Persija vs Persebaya: Tim Jakarta Cuma Banyak Gaya, Apa Iya?
abs | CNN Indonesia
Sabtu, 11 Apr 2026 07:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Persija sedang mencari obat agar bisa tampil garang dan bukan hanya menang gaya. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Laga Persija Jakarta versus Persebaya Surabaya itu dari dulu selalu dinanti. Ini laga klasik. Duel dua tim dataran rendah yang sama-sama berwatak keras.
Dan, sekali lagi, Persija akan bentrok dengan Persebaya. Kali ini pada pekan ke-27 Super League 2025/2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu (11/4) malam.
Bajol Ijo, julukan Persebaya, biasanya datang ke Jakarta dengan motivasi tinggi. Main di Senayan jadi panggung unjuk gigi. Jakarta boleh ibu kota, tetapi Surabaya tak kalah metropolitan.
Persija apalagi. Sebagai tim ibu kota, jangankan kalah, imbang saja ogah. Karena itu duel kedua tim selalu syarat gengsi. Perang psikologi sudah biasa terjadi sebelum laga.
Situasinya saat ini, Si Macan Kemayoran sedang masuk angin. Dalam tiga laga, dua kandang dan sekali tandang, tidak meraih kemenangan. Persija seperti lupa caranya menang.
Sampai-sampai ada kelompok suporter yang menyebut para pemain Persija musim ini hanya banyak gaya. Lagunya saja selangit, saat main yang dibesarkan malah egonya.
Benarkah demikian? Kiranya laga melawan Persebaya bisa menjadi ukuran. Kalau mainnya seperti tak ada gairah, malas berpikir dan berlari sepanjang laga, ya ada benarnya.
Sebaliknya, kalau mainnya seperti tidak ada matinya, persepsi banyak gaya itu jelas cuma khayalan. Maka itu pertandingan ini sangat dinanti The Jakmania, kelompok suporter Persija.
Di atas lapangan, yang dalam film Si Doel Anak Betawi diaku sebagai pusara nenek moyang keluarga Sabeni, permainan Persija kiranya akan seperti pasukan Spartan yang kuat, cerdik, dan ulet.
Sekarang keraguan mulai menyeruak. Benih-benih tak puas akan polesan Mauricio Souza kian mengemuka. Karenanya pula pria Brasil ini harus berpikir keras dan cerdas.
Lawan ideologi yang akan dihadapinya adalah Bernardo Tavares. Pria Portugal ini punya segudang amunisi untuk membangkitkan daya rusak armada tempurnya.
Baca analisis lanjutannya di halaman berikutnya >>>
Sejujurnya, Persebaya bukan tim yang istimewa musim ini. Isi skuadnya biasa-biasa saja. Persija dari segala sisi jelas lebih berbintang.
Musim ini, mentalitas tandang Persebaya juga kerupuk. Setidaknya dalam tiga laga tandang terakhir. Rachmat Irianto dan kawan-kawan 'mendem' di markas lawan.
Persebaya tidak ada hiu-buayanya di Bali, Jepara, dan Samarinda. Bagaimana tidak, Persebaya bukan hanya kalah, tetapi dibantai. Persebaya kebobolan tiga dan lima di tiga laga itu.
Ini kode alam bagi Persija. Bisa dibilang, akhir-akhir Persebaya tak baik-baik saja saat tandang. Oleh sebab itu, kemenangan serupa; pesta gol, berpotensi diciptakan.
Mampukah Persija tampil tajam layaknya golok Si Pitung? Ini yang dikhawatirkan. Persija, setiap kali unggul, seperti lupa daratan sehingga lawan bisa menyamakan atau membalikkan keadaan.
Ini pula yang memunculkan persepsi bahwa Persija sedang tidak baik-baik saja, sama seperti Persebaya. Kelihatannya baik, tetapi seolah ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi.
Kabar-kabar burung yang terbang begitu bebas di media sosial ini kiranya perlu disudahi. Utamanya oleh Persija. Main di kandang, di hadapan puluhan ribu fan setianya, tak boleh melempem.
Citra bahwa pemain Persija hanya sekumpulan pemain yang banyak gaya, sudah seharusnya distabilkan. Tak ada salahnya bergaya, tetapi pantasnya pula dibarengi isi.
Apa isinya? Ya, performa di atas lapangan. Jangan sampai kata-kata Sabeni di dalam film legendaris itu 'latihan mulu menangnya kaga', berkepanjangan dan menjadi kebiasaan.
Kalau mau bergaya, gayalah dengan selebrasi. Mau sombong dengan menutup kuping atau memasang tulunjuk di depan mulut juga tidak apa-apa, asal memenangkan pertandingan.
Akankah Persija mengakhiri periode negatifnya di GBK saat menjamu Persebaya? Jika tidak, bisa dibilang ini karpet merah bagi Persib Bandung untuk hattrick juara liga. Juara, baru gaya.
Laga Persija Jakarta versus Persebaya Surabaya itu dari dulu selalu dinanti. Ini laga klasik. Duel dua tim dataran rendah yang sama-sama berwatak keras.
Dan, sekali lagi, Persija akan bentrok dengan Persebaya. Kali ini pada pekan ke-27 Super League 2025/2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu (11/4) malam.
Bajol Ijo, julukan Persebaya, biasanya datang ke Jakarta dengan motivasi tinggi. Main di Senayan jadi panggung unjuk gigi. Jakarta boleh ibu kota, tetapi Surabaya tak kalah metropolitan.
Persija apalagi. Sebagai tim ibu kota, jangankan kalah, imbang saja ogah. Karena itu duel kedua tim selalu syarat gengsi. Perang psikologi sudah biasa terjadi sebelum laga.
Situasinya saat ini, Si Macan Kemayoran sedang masuk angin. Dalam tiga laga, dua kandang dan sekali tandang, tidak meraih kemenangan. Persija seperti lupa caranya menang.
Sampai-sampai ada kelompok suporter yang menyebut para pemain Persija musim ini hanya banyak gaya. Lagunya saja selangit, saat main yang dibesarkan malah egonya.
Benarkah demikian? Kiranya laga melawan Persebaya bisa menjadi ukuran. Kalau mainnya seperti tak ada gairah, malas berpikir dan berlari sepanjang laga, ya ada benarnya.
Sebaliknya, kalau mainnya seperti tidak ada matinya, persepsi banyak gaya itu jelas cuma khayalan. Maka itu pertandingan ini sangat dinanti The Jakmania, kelompok suporter Persija.
Di atas lapangan, yang dalam film Si Doel Anak Betawi diaku sebagai pusara nenek moyang keluarga Sabeni, permainan Persija kiranya akan seperti pasukan Spartan yang kuat, cerdik, dan ulet.
Sekarang keraguan mulai menyeruak. Benih-benih tak puas akan polesan Mauricio Souza kian mengemuka. Karenanya pula pria Brasil ini harus berpikir keras dan cerdas.
Lawan ideologi yang akan dihadapinya adalah Bernardo Tavares. Pria Portugal ini punya segudang amunisi untuk membangkitkan daya rusak armada tempurnya.
Baca analisis lanjutannya di halaman berikutnya >>>
Performa Persebaya sedang melempem saat tampil di luar kandang. (Arsip Persebaya)
Sejujurnya, Persebaya bukan tim yang istimewa musim ini. Isi skuadnya biasa-biasa saja. Persija dari segala sisi jelas lebih berbintang.
Musim ini, mentalitas tandang Persebaya juga kerupuk. Setidaknya dalam tiga laga tandang terakhir. Rachmat Irianto dan kawan-kawan 'mendem' di markas lawan.
Persebaya tidak ada hiu-buayanya di Bali, Jepara, dan Samarinda. Bagaimana tidak, Persebaya bukan hanya kalah, tetapi dibantai. Persebaya kebobolan tiga dan lima di tiga laga itu.
Ini kode alam bagi Persija. Bisa dibilang, akhir-akhir Persebaya tak baik-baik saja saat tandang. Oleh sebab itu, kemenangan serupa; pesta gol, berpotensi diciptakan.
Mampukah Persija tampil tajam layaknya golok Si Pitung? Ini yang dikhawatirkan. Persija, setiap kali unggul, seperti lupa daratan sehingga lawan bisa menyamakan atau membalikkan keadaan.
Ini pula yang memunculkan persepsi bahwa Persija sedang tidak baik-baik saja, sama seperti Persebaya. Kelihatannya baik, tetapi seolah ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi.
Kabar-kabar burung yang terbang begitu bebas di media sosial ini kiranya perlu disudahi. Utamanya oleh Persija. Main di kandang, di hadapan puluhan ribu fan setianya, tak boleh melempem.
Citra bahwa pemain Persija hanya sekumpulan pemain yang banyak gaya, sudah seharusnya distabilkan. Tak ada salahnya bergaya, tetapi pantasnya pula dibarengi isi.
Apa isinya? Ya, performa di atas lapangan. Jangan sampai kata-kata Sabeni di dalam film legendaris itu 'latihan mulu menangnya kaga', berkepanjangan dan menjadi kebiasaan.
Kalau mau bergaya, gayalah dengan selebrasi. Mau sombong dengan menutup kuping atau memasang tulunjuk di depan mulut juga tidak apa-apa, asal memenangkan pertandingan.
Akankah Persija mengakhiri periode negatifnya di GBK saat menjamu Persebaya? Jika tidak, bisa dibilang ini karpet merah bagi Persib Bandung untuk hattrick juara liga. Juara, baru gaya.