Ranking 100 Besar Dunia Dinilai Realistis Bersama John Herdman
Pengamat sepak bola, Supriyono Prima menilai target menembus ranking 100 dunia realistis untuk dicapai bersama pelatih anyar Timnas Indonesia, John Herdman.
PSSI resmi mengumumkan Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia pada Sabtu (3/1) dengan kontrak berdurasi 2+2 tahun. Pelatih asal Inggris itu diberi tanggung jawab melatih Timnas Indonesia senior dan Timnas Indonesia U-23.
Mantan pemain Timnas Indonesia sekaligus pengamat sepak bola, Supriyono Prima menilai ranking FIFA bisa menjadi indikator awal yang realistis untuk menilai kapasitas Herdman. Tim Merah Putih saat ini menempati ranking 122 dunia mengacu rilis ranking FIFA pada 22 Desember 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengingat rekam jejaknya yang membawa Kanada dari peringkat 77 ke 33, target membawa Indonesia masuk ke-100 besar dunia secara konsisten adalah hal yang realistis," ucap Supriyono.
Supriyono menilai peningkatan peringkat FIFA harus menjadi salah satu sasaran utama ketika nantinya ditangani oleh Herdman. Apalagi rekam jejak Herdman bersama Kanada menjadi referensi yang relevan.
Di bawah kepemimpinan Herdman sebelumnya, Kanada mampu melonjak signifikan dalam peningkatan peringkat dunia FIFA hingga diberi penghargaan "Most Improved Side". Capaian tersebut menunjukkan Herdman memiliki kapasitas membangun tim secara sistematis, bukan sekadar mengandalkan hasil instan.
Target membawa Indonesia masuk dan bertahan di 100 besar dunia merupakan sasaran yang realistis pada fase awal kepemimpinan Herdman bagi Supriyono. Di sisi lain, ranking FIFA bukan sekadar angka, tetapi representasi dari stabilitas performa, manajemen tim, dan efektivitas program kepelatihan. Kenaikan peringkat akan membuka peluang lebih besar, termasuk kualitas lawan uji coba dan posisi Indonesia di undian turnamen resmi.
Jika Herdman mampu membawa Indonesia naik secara konsisten di ranking FIFA, ini akan menjadi bukti konkret bahwa proyek kepelatihan berjalan ke arah konstruktif. Sebaliknya, stagnasi peringkat bisa menjadi alarm awal perlunya evaluasi, meski proses jangka panjang tetap harus diberi ruang.
(ade/jal)