2 Mata Pisau Diaspora Timnas Indonesia Eksodus Tinggalkan Eropa

CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 09:30 WIB
Eksodus diaspora Timnas Indonesia dari Eropa ke liga dalam negeri membawa dampak positif dan negatif bagi karier pemain dan Timnas Indonesia.
Dion Markx (kiri) memutuskan main di Liga Indonesia di usia yang masih sangat muda. (CNNIndonesia.com/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pulangnya diaspora Timnas Indonesia ke dalam negeri dengan meninggalkan Eropa bagaikan dua mata pisau bagi sepak bola negeri ini.

Pada musim 2025/2026, eksodus diaspora di Eropa ke dalam negeri bergeliat matang. Thom Haye, Eliano Reijnders, Rafael Struick, dan Jens Raven, mengawalinya pada awal musim.

Lantas, pada jendela transfer, diaspora lainnya menyusul. Hingga Kamis (5/2), ada tiga nama yang akan tampil di Super League, yakni Jordi Amat, Shayne Pattynama, Mauro Zijlstra, Dion Markx, dan Ivar Jenner.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini bukan jumlah terakhir, ada beberapa nama lainnya yang juga disebut-sebut akan pulang kampung. Salah satu di antaranya adalah Ragnar Oratmangoen.

Pemain berposisi penyerang yang sedang membela Dender FC ini dirumorkan bakal membela Persib Bandung. Perihal ini akan terjawab pada Jumat (6/2) sebelum jendela transfer ditutup.

Eksodus diaspora Indonesia di Eropa ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya sudah terjadi, seperti kembalinya Egy Maulana VIkri dan Witan Sulaeman dari kompetisi Eropa Timur.

Sebelum itu, pemain seperti Stefano Lilipaly, Irfan Bachdim, dan Ezra Walian, yang sempat punya masa depan cerah di Eropa, juga 'terpaksa' mudik ke dalam negeri.

Seperti pisau bermata dua, kembalinya diaspora juga memberi dampak positif dan negatif. Efek positifnya, pemain yang minim jam terbang di Eropa bisa mendapat lebih banyak jam terbang.

Berkarier di Liga Indonesia juga bukan akhir dari kisah atau penurunan kualitas. Ada banyak contoh pemain yang malah menemukan performa terbaiknya saat berkiprah di Indonesia.

Salah satu di antaranya adalah Christian Bekamenga. Pemain Kamerun ini membela Persib pada 2007/2008 dan musim berikutnya dikontrak klub kasta teratas Prancis, Nantes.

Kisah mirip Bekamenga ini pula yang mungkin dicari Struick, Ravens, atau Zijlstra. Usia mereka memang masih muda dan dicap terlalu dini untuk berkarier di Indonesia, tetapi bisa saja sebaliknya.

Dampak lainnya, dengan semakin sering mendapat menit bermain, kans mereka berkontribusi lebih saat membela Timnas Indonesia juga besar. Dalam hal ini Timnas Indonesia bisa diuntungkan.

"Karena kalau tidak bermain, akan sulit berkontribusi untuk tim nasional," kata pengamat sepak bola nasional, Muhammad Kusnaeni, soal eksodus diaspora Timnas Indonesia.

Namun, negatifnya, harus diakui pula bahwa kualitas kompetisi pemain akan menurun. Saat di Eropa, diaspora ini bersaing dengan pemain yang lebih baik kualitasnya.

Saat di Indonesia, bisa jadi kualitasnya unggul atau menonjol, tetapi semu. Saat bersaing dengan pemain yang kualitasnya lebih baik, misal di level kontinental, pemain kepayahan.

Sudah begitu, fasilitas latihan dan iklim sepak bola profesional Indonesia belum sebaik Eropa. Itu mengapa sampai muncul istilah: lebih baik latihan di Eropa ketimbang main ala kadarnya di Indonesia.

Terlepas dari itu, para diaspora sudah menetapkan pilihan. Mereka niscaya berpikir panjang sebelum memutuskan kembali ke dalam negeri. Yang pasti, disiplin dan dedikasi akan menjadi kunci.

[Gambas:Video CNN]

(abs/nva)