Seluruh Exco FAM Malaysia Disebut Bakal Mundur Buntut Sanksi FIFA

CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 16:41 WIB
Seluruh anggota Exco FAM Malaysia disebut bakal mundur kolektif untuk menghindari berat sanksi FIFA buntut dokumen palsu naturalisasi.
Anggota Exco FAM Malaysia disebut bakal mundur kolektif pada 28 Januari 2026. (Dok. FAM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komite Eksekutif (Exco) federasi sepak bola Malaysia (FAM) disebut akan mundur kolektif untuk menghindari sanksi lebih berat dari FIFA.

Kabar bakal mundurnya Exco FAM dikabarkan New Straits Times (NST), Rabu (21/1). Disebutkan bahwa kesepakatan mundur bersama itu akan diumumkan pada Rabu (28/1) pekan depan.

Keputusan mundur bersama ini disepakati Exco FAM dalam rapat pada dua pekan lalu. Alasannya, 13 anggota Exco FAM mempertimbangkan sanksi pembekuan dari FIFA.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia [AFC] bahwa FAM mampu melakukan koreksi diri," kata sumber anonim NST di lingkungan FAM.

"Jika pengurus tetap menjabat dan sanksi pembekuan dijatuhkan, FAM akan kehilangan kendali sepenuhnya," ucap sumber tersebut membeberkan alasan mundur kolektif.

Awalnya, tulis NST, minoritas anggota Exco FAM menolak untuk mundur. Namun, demi tujuan lebih besar, anggota yang awalnya menolak, akhirnya sepakat mundur bersama.

Sebelumnya, AFC menyarankan Exco FAM mundur untuk menghindari sanksi pembekuan. Sanksi ini diyakini akan diberikan FIFA setelah FAM menggugat sanksi FIFA ke pengadilan arbitrase internasional (CAS).

Sanksi yang dimaksud adalah denda sejumlah uang dan pengurangan poin serta hukuman larangan bermain pada tujuh pemain naturalisasi yang dipalsukan dokumennya.

FIFA menolak banding FAM pada November 2025. Meski ditolak, FAM tidak berhenti. Mereka mengajukan gugatan ke CAS. Gugatan ini diyakini akan membuat FIFA murka.

Jika nantinya CAS menyatakan FAM kalah, sanksi berat akan diberikan. Salah satu sanksi berat yang akan diberikan adalah pembekuan FAM seperti pernah dialami Indonesia pada 2015.

[Gambas:Video CNN]

(abs/jun)