Dua pelatih asal Asia, Mundari Karya dan Shin Tae Yong, dikepung pelatih-pelatih Eropa dan Amerika Latin dalam Super League 2026/2027.
Dari 18 pelatih musim ini, 13 di antaranya berasal dari Eropa. Rincian ke-13 pelatih itu, empat pelatih asal Spanyol, tiga dari Portugal dan Belanda, satu dari Kroasia, Serbia, dan Bosnia & Herzegovina.
Sedangkan tiga pelatih asal Amerika Latin sama-sama dari Brasil. Artinya pula hanya ada dua pelatih asal Asia dan hanya satu pelatih dari dalam negeri dalam Super League.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mundari akan menangani Isenmulang Kalteng FC. Ia menggantikan Ade Suhendra yang lisensi kepelatihannya belum mumpuni. Saat ini Ade masih berlisensi A AFC dan sedang mengambil lisensi Pro AFC.
Masalahnya, Mundari sudah lama tidak melatih klub. Ia lebih banyak menjadi tim technical study group di belakang layar kompetisi (I.League) atau PSSI. Ini klub pertamanya sejak 2016.
Karena itu pula Mundari agak diremehkan. Apalagi Isenmulang merupakan klub promosi. Skuad Isenmulang juga tidak begitu menjanjikan dalam bursa transfer musim panas ini.
Mampukah Mundaru bertahan dalam gempuran pelatih-pelatih asing ini? Performa tim yang dulunya bernama Adyhaksa FC ini akan menentukan masa pembuktian Mundari di Super League.
Adapun Shin Tae Yong menangani Persija Jakarta. Mantan pelatih Timnas Indonesia ini dipercaya Persija untuk mengangkat harkat tim yang kurang kharisma dalam lima musim terakhir.
Untuk Indonesia, nama Shin terbilang harum. Ia membuat Timnas Indonesia cukup diperhitungkan, sebelum dipecat PSSI pada 2025. Karena itu ada asa Persija bersaing memburu juara liga.
Hanya saja kiprah Shin di level klub pada momen terakhir kurang menjanjikan. Sebelum ke Persija, setelah dari Timnas Indonesia, pria 55 tahun ini menangani Ulsan Hyundai dalam durasi yang sangat singkat.
Kendati pernah juara Liga Champions Asia, bersama Seongnam Ilhwa Chunma pada 2010, tangan dingin Shin dalam kompetisi belum teruji. Persija akan menjadi pertaruhannya.
Apalagi ada catatan sejarah, pelatih-pelatih yang menangani klub setelah Timnas Indonesia, kurang berprestasi. Shin akan menghadapi kutukan ini dalam Super League 2026/2027.
Dalam empat musim terakhir, pelatih Eropa merajai kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Bisakah pelatih Asia menghentikan dominasi itu? Shin dan Mundari jadi harapan akan asa tersebut.
(abs/jun)