Pau Cubarsi Bela Prancis dan Balas Komentar Rasis Mantan PM Spanyol

CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 02:45 WIB
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Quarter Final - Spain v Belgium - Los Angeles Stadium, Inglewood, California, U.S. - July 10, 2026 Belgium's Kevin De Bruyne in action with Spain's Pau Cubarsi REUTERS/Daniel Cole
Bek timnas Spanyol Pau Cubarsi (kanan) di Piala Dunia 2026. (REUTERS/DANIEL COLE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bek timnas Spanyol Pau Cubarsi angkat bicara soal ucapan kontroversial mantan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy yang menyebut timnas Prancis tidak diperkuat pemain Prancis.

Sorotan jelang semifinal Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Prancis seharusnya tertuju pada persaingan dua tim terbaik. Namun, beberapa hari sebelum pertandingan, perhatian justru beralih ke kontroversi yang dipicu mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy.

Rajoy menuai kritik setelah melontarkan komentar yang dianggap bernada rasis terhadap timnas Prancis. Pernyataannya memancing reaksi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah Spanyol, Kedutaan Besar Prancis di Madrid, hingga bek muda Spanyol, Pau Cubarsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cubarsi menegaskan bahwa seluruh pemain yang membela tim nasional Prancis tetaplah orang Prancis, apa pun latar belakang dan warna kulit mereka.

"Jika mereka bermain untuk tim nasional Prancis, pada akhirnya mereka adalah orang Prancis, terlepas dari warna kulit mereka, karena pada akhirnya kita harus toleran terhadap semua orang," kata Cubarsi dikutip dari Give Me Sport.

"Warna kulit mereka tidak penting karena kita semua adalah manusia dan kita semua berhak mendapatkan rasa hormat," kata Cubarsi menambahkan.

Banner Gempita Bola 2026

Pernyataan Cubarsi mendapat banyak pujian karena dinilai menunjukkan sikap dewasa dan menjunjung tinggi nilai toleransi di tengah memanasnya tensi jelang laga Spanyol vs Prancis.

Tak hanya Cubarsi, Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sanchez, juga mengecam komentar Rajoy. Ia menegaskan bahwa rasa memiliki terhadap sebuah negara tidak ditentukan oleh nama keluarga, tempat lahir, ataupun warna kulit.

"Ada sebagian orang yang masih mengukur rasa memiliki berdasarkan nama keluarga, tempat lahir, atau warna kulit. Yang lain mengukurnya berdasarkan akar kita di suatu negara dan kemauan kita untuk berkontribusi padanya. Bermain sepak bola. Merawat para lansia. Atau membuka usaha," kata Sanchez.

"Spanyol adalah milik mereka yang mencintainya dan bekerja untuknya. Bukan milik mereka yang mempermalukannya dengan pernyataan xenofobia. Prancis, kita akan bertemu di semifinal. Semoga yang terbaik menang dan rasisme kalah," ucap Sanchez menambahkan.

[Gambas:Video CNN]

(rhr/rhr/sry) Add as a preferred
source on Google