Pelatih Spanyol Ogah Pakai Taktik Man-Marking Messi di Final
Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, membeberkan sedikit bocoran mengenai rencana taktiknya untuk meredam magis Lionel Messi pada laga final Piala Dunia 2026 kontra Argentina, Minggu (19/7) waktu setempat atau Senin (20/7) dini hari WIB.
La Furia Roja sedikit lebih diunggulkan untuk mengangkat trofi di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat. Namun, Argentina, sang juara bertahan dipastikan tidak akan menyerah tanpa perlawanan demi ambisi merengkuh takhta juara dunia dua edisi berturut-turut. Sejak Brasil melakukannya pada 1962, rekor juara Piala Dunia beruntun belum pernah diraih negara mana pun.
Tantangan terbesar Spanyol tentu saja adalah menjinakkan seorang Lionel Messi. Di usianya yang menginjak 39 tahun, pemain ini justru tampil menggila di Piala Dunia keenamnya dengan torehan delapan gol dan empat assist.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, pemain berjulukan La Pulga sudah disebut-sebut akan meraih penghargaan Bola Emas atau Golden Ball, terlepas dari apakah ia akan membawa pulang Sepatu Emas atau Golden Boot atau tidak.
"Bisa berada di final adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa. Kami ingin berjuang untuk memenanginya dan menikmati momen ini. Argentina adalah rival hebat dengan rekam jejak yang spektakuler," ujar De la Fuente, seperti dilansir Sports Illustrated.
Meski menyadari potensi bahaya dari Messi, De la Fuente menegaskan tidak akan menugaskan satu pemain khusus untuk mengawal ketat atau man-marking penyerang Inter Miami itu sepanjang laga.
"Kami tidak akan menerapkan strategi man-mark [kepada Messi], tetapi kami akan sangat waspada," tegas De la Fuente. "[Pelatih Argentina] Lionel Scaloni dan saya adalah dua pesaing besar yang saling mengagumi satu sama lain. Sebuah kehormatan bisa menghadapinya," sambungnya.
Batalnya laga Finalissima yang semula dijadwalkan pada Maret lalu membuat De la Fuente kehilangan kesempatan emas untuk menguji coba taktiknya melawan Messi.
Kendati demikian, juru taktik berusia 65 tahun itu memiliki memori unik saat pertama kali berhadapan dengan Messi remaja pada Mei 2004 silam, kala itu La Pulga masih di akademi Barcelona dan De la Fuente menukang tim U-19 Sevilla.
"Saat itu semua orang membicarakan seorang bocah bernama Messi. Jadi, kami menerapkan man-marking kepadanya. Hingga menit ke-70 skor masih 0-0. Namun, ketika pemain yang mengawalnya mendapat kartu kuning, saya memutuskan untuk menariknya keluar. Hasilnya? Hanya dalam waktu 15 menit, Messi mencetak empat gol," kenang De la Fuente sembari tersenyum.
Meski memiliki kenangan buruk masa lalu dikalahkan Messi, De la Fuente yakin timnya tidak akan nasib serupa pada laga final Piala Dunia 2026.
"Apakah itu artinya kami akan melakukan man-mark hari Minggu nanti? Jawabannya tidak. Apakah kami akan memberikan perhatian ekstra kepadanya? Ya, tentu saja. Namun dengan cara yang persis sama seperti mereka harus mengawasi para pemain berbahaya kami," tambah pelatih berkepala plontos ini, merujuk pada pilar serang Spanyol seperti Lamine Yamal dan Mikel Oyarzabal.
Lini pertahanan Spanyol yang baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen wajib meningkatkan fokus mereka, terutama di 15 menit terakhir pertandingan.
Pasalnya, Argentina dan Messi kerap menunjukkan kegilaan mereka menjelang peluit panjang berbunyi.
Statistik mencatat performa mengerikan tim Tango di fase krusial, dari total 19 gol yang dicetak Argentina sepanjang turnamen ini, 12 gol di antaranya lahir pada menit ke-75 atau lebih. Bukan cuma itu, dari 12 gol telat tersebut, Messi berkontribusi langsung dengan mencetak empat gol dan mengemas tiga assist.
(wiw/wiw/jun) Add
as a preferred source on Google
