Bos MU Jim Ratcliffe Minta Maaf Usai Lontarkan Kata-kata Kontroversi
Salah satu pemilik Manchester United, Sir Jim Ratcliffe, menyampaikan permintaan maaf setelah menyebut Inggris Raya dijajah oleh imigran yang telah memicu kontroversi.
Ucapan tersebut disampaikan Ratcliffe dalam wawancara dengan Sky News pada Rabu dan langsung menuai kritik dari sejumlah tokoh politik Inggris.
Bahkan, Perdana Menteri Sir Keir Starmer dan Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham termasuk di antara pihak yang mengecam pernyataan tersebut. Sumber ESPN juga menyebutkan bahwa Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengetahui komentar Ratcliffe dan tengah menelaahnya.
Namun, dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (12/2), Ratcliffe menyatakan penyesalannya.
"Saya menyesal bahwa pilihan kata-kata saya telah menyinggung sebagian orang di Inggris dan Eropa serta menimbulkan kekhawatiran. Namun, penting untuk mengangkat isu imigrasi yang terkontrol dan terkelola dengan baik yang mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Ratcliffe dikutip ESPN.
Ia menjelaskan bahwa komentarnya tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan mengenai kebijakan Inggris dalam KTT Industri Eropa di Antwerp.
Menurutnya, saat itu ia sedang membahas pentingnya pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, dan penguatan sektor manufaktur di Inggris.
Ratcliffe menegaskan bahwa maksudnya adalah mendorong pemerintah untuk mengelola migrasi secara seimbang, seiring dengan investasi pada keterampilan dan industri dalam negeri.
"Sangat penting bagi kita untuk mempertahankan debat terbuka mengenai tantangan yang dihadapi Inggris," kata Ratcliffe.
Dalam wawancara sebelumnya yang menuai kontroversi, Ratcliffe mengatakan Inggris telah 'dijajah imigran'.
"Anda tidak bisa memiliki ekonomi dengan 9 juta orang yang menerima tunjangan dan sejumlah besar imigran yang masuk. Maksud saya, Inggris sedang dijajah. Biayanya terlalu mahal. Inggris telah dijajah oleh imigran," kata Ratcliffe.
Pernyataan itulah yang kemudian memicu polemik. Jika FA memutuskan untuk melakukan penyelidikan resmi, kasus ini kemungkinan akan dikaji berdasarkan Aturan FA E3.1 tentang perilaku yang dianggap tidak pantas atau mencemarkan nama baik sepak bola.
Aturan E3.2 menyebut pelanggaran akan dianggap berat jika mengandung referensi terhadap ras, kebangsaan, agama, atau karakteristik pribadi lainnya.
(rhr/rhr/sry)