Perjuangan Safira Ika dan kawan-kawan bak Layar Terkembang, novel Sutan Takdir Alisjahbana. Novel ini bercerita soal perjuangan wanita Indonesia dalam menggapai cita dan cinta.
Begitu pula tim nasional sepak bola putri Indonesia di pentas menuju Piala Asia. Asa untuk meraih tiket ke pentas benua begitu besar, tetapi jalan yang harus dilalui sepertinya begitu terjal.
Pada laga pertama kualifikasi, Garuda Pertiwi hanya menang 1-0 atas Kirgistan. Gol semata wayang Indonesia dilesakkan Isa Guusje Warps yang menjalani debut bersama Merah Putih.
Sepanjang 90 menit pertandingan, Indonesia kepayahan menembus pertahanan Kirgistan. Saat lawan kehilangan fokus, karena situasi panas di lapangan, gol baru bisa tercipta.
Perang psikologis, kata pelatih Kirgistan, adalah bagian dari permainan. Sadar atau tidak, sengaja atau bukan, situasi itu yang membuat Indonesia bisa mencuri satu gol.
Pada hari yang sama, Taiwan menang telak 8-0 atas Pakistan. Juara Piala Asia tiga kali ini tampil solid. Kualitas sepak bola tim peringkat ke-42 FIFA ini tampak di atas rata-rata kontestan Grup D.
Dari dua pertandingan ini, sekilas, Taiwan yang akan melaju ke putaran final Piala Asia 2026 dari Grup D. Sepertinya tim asuhan Satoru Mochizuki hanya akan jadi runner up grup.
Namun, sepak bola tak mengenal hukum seperti itu. Catatan di atas kertas dan gambaran di atas lapangan boleh saja memihak Taiwan, tetapi hasil akhir akan diketahui setelah peluit panjang.
Sebelum Indonesia dan Taiwan saling berhadapan pada Sabtu (5/7), cita-cita tampil di Piala Asia 2026 masih realistis. Logika dan realitas sepak bola tak bisa dipandang hanya dari satu laga.
Memang, ada disparitas yang nyata dalam permainan kedua tim, tetapi kans sama besarnya. Indonesia boleh saja dipandang sebelah mata, tetapi besar cintanya tak boleh dikebiri.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Zahra Muzdalifah tentu layak dikritik. Performanya sebagai bek kiri saat melawan Kirgistan tak sesuai harapan. Bahkan, kontrol pertamanya buruk.
Claudia Scheunemann sah saja dibilang linglung. Nyaris tak ada peluang yang diciptakan dara 16 tahun ini. Tembakan-tembakan jarak jauhnya yang biasanya menyengat, belum keluar.
Namun, ini bukan akhir cerita. Ini baru bab pembuka. Setidaknya ada empat babak lagi yang akan tersaji. Ada sejuta kemungkinan yang bisa tercipta dalam dua pertandingan tersisa.
Indonesia akan menghadapi Pakistan pada Rabu (2/7) dan melawan Taiwan pada Sabtu (5/7). Tentu saja Zahra bisa menggila dan Claudia berpotensi kesetanan dalam dua laga tersisa itu.
Kans ke arah itu sangat terbuka. Minimal, Satoru Mochizuki percaya itu. Pria Jepang ini menyiratkan performa anak asuhnya bisa lebih; bisa meningkat; bisa menggila; bisa luar biasa.
Pemain lain, seperti Helsya Maeisyaroh dan Sydney Sari Hopper, juga belum dioptimalkan. Kecerdikan pelatih yang biasa disapa Mochi ini akan menentukan tabir kejutan akan terbuka atau tidak.
Satu yang pasti, gelombang cinta dari Timnas Putri Indonesia telah dilepas ke medan magnet. Putik-putik cinta mereka butuh getaran cinta dari tribune stadion, tempat penonton menyaksikan.
Sebab, getaran cinta dari tribune bisa mengangkat gelora di hati dan dada pemain Indonesia. Pada saat yang sama otak dan psikologi lawan bisa tertekan dengan begitu dahsyatnya.
Safira Ika, Felicia Victoria de Zeeuw, Isa Guusje Warps, juga Gea Yumanda, butuh dukungan moril. Disparitas antara Indonesia dan Taiwan sangat nyata, tetapi itu bisa jadi ilusi.
Itulah ilusi laga pembuka. Dari atas, air memang tampak jernih berkilauan, tetapi di dalamnya ada apa tak bisa diterka. Indonesia bisa jadi seperti itu bagi lawan-lawannya.
Kini, layar Timnas Putri Indonesia menuju benua Asia sudah terkembang. Badai bisa saja datang, tetapi rasa takut tak perlu dibesarkan. Jangan biarkan mereka kesepian. Ayo, ramaikan!
Perjuangan Safira Ika dan kawan-kawan bak Layar Terkembang, novel Sutan Takdir Alisjahbana. Novel ini bercerita soal perjuangan wanita Indonesia dalam menggapai cita dan cinta.
Begitu pula tim nasional sepak bola putri Indonesia di pentas menuju Piala Asia. Asa untuk meraih tiket ke pentas benua begitu besar, tetapi jalan yang harus dilalui sepertinya begitu terjal.
Pada laga pertama kualifikasi, Garuda Pertiwi hanya menang 1-0 atas Kirgistan. Gol semata wayang Indonesia dilesakkan Isa Guusje Warps yang menjalani debut bersama Merah Putih.
Sepanjang 90 menit pertandingan, Indonesia kepayahan menembus pertahanan Kirgistan. Saat lawan kehilangan fokus, karena situasi panas di lapangan, gol baru bisa tercipta.
Perang psikologis, kata pelatih Kirgistan, adalah bagian dari permainan. Sadar atau tidak, sengaja atau bukan, situasi itu yang membuat Indonesia bisa mencuri satu gol.
Pada hari yang sama, Taiwan menang telak 8-0 atas Pakistan. Juara Piala Asia tiga kali ini tampil solid. Kualitas sepak bola tim peringkat ke-42 FIFA ini tampak di atas rata-rata kontestan Grup D.
Dari dua pertandingan ini, sekilas, Taiwan yang akan melaju ke putaran final Piala Asia 2026 dari Grup D. Sepertinya tim asuhan Satoru Mochizuki hanya akan jadi runner up grup.
Namun, sepak bola tak mengenal hukum seperti itu. Catatan di atas kertas dan gambaran di atas lapangan boleh saja memihak Taiwan, tetapi hasil akhir akan diketahui setelah peluit panjang.
Sebelum Indonesia dan Taiwan saling berhadapan pada Sabtu (5/7), cita-cita tampil di Piala Asia 2026 masih realistis. Logika dan realitas sepak bola tak bisa dipandang hanya dari satu laga.
Memang, ada disparitas yang nyata dalam permainan kedua tim, tetapi kans sama besarnya. Indonesia boleh saja dipandang sebelah mata, tetapi besar cintanya tak boleh dikebiri.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Gelombang Cinta Garuda Pertiwi
Kemenangan atas Kirgistan hadirkan harapan kebangkitan Timnas Putri Indonesia. (Dok PSSI)
Zahra Muzdalifah tentu layak dikritik. Performanya sebagai bek kiri saat melawan Kirgistan tak sesuai harapan. Bahkan, kontrol pertamanya buruk.
Claudia Scheunemann sah saja dibilang linglung. Nyaris tak ada peluang yang diciptakan dara 16 tahun ini. Tembakan-tembakan jarak jauhnya yang biasanya menyengat, belum keluar.
Namun, ini bukan akhir cerita. Ini baru bab pembuka. Setidaknya ada empat babak lagi yang akan tersaji. Ada sejuta kemungkinan yang bisa tercipta dalam dua pertandingan tersisa.
Indonesia akan menghadapi Pakistan pada Rabu (2/7) dan melawan Taiwan pada Sabtu (5/7). Tentu saja Zahra bisa menggila dan Claudia berpotensi kesetanan dalam dua laga tersisa itu.
Kans ke arah itu sangat terbuka. Minimal, Satoru Mochizuki percaya itu. Pria Jepang ini menyiratkan performa anak asuhnya bisa lebih; bisa meningkat; bisa menggila; bisa luar biasa.
Pemain lain, seperti Helsya Maeisyaroh dan Sydney Sari Hopper, juga belum dioptimalkan. Kecerdikan pelatih yang biasa disapa Mochi ini akan menentukan tabir kejutan akan terbuka atau tidak.
Satu yang pasti, gelombang cinta dari Timnas Putri Indonesia telah dilepas ke medan magnet. Putik-putik cinta mereka butuh getaran cinta dari tribune stadion, tempat penonton menyaksikan.
Sebab, getaran cinta dari tribune bisa mengangkat gelora di hati dan dada pemain Indonesia. Pada saat yang sama otak dan psikologi lawan bisa tertekan dengan begitu dahsyatnya.
Safira Ika, Felicia Victoria de Zeeuw, Isa Guusje Warps, juga Gea Yumanda, butuh dukungan moril. Disparitas antara Indonesia dan Taiwan sangat nyata, tetapi itu bisa jadi ilusi.
Itulah ilusi laga pembuka. Dari atas, air memang tampak jernih berkilauan, tetapi di dalamnya ada apa tak bisa diterka. Indonesia bisa jadi seperti itu bagi lawan-lawannya.
Kini, layar Timnas Putri Indonesia menuju benua Asia sudah terkembang. Badai bisa saja datang, tetapi rasa takut tak perlu dibesarkan. Jangan biarkan mereka kesepian. Ayo, ramaikan!