Si 'Penyihir' Ole Romeny Kembali dan Hidup Mati Serangan Balik
Abdul Susila | CNN Indonesia
Minggu, 05 Okt 2025 08:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Miliano Jonathans juga terbilang eksplosif di lini serang. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Selama Kualifikasi Piala Dunia 2026, fase kedua dan ketiga, Arab Saudi membukukan 19 gol. Rinciannya, 12 gol pada fase kedua dan tujuh gol pada fase ketiga.
Dari 19 gol tersebut, mayoritas dilesakkan Arab Saudi melalui tembakan jarak jauh. Serangan balik tim asuhan Herve Renard ini memang tak mematikan, tetapi sudah dirancang.
Pasalnya, gawang Indonesia lebih mudah dibobol lewat serangan balik. Australia berhasil melakukan itu. Jepang, dengan segala kelebihannya, juga melakukan hal sama.
Dengan kata lain, serangan balik bisa menjadi senjata mematikan bagi Arab Saudi. Saat ball possession ala Patrick Kluivert kecolongan, satu serangan bisa mematikan.
Pada saat yang sama serangan balik Indonesia melemah. Jika sebelumnya, saat ditangani Shin Tae Yong, serangan balik jadi senjata buas, kini daya hujamnya terkelupas.
Pemain Indonesia lebih diminta bermain-main dengan bola sambil menunggu pertahanan lawan terbuka. Itu yang terlihat saat melawan Taiwan dan Lebanon dalam laga uji coba.
Namun, sisa-sisa gaya serangan balik belum benar-benar hilang. Gol Romeny ke gawang Bahrain menunjukkan bahwa serangan balik masih bisa dijadikan pegangan.
Apakah serangan balik diasah oleh Patrick Kluivert dalam masa persiapan melawan Arab Saudi? Seharusnya, ya. Jika tidak, satu senjata Indonesia lainnya hilang.
Romeny, sebagai ujung tombak, memang kembali, tetapi sentuhannya belum teruji. Apalagi ada sindrom yang menggelayuti pemain sehabis cedera. Takut cedera lebih lama lagi.
Pemain Arab Saudi niscaya tak akan segan 'memakan' kaki Romeny. Mentalitas Romeny akan diuji. Bagusnya, Romeny bukan tipikal pemain penakut. Ia akan bertarung.
Namun, bisa jadi Romeny hanya kamuflase. Senjata lainnya sedang dipersiapkan Kluivert dan tim, yakni Miliano Jonathans. Apakah ia bisa jadi 'penyihir'? Mari kita nanti.
(ptr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada banyak 'penyihir' di sepak bola. Timnas Indonesia punya satu. Namanya Ole Romeny. Ia sudah kembali. Selebrasi heads up menanti.
Ya, Romeny kembali bergabung dengan Timnas Indonesia. Sempat absen saat Merah Putih beruji coba dengan Taiwan dan Lebanon pada September 2025, kini Romeny balik lagi.
Pemain Oxford United ini memang belum perkuat Oxford United di Championship 2025/2026, tetapi telah pulih dari cedera. "Sudah 95 persen," kata Manajer Timnas Indonesia, Sumardji.
Ole, begitu ia biasa disapa, berlatih normal saat Indonesia menggelar latihan pertama di Jeddah, Jumat (3/10). Sekilas, Romeny sudah siap tempur menghadapi Arab Saudi.
Kembalinya Romeny jelas jadi angin segar. Pemain 25 tahun ini adalah pencetak tiga gol Indonesia dalam empat laga terakhir fase ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Ia membobol gawang Australia dalam debut bersama Timnas Indonesia dan masing-masing satu gol ketika menjamu Bahrain dan China di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Romeny datang dengan membawa gaya selebrasi heads up; tangan di atas dagu; angkat kepalamu; jangan mau tunduk; pantang menyerah. Selebrasi ini viral. Jadi demam di seluruh negeri.
Selebrasi ini terakhir kali dilakukan Romeny, saat berseragam Garuda di dada, pada 5 Juni 2025. Sudah empat bulan selebrasi ini dinanti. Rasanya heads up akan terjadi lagi.
Selebrasi ini bakal terealisasi pada Rabu (8/10) atau Kamis (9/10) dini hari WIB, saat Indonesia jumpa Arab Saudi. Main tandang, beban Arab Saudi malah semakin berat.
Sebelumnya, pada fase ketiga kualifikasi, duel Arab versus Indonesia berakhir imbang 1-1 di Jeddah, kemudian berakhir dengan kekalahan 0-2 untuk Arab Saudi di Jakarta. Arab ingin membalas kekalahan itu.
Marselino Ferdinan, pembobol dua gol ke gawang Arab memang absen, tetapi Romeny sudah kembali. Arab Saudi boleh saja berambisi balas dendam, tetapi 'penyihir' Garuda telah pulih.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Strategi Kamuflase Miliano Jonathans
Miliano Jonathans juga terbilang eksplosif di lini serang. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Selama Kualifikasi Piala Dunia 2026, fase kedua dan ketiga, Arab Saudi membukukan 19 gol. Rinciannya, 12 gol pada fase kedua dan tujuh gol pada fase ketiga.
Dari 19 gol tersebut, mayoritas dilesakkan Arab Saudi melalui tembakan jarak jauh. Serangan balik tim asuhan Herve Renard ini memang tak mematikan, tetapi sudah dirancang.
Pasalnya, gawang Indonesia lebih mudah dibobol lewat serangan balik. Australia berhasil melakukan itu. Jepang, dengan segala kelebihannya, juga melakukan hal sama.
Dengan kata lain, serangan balik bisa menjadi senjata mematikan bagi Arab Saudi. Saat ball possession ala Patrick Kluivert kecolongan, satu serangan bisa mematikan.
Pada saat yang sama serangan balik Indonesia melemah. Jika sebelumnya, saat ditangani Shin Tae Yong, serangan balik jadi senjata buas, kini daya hujamnya terkelupas.
Pemain Indonesia lebih diminta bermain-main dengan bola sambil menunggu pertahanan lawan terbuka. Itu yang terlihat saat melawan Taiwan dan Lebanon dalam laga uji coba.
Namun, sisa-sisa gaya serangan balik belum benar-benar hilang. Gol Romeny ke gawang Bahrain menunjukkan bahwa serangan balik masih bisa dijadikan pegangan.
Apakah serangan balik diasah oleh Patrick Kluivert dalam masa persiapan melawan Arab Saudi? Seharusnya, ya. Jika tidak, satu senjata Indonesia lainnya hilang.
Romeny, sebagai ujung tombak, memang kembali, tetapi sentuhannya belum teruji. Apalagi ada sindrom yang menggelayuti pemain sehabis cedera. Takut cedera lebih lama lagi.
Pemain Arab Saudi niscaya tak akan segan 'memakan' kaki Romeny. Mentalitas Romeny akan diuji. Bagusnya, Romeny bukan tipikal pemain penakut. Ia akan bertarung.
Namun, bisa jadi Romeny hanya kamuflase. Senjata lainnya sedang dipersiapkan Kluivert dan tim, yakni Miliano Jonathans. Apakah ia bisa jadi 'penyihir'? Mari kita nanti.