PIALA DUNIA 2026

Argentina vs Swiss: Skandal Kartu Merah Embolo Dipicu Aturan Baru FIFA

CNN Indonesia
Minggu, 12 Jul 2026 20:30 WIB
Striker Swiss Breel Embolo, menerima kartu merah saat laga lawan Argentina di perempat final Piala Dunia 2026. (REUTERS/Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia --

Laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Swiss kembali menjadi pusat perdebatan sengit global terkait kinerja wasit, teknologi VAR, dan hukum permainan atau Laws of the Game.

Sebelum Argentina menang 3-1 dan lolos ke semifinal, striker Swiss, Breel Embolo, diusir keluar lapangan karena melakukan diving, sebuah pelanggaran yang sangat jarang berujung kartu merah langsung maupun tidak langsung.

Kubu Swiss merasa keputusan wasit Joao Pinheiro sangat kejam dan merusak jalannya pertandingan, namun sang pengadil lapangan asal Portugal tersebut nyatanya hanya menjalankan pasal dari regulasi terbaru FIFA yang diamandemen tepat sebelum turnamen dimulai: Aturan 'Mistaken Identity' alias soal salah identitas.

Kronologi bermula saat Embolo melakukan diving di area pertahanan Argentina. Wasit awalnya mengira gelandang Argentina, Leandro Paredes, melakukan pelanggaran keras dan langsung mengganjarnya dengan kartu kuning.

Beberapa detik kemudian, Video Assistant Referee (VAR) mengintervensi dan meminta wasit melihat monitor di pinggir lapangan. Setelah melihat tayangan ulang, wasit menyadari bahwa Embolo melakukan simulasi (kontak palsu) dan membatalkan pelanggaran Paredes.

Sesuai aturan lama, kartu kuning Paredes harusnya hangus. Namun, di bawah aturan baru IFAB/FIFA yang diterapkan di Piala Dunia 2026, kartu kuning yang sudah telanjur dikeluarkan tidak boleh dibatalkan, melainkan harus ditransfer (dipindahkan) kepada pelaku pelanggaran yang sebenarnya karena kasus ini dikategorikan sebagai 'salah identitas'.

Karena Embolo sebelumnya sudah mengantongi kartu kuning, ia pun harus menerima kartu kuning kedua diikuti kartu merah oleh wasit.

Aturan baru IFAB berbunyi: "Ketika wasit menunjukkan kartu kuning atau merah tetapi terbukti menghukum pemain yang salah dari tim mana pun atas pelanggaran yang dimaksud; pelanggaran itu sendiri tidak dapat ditinjau kembali kecuali dalam konteks salah identitas [mistaken identity]."

Kasus ini menjadi sorotan tajam karena wasit yang memimpin laga di Stadion Kansas City itu sebenarnya tidak salah melihat nomor punggung atau nama pemain antara Paredes dan Embolo. Mereka hanya "tertipu" oleh aksi diving Embolo.

Melansir NDTV, dengan membungkus kasus diving yang gagal ini sebagai 'salah identitas', badan hukum sepak bola (IFAB) secara tidak langsung membiarkan VAR meninjau ulang insiden kartu kuning standar yang terisolasi. Hal ini dinilai bertolak belakang dengan esensi awal teknologi VAR yang hanya boleh mengintervensi untuk kesalahan yang "jelas dan nyata" (clear and obvious error).

Bagi Swiss, keputusan ini adalah tragedi. Skuad asuhan Murat Yakin baru saja berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat gol brilian Dan Ndoye pada menit ke-67 dan sedang berada di atas angin untuk menggempur pertahanan Argentina. 

Pascalaga, Pelatih Swiss Murat Yakin tidak mampu menyembunyikan kemarahannya atas tersingkirnya La Nati akibat regulasi yang ia sebut sangat tidak masuk akal.

"Kami dihukum karena sebuah aturan yang menurut opini saya sama sekali tidak bisa diterima," semprot Murat Yakin dengan nada tinggi. "Sangat menyakitkan kami harus tersingkir dengan cara seperti ini. Saya rasa kami tidak layak mendapatkannya hari ini. Bagi saya, anak-anak adalah pahlawan yang sesungguhnya," sambungnya.

"Wasit telah membuat keputusan yang keliru. Menurut saya itu adalah kontak yang sangat minim, bahkan jika itu dianggap pelanggaran. Saya tahu FIFA akan melindungi wasit mereka, tetapi aturan ini telah menghancurkan permainan kami hari ini. Sangat menyakitkan dieliminasi dengan cara seperti ini," pungkas Yakin meradang.

Dengan hasil ini, langkah bersejarah Swiss terhenti di babak delapan besar, sementara Argentina melaju ke semifinal untuk menantang Inggris di Stadion Atlanta.

[Gambas:Video CNN]

(wiw/jal)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK