Menanti Sihir Vanenburg Bawa 'Tunas' Timnas Indonesia di AFF U-23
Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Selasa, 24 Jun 2025 19:41 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Gerald Vanenburg jadi sosok yang dipercaya menangani tim muda Timnas Indonesia. (Arsip PSSI)
Gerald Vanenburg memanggil 30 nama dalam pemusatan latihan di Jakarta. Hanya Jens Raven sebagai pemain diaspora yang tercantum. Hal ini justru dipandang sebelah mata oleh sebagian pihak.
Cibiran datang dari media tetangga, Vietnam. Tak ada Welber Jardim, Dion Markx, dan Tim Geypens dipandang sebagai kesalahan.
Memang tak ada nama sebesar Marselino Ferdinan, Rafael Struick, Justin Hubner, Ivar Jenner, dan Ramadhan Sananta. Tentunya Vanenburg punya alasan kuat.
Lima pemain yang disebutkan sudah berada di level senior. Tak hanya label, mereka sudah mencatat setidaknya 15 caps untuk Timnas Indonesia di ajang penting.
Piala AFF U-23 yang tak masuk kalender FIFA juga jadi pertimbangan. Piala AFF senior juga tak ada kewajiban klub memberikan pemainnya ke tim nasional.
Karena itu, tak adanya pemain mentereng bukan berarti tim otomatis rombeng. Sebab komposisi pemain yang ada punya kualitas menjanjikan.
Kadek Arel menjadi salah satu pemain muda yang kini menjadi pilar di Timnas Indonesia U-23. (ANTARA FOTO /MOHAMMAD AYUDHA)
Terdapat tujuh pemain yang pernah memperkuat Timnas senior. Mereka adalah Hokky Caraka, Kadek Arel, Dony Tri Pamungkas, Victor Dethan, Rayhan Hannan, Daffa Fasya, dan Muhammad Ferarri.
Lalu pemain jebolan Timnas Indonesia U-19 juga punya potensi. Nama-nama seperti Muhammad Rayhan Hannan, Arkhan Fikri, Achmad Maulana, dan Alfharezzi Buffon juga berkualitas.
Seperti kata pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Vanenburg harus cuek dengan komentar negatif seperti itu. Ia perlu percaya penuh pada pilihannya sendiri.
Per Senin (23/6), ada 28 pemain yang hadir. Dua pemain yang belum datang adalah Husna Al Malik dan Putra Sheva Sanggasi. Mereka sama-sama kiper.
Mayoritas pemain yang sudah hadir dalam pemusatan latihan di Jakarta membuat program berjalan optimal. Karena itu Vanenburg bisa memulai sesi yang lebih intensif usai fokus pada aspek kebugaran sejak TC bergulir pada 20 Juni lalu.
Tentunya pola lebih intens akan digenjot seiring Hari H yang kian dekat. Sebagai turnamen perdana Vanenburg sebagai pelatih Timnas Indonesia U-23, Piala AFF U-23 adalah pembuktian pertamanya.
Timnas Indonesia U-23 ibarat tunas dalam pengembangbiakan vegetatif. Secara umum, tunas adalah tanaman yang baru tumbuh. Dengan perawatan yang baik, tunas akan terus berkembang hingga menjadi tanaman utuh yang bisa berbuah.
Analogi ini serupa dengan kelompok usia U-23 yang secara pengalaman relatif belum banyak mengecap asam garam, namun pemain-pemain yang masuk ke dalam tim adalah mereka yang punya potensi untuk terus tumbuh.
Peran pelatih jadi salah satu aspek penting dalam pembinaan pemain U-23 untuk terus berkembang. Sebab banyak di antara pemain yang butuh jam terbang demi menyerap pengalaman.
Piala AFF U-23 adalah turnamen pijakan untuk level turnamen yang lebih tinggi, dalam hal ini Piala Asia U-23. Anak tangga bisa naik lagi karena Piala Asia U-23 dapat jadi pijakan menuju Olimpiade.
Karena itu Indonesia tak bisa mengenyahkan Piala AFF U-23 dari proses pembinaan. Sebab bukan tak mungkin, pemain yang pernah merumput di kompetisi level Asia Tenggara akan jadi 'orang' bagi Timnas Indonesia.
Ernando Ari dan Beckham Putra adalah contoh terdekat pemain yang melesat bersama Timnas Indonesia. Keduanya adalah tumpuan Garuda Muda di Piala AFF U-23 2023 lalu.
Selain fokus pada pembinaan, Piala AFF U-23 juga bisa jadi acuan jika bicara prestasi usia muda. Kebetulan Indonesia punya rekam jejak positif.
Dari empat edisi yang sudah bergulir, tim Merah Putih menyimpan satu gelar saat pasukan yang dipimpin Indra Sjafri jadi kampiun pada 2019.
Indonesia hampir jadi juara pada edisi terakhir dua tahun lalu. Kesebelasan yang dipimpin Shin Tae Yong menembus final, tapi kalah dari Vietnam di babak adu penalti.
Kini Indonesia jadi tuan rumah Piala AFF U-23 untuk pertama kalinya setelah edisi 2011 batal terlaksana. Juara tentu jadi harapan publik jika bicara turnamen level regional, terlebih jadi penyelenggara.
Timnas Indonesia U-23 bergabung di Grup A bersama Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam. Ketiga lawan itu tidak bisa dipandang remeh, tapi lolos ke babak semifinal tentu jadi pencapaian minimal sebagai tuan rumah dan Vanenburg harus bisa melakukannya.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Dipandang Sebelah Mata, Cuek Saja Vanenburg
Gerald Vanenburg jadi sosok yang dipercaya menangani tim muda Timnas Indonesia. (Arsip PSSI)
Gerald Vanenburg memanggil 30 nama dalam pemusatan latihan di Jakarta. Hanya Jens Raven sebagai pemain diaspora yang tercantum. Hal ini justru dipandang sebelah mata oleh sebagian pihak.
Cibiran datang dari media tetangga, Vietnam. Tak ada Welber Jardim, Dion Markx, dan Tim Geypens dipandang sebagai kesalahan.
Memang tak ada nama sebesar Marselino Ferdinan, Rafael Struick, Justin Hubner, Ivar Jenner, dan Ramadhan Sananta. Tentunya Vanenburg punya alasan kuat.
Lima pemain yang disebutkan sudah berada di level senior. Tak hanya label, mereka sudah mencatat setidaknya 15 caps untuk Timnas Indonesia di ajang penting.
Piala AFF U-23 yang tak masuk kalender FIFA juga jadi pertimbangan. Piala AFF senior juga tak ada kewajiban klub memberikan pemainnya ke tim nasional.
Karena itu, tak adanya pemain mentereng bukan berarti tim otomatis rombeng. Sebab komposisi pemain yang ada punya kualitas menjanjikan.
Kadek Arel menjadi salah satu pemain muda yang kini menjadi pilar di Timnas Indonesia U-23. (ANTARA FOTO /MOHAMMAD AYUDHA)
Terdapat tujuh pemain yang pernah memperkuat Timnas senior. Mereka adalah Hokky Caraka, Kadek Arel, Dony Tri Pamungkas, Victor Dethan, Rayhan Hannan, Daffa Fasya, dan Muhammad Ferarri.
Lalu pemain jebolan Timnas Indonesia U-19 juga punya potensi. Nama-nama seperti Muhammad Rayhan Hannan, Arkhan Fikri, Achmad Maulana, dan Alfharezzi Buffon juga berkualitas.
Seperti kata pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Vanenburg harus cuek dengan komentar negatif seperti itu. Ia perlu percaya penuh pada pilihannya sendiri.
Per Senin (23/6), ada 28 pemain yang hadir. Dua pemain yang belum datang adalah Husna Al Malik dan Putra Sheva Sanggasi. Mereka sama-sama kiper.
Mayoritas pemain yang sudah hadir dalam pemusatan latihan di Jakarta membuat program berjalan optimal. Karena itu Vanenburg bisa memulai sesi yang lebih intensif usai fokus pada aspek kebugaran sejak TC bergulir pada 20 Juni lalu.
Tentunya pola lebih intens akan digenjot seiring Hari H yang kian dekat. Sebagai turnamen perdana Vanenburg sebagai pelatih Timnas Indonesia U-23, Piala AFF U-23 adalah pembuktian pertamanya.