Rajut Asa Tiga Petarung Indonesia ke UFC, Pentas MMA Dunia
CNN Indonesia
Jumat, 22 Mei 2026 20:46 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Yudi Cahyadi bakal berlaga di ajang Road to UFC tahun ini. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga petarung Indonesia sedang berjuang menuju Ultimate Fighting Championship (UFC). Yudi Cahyadi, Deni Arif, dan Deni Daffa merajut asa menuju pentas MMA dunia.
Fighter asal Jawa Barat, Yudi Cahyadi selangkah lebih dekat dengan UFC. Sosok yang mengorbit dari Bandung Fighting Club itu akan bertarung dengan wakil China, Xie Bin dalam Road to UFC di Galaxy Arena, Macau, Kamis (28/5).
Veni, Vedi, Veci. Datang, lihat, taklukkan. Yudi hanya perlu menang satu kali demi mengamankan tiket UFC. Ini karena Yudi mendapat karpet merah lewat RTU (Road to UFC) jalur khusus non-bout.
Jalur ini lebih singkat dari pendahulunya, Jeka Saragih, ketika harus melakoni tiga partai tarung bebas di octagon karena melalui jalur 'biasa' sehingga harus menjajaki babak perempat final hingga final, sebelum dilirik turnamen pimpinan Dana White tersebut.
Namun satu kemenangan tak sekadar 'hanya'. Yudi menyebut kemenangan harus direbut dengan cara spektakuler. Apa maksudnya?
"Menang dengan KO atau teknik yang mengesankan sehingga membuat Dana White terkesan," kata Yudi, Rabu (20/5).
Pribadi dengan julukan Prabu Gagak Lumayung itu sadar mengesankan bos UFC bukan perkara mudah. Yudi belajar banyak dari Jeka sebagai orang Indonesia pertama penembus UFC.
Hematnya, petarung Indonesia perlu memerhatikan siasat bertarung ground fight. Ini sekaligus berkaitan dengan variasi gaya tempur untuk memperbesar kemungkinan menang.
"Tapi yang disayangkan dia kalah yang pertama di ground, dan itu menjadi pelajaran juga untuk fighter Indonesia harus pertajam di ground-nya, ground fighting. Dan untuk kekalahan yang KO-nya [lawan Joo Sang Yoo], saya juga pelajari harus lebih safety juga dari tinjunya, itu dia tangannya harus di atas gitu," kata dia.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Optimisme dalam menerjang UFC juga ditunjukkan oleh kakak-beradik Deni Arif dan Deni Daffa. Keduanya mendapat beasiswa dari UFC Performance Institue (PI), sebuah sasana latih petarung MMA berkelas dunia.
Deni Daffa sebenarnya pernah bertarung di Road to UFC tahun lalu. Sayangnya, atlet asal Bengkulu itu kalah dari Ren Yawei dan kontrak UFC melayang dari sudut pandang.
Tersirat semangat berapi dalam diri The Destroyer, julukannya. Kembali menapak Road to UFC jadi targetnya.
"Jadi saya harus berbenah lagi, harus introspeksi lagi, harus berlatih lebih keras lagi. Ya saya lengkapi semua, sisanya serahkan kepada tim UFC, apakah saya layak dipanggil Road to UFC lagi atau tidak. Kalau harapan saya,
saya mau lagi ke Road to UFC," ucapnya.
Meski harus menapak dari bawah lagi, Deni Daffa menjadikan kesempatan menimba ilmu di UFC PI. Program latihan lebih intens jadi bara semangatnya merangkai harapan.
"Intinya sekarang saya ambil ilmu sebanya-banyaknya. Di sini dapat teknik, recovery, pengetahuan berat badan, saya pelajari semuanya. Saya ingin terus tumbuh dan mau ke UFC," tegasnya.
Hal senada disampaikan sang kakak, Deni Arif. Mantan atlet Indonesia cabor Sambo di SEA Games 2019 itu ingin titian hidup sebagai petarung MMA berbuah manis.
Deni bersaudara mendapat kesempatan latihan di UFC PI Shanghai selama empat bulan dimulai sejak April. Pengalaman langka ini membuat Deni Arif tak menyesal banting stir sebagai petarung MMA. Menurutnya, cabor ini prospektif untuk pegiat beladiri di Indonesia.
"MMA di dunia sedang dalam perkembangan pesat. Berbekal pengalaman, saya yakin bisa dapat pelajaran lebih banyak di Shanghai ini."
"Tentu saya ingin main di kasta tertinggi. Ujung-ujungnya mau ke UFC. Tapi sekarang target saya adalah meningkatkan kemampuan," ucap Deni Arif.
Tiga petarung Indonesia sedang berjuang menuju Ultimate Fighting Championship (UFC). Yudi Cahyadi, Deni Arif, dan Deni Daffa merajut asa menuju pentas MMA dunia.
Fighter asal Jawa Barat, Yudi Cahyadi selangkah lebih dekat dengan UFC. Sosok yang mengorbit dari Bandung Fighting Club itu akan bertarung dengan wakil China, Xie Bin dalam Road to UFC di Galaxy Arena, Macau, Kamis (28/5).
Veni, Vedi, Veci. Datang, lihat, taklukkan. Yudi hanya perlu menang satu kali demi mengamankan tiket UFC. Ini karena Yudi mendapat karpet merah lewat RTU (Road to UFC) jalur khusus non-bout.
Jalur ini lebih singkat dari pendahulunya, Jeka Saragih, ketika harus melakoni tiga partai tarung bebas di octagon karena melalui jalur 'biasa' sehingga harus menjajaki babak perempat final hingga final, sebelum dilirik turnamen pimpinan Dana White tersebut.
Namun satu kemenangan tak sekadar 'hanya'. Yudi menyebut kemenangan harus direbut dengan cara spektakuler. Apa maksudnya?
"Menang dengan KO atau teknik yang mengesankan sehingga membuat Dana White terkesan," kata Yudi, Rabu (20/5).
Pribadi dengan julukan Prabu Gagak Lumayung itu sadar mengesankan bos UFC bukan perkara mudah. Yudi belajar banyak dari Jeka sebagai orang Indonesia pertama penembus UFC.
Hematnya, petarung Indonesia perlu memerhatikan siasat bertarung ground fight. Ini sekaligus berkaitan dengan variasi gaya tempur untuk memperbesar kemungkinan menang.
"Tapi yang disayangkan dia kalah yang pertama di ground, dan itu menjadi pelajaran juga untuk fighter Indonesia harus pertajam di ground-nya, ground fighting. Dan untuk kekalahan yang KO-nya [lawan Joo Sang Yoo], saya juga pelajari harus lebih safety juga dari tinjunya, itu dia tangannya harus di atas gitu," kata dia.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Imipan Kakak Beradik Bersama ke UFC
Deni Daffa punya kesempatan tampil lagi di Road to UFC. (Dok. Deni Daffa)
Optimisme dalam menerjang UFC juga ditunjukkan oleh kakak-beradik Deni Arif dan Deni Daffa. Keduanya mendapat beasiswa dari UFC Performance Institue (PI), sebuah sasana latih petarung MMA berkelas dunia.
Deni Daffa sebenarnya pernah bertarung di Road to UFC tahun lalu. Sayangnya, atlet asal Bengkulu itu kalah dari Ren Yawei dan kontrak UFC melayang dari sudut pandang.
Tersirat semangat berapi dalam diri The Destroyer, julukannya. Kembali menapak Road to UFC jadi targetnya.
"Jadi saya harus berbenah lagi, harus introspeksi lagi, harus berlatih lebih keras lagi. Ya saya lengkapi semua, sisanya serahkan kepada tim UFC, apakah saya layak dipanggil Road to UFC lagi atau tidak. Kalau harapan saya,
saya mau lagi ke Road to UFC," ucapnya.
Meski harus menapak dari bawah lagi, Deni Daffa menjadikan kesempatan menimba ilmu di UFC PI. Program latihan lebih intens jadi bara semangatnya merangkai harapan.
"Intinya sekarang saya ambil ilmu sebanya-banyaknya. Di sini dapat teknik, recovery, pengetahuan berat badan, saya pelajari semuanya. Saya ingin terus tumbuh dan mau ke UFC," tegasnya.
Hal senada disampaikan sang kakak, Deni Arif. Mantan atlet Indonesia cabor Sambo di SEA Games 2019 itu ingin titian hidup sebagai petarung MMA berbuah manis.
Deni bersaudara mendapat kesempatan latihan di UFC PI Shanghai selama empat bulan dimulai sejak April. Pengalaman langka ini membuat Deni Arif tak menyesal banting stir sebagai petarung MMA. Menurutnya, cabor ini prospektif untuk pegiat beladiri di Indonesia.
"MMA di dunia sedang dalam perkembangan pesat. Berbekal pengalaman, saya yakin bisa dapat pelajaran lebih banyak di Shanghai ini."
"Tentu saya ingin main di kasta tertinggi. Ujung-ujungnya mau ke UFC. Tapi sekarang target saya adalah meningkatkan kemampuan," ucap Deni Arif.