah 19 tahun penantian, merebut gelar juara Asia, hingga memenangkan All England.
Jonatan juga jadi salah satu sosok yang menghadirkan gelombang baru penonton-penonton dan suporter bulu tangkis di Indonesia. Hal itu terjadi di momen Asian Games 2018 dan Thomas Cup 2020 di 2021.
Di luar prestasi gemilang itu, tak dimungkiri ada banyak pihak yang tetap menganggap Jonatan tidak memenuhi ekspetasi tinggi yang diharapkan banyak orang setelah Jonatan memenangkan medali emas Asian Games 2018.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Jonatan Christie dan Asa yang Tak Dibiarkan Mati
Jonatan Christie telah memberikan banyak contoh untuk pemain-pemain juniornya di Pelatnas Cipayung. ( Arsip PBSI)
Tujuh tahun berselang sejak momen Asian Games 2018, Jonatan memutuskan untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya. Jonatan memilih untuk berjuang di jalur mandiri di luar Pelatnas Cipayung atau yang lebih sering disebut sebagai pemain profesional.
Dalam pengumuman keputusan Jonatan keluar Pelatnas Cipayung, nada bicara Jonatan tetap tenang. Sejak usia belasan, Jonatan memang piawai dalam hal berbicara di depan umum termasuk media.
Ketika usia belasan, pembicaraan berkisar tentang dirinya dan harapan-harapan besar dalam kariernya. Kini, Jonatan tetap berbicara dengan tenang dan intonasi jelas saat membicarakan mimpi-mimpi yang masih bergelora dalam dirinya, tetapi ada banyak ucapan dan cerita yang didasarkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Pilihan menjadi pemain di jalur mandiri di luar Pelatnas Cipayung ini ibarat jalan tengah dari kemungkinan paling mengejutkan yang diambil Jonatan selepas Olimpiade Paris 2024 yaitu memilih pensiun dari dunia badminton.
Dengan statusnya kini sudah berkeluarga, Jonatan butuh waktu yang lebih fleksibel untuk menyusun program latihan. Hal itu bisa dilakukan bila ia menjadi pemain profesional di luar Pelatnas Cipayung dibanding harus meminta keringanan dan melanggar peraturan-peraturan yang sudah disepakati bersama dalam sesi latihan tunggal putra.
Meski tidak terucap secara langsung, keputusan Jonatan mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung juga bisa berarti memberi peluang lebih besar bagi pemain-pemain junior untuk tampil ke depan menggenggam tanggung jawab sekaligus beban dan juga menghadapi sorotan-sorotan tajam.
Jonatan Christie telah melalui perjalanan panjang sebagai anggota Pelatnas Cipayung, mulai dari kelompok paling muda hingga menjadi jajaran pemain paling senior. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar)
Selama ada Jonatan di Pelatnas Cipayung, pemain-pemain junior tersebut tidak akan sepenuhnya terpapar tekanan dan beban. Jonatan bakal berdiri di depan mereka sebagai sosok yang lebih dulu bakal diserang dan mendapat sorotan.
Jonatan sudah menghabiskan 12 tahun di Pelatnas Cipayung untuk tumbuh dan berkembang. Mulai sebagai pemain muda yang dikelilingi harapan hingga akhirnya jadi pemain andalan yang dikerubungi pujian sekaligus hujatan.
Dengan mengambil keputusan berlatih dan membiayai segala sesuatunya dari kantong pribadi, Jonatan seperti ingin menumbuhkan motivasi baru dalam dirinya. Bila tetap di Pelatnas Cipayung, Jonatan memang masih ada di zona aman dan nyaman, tetap jadi pemain nomor satu Indonesia meskipun ia terkadang terkena kejutan dan kalah di babak awal
Setelah keluar dari Pelatnas Cipayung, Jonatan kini tentu harus berhitung soal pengeluaran dan pendapatan, tak lagi seperti saat ia berlatih di Cipayung. Ada motivasi dalam dirinya untuk unjuk gigi dan membuktikan diri, dengan metode baru berlatih di luar yang secara psikologis membuatnya lebih nyaman karena punya lebih banyak waktu untuk keluarga.
Dengan cara-cara baru, bisa saja Jonatan mengumpulkan kepingan-kepingan yang selama ini belum didapatkannya termasuk medali Kejuaraan Dunia atau bahkan dalam rentang yang lebih panjang yaitu medali Olimpiade. Jalan menuju ke sana memang berat, tetapi ada satu modal yang sudah ia miliki, yaitu keyakinan bahwa motivasinya masih tinggi.
Januari 2013, Jonatan resmi masuk jadi bagian dari Pelatnas Cipayung. Ia datang sebagai pemain muda berusia belasan dengan wajah berseri-seri penuh harapan.
Mei 2025, Jonatan resmi keluar dari Pelatnas Cipayung. Ia pergi dengan punggung yang seolah bisa bercerita bahwa dirinya telah berusaha melakukan banyak hal untuk mengharumkan Indonesia.