WAWANCARA EKSKLUSIF

Boy Arnez: Waswas Netizen, Dilirik Klub Luar Negeri, Indonesia Juara

CNN Indonesia
Kamis, 02 Jul 2026 18:43 WIB
Pemain Timnas Voli Indonesia Boy Arnez saat mengunjungi kantor Transmedia. (CNNIndonesia/Askar Fatih)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perjalanan Timnas Voli Putra Indonesia menjuarai AVC Men's Cup 2026 menjadi salah satu kisah paling berkesan dalam sejarah voli nasional.

Berstatus bukan unggulan, Indonesia justru mampu bangkit setelah kalah telak dari Korea Selatan di laga pembuka fase grup, sebelum akhirnya membalas kekalahan tersebut dengan kemenangan meyakinkan 3-0 pada partai final, Minggu (28/6).

Di balik pencapaian itu, ada proses panjang yang tidak banyak diketahui publik. Tekanan dari luar, keraguan terhadap tim, hingga perubahan pelatih di tengah persiapan menjadi tantangan yang harus dihadapi para pemain.

Salah satu pilar kemenangan Indonesia, Boy Arnez, berbagi cerita secara terbuka mengenai perjalanan tim sejak fase awal turnamen, sosok yang membangkitkan kepercayaan diri pemain, strategi mengalahkan Korea Selatan, hingga target setelah membawa Indonesia menjadi juara Asia.

Dalam wawancara eksklusif berikut, Boy juga mengungkap pandangannya mengenai peluang berkarier di luar negeri, tanggung jawab baru setelah meraih gelar MVP dan Best Outside Hitter, serta bagaimana menjaga mental juara agar tetap bertahan:

Boy, bisa diceritakan bagaimana perjalanan tim sejak awal turnamen hingga akhirnya menjadi juara? Kalian sempat kalah dari Korea Selatan di laga pembuka, lalu bangkit hingga akhirnya mengalahkan mereka 3-0 di final. Apa yang sebenarnya terjadi sepanjang perjalanan itu?

Ya, awalnya itu kita kan lawan Korea, terus kayak... sebenarnya dari awal sudah ngerasa kayak, kita tahu nih Korea tim yang kuat dan kita tuh jarang menang lah, bisa dibilang hampir enggak pernah menang ya lawan Korea. Jadi kayak persiapannya paling kayak, ya sudah besok main, yang penting main bagus. Dan ternyata memang kita ngerasa waktu pertandingan itu memang dari segi teknik, terus juga mental, strategi gitu, kita memang sudah kalah jauh. Jadi pas begitu kalah di set satu, ya mungkin ada pukulan mental sendirilah, jadi kayak, "Oh, mungkin memang kitanya kurang latihan," jadi kayak belum pede, belum pede lah gitu. Itu sih.

Asisten pelatih Nurhidayanto sempat mengatakan bahwa banyak pihak meragukan tim ini. Menurut Boy, keraguan itu sebenarnya datang dari mana? Apakah lebih banyak berasal dari luar tim atau justru sempat muncul dari dalam tim sendiri?

Sebenarnya jujur lebih ke dari luar sih. Karena kan kita tahu sendiri lah netizen Indonesia tuh, mungkin memang penginnya berharap lebih, kayak pengin Indonesia lebih bagus gitu kan. Cuma itu kayak bikin mental pemain yang... kadang kan kita enggak sengaja baca gitu kan. Jadi kayak takut salah atau ya takut tampil jelek gitu lho. Jadi mungkin itu sih. Nah, pas waktu kalah lawan Korea dan benar saja banyak deh omongan-omongan luar. Jadi kayak kepikiran gitu, jadi kayak enggak berani eksplor skill gitu lho.

Setelah kalah di laga pertama, apa yang berubah di dalam tim? Apakah ada sosok tertentu yang paling berperan membangkitkan mental para pemain?

Jadi pelatih sih, dari Coach Toiran sendiri. Jadi kayak dia sebenarnya percaya sama tim kita gitu. Jadi kayak dia usaha untuk bangkitkan kepercayaan diri anak-anak kayak, "Sebenarnya kita ini bisa," gitu pas waktu lawan Qatar. Nah, pas kita main terus dia enggak sama sekali enggak ngasih pressure, tapi dia ngasih kebebasan kita berekspresi di lapangan gitu lho, berkreasi. Jadi, nah alhamdulillahnya waktu itu berhasil kita dapat tuh momentum-momentumnya. Dan akhirnya kita bisa main lepas pas lawan Qatar. Dan mungkin itu titik awal kebangkitan Indonesia sih.

Berbicara soal Coach Toiran, sebelumnya tim sempat mengalami perubahan pelatih karena Coach Sergio Veloso terkendala visa kerja. Seberapa besar pengaruh transisi tersebut terhadap persiapan tim?

Sebenarnya sih enggak sih. Paling cuma mungkin program latihannya saja yang beda. Tapi kalau untuk chemistry sih lebih Coach Toiran kan dia lebih fasih Bahasa Indonesia, jadi kayak komunikasinya lebih nyambung. Terus juga dia sudah lama di Indonesia, tahu karakter-karakter Indonesia. Jadi sebenarnya aman saja sih. Aman saja. Jadi enggak banyak yang berubah ya? Enggak banyak yang berubah.

Baca lanjutan artikel ini di halaman berikut>>>

Boy Arnez: LavAni, Karier Luar Negeri, Lompat Tinggi


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :