Maradona, Doping di Piala Dunia 1994 hingga Kasus Narkoba

CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 20:01 WIB
Soccer Football - FIFA World Cup Final Qatar 2022 - Fans in Buenos Aires - Buenos Aires, Argentina - December 18, 2022  General view as Argentina fans with a Diego Maradona banner celebrate after winning the World Cup by the Obelisco REUTERS/Agustin
Diego Maradona, legenda Argentina dan adiksi narkoba jenis kokain. (REUTERS/AGUSTIN MARCARIAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Diego Armando Maradona tidak hanya harus pulang lebih cepat dari arena Piala Dunia 1994, salah satu bintang lapangan hijau itu juga mendapat skors selama 15 bulan dari FIFA setelah terbukti mengkonsumsi doping.

Namun sebelum kasus doping terkuak, Maradona sudah membuat publik heboh pada tahun 1991 setelah tes darah yang menunjukkan bahwa dirinya positif menggunakan narkoba jenis kokain. 

Mengutip Washington Post, akhir April 1991, polisi di BuenosAires, Argentina menggerebek apartemen yang diduga sebagai tempat pesta narkoba. Polisi mendapati Maradona bersama dua rekannya dalam keadaan mabuk. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu mengetahui ada polisi, salah satu dari mereka membuang sebuah paket ke luar jendela. Paket itu berisi bubuk putih yang diidentifikasi polisi sebagai kokain. Malam itu, polisi langsung menahan Maradona dan dua rekannya.

Kabar tentang penangkapan Maradona bocor ke media. Ketika sang bintang keluar dari apartemen sudah banyak wartawan yang menunggu. Maradona mencoba tersenyum di hadapan para jurnalis. Namun, ia tak kuasa menahan air mata.

Maradona yang kala itu bermain untuk Napoli kembali ke Argentina usai diskors selama 15 bulan oleh federasi sepak bola Italia. Hukuman itu dijatuhkan kepada Maradona karena ia ketahuan menggunakan kokain.

Dalam beberapa wawancara dengan media, Maradona mengaku dirinya memakai kokain hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk membuatnya lebih bertenaga di lapangan. Apalagi dengan kekayaan yang melimpah, segalanya memang bisa didapatkan.

Mengutip Independent, saat ia berusia 35 tahun dan ditangkap pada tahun 1991 Maradona mengaku menderita karena barang haram tersebut.

Maradona mengaku bahwa ia mulai menggunakan kokain pada tahun 1982, pada usia 22 tahun, saat bermain di Eropa bersama Boca Juniors. Tahun 1984, ketika ia bergabung dengan Napoli, ia mengaku sempat menjadi pengguna rutin. 

Ia juga dua kali harus dirawat di rumah sakit karena nyaris meninggal akibat masalah jantung yang terkait dengan penyalahgunaan kokain. Maradona pun menyebut bahwa kokain, adalah ujian terberatnya.

Maradona yang meninggal di usia 60 tahun itu sempat menceritakan bagaimana ia berjuang melawan obat-obatan terlarang. Di 2004, Maradona sempat dibawa menjalani konseling untuk masalah penyalahgunaan narkoba.

Banner Gempita Bola 2026

September tahun itu, ia pergi ke Kuba untuk pengobatan di Havana's Center for Mental Health. Di sana, ia mendapat kunjungan dari temannya, Presiden Kuba Fidel Castro.

Pria kelahiran 30 Oktober itu mengatakan bahwa masalah adiksi membuat dirinya mengalami malapetaka pada kemampuannya bermain sepak bola. Dia juga mengungkapkan bahwa karena narkoba, tidak bisa tidur nyenyak menggunakan bantal.

Di titik terendahnya, Maradona mengaku sempat mengalami koma karena overdosis kokain. Dia terbangun sambil melihat putrinya Gianinna Dinorah yang baru berusia empat tahun, yang memintanya untuk berhenti.

Tahun 2015, Maradona mengatakan bahwa dia akhirnya berhasil mengalahkan iblis bernama narkoba itu. Maradona meninggal setelah mengalami serangan jantung, pada 25 November 2020. Hasil autopsi rumah sakit mengungkapkan sang legenda tidak mengkonsumsi alkohol dan narkoba sebelum kematian.

Kasus doping

Selain narkoba, kasus doping yang dialami Maradona menjadi catatan kelam sepak bola dunia. Terlebih, Maradona dikenal sebagai seorang pemain berbakat dan dilabeli sebagai salah satu pesepakbola terbaik di masanya.

Di Piala Dunia 1994, Maradona mencetak satu gol ketika Argentina mengalahkan Yunani dengan skor 4-0. Mantan pemain Barcelona itu juga membuat assist ketika Tim Tango menang 2-1 atas Nigeria.

Setelah laga menghadapi Nigeria, Maradona diminta menjalani serangkaian tes doping. Hasilnya Maradona terbukti positif mengkonsumsi efedrin, salah satu obat yang dilarang FIFA.

Efedrin adalah obat yang bisa membantu mengatasi masalah pernapasan sekaligus meningkatkan performa dan kinerja. Selain itu, efedrin juga disebut bisa membantu menurunkan berat badan, masalah yang dialami Maradona kala itu.

Maradona yang terbukti menggunakan doping kemudian diusir dari arena Piala Dunia 1994. Ia harus angkat kaki lebih cepat dari Amerika Serikat dari teman-temannya.

Pada Kamis sore, 30 Juni 1994, Maradona mengungkapkan bahwa ia telah dipermainkan oleh FIFA. Ia mendapatkan hukuman 15 bulan tidak boleh main dan tampil di ajang sepak bola apapun. Pada Piala Dunia 1994, Argentina hanya bertahan hingga babak perdelapan final setelah kalah 2-3 dari Romania.

Usai menjalani rehabilitasi, Maradona sempat kembali ke dunia sepak bola dengan segala kontroversi yang melekat.

[Gambas:Video CNN]

(tim/dal) Add as a preferred
source on Google