Status Kiper Indonesia Mulai Kritis, tapi Belum Habis

CNN Indonesia
Rabu, 11 Feb 2026 18:41 WIB
Musim ini, kiper asing mendominasi Super League, namun kiper lokal Indonesia masih menunjukkan taji. Siapa yang akan bertahan di persaingan ketat ini?
Teja Paku Alam (kiri) menjadi salah satu yang terbaik di Super League di antara banjir kiper asing. (ANTARA FOTO/Andri Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah banjir penjaga gawang asing, kiper-kiper Indonesia belum benar-benar habis, bahkan masih punya unjuk kebolehan.

Musim ini sepertinya menjadi puncak kian banyak kiper asing di Super League. Kuota pemain asing yang meningkat pesat dibanding musim sebelumnya menjadi salah satu faktor.

Karena itu persaingan menjadi kiper utama sebuah tim juga ketat. Jika tidak bisa menunjukkan performa mentereng saat latihan dan pertandingan, posisi niscaya akan tergeser.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut dialami Muhammad Riyandi di Persis Solo. Hadirnya kiper asal Serbia pada putaran kedua, Vukasin Vranes, membuat Riyandi tersisih dari posisi utama.

Vranes menambah panjang daftar kiper asing yang jadi pilihan di klub, setelah Igor Rodrigues (Persita Tangerang), Sonny Stevens (Dewa United), dan Arthur Augusto (Semen Padang FC).

Kemudian ada Carlos Eduardo (Persija Jakarta), Kadu (PSBS Biak), Leo Navacchio (Persik Kediri), juga Alan Bernardon (Malut United). Mereka ini sedang menjadi tulang punggung klub.

Karena itu, bisa dibilang status kiper-kiper lokal yang jadi pilihan utama di klub mulai kritis. Namun, statusnya belum habis tidak seperti status striker lokal yang hampir punah.

Kabar baiknya, masih ada Teja Paku Alam (Persib Bandung), Nadeo Argawinata (Borneo FC), Cahya Supriyadi (PSIM), Aqil Savik (Bhayangkara FC), dan Ernando Ari (Persebaya), yang tetap menonjol.

Teja misalnya, setelah musim sebelumnya kalah saing dari Kevin Ray Mendoza, membuktikan masih bisa jadi andalan. Buktinya, ia menjadi kiper dengan jumlah nirbobol (clean sheet) tertinggi.

Jika terus berada dalam performa positif, bukan tidak mungkin Teja dipanggil ke Timnas Indonesia oleh John Herdman. Namun pesaingnya pun tidak kalah berat.

Selain harus bersaing dengan Nadeo Argawinata dan Ernando yang sudah langganan Timnas pelatih sebelumnya, Teja juga harus bersaing dengan Maarten Paes dan Emil Audero.

Lantas, akankah di tahun-tahun depan kiper lokal akan punah seperti halnya striker lokal? Tak ada yang tahu. Yang pasti, setiap kiper harus berjuang dan berlatih keras agar dapat tempat.

[Gambas:Video CNN]

(abs/rhr)