Ketua Federasi Iran Sebut Timnas Wanita 'Disandera' Polisi Australia

CNN Indonesia
Rabu, 11 Mar 2026 12:12 WIB
Ketua Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI), Mehdi Taj, menyebut pemain timnas wanita Iran disandera polisi Australia terkait rumor meminta suaka usai Piala Asia.
Mehdi Taj sebut pemain Iran sempat disandera polisi Australia sebelum pemberian suaka. (via REUTERS/DAVE HUNT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI), Mehdi Taj, menyebut para pemain timnas wanita Iran disandera polisi Australia terkait rumor meminta suaka usai Piala Asia Wanita 2026.

Kasus timnas Iran yang menolak menyanyikan lagu kebangsaan saat melawan Korea Selatan dalam turnamen tersebut berujung panjang.

Sejumlah laporan menyebut para pemain dianggap sebagai 'pengkhianat perang' oleh televisi pemerintah Iran. Selain itu, karena penolakan tersebut mereka diklaim akan dihukum mati saat kembali ke Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Isu tersebut berkembang sampai akhir perjalanan Iran di Piala Asia Wanita 2026, meskipun mereka kembali menyanyikan lagu kebangsaan pada laga berikutnya. Menurut Mehdi Taj, menyanyikan lagu kebangsaan merupakan tugas pemain Iran.

"Tim nasional wanita kami menyanyikan lagu kebangsaan dan memberi hormat militer," kata Taj dikutip dari AFP.

Dalam kesempatan itu Taj juga menyalahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pemberian suaka kepada lima pemain Iran dan dua tambahan lain oleh Australia.

"Presiden AS sendiri, mencuit dua kali tentang tim wanita (mengatakan) 'kami menyambut mereka dan bahwa mereka harus menjadi pengungsi'."

"Ia mengancam Australia bahwa 'jika kalian tidak memberi mereka suaka, saya akan memberi mereka suaka di AS," tutur Taj.

Campur tangan Trump tersebut membuat Iran makin ragu tampil dalam Piala Dunia 2026 yang akan dimulai kurang dari tiga bulan ke depan.

"Bagaimana mungkin seseorang bisa optimis tentang Piala Dunia yang seharusnya diadakan di Amerika?"

"Jika Piala Dunia seperti ini, siapa yang waras akan mengirim tim nasionalnya ke tempat seperti ini?" ucap Taj.

Soal pemberian suaka dari Australia, Mehdi Taj juga menyebut para pemainnya sempat diculik polisi Australia sebelum suaka diberikan. Timnas wanita Iran diklaim dihalangi saat akan meninggalkan Australia.

"Sayangnya, setelah pertandingan polisi Australia datang dan turun tangan, mengeluarkan satu atau dua pemain dari hotel, menurut berita yang kami dapatkan," kata Taj.

Mehdi Taj juga menyinggung soal tewasnya lebih dari 160 siswi Iran di sekolah putri akibat serangan AS-Israel.

"Mereka membunuh gadis-gadis kami di Minab, 160 orang, dan dalam insiden ini mereka menyandera gadis-gadis kami. Mereka melakukan hal yang mengerikan," ujar Taj.

"Tadi malam, beberapa orang datang dan berbaring di depan mobil yang mereka kendarai menuju bandara," ucap Taj melanjutkan.

[Gambas:Video CNN]

(sry/nva)