ANALISIS

Trisula Les Bleus Menyala, Dua Bintang Spanyol Mati Suri

Askar Fatih R | CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 07:00 WIB
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Quarter Final - Spain v Belgium - Los Angeles Stadium, Inglewood, California, U.S. - July 10, 2026 Spain's Lamine Yamal reacts after being fouled by Belgium's Leandro Trossard IMAGN IMAGES via Reuters/Jessie Al
Lamine Yamal masih belum menunjukkan potensi terbaik di Piala Dunia 2026. (IMAGN IMAGES via Reuters/JESSIE ALCHEH)

Lamine Yamal, yang menjadi buah bibir saat menyabet gelar pemain muda terbaik dengan torehan satu gol plus empat assist di Euro 2024, kini seolah mati suri.

Dari enam laga yang sudah dilakoni di Amerika Utara, remaja ajaib itu baru mengoleksi satu gol dan nihil umpan matang. Gol semata wayang wonderkid 18 tahun itu tercipta kala menggilas Arab Saudi 4-0.

Bayang-bayang cedera disinyalir menjadi penyebab sang winger kehilangan magisnya. April lalu, ia mengalami sobek hamstring cukup parah saat membela Barcelona.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setali tiga uang, nasib apes juga menimpa Nico Williams. Sayap lincah Athletic Bilbao itu harus menepi akibat cedera otot aduktor kanan pasca-menerima tekel horor Nicolas de la Cruz saat bersua Uruguay di fase grup.

Praktis, Williams hanya menjadi pemanis bangku cadangan sejak babak gugur bergulir. Ia masih menanti kesempatan bermain maksimal yang tak kunjung datang.

Namun, meremehkan Spanyol meski tampil pincang jelas sebuah kekeliruan besar. Di bawah kendali Luis de la Fuente, La Roja membuktikan diri sebagai tim yang tidak bergantung pada satu-dua nama.

Tatkala dua bintang utama meranggas, kolektivitas tim justru menyala. Buktinya, Rodri dan kolega tetap perkasa dengan status tim paling sedikit kebobolan di antara tiga semifinalis lainnya.

Yamal dan Williams menghilang dari radar, Mikel Oyarzabal mencuat ke permukaan. Juru gedor milik Real Sociedad itu menjelma mesin gol alternatif lewat sumbangan empat gol.

Di sektor pertahanan, duet Pau Cubarsi dan Aymeric Laporta terbilang jempolan. Marc Cucurella yang tak kalah solid juga berperan aktif membantu sektor penyerangan. Total dua assist telah dibukukan eks pemain Chelsea itu.

Lantas Spanyol pun tetap setia pada identitasnya. Dominasi penguasaan bola tinggi, akurasi umpan presisi.

Pertempuran di Dallas nanti pada akhirnya akan menjadi panggung bentrokan dua paham bertolak belakang. Prancis percaya pada magis tiga megabintang yang membara, sementara Spanyol bersandar pada sebelas kepala yang perlu berpikir sama rata.

Secara rekam jejak, Spanyol boleh sedikit membusungkan dada. Dua pertemuan terakhir sukses mereka menangkan: unggul 2-1 di semifinal Euro 2024 dan menang dramatis 5-4 di semifinal Nations League 2025.

Pertanyaannya kini, sanggupkah ketajaman individu trisula Les Bleus meremukkan tembok pertahanan kolektif La Roja yang baru kebobolan sekali sepanjang edisi ke-23 Piala Dunia. Ataukah nama-nama pelapis seperti Alex Baena dan Mikel Merino yang kembali muncul sebagai pahlawan tak terduga?

[Gambas:Video CNN]

(nva)

HALAMAN:
1 2