Duel Tottenham vs MU akan berlangsung di Stadion San Mames, Bilbao, Spanyol pada Rabu (21/5) atau Kamis (22/5) dini hari WIB. Ange Postecoglou, pelatih Tottenham, kembali diambang sejarah.
'Berilah kepercayaan minimal dua musim dan Ange Postecoglou akan memberimu gelar'. Premis itu sedikit lagi akan kembali jadi kenyataan. Setidaknya itu yang dijanjikan pria Australia ini.
"Saya selalu memenangkan banyak hal di tahun kedua saya," kata Postecoglou pada awal musim ini berkaca dari gelar di South Melbourne, timnas Australia, Brisbane Roar, Yokohama F Marinos, dan Celtic.
Sejarah mencatat, minimal satu gelar diraih pria 59 tahun ini di tahun keduanya melatih sebuah tim. Kebetulan pula belum ada gelar yang diraihnya bersama Tottenham sejak bergabung pada 2023.
Sebelum ke final, Tottenham yang tampil melempem di Premier League, begitu ganas di Europa League. Son Heung Min dan kawan-kawan hanya sekali kalah dari 16 laga. Statistiknya, 27 gol dan 13 kebobolan.
Si Bunga Bakung Putih (The Lilywhites), juga sangat haus gelar. Trofi terakhir yang berhasil diraih tim asal London Utara ini adalah Piala Liga 2007-2008. Sudah 16 tahun berlalu.
Europa League atau dulunya bernama UEFA Cup adalah taman bermain Tottenham. Tim berlogo ayam jantan ini merupakan juara edisi perdana UEFA Cup pada musim 1971/1972.
Setelah terakhir kali juara pada edisi 1983/1984, Tottenham akhirnya kembali mencapai partai final. Bertemu sesama Inggris, Manchester United, Tottenham percaya diri bakal naik podium juara.
Musim ini, sudah tiga kali Tottenham dan MU bentrok. Hasilnya, menang 3-0 dan 1-0 di pentas Liga Inggris dan menang dramatis 4-3 di perempat final Piala Liga Inggris.
Satu-satunya kewaspadaan Tottenham di final ini adalah statistik mentereng sang rival. Jika Tottenham kalah sekali dari 16 laga, Man Utd sama sekali tak terkalahkan.
Bada di halaman berikutnya>>>
Musim ini, begitu Ruben Amorim didatangkan, ada secercah harapan di kubu Manchester United. Namun, seberkas cahaya terang itu perlahan redup.
Performa pemain Setan Merah tak menggambarkan adanya peningkatan. Malahan, posisi MU di papan klasemen Liga Inggris terus melorot dan hampir saja terdegradasi ke Championship.
Di tengah-tengah situasi pahit itu, Deoxyribonucleic Acid atau DNA Eropa Manchester United mencuat. Seperti punya mental baja, penampilan Bruno Fernandes dan kawan-kawan menggembirakan di kontinental.
Mereka tak terkalahkan dalam 16 pertandingan Europa League musim ini. Yang menggembirakan bagi kubu Man Utd, lawan yang akan dihadapi pada partai final adalah sesama tim badut Liga Inggris, Tottenham.
Sejarah mencatat, Man United punya tradisi bagus saat melawan sesama tim asal Inggris di pentas kontinental. Final Liga Champions Eropa 2007/2008 melawan Chelsea adalah bukti sahihnya.
Saat itu MU dan Chelsea bersaing ketat di Liga Premier. Akhirnya MU juara berkat selisih dua poin. Adapun pada final Liga Champions, Man Utd juara berkat keberuntungan adu penalti.
Man Utd juga punya sejarah di Europa League, yang sejatinya bukan habitat asli mereka. Pada musim 2016/2017, MU untuk pertama kalinya meraih gelar Europa League usai menumpas Ajax Amsterdam.
Fakta ini yang membuat Amorim percaya diri tahun pertamanya di Old Trafford akan berbuah gelar. Memang Man Utd jadi badut di pentas domestik, tetapi bisa menjaga marwah Inggris di Eropa.
Dan, marwah inilah yang akan kembali dipertahankan. Posisi saat ini di klasemen liga, setidaknya bisa menjadi acuan. Saat ini Man Utd di posisi ke-16 dan Tottenham ke-17.
Apalagi tiga gelandang terbaik Tottenham, James Maddison, Dejan Kulusevski, dan Lucas Bergvall, yang adalah kreator gol musim ini, absen karena cedera. MU bisa saja menggila
Pada akhirnya kepercayaan diri Amorim dan tuah tahun kedua Postecoglou akan diuji di atas lapangan San Mames. Siapapun yang juara, menunjukkan punya mentalitas juara dan DNA Eropa.
Duel Tottenham vs MU akan berlangsung di Stadion San Mames, Bilbao, Spanyol pada Rabu (21/5) atau Kamis (22/5) dini hari WIB. Ange Postecoglou, pelatih Tottenham, kembali diambang sejarah.
'Berilah kepercayaan minimal dua musim dan Ange Postecoglou akan memberimu gelar'. Premis itu sedikit lagi akan kembali jadi kenyataan. Setidaknya itu yang dijanjikan pria Australia ini.
"Saya selalu memenangkan banyak hal di tahun kedua saya," kata Postecoglou pada awal musim ini berkaca dari gelar di South Melbourne, timnas Australia, Brisbane Roar, Yokohama F Marinos, dan Celtic.
Sejarah mencatat, minimal satu gelar diraih pria 59 tahun ini di tahun keduanya melatih sebuah tim. Kebetulan pula belum ada gelar yang diraihnya bersama Tottenham sejak bergabung pada 2023.
Sebelum ke final, Tottenham yang tampil melempem di Premier League, begitu ganas di Europa League. Son Heung Min dan kawan-kawan hanya sekali kalah dari 16 laga. Statistiknya, 27 gol dan 13 kebobolan.
Si Bunga Bakung Putih (The Lilywhites), juga sangat haus gelar. Trofi terakhir yang berhasil diraih tim asal London Utara ini adalah Piala Liga 2007-2008. Sudah 16 tahun berlalu.
Europa League atau dulunya bernama UEFA Cup adalah taman bermain Tottenham. Tim berlogo ayam jantan ini merupakan juara edisi perdana UEFA Cup pada musim 1971/1972.
Setelah terakhir kali juara pada edisi 1983/1984, Tottenham akhirnya kembali mencapai partai final. Bertemu sesama Inggris, Manchester United, Tottenham percaya diri bakal naik podium juara.
Musim ini, sudah tiga kali Tottenham dan MU bentrok. Hasilnya, menang 3-0 dan 1-0 di pentas Liga Inggris dan menang dramatis 4-3 di perempat final Piala Liga Inggris.
Satu-satunya kewaspadaan Tottenham di final ini adalah statistik mentereng sang rival. Jika Tottenham kalah sekali dari 16 laga, Man Utd sama sekali tak terkalahkan.
Bada di halaman berikutnya>>>
DNA Eropa Setan Marah Penentu
Tottenham Hotspur dan Manchester United incar trofi pertama musim ini di final Liga Europa. (REUTERS/Matthew Childs(
Musim ini, begitu Ruben Amorim didatangkan, ada secercah harapan di kubu Manchester United. Namun, seberkas cahaya terang itu perlahan redup.
Performa pemain Setan Merah tak menggambarkan adanya peningkatan. Malahan, posisi MU di papan klasemen Liga Inggris terus melorot dan hampir saja terdegradasi ke Championship.
Di tengah-tengah situasi pahit itu, Deoxyribonucleic Acid atau DNA Eropa Manchester United mencuat. Seperti punya mental baja, penampilan Bruno Fernandes dan kawan-kawan menggembirakan di kontinental.
Mereka tak terkalahkan dalam 16 pertandingan Europa League musim ini. Yang menggembirakan bagi kubu Man Utd, lawan yang akan dihadapi pada partai final adalah sesama tim badut Liga Inggris, Tottenham.
Sejarah mencatat, Man United punya tradisi bagus saat melawan sesama tim asal Inggris di pentas kontinental. Final Liga Champions Eropa 2007/2008 melawan Chelsea adalah bukti sahihnya.
Saat itu MU dan Chelsea bersaing ketat di Liga Premier. Akhirnya MU juara berkat selisih dua poin. Adapun pada final Liga Champions, Man Utd juara berkat keberuntungan adu penalti.
Man Utd juga punya sejarah di Europa League, yang sejatinya bukan habitat asli mereka. Pada musim 2016/2017, MU untuk pertama kalinya meraih gelar Europa League usai menumpas Ajax Amsterdam.
Fakta ini yang membuat Amorim percaya diri tahun pertamanya di Old Trafford akan berbuah gelar. Memang Man Utd jadi badut di pentas domestik, tetapi bisa menjaga marwah Inggris di Eropa.
Dan, marwah inilah yang akan kembali dipertahankan. Posisi saat ini di klasemen liga, setidaknya bisa menjadi acuan. Saat ini Man Utd di posisi ke-16 dan Tottenham ke-17.
Apalagi tiga gelandang terbaik Tottenham, James Maddison, Dejan Kulusevski, dan Lucas Bergvall, yang adalah kreator gol musim ini, absen karena cedera. MU bisa saja menggila
Pada akhirnya kepercayaan diri Amorim dan tuah tahun kedua Postecoglou akan diuji di atas lapangan San Mames. Siapapun yang juara, menunjukkan punya mentalitas juara dan DNA Eropa.