ANALISIS

Jalan ke Piala Asia U-20 Masih Terbuka buat Garuda Muda

Askar Fatih R | CNN Indonesia
Kamis, 03 Sep 2026 08:17 WIB
Timnas Indonesia U-20 vs Malaysia dalam Kualifikasi Piala Asia U-20
Laos akan jadi lawan kedua bagi Indonesia di kualifikasi Piala Asia U-20 2027. (Tangkapan layar instagram @timnasindonesia)

Laga melawan Laos semestinya jadi kesempatan realistis untuk meraih tiga poin pertama. Di atas kertas, Level tim tuan rumah berada di bawah Indonesia, Malaysia, maupun Australia.

Kesempurnaan juga menyelimuti Indonesia saat jumpa Laos. Berdasar head to head, Garuda Muda bentrok empat kali dengan Negeri Sejuta Gajah. Hasilnya cukup fantastis; tiga menang dan satu imbang.

Namun dengan status Laos sebagai tuan rumah, dinamiknya bisa berubah. Bermain di hadapan publik sendiri tentu bisa jadi suntikan semangat buat armada Kanlaya Sysomvang

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tantangan paling besar baru muncul di laga pemungkas. Indonesia akan menantang Australia. Young Socceroos bukan lawan sembarangan. Mereka menyandang status juara bertahan usai menaklukkan Arab Saudi lewat adu tos-tosan di final Piala Asia U-20 2025.

Skenario matematisnya jelas. Kalau Indonesia menang atas Laos dan setidaknya mampu mencuri poin dari Australia, peluang finis sebagai runner-up terbaik lintas grup masih terbuka lebar.

Grup H yang diisi Australia bukan kebetulan. Posisi drawing kualifikasi kali ini justru buah dari catatan buruk Indonesia dua tahun lalu di Piala Asia U-20 2025.

Saat itu, di bawah asuhan Indra Sjafri, Garuda Muda kalah 0-3 dari Iran pada laga pembuka, lalu takluk 1-3 dari Uzbekistan meski sempat menyamakan kedudukan lewat gol Jens Raven. Laga terakhir kontra Yaman berakhir 0-0, mengunci posisi ketiga Grup C dengan cuma satu poin dan selisih gol minus lima.

Hasil buruk itu berdampak langsung ke posisi drawing. Aturan AFC menempatkan 10 tim terbaik Piala Asia U-20 2025 di pot unggulan untuk kualifikasi berikutnya, dan Indonesia gagal masuk daftar itu.

Terdapat sederet faktor di balik kegagalan tersebut. Mulai dari proses naturalisasi pemain kunci yang terlambat rampung, jadwal uji coba padat tanpa waktu pemulihan memadai, sampai minimnya jam terbang menghadapi lawan-lawan berlevel tinggi sebelum turnamen.

Satu hal pasti yang senantiasa akan terus jadi pekerjaan rumah adalah soal raw material alias kualitas pemain-pemain muda yang datang dari didikan atau pembinaan di dalam negeri.

Indra Sjafri mundur dari kursi pelatih usai kegagalan itu, membuka jalan bagi Nova Arianto untuk membangun ulang skuad dari nol. Kualifikasi kali ini praktis jadi panggung pembuktian pertama bagi era baru Garuda Muda.

Draw tanpa gol lawan Malaysia menunjukkan pekerjaan rumah Nova belum sepenuhnya tuntas, khususnya soal ketajaman di depan gawang. Tapi performa itu juga jauh berbeda dari kolapsnya lini pertahanan Indonesia dua tahun lalu, di mana tim kebobolan enam gol hanya dalam dua laga.

Data-data ini mengartikan jalan Indonesia menuju putaran final Piala Asia U-20 2027 memang menyempit dibanding seandainya berhasil menang di laga pembuka. Tapi pintu itu belum tertutup rapat.

Dua laga tersisa akan jadi penentu apakah beban sejarah dari kegagalan 2025 akhirnya terbayar, atau justru terulang di panggung kualifikasi.

(nva)

HALAMAN:
1 2